Pada Sebuah Tepi

 

            Pada tepi danau, aku menyandarkan peluhku dalam kesendirian, bersama gitar dan lagu yang kuciptakan untuknya. Perlahan-lahan kupetik senar, memainkan nada yang mengalirkan cintaku untuknya. Kenangan lama yang telah tertutup rapat kini terbuka lagi. Kupejamkan mata, selagi angin sore berhembus melewati sela-sela rambutku, dan kubiarkan memori itu hidup lagi dalam lamunanku.

                                          ***

“Mas, rokoknya bisa dimatiin ga?” Terdengar suara perempuan dari belakangku.

Aku menengok ke belakang, melihat sosoknya, dan lalu kumatikan rokokku. Ia, sesosok perempuan manis bertubuh tinggi, dengan rambut hitam sebahu, kemeja lengan panjang berwarna biru dengan tanktop berwarna hitam di dalam kemerjanya, celana jeans, sepatu kets; nampak sempurna untuknya.

Sori ya, Mbak,” balasku sambil tersenyum kepadanya.

Kami berdua bertatapan. Aku, memandangi wajahnya yang manis itu. Dan ia terpaksa memandangi wajahku yang burukrupa ini.

“Aduh, maaf, Mas. Tadi gue disuruh senior soalnya buat ngomelin lo,” ujarnya berbisik kepadaku sambil jari telunjuknya menunjuk kepada beberapa mahasiswa berjaket kuning dengan pita merah melingkar di lengan mereka.

“Ah, engga apa-apa kok hehehe. Elu maba juga? Tanyaku kepadanya.

“Iya, lo maba juga, Mas?”

“Iya, gue maba, manggilnya jangan pake mas napa, kan seumuran haha, gue Ryo, Teknik Kapal,” ujarku kepadanya sembari mengulurkan tangan.

Gue Rena, Psikologi,” jawabnya sambil tersenyum dan menjabat tanganku.

Lalu kami berdua berbincang penuh kehangatan, barangkali karena status kami sebagai sesama mahasiswa baru, keakraban itu cepat tumbuh. Tidak lama kemudian kami berpisah, aku pulang, dan dia kembali berkumpul dengan seniornya. Dalam hati kecilku aku berharap: semoga itu bukan pertemuan terakhir kami.

Doaku seolah menjadi kenyataan, manakala seringkali kami berpapasan di perpustakaan. Entah mengapa, setiap perbincangan kami terasa begitu hangat. Sosok Rena membawa kelegaan buatku; dan semoga, sosokku yang burukrupa ini juga membawa kelegaan buatnya, bukan malah beban.

Sebulan sudah berlalu sejak perjumpaan pertama kami. Sore itu aku tengah menyendiri (lagi) di tepi danau, membawa gitar dan memainkan lagu pengiring senja.

“Mas, rokoknya bisa dimatiin, ga?” Terdengar suara perempuan yang suaranya sudah kukenal dari belakangku. Kemudian aku menengok ke arahnya.

“Eh, elu Ren, kenapa? Disuruh senior lagi? Hahaha,” candaku kepadanya. Sosoknya kembali menawan hatiku. Keelokan matahari senja beserta cahaya keemasannya tidak lebih indah dari senyum dan sinar mata Rena yang berbinar. Kecantikannya berpijar bagai bidadari nirwana.

“Haha, engga lah, Yo. Eh, elo ngapain di sini? Sambil nenteng gitar pula,” tanya Rena.
Aku masih terdiam, masih terhipnotis oleh pesona dan aura eksotisme yang berpijar di wajahnya.
“Eh, kok bengong sih lo, Yo?”

“Wah, sori, Ren, gue lagi engga fokus tadi, keinget ujian buat besok hehe. Eh, tadi lu nanya apa, ya?”

“Yeh, ujian mulu lo pikirin, gue kira lo bengong gara-gara terpesona sama gue hehehe. Hmm, tadi gue nanya, lo ngapain di sini sambil nenteng gitar?” Ujar Rena mengulangi pertanyaannya.

“Ooh, gue emang kadang-kadang ke sini, Ren, kalo lagi jenuh. Gue suka di tepi danau kaya gini. Sepi, tapi rindang banget buat diri gue meneduh,”

“Aaah, kok kita sama, sih? Gue juga suka tempat kaya gini, Yo. Tempat kaya gini bikin hati ngerasa tenang,” jelas Rena.

“Wah, elu juga toh haha,”

“Iya, Yo, hehehe. Eh, lo bisa main gitar, ya? Bikinin gue lagu dong? Bisa, ngga?” Tanya Rena.

“Bisa sih. Tapi butuh waktu, Ren. Biar lagunya bagus..”

“Iyaa, engga apa-apa kok. Take your time, Yo. Dua minggu lagi kita ketemuan di sini lagi, ya? Gue pengen denger lagunya, bisa kan?”

“Bisa kok, Ren hehe. Dua minggu ke depan lu sibuk?”

“Iya, Yo. Sibuk banget, yaudah, gue pergi dulu yaaa. Byeee,” ujar Rena menutup perbincangan kami sore itu.

Aku masih tidak percaya kalau perempuan se-istimewa dia memintaku untuk membuatkan lagu. Saat itu, tidak ada perasaan lain selain perasaan bahagia. Semakin lama, aku semakin sadar, bahwa aku perlahan aku menumbuhkan sebuah benih yang kelak menjadi penyakit: cinta. Selama dua minggu aku mati-matian menyusun nada-nada terindah, lirik termanis; semua hanya untuk Rena. Aku memantapkan hatiku. Perasaan yang kujalin ini harus kulabuhkan padanya, pada saat itu, cinta ini harus kusampaikan padanya. Saat lagu ini kunyanyikan untuknya.

Sore yang kunatikan itu tiba. Tepian danau yang sepi, cahaya keemasan matahari, dan dengan sabar kunanti dirinya. Telah kusiapkan segalanya: mental, gitar, suara, dan segalanya. Sepuluh menit. Tigapuluh menit. Satu jam. Rena belum muncul juga. Sampai akhirnya, pukul delapan malam, tak ada tanda-tanda kehadirannya di tempat ini. Ada apa gerangan? Adakah ia melupakan hari ini atau? Ah, yasudahlah. Menunggu satu jam atau satu minggu sama saja; karena aku percaya, cinta yang tulus bisa mengalahkan pedihnya waktu.

Keesokan harinya kutunggu lagi di tepi danaunihil, tak jua ia nampak. Dua hari, tiga hari, bahkan seminggu, ia tidak juga nampak. Kesalahan terbesarku adalah, aku tidak memiliki facebook, twitter, atau blackberry untuk menghubunginya. Bahkan aku belum sempat menanyakan nomor telefon genggamnya. Tak kumiliki teman dari fakultas psikologi, untuk sekadar menanyakan kabar Rena. Bisajadi kepribadianku yang introvert telah membuatku terlihat dungu. Satu-satunya yang tersisa adalah keberanian. Aku memberanikan diri datang ke fakultas psikologi untuk mencarinya.

Apa yang aku lihat selanjutnya adalah sesuatu yang membuat hatiku hancur sebagaimana letusan Krakatu menghancurkan segala kehidupan kecil di sekitarnya. Aku melihat Rena, dengan setelan pakaiannya yang begitu berbeda. Ia tidak terlihat sporty seperti biasa kulihat. Ia terlihat berbeda, sulit untuk kudeskripsikan. Ia dikelilingi pria-pria tampan dan beberapa perempuan cantik lainnya. Auranya memancar begitu indah. Ia nampak begitu bahagia berada di tengah-tengah mereka. Bahkan seorang pria rupawan di sebelahnya merangkulnya mesra, kemudian mencium pipinya, membelai mesra rambutnya. Aku tersentak. Dan lalu terbangun dari mimpi panjangku. Seolah akal sehat menertawakanku: “Hei bodoh, sadarlah! Kau itu burukrupa dan tidak menarik, mustahil perempuan seperti Rena akan jatuh hati padamu!”

Berminggu-minggu setelah itu, aku larut dalam kesenduan. Tak ada yang lebih pedih dari sebuah harapan yang tak memiliki dermaga untuk berlabuh. Aku baru menyadari bahwa fantasi tidaklah seindah realita. Hidup memang begini, terasa tidak adil, tapi beginilah kenyataan. Sulit bagiku untuk bangun dari kehancuran ini, terlebih lagi manakala wajah Rena menghiasi majalah kampus. Ia seakan menjadi ratu di kampusku, idaman semua pria, barangkali begitu. Aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Tidak, memang aku tidak perah menjadi siapa-siapa di matanya. Aku telah kehilangan Rena. Tidak, aku bahkan tidak pernah memiliknya, bagaimana bisa aku kehilangan dia?

                 ***

            Memori itu kemudian berlalu, setelah kubiarkan hidup sejenak dalam lamunanku. Genap sembilan bulan sudah sejak perjumpaan pertama dengan Rena, di tempat ini juga, di tepi danau. Aku meremas sebuah kertas yang berisi lirik lagu yang seharusnya kuciptakan untuknya; kulempar kertas itu ke danau. Aku bersumpah itu terakhir kalinya aku memainkan lagu itu.

“Usai, sudah usai. Aku harus terbangun. Aku tidak pantas mencintaimu dan engkau tidak mampu lagi kucintai, Rena,” ujar hati kecilku.

Aku berjalan menuju Stasiun Pondok Cina–hendak pulang. Dengan senyuman, aku yakinkan diriku untuk melupakannya. Sampai tiba-tiba sebuah pertemuan yang tak kuduga membuyarkan segalanya. Aku berpapasan dengan Rena! Masih di tepian danau Balairung aku berpapasan dengannya. Kemeja lengan panjang berwarna merah dengan tanktop hitam sebagai dalaman, celana jeans, sepatu kets. Semua masih sama; yang berbeda hanya matanya, matanya memerah–barangkali habis menangis.

Sebenarnya aku hendak menyapanya, tapi aku rasa percuma. Mampukah ia mengingat namaku? lakilaki burukrupa ini.

“Ryo.. Sombong, biasanya nyapa duluan,” ujar Rena mengagetkanku. Ternyata dia masih mengingat namaku.

“Eh, Ren.. Sori tadi lagi bengong hehe. Lu masih inget sama gue?” Tanyaku.

“Masih lah, Yo.. eh, maaf ya, waktu itu gue ga nepatin janji gue,”

“Hah? Janji apaan, Ren?”

“Iya, waktu itu gue udah janji dateng ke tepi danau ini buat denger lagu buatan lo, Yo, tapi gue malah ga dateng..”

“Ooh, lah, justru gue yang engga nepatin janji, harusnya gue yang nyamperin lu dan ngasih lagu itu, Ren.”

“Hmm, yaudah, berarti kita sama-sama salah aja deh hehe,” ujar Rena sambil tersenyum. Senyumanya masih seindah dulu. Cahaya di wajahnya belum pudar.

Maafin gue ya, Yo. Selama ini ga ngasih kabar, soalnya gue…”

“Udahlah, Ren. Lupain, anggep aja engga ada apa-apa. Sekarang lu ada waktu, kan? Nih, gue nyanyiin lagunya,” ujarku memotong kalimat Rena.

Ia mengangguk dan tersenyum. Kali ini jauh lebih manis dan mempesona. Lalu di tepian danau aku memainkan lagu itu sekali lagi, untuknya. Ia nampak begitu menikmatinya. Seolah-olah itu merupakan lagu favoritnya–padahal ia baru pertama kali mendengarnya. Entah, apa karena perasaan bersalah sehingga ia berpurapura menikmatinya, atau ia benar-benar menyukainya. Yang jelas aku bahagia, sekalipun artinya aku mengkhianati sumpah bahwa aku akan menghapus sisa-sisa jejak yang ditinggalkan Rena di hatiku.

Aku tidak peduli apakah selanjutnya aku hanya akan menjadi pelariannya, bonekanya; atau malah sungguh-sungguh menjadi kekasihnya. Cinta mungkin karya Tuhan yang paling absurd. Tapi aku yakin, apa yang seharusnya terjadi, terjadilah.

-Depok, Oktober 2011-

April 21, 2012 at 08:55 Leave a comment

Ekskul Futsal: Runtuhnya Sebuah Dinasti

Tercatat sudah hampir 2 tahun saya lulus dari SMA saya, Fons Vitae 1. Selama hampir 2 tahun  pula rasa rindu akan kenangan masa-masa itu selalu menghinggapi hati saya. Terlepas dari apakah masa SMA saya indah ataupun tidak indah, saya tetap merindukannya. Salah satu kenangan yang melengkapi masa-masa itu adalah “Futsal”; cabang olahraga terpopuler di sekolah saya. Sebagian dari masa SMA saya selalu diwarnai olahraga ini: futsal. Mengenai bagaimana perjalanan karir futsal saya selama SMA bisa dilihat di sini.

Apa yang akan saya selanjutnya ceritakan adalah sebuah ironi, tentang sebuah kejayaan yang pudar menjadi kehancuran. Ironi ekstrakurikuler futsal di SMA saya. Barangkali aturan ini hanya berlaku di sekolah saya; bahwa ekskul futsal bukan cuma milik siswa aktif, namun juga alumni, yang ingin bermain. Tidak ada batasan dalam hal keanggotaan. Dari semenjak saya masuk SMA (2006) hingga sekarang (2012) ekskul futsal merupakan ekskul yang paling konsisten dalam latihan. Mereka-mereka yang telah menjadi alumni, banyak yang mendedikasikan waktunya untuk tetap ikut ekskul futsal. Naik dan turun prestasi bukan perkara, kebahagiaan dalam bermain bersama adalah yang utama. Saya rasa jarang ditemui sma yang ekskul futsalnya dapat membaurkan alumni dan siswa aktif seperti di SMA saya. Pemain yang usianya berbeda 5-6 taun tetap bisa bermain bersama dalam satu tim tanpa canggung. Ekskul futsal di SMA saya tidak bisa dianggap ekskul yang remeh.

Bukan berarti semua kebahagiaan itu tanpa penghalang. Beberapa tahun lalu, banyak ekskul yang “dimatikan” paksa. Alasannya rumit, ada yang bilang karena bermasalah dengan alumni ekskul tersebut, atau kegiatannya yang tidak sesuai koridor peraturan yang berlaku, sampai karena kurangnya peminat. Ekskul futsal bukanlah ekskul semacam itu. Selama saya 4 tahun menjadi siswa, kendala dari peserta ekskul hampir tidak nampak. Peminat dan alumni selalu ada dan konsisten. Masalah terbesar justru datang dari faktor eksternal. Saya tidak ingin berspekulasi, tapi mungkin saja, ada pihak-pihak yang tidak suka dengan keberlangsungan ekskul futsal, dan ingin memajukan cabang ekskul lain.

Permasalahan ini begitu kentara buat saya. Awal mengikuti ekskul ini (2006), ekskul futsal melebihi ekspektasi saya; baik alumninya, maupun staf kepelatihannya yang profesional. Semuanya sesuai dengan gambaran ekstrakurikuler SMA yang ideal; sekalipun ketika angkatan saya masuk, latihan lapangan sepakbola sudah tidak diadakan lagi. Tahun-tahun berikutnya, perubahan terjadi pada ekskul futsal. Staf kepelatihan lama sudah tidak melatih lagi. Prestasi mendadak drop, bahkan sampai saya lulus tidak ada lagi gelar juara satu berhasil didapat. Bahkan, meskipun hampir 5 tahun staf kepelatihan profesional itu diganti (sejak tahun ajaran 2007-2008), saya masih tidak tahu alasan dibalik penggantian itu. Uang? Ketidaksukaan? Rasa dengki melihat kesuksesan ekskul futsal? Saya tidak tahu.

Sempat saya dan alumni lain mengadakan Liga Futsal Fons Vitae 1. Setidaknya liga ini perlahan bisa merapatkan kembali gap antar angkatan. Liga yang prestisius ini digelar selama 3 kali dalam periode dua tahun (2010-2011). Meskipun masalah datang silih berganti sepanjang liga; namun liga tetap berjalan sesuai harapan. Selama 2 tahun saya menjadi alumni, waktu ekskul turut berubah. Jika dulu dalam seminggu diadakan 2 kali (Selasa & Jumat), sekarang hanya diadakan sekali (Selasa) bahkan alumni hanya bisa bermain Jumat dan terkadang Rabu. Seolah-olah eksistensi ekskul futsal terkikis oleh waktu. Sungguh, sangat tidak logis ekskul futsal sekarang ini dapat menyamai kualitas atau malah kejayaan ekskul futsal masa lalu. Belum lagi masalah perizinan, dimana harus ada izin sebelum alumni menggunakannya untuk latihan; perihal masalah izin semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah ada benturan yang merugikan pihak sekolah/yayasan dengan alumni. Tidak pernah ada konflik serius. Wajar apabila kemudian terjadi kelinglungan dalam masalah komunikasi perizinan ini. “Ibarat sebuah rumah yang kokoh dengan taman yang indah, namun kemudian taman itu dihancurkan, diganti dengan bangunan untuk perluasan rumah karena merasa esensi keindahan bangunan rumah adalah pada kokoh bangunannya dan bukan pada asri tamannya; atau sebaliknya, rumput-rumput di taman itu tumbuh tidak terawat dan menjadi liar sehingga membuat rumah terlihat kumuh dan juga suara bising serangga-serangganya ingin menunjukkan bahwa kehidupan di taman itu lebih nyata daripada ketidakpeduliin orang rumah akan kelangsungan hidup di taman.” Tidak, relasi antara sekolah saya dan ekskul futsal bukanlah simbiosis parasitisme semacam itu. Batasan-batasan norma itu tidak tersentuh maupun dilanggar. Semua masih dalam batas kewajaran. Pihak ekskul futsal alumni tidak berusaha untuk berbuat kacau di sekolah, semua hanya sebatas futsal dan canda tawa antar pemain.

Saya mencintai (mantan) sekolah saya, dan saya tidak peduli apakah (mantan) sekolah saya menghormati alumninya yang turut ambil serta dalam mendirikan peradaban di sekolah ini atau tidak; tapi sangat ironis bagi saya, ketika (mantan) sekolah saya itu tidak memperdulikan kelangsungan hidup ekskunya, dalam hal ini ekskul futsal.

Tiap tahun futsal tidak pernah kekurangan peminat. Lalu mengapa ekskul ini seolah “dimatikan” perlahan-lahan? Mungkin sebuah piala kejuaraan futsal tidaklah begitu bermakna. Mungkin juga, kedekatan antara alumni dan siswa aktif tidaklah begitu penting. Bahkan mungkin, futsal bukanlah olahraga yang berguna kelak di kehidupan. Tapi saya yakin, mereka yang mempunyai pemikiran semacam itu adalah orang yang tidak pernah merasakan betapa nikmatnya bermain futsal.

Saya sebagai seorang alumnus, tidak berharap apa-apa. Toh, semua peraturan ada pada pihak sekolah dan birokrasinya. Tapi, kenangan-kenangan itu tidak akan pernah bisa dibunuh; bukan cuma saya, tapi juga alumni lain dengan kenangannya masing-masing.

—-

*) saya memilih penggunaan kata “sekolah” ketimbang “mantan sekolah” karena saya meyakini bahwa setelah menjadi alumnus, saya tetap bagian dari keluarga “sekolah” itu.

*)hanya 3 kali “mantan sekolah” saya gunakan, untuk menunjukkan situasi keasingan dan seolah pudarnya eksistensi alumni sebagai bagian dari “sekolah”

March 10, 2012 at 10:44 Leave a comment

Let’s Go Kamen Riders (2011): Movie Analysis

Hello everyone, this my first movie analysis. Yep, I’m gonna analyze the absurdity in “Kamen Rider OOO, Den-O: Let’s Go Kamen Riders”. This movie was released in 2011, around April. I’ll not include the detail or synopsis of this movie, and probably to understand my analysis, you’d better watch the movie first. *just download it somewhere*

Actually, I feel like the movie is focusing on Den-O rather than Oz. The concept of time traveling and changing history (well, I never watch Den-O regularly, so I’m not get used with Den-O timetraveling concept) still be the main part of this story. And Toei probably want to mix this idea with Oz medal concept, the element of Kamen Rider Ichigo and Nigo also took a major part in this movie.

So, what kind of absurdity that I’m going to analyze? Yep, the time traveling and history changing concept. I’ll begin with it’s characters:

-Eiji (Original, Mirror1)
-Ankh (Original, Mirror1)
-Hina (Mirror1)
-Naoki (Original, Mirror1)
-Adult Naoki (Mirror1)
-Kotarou (Original, Mirror1)
-Teddie (Original, Mirror1)
-3 Imajin (Original, Mirror1)
-Shocker Army (Original, Mirror1, Mirror2)
-DenLiner (Original, Mirror1)
-Kamen Rider Scouts (Mirror1)
-Kamen Rider 1&2 (Mirror1, Mirror2)
-All Riders (Mirror1)
-Mitsuru etc (Mirror1)

                                                  ankh and eiji

I think that’s all the characters that participate in this movie. Original means the character that only exists on original timeline without getting any change (I’ll explain later); Mirror1 means the character that exists after the history changing (and probably second appearance); Mirror2 means the character that exists after the second time history changing.

Now, I’ll divide this movie into the timeline that they’ve been through:

1. April 2011
Exist: Original 3 Imajin, Original Ankh, Original Eiji, Original Kotarou, Original Den-Liner, Original Naoki.
Situation: Eiji fight Imajins, and it ran away into Naoki’s body to travel back in 1971, the Kotarou and Den-Liner appeared to travel back.
Absurdity: none

2. November 1971
Exist: Original 3 Imajin, Original Ankh, Original Eiji, Original Kotarou, Original Den-Liner, Original Shocker.
Situation: Kotarou beat 3 Imajin, while Ankh accidentally dropped a cell medal that was taken by Shocker.
Absurdity: the history begins to change after that.

3. April 2011 (Changed History, False one)
Exist: Original Eiji and Ankh, Original Kotarou and Den-Liner, Mirror1 Mitsuru and friends, Mirror1 Naoki, Mirror1 Adult Naoki, Mirror1 Hina, Mirror1 Shocker, Mirror1 Kamen Rider Ichigo-Nigo, Mirror1 All Riders, Situation: The history was changed, Shocker still exist and became the biggest evil corp. The part of the movie mostly took part in this timeline.
Absurdity: a lot, I’ll explain later

4. November 1971 (previous minute before timeline 2)
Exist: Original Ankh, Original Kotarou and Den-Liner, Mirror1 Eji-Ankh-Kotarou-DenLiner-3Imajins, Mirror2 Shocker, Mirror2 Kamen Rider Ichigo-Nigo, Mirror1 Mitsuru and Naoki, Mirror1 Kamen Rider Scouts.
Situation: they try to fix the past, but unfortunately it only led into a same-worst situation, the Shocker still be as strong as April 2011 2nd timeline. Mirror1 Naoki and Original Teddie stayed in this timeline.
Absurdity: basically this timeline want to show us, that Kotarou fail to fix the past and April 2011 2nd timeline remains the same.

It’s quite hard to understand my description, rite? Well, like I’ve been said, you’d better to watch the whole movie first before read my analysis. Now, I’m gonna move into the deeper analysis.

You’ve already got the idea of original and mirror characters right? The only original beings are Kotarou, it’s Denliner (including Momotarou, etc), Eiji, Ankh, and Naoki. Okay I begin with the analysis of the original characters. Eiji and Ankh have nothing to do with the absurdity, they remains the same until the end of the movie. The only problem I see is when they return into timeline 2 aka false April 2011. Eiji stays there, but Ankh’s following Kotarou to return to timeline 4. The problem is, though Kotarou, Ankh etc failed to fix the past, did the false April 2011 (which they got back there again) still the same timeline? Remember the first time they went to timeline 2 and dropped a cell medal, it’s twisted and changed the history: it changed timeline 1 into timeline 3 (false April 2011). And when they get back to 4, they also brought Mitsuru and Naoki of from timeline 3. This time (timeline 4) it’s not only the cell medal, but also Mirror1 Naoki (from timeline 3) and Original Teddie that stayed in timeline 4. The absurdity begins here.

“the single cell medal could changed timeline 1 and then created timeline 3″

And now it’s not only the cell medal but also Naoki and Teddie. In a logical way, the timeline 3 (false April 2011) should have changed into ‘imaginary’ timeline 5 (false false April 2011) as a result of what happened in timeline 4. But, the ending of this movie is quite absurd. Mirror1 Mitsuru is actually the son of Mirror1 Adult Naoki. Well, pretty strange isn’t it? Right in timeline 3 (False April) there’s exist 2 Naoki; Mirror1 Naoki, Mirror1 Adult Naoki. It doesn’t make sense for me. The existence of Mirror1 Naoki is understandable, since in timeline 1 (original April 2011) the original Naoki’s also exist.

The question goes to the existence of Mirror1 Adult Naoki and his son, Mirror1 Mitsuru. I assume that in timeline 1 (original April 2011), this two guys never exist; probably they were the characters that only exist after the history changing in timeline 2. Well, it’s explained in the late part of the movie that, Mirror1 Naoki trapped in timeline 4, became the Shocker scientist, got married with KR Scouts girl, have a son: Mitsuru. It will make sense if only Mirror1 Mitsuru exist on ‘imaginary’ timeline 5 (false false April 2011). Why? Let’s see, in timeline 2 (original November 1971) Naoki never exist (Naoki is only 10 years old boy in 2011, perhaps he’s born in circa late 1990′s to early 2000′s). So, it’s IMPOSSIBLE for Mitsuru (Naoki’s son) to exist in timeline 3, since timeline 3 is correlation of timeline 2 (the only history changing that happened in timeline 2 was cell medal drops, not more than that). Either way, it’s also IMPOSSIBLE for Adult Naoki to exist in timeline 3. No logical way for Mirror1 Mitsuru to be son of Mirror1 Adult Naoki (this theory is came from original Naoki’s birthdate)

And I also found another absurdity, it’s in the early of the movie, when the Imajins traveled into Original Naoki’s body and went back to 1971 (timeline 2). How come the Original Naoki had the memory of 1971? Well it’s unanswerable question, perhaps.

                                               naoki and mitsuru

Then what kind of history changing rules that apply in this movie? I got some options here, just pick it up:

A. The existence of people in same era remains the same (let’s say that Hina exists in 1 and still exists in 3), it just the fate of them that changed (Hina didn’t recognize Eiji after history changing).


B. The existence of people in the same era is affected by what happen in the past. Ex: if Naoki’s parent got killed by Shocker as a result of history changing, Mirror1 Naoki won’t exist in 3.


C. Once history was changed it can’t be fixed or changed again. Ex: eventhough Kotarou success to prevent Shocker to get the cell medal in 4, when they return to 3, the situation is as bad as it was.

What about the emergence of all Kamen Rider? Well, it’s said that in timeline 3, only Kamen Rider Ichigo-Nigo that exist. The emergence of Riders probably just to make happy the fans. Not more than that.

Well, probably the options that I spoiled out will answer some question, like the rusty Teddie sword mode that stuck on the ground. Using the option A, we’ll know that Teddie’s fate in 4 had affected his fate in 3 (still stuck on the ground). The big big question still goes to the existence of Mirror1 Adult Naoki and Mirror1 Mitsuru. I got no clue about them.

It’s possible that during their (Original Kotarou-Denliner-Eiji-Ankh) way back to timeline 1 from timeline 2 (I don’t know how long it takes to travel back from past into original timeline, an hour perhaps?), something had happened in timeline 2 that they had just left. Yep (this is just my ‘illogical’ opinion), after they left timeline 2 without knowing that a cell medal had been dropped and may changes history, someone from future was came and tried to fix it. Let’s say that those ‘someone’ was Mirror2 Kotarou with Mirror2 Naoki (without Mitsuru brought along, in this case he’s yet to exist) and probably what happened next is the same as the timeline 4 did: Naoki and Teddie trapped, Naoki married, Teddie got stuck on the ground. Then after an hour of journey on original Den-Liner, Original Eiji and Ankh had arrived at timeline 1 that had changed into timeline 3 to as a result of history changing that had happened in timeline 2. In this case, 2 history changing was already happened in timeline 2; it’s not only involved Original Kotarou-Eiji-Ankh-Denliner (dropped cell medals) but also Mirror2 Kotarou and Mirror2 Naoki (fixing the past just like timeline 4), and that’ll give you the timeline 3. This kind of assumption will make the existance of Mirror1 Adult Naoki and Mirror1 Mitsuru become acceptable.

It’s important to notice that: “The first moment history changing happened was, when Ankh dropped his cell medal”

Then what the reason that bring Mirror2 Kotarou went back to timeline 2? If his reason was to fix his timeline/history, how could he knew that every problem started in 1971? Did he share the same experience that Original Kotarou had, knowing that it’s Ankh’s fault?
Well it’s the same problem that Dragon Ball has. Especially when the 3-chapters manga of ”Bardock’s Story”  was published in 2011. It ruined the logic of Dragon Ball time travel concept that had been told circa Future Trunks’ Saga. The inconsistency of time travel concept may lead into an illogical way of thinking. In this Kamen Rider movie, I think it’ll make sense if only Naoki wasn’t Mitsuru father.

That’s all I can write about absurdity of this movie, sorry for the mistakes and some bad grammar. Actually I’m very excited to write this analysis and hope you can understand my explanation above.

March 4, 2012 at 18:49 Leave a comment

Gadis Kecil

Gadis kecil, gadis kecil, yang selalu sendiri
di sudut taman, di sudut taman, menyendiri sepi
sahabatmu hanyalah senja, tanpa bayang matahari

Gadis kecil, gadis kecil, yang selalu tersenyum
kala hujan telah tiba-telah tiba basahi matamu, entah air mata atau derai hujan

-Jakarta, Mei 2011-

February 27, 2012 at 21:46 Leave a comment

Adam dan Hawa

pernah denger kisah penciptaan manusia melalui adam dan hawa?

yap, gue rasa sebagian dari lo yang baca ini pasti udah tau mengenai ‘tragisnya’ kisah adam dan hawa, diciptain tuhan, menikmati hidup di eden/surga, bikin dosa dah akhirnya dibuang ke bumi. kira-kira begitu kan?

sebenernya ada sedikit kontradiksi dalam kisah adam dan hawa ini. yap, mulai dari keaslian ceritanya, apa bener manusia pertama du dunia tuh adam dan hawa sampe beranak cucu? apa mungkin hanya dari dua manusia tercipta banyak manusia kayak sekarang. susah buat dijawab, gue ga mao maksa lo untuk percaya atau engga percaya dengan hal ini, itu urusan pribadi iman masingmasing orang.

yang jelas, dari kisah adam dah hawa, kita tahu bahwa Tuhan nyiptain manusia dengan segala kesempurnaannya, dan kisah adam dan hawa dikisahkan dengan baik di berbagai kitab suci. tapi, bukan masalah penciptaan itu yang mao gue bahas di sini.

gue lebih tertarik ke hubungan antara si adam dan si hawa. sekalipun kita gabisa tau adam sama hawa beneran ada atau engga, tapi relasi mereka berdua sebagai manusia pertama tuh menarik.

sekarang gue nanya sama lo yang baca post gue ini, di antara adam dan hawa, siapakah yang cintanya lebih gede? adam apa hawa?

kalo buat gue, adam jauh lebih mencintai hawa, ketimbang si hawa mencintai si adam. Inget pas si hawa makan apel pemberian ular iblis, padahal udah dilarang sama Tuhan? but, yep she still did it. dan lo tau kan apa yang dilakukan hawa selanjutnya. doi panik, resah, galau, dan ujung-ujungnya curhat ke adam kalo dia udah berbuat dosa.

nah sebagai seorang cowo, adam harusnya punya beberapa pilihan menyikapi curhatan si hawa ini:

a. kamu bandel sih yang, jadi kena dosa deh, yaudah minta maaf sono ke Tuhan
b. pe’a lu dasar, jangan bilang lu ngajak gue bikin dosa juga?
c. kamu tenang aja, nanti kalo kamu dibuang ke bumi, jaga diri baik-baik ya
d. yah, kalo kamu dibuang ke bumi, aku “begituan” sama siapa dong? yaudah deh, sini biar aku makan juga apelnya, biar kita sama-sama dibuang, jadi kita masih bisa “begituan”.
e. kalo kamu mati, aku mati. kalo kamu dibuang, aku juga harus dibuang. sini apelnya, kamu belahan hatiku, kita ga boleh dipisahhkan.

tararat. itu opsi imajiner yang gue rasa ada di pikiran adam saat itu, gue rasa sebagai seorang manusia, opsi a-c itu wajar, opsi yang ga mau ikut dirugiin. opsi d juga logis, nunjukin kalo cowo dan cewe perlu untuk menuhin kebutuhan biologis, dan demi itu mereka bisa ngelakuin apa aja. opsi e bener-bener opsi imajiner, gue gatau apa di jaman sekarang ini ada manusia yang mau milih opsi kayak gitu, tapi mungkin aja sih, demi cinta apapun bisa dilakukan.

dan pada akhirnya, adam ikut makan apelnya dan diusir dari Eden. motivasinya? apakah sekadar cinta atau napsu, kita ga bisa tau.

di sini gue mao nunjukkin, seorang pria bisa lemah banget sama seorang wanita, dan gue rasa poin penting ini sering ga disadarin sama orang yang tau kisah adam dan hawa, kebanyakan terbuai sama keajaiban tuhan menciptakan semesta dan manusia, poin terpenting tentang pengorbanan adam malah dianggep sepele. padahal, gue rasa ini hal terpenting di kisah ini, dan pengorbanan adam ini sering banget terjadi di jaman sekarang, satusatunya bagian dari kisah penciptaan adam dan hawa yang abadi dan realistis ya cuma pas bagian hawa berbuat dosa terus ‘ngajak’ adam nemenin dia bikin dosa juga.

itu cuma pandangan gue doang, engga bermaksud menyesatkan atau apa, tapi emang pengorbanan adam itu bener kan? andaikata dibalik, adam yang bikin dosa duluan, mungkinkah hawa mao diajak ikut bikin dosa juga. gue ga yakin. gue gamao bilang kalo cewe lebih egois dari cowo, tapi beberapa cowo emang dalam situasi kayak adam, pasti ga berdaya di depan cewe. atau mungkin malah lo pernah ngalamin hal yang gue bilang tadi.

still, mereka yang bikin cerita adam dan hawa di jaman bahela sungguh cerdas, seolah-olah si ‘pembuat cerita’ udah tau kalo sampe kapanpun, laki-laki pasti akan takluk di tangan wanita hehehe.

January 5, 2012 at 14:20 2 comments

A Goalkeeper (End)

Okey, ini adalah chapter terakhir dari kisah kepenjagagawangan gue yang terbentang dari awal karir gue sampe akhir kelas 3 SMA. Dan chapter ini adalah lanjutan dari chapter lalu, yaitu akhir-akhir karir gue di tahun terakhir gue di SMA..

***

Berhubung gue udah menjadi anggota ekskul futsal FV lagi, tentu akan ada kesempetan buat gue mewujudkan cita-cita gue, yaitu tampil membela FV di cup-cup futsal. Yap, apalagi kelas 3 cuma diberi kesempatan sampe Desember buat ikut cup, jadilah kira-kira cup yang paling mungkin diikuti cuma SMAK 7 cup, Canisius Cup turnamen mini-soccer dua tahunan, Theresia Cup mini-soccer dua tahunan juga dan cup-cup lain.

Seleksi pertama tuh sekitar awal Oktober 2009 buat SMAK 7 Cup. Gue yakin seleksi ini akan berjalan mudah buat gue, terlebih lagi Karno memutuskan untuk pensiun, jadi otomatis dari kelas 3 cuma gue sama BC doang. Dari kelas 2 ada Temon, dan dari kelas 1 ada Tides. Tapi kualitas mereka saat itu ada di bawah gue dan BC jadi gue ga perlu khawatir. Satu-satunya masalah ya kalo si Pa Agus sebagai pelatih pengen melakukan regenerisasi. Bisajadi salah satu kiper muda bakal dibawa. Kekhawatiran gue itu jadi nyata, manakala pas hari pengumuman, kiper yang dibawa justru BC sama Temon, pemain lain macem Erik, Raby, Anu juga ga dibawa. Aneh dan menyebalkan. Kenapa? Oke, gue bisa teriman kalo yang ngegeser gue Karno yang levelnya masih sedikit di atas gue saat itu. Tapi ini Temon, yang jelas-jelas gue yakin ada di bawah gue. Shit, man.

Pada babak grup, FV awalnya mulus meskipun pada pertandingan terakhir performanya buruk. Akhir setelah masuk semifinal pun, FV harus tunduk dari lawan yang sebenarnya kualitasnya ga gitu bagus. Jadilah cuma perebutan juara ketiga lawan musuh bebuyutan, SMA Antonius.

Suporter FV sama Antonius sama ramenya. Tapi FV harus ketinggalan 1-3 dulu kalo ga salah. Barulah Nico, Dansut dan pemain lain berusaha mati-matian sehingga skor menjadi 3-3 dan memaksakan pertandingan berlanjut ke ekstratime. Pada babak ekstratime, FV ketinggalan lagi 3-4, tapi dibales lagi jadi 4-4. Suporter Antonius yang tadinya ramepun jadi kalah rame soraksorainya sama suporter FV. Berlanjut ke adu pinalti, FV yang emang udah terlatih adu pinalti pun dengan mudah mengalahkan Antonius di babak adu pinalti.
Jadilah FV jadi juara tiga futsal di SMAK 7. Setelah pertandingan itu ada pertandingan final futsal putri, FV lawan SMAK 7. Dan berhubung futsal putri FV top class semua, jadilah mereka juara dengan mudah. Gue bersyukur juga ga diikutin di cup ini, karena ternyata sebagai kiper cadangan, si Temon ga dimaenin sama sekali.

Seusai cup di SMAK 7, lanjut seleksi buat Canisius Cup mini-soccer. Kali ini gue abis-abisan pas latihan. Dan akhirnya gue kepilih sama BC. Pemain-pemain lain yang dipilih rata-rata pemain allstar FV (kelas 3) ditambah pemain muda lain macem Ervin, Monang, Josef, Kevin Momo, Tommy. Sebagai catatan, ini merupakan cup kedua gue sepanjang sekolah di FV, sekaligus cup pertama gue bertanding di luar sekolah. Jadi Canisius cup ini spesial buat gue.

Pertandingan pertama di Canisius Cup tuh petandingan kualifikasi melawan.. Don Bosco. Yap, Don Bosco yang dulu ngalahin FV di FV cup. Prestise pertandingan ini tinggi jadinya. Alhasil pas pertandingan kedua tim gaada yang mao ngalah. FV sempet ketinggalan 0-1. Tapi di akhir babak kedua, Ervin ngebales gol tersebut. Jadilah skor akhir 1-1, dan dilanjutkan langsung dengan adu pinalti. Pas adu pinalti, ya, seperti udah bisa diduga, FV yang lebih terlatih dalam hal pinalti, unggul 2 gol atas Don Bosco. FV melaju ke penyisihan grup yang akan digelar awal November.

FV dapet grup neraka. Yap, selain SMA St Lucas, dua tim lain merupakan tim kuat. Pangudi Luhur dan Theresia. FV ngelawan St Lucas dulu, baru abis itu lawan PangudiLuhur dan Theresia. Pertandingan ngelawan St Lucas berjalan mudah, FV unggul lewat gol Ervin dan sebuah freekick jarak jauh dari Cocok, 2-0 FV menang. Kejutan justru terjadi pas PangudiLuhur kalah lawan Theresia, kalo ga salah 1-4. Otomatis PangudiLuhur (PL) butuh kemenangan pas ngelawan FV. Pertandingan pun dimulai, dari menit awal kedua tim ganti-gantian nyerang. Tapi PL yang emang udah terlatih main bola/mini-soccer berhasil unggul 2-0 duluan. Kemudian heading dari Erik berhasil bikin skor 2-1. Tapi di akhir pertandingan PL berhasil memanfaatkan kelengahan BC dan skor jadi 3-1. Sebenernya gue kesel, soalnya di pertandingan itu BC lagi kurang bagus mainnya, tapi gue heran kenapa gue masih ga dipasang-pasang juga sama si Pa Agus..

Okey, sementara itu Theresia berhasil menang telak lawan St Lucas, sampe 8-0 kalo ga salah. Nah disinilah situasi yang sulit terjadi. Secara matematis, PL dengan poin 3 dan selisih gol 4-5, pasti menang telak di pertandingan berikutnya lawan St Lucas. Sementara FV dengan poin 3 dan selisih gol 3-3 harus melawan Theresia yang punya poin 6 dan selisih gol 12-1. Sementara St Lucas nyaris udah ga punya harapan karena poin masih 0. Theresia 80% lolos dengan surplus gol +11. Sementara FV masih harus bersaing dengan PL karena poinnya sama. PL kemungkinan bisa menang sampe 5-0 lawan St Lucas yang berarti surplus +4 gol. Dan supaya FV bisa ngalahin PL dalam selisih gol, berarti FV kira-kira harus menang 5-0 lawan Theresia! What a! Hal ini terlontar dari mulut Erik ketika gue sama dia lagi leha-leha di pinggir lapangan seusai lawan PL. “Yaudah, kita tinggal bantai Tere 5-0 boi!” Dan kata-kata Erik itu kedengeran sama anak Theresia. Nyaris terjadi cekcok anatara anak FV dan Theresia.

“Pertandingan lawan Theresia adalah penghinaan terbesar dalam karir peresepakbolaan dan perfutsalan gue”

To the point aja, FV kalah 0-4. Nyaris 0-5. Nyesek banget, ketika awalnya semangat buat menang 5-0, justru malah dikasih hasil yang sebaliknya. Sekalipun gue ga main, tapi pedihnya berasa sampe ke ubun-ubun. Ibaratnya Real Madrid yang kalah 0-5 dari Barcelona pas taun 2010. Nyesek

Yang bikin gue yambah kecewa, yaitu pas ternyata cup ini akan menjadi cup terakhir buat anak-anak kelas 3. Hasil semengecewakan ini ga pantes jadi penutup karir anak-anak kelas 3. Akhirnya, secara illegal, anak-anak kelas 3 daftar ikut mini-soccer cup di Theresia pas bulan Desember. Yap, ini illegal, tanpa persetujuan sekolah, dan kalo ketauan bisajadi sanksi berat nimpa anak-anak kelas 3. Sekalipun pas cup itu ada juga anak kelas 1 yang dibawa, Tommy+Ervin. Sisanya anak kelas 3, sampe Andre Ina yang ga pernah ikut cup pun dimasukkin. Ini cup terakhir, harus ditutup dengan manis. Dan seperti biasa, gue jadi cadangannya BC, tapi gue udah bisa nerima situasi ini kok, mungkin itu yang disebut kedewasaan. Rasa iri gue udah sirna.

Masuk pe penyisihan grup, FV lawan Ipeka di pertandingan pertama. Ipeka lawan yang gampang sebenernya, tapi entah mengapa FV ga berhasil menang, dan cuma seri 1-1. Tapi ga masalah selama itu bukan kekalahan. Pelatih FV saat itu abangnya si Pangeran, dan doi cukup bisa ngatur strategi dibanding Pa Agus. Pertandingan-pertandingan selanjutnya sepertinya gaakan terlalu sulit, dan gue optimis dimainkan di pertandingan terakhir. Sekaligus jadi pertama kalinya gue main di luar sekolah dan tampil di lapangan. Hari itu gue tunggu-tunggu banget.

“Manusia bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.”

Gue baru paham hal ini ketika beberapa hari sesudah pertandinga lawan Ipeka, gue kenan DBD. Ancur hati gue, bener-bener ancur, cup terakhir gue, yang seharusnya gue tutup dengan manis, yang seharusnya gue main untuk pertama kalinya di luar sekolah. Hancur seketika. Meskipun gue selalu sms Erik tiap sebelom pertandingan buat kasih support ke anak-anak, tapi gue sedih banget. Ilang begitu aja kesempatan gue. Tapi mungkin, itu yang terbaik buat gue dan tim FV. Alhasil tim FV berhasil masuk final! Ngelawan musuh bebuyutannya Theresia. Dengan segenap tenaga mereka bertanding melawan Theresia, sekalipun pada akhirnya tetap kalah 0-2, paling engga, effort yang udah ditunjukin sepanjang cup tentu membanggakan. Akhirnya inilah penutup karir yang paling manis yang bisa didapet..

***

Cup ini merupakan cup terakhir buat anak-anak kelas 3. Ekskul pun cuma diperuntukkan buat anak kelas 2 dan 1. Dan dengan amat menyesal, merekalah yang menanggung dosa para anak kelas 3. Yap, cup yang diikutin secara illegal ini ternyata berbuah konsekuensi bahwa selama 6 bulan ke depan, ekskul futsal tidak akan mengikuti cup apa-apa lagi. So sorry for them to carry our sin.

Main futsal atau bolapun udah ga jadi prioritas gue lagi, semester 2 gue isi dengan memfokuskan diri di kegiatan akademik. Ekskul futsal gue tinggalin, tanding di futsal city udah ga pernah. Cuma belajar+ulangan+tryout sampe akhirnya ujian negara dan ujian sekolah.

Sebersit kabar gembira menyeruak di awal Mei 2010. Waktu itu osis pengen ngadain klasmit, dan kelas 3 dibolehin ikut. Soalnya pas Desember lalu, kelas 3 ga dibolehin ikut klasmit gara-gara ada pelajaran tambahan. Jadilah ini kesempatan terakhir untuk bersenang-senang. Mengenai format klasmitnya sendiri mereka belum pasti, baru pas akhir Mei dikasih taunya. Jelas gue seneng, skealigus juga miris, karena gue ga yakin kelas gue dengan skuad yang kurang mumpuni akan sanggup berbuat banyak. Tapi mendadak keraguan gue berubah pas akhir Mei, manakala panitia klasmit ngasih tau kalo kelas 3, ntar gabungan dua kelas dua kelas. Jadi dari total 8 kelas di angkatan gue bakal dirembuk jadi 4 tim aja, dan 1 tim isinya dua kelas. Biar adil, akhirnya pake sistem undian. Dan, kelas gue 3S3 gabungan sama 3S5! It’s over, futsalnya tanpa harus ditandingin pun udah pasti juara. 4 kiper terbaik FV ngumpul di 1 tim, ditambah lagi 2 playmaker terbaik juga ngumpul di 1 tim. Apalagi coba? Haha

Kiper: Gue, Karno (S5), Dipta
Defense: Cocok (S5), BC, Agus, Devan
Balance: Nico, Richard, Martin (S5)
Offense: Kevin Ahong (S5), Erik (S5)

Kelas gabungan lainnya, 3S1-3S4, 3S2-3S6, 3A1-3A2. Yang paling berat cuma 3S2-3S6 doang.

Dari situ gue udah yakin tim gue bakal juara.
Dan jalan yang ditempuh kelas gue relatif berat, pertama ngelawan X2 yang ada Tommy+Tidesnya, akhirnya tetep menang 6-1. Pertandingan kedua lawan X3 yang kuat adu fisik dan paling jago di angkatan mereka, tetep menang 5-1. Dan semifinal ngelawan gabungan 3S2-3S6. Gue kira ini akan jadi semifinal yang seru, tapi ternyata engga, soalnya pas hari-H banyak yang gabisa hadir, ada yang lagi ospek, test snmptn, daftar ulang kampus. Dari tim gue, gue, Karno, Cocok, Erik, Ahong gabisa dateng. Dari tim mereka, Pangeran, Kamser gabisa dateng. Akhirnya tim gue bertumpu pada Nico-Marti-BC, dan tetap terlalu tangguh buat tim mereka, dan menang 5-1.
Siangnya langsung final lawan gabungan 3A1 dan 3A2. Classic match, pertandinga ulangan final tahun lalu. Kalo pas siangnya, cuman gue sama Erik doang yang gabisa dateng. Alhasil pertandingan berlangsung ketat dan seimbang, tapi tetep akhirnya tim gue yang menang 2-1. True champion, akhirnya juara klasmit futsal sekalipun gabungan dan ga sempet main. Tapi bener-bener penutup yang manis. Taun terakhir yang begitu manis.

5 taun perjalanan karir gue sampe SMA berakhir di situ. Kalo lo ngikutin cerita ini dari awal, pasti pahan bagaimana perjuangan gue dari nol sampe akhir chapter ini. Ga mudah, berliku, tapi juga dramatis. Dan ketika melihat kembali perjalanan karir gue itu, ternyata pengalaman yang sederhana bisa menjadi kenangan yang berharga untuk diceritakan kembali.
-Salam, Boi.

TAMAT

December 10, 2011 at 11:33 1 comment

#Extra1: Team Review 2008-2009

Berikut ini adalah review gue atas tim di angkatan gue. Review ini adalah review kualitas tim dan pemain dari tiap kelas XI angkatan 2008-2009. check this out:

NB:

Offense: quality of offense
Defense: quality of defence
Strength: quality of strength and body power
Teamwork: quality of teamwork
Balance: quality of team’s composition; main and reserve squad

-Penilaian kualitas individu dengan tanda (****) atau bintang
-Penilaian kualitas individu dilakukan penulis secara obyektif
-Standar penilaian menggunakan standar penilaian global, bukan berdasarkan kualitas pemain di kelasnya, melainkan kualitas pemain di tingkat sekolah.
-Semakina banyak (*)/bintang, maka semakin tinggi kualitas pemain tersebut

——————————————————-

XIA1
2A1 berhasil menjadi runner up klasmit Juni 2009. Tak bisa dipungkiri, aktor utama keberhasilan mereka menembus final adalah Anu dan Andre Timmy. Anu sebagai satu-satunya striker murni dengan insting paling tajam satu angkatan. Sementara Timmy merupakan fullback terbaik satu angkatan, setara dengan Cocok. Kedua pemain ini berperan signifikan dalam penyerangan (Anu) dan pertahanan (Timmy). Kekuatan serangan dan pertahanan mereka cukup baik, hanya saja, ada kejomplangan antara pemain utama dan pemain cadangan. Beda kualitas yang terlalu jauh ini menjadi kelemahan terbesar mereka.

Offense: 85
Defense: 70
Strength: 70
Teamwork: 65
Balance: 50

List of Players

Michael Anugerah (*****)
Andre Timmy (*****)
Vincent (***)
Indra Cukong (**)
Donny (*)
Dennis (**)

—————————————————-

XIA2
2A2 bukanlah kelas yang memiliki skuad bagus. Tercatat hanya Anton dan Martin yang memiliki kemampuan mumpuni. Tidak ada yang spesial dari 2A2, fokus utama mereka bukan pada cabang futsal.

Offense: 55
Defense: 50
Strength: 75
Teamwork: 50
Balance: 40

List of Players

Anton (***)
Ardy (**)
Martin Handoko (***)
Haryanto (***)
Timothy (*)

—————————————————

XIS1
Tim ini merupakan tim yang defensif. Dengan Tegar dan Dansut yang memiliki naluri defense tinggi, serta Albert yang notabene merupakan salah satu kiper yang cukup baik. Terlepas dari pertahanan yang baik, 2S1 tidak memiliki pemain bernaluri ofensif, hal ini membuat prestasi mereka mandek saat klasmit. Kurangnya pemain cadangan yang kompeten turut menjadi titik lemah tim ini selain kekurangan di lini depan.

Offense: 65
Defense: 75
Strength: 70
Teamwork: 65
Balance: 55

List of Players

Tegar (*****)
Dansut (****)
Albert (***)
Rendy Susu (**)
Wisnu (**)
Harry (**)

—————————————————–

  XIS2
Adu fisik merupakan senjata andalan tim ini. Dua punggawa yang seringkali memperkuat tim FV turut berada di kelas ini, Raby dan Pangeran. Kedua pemain yang dikenal karena fighting spirit yang tangguh ini dibantu juga oleh Kamser, Septa dan Andre Ina. Jadilah 2S2 menjadi tim dengan keunggulan fisik dibanding tim lain yang seangkatan. Sektor penyerangan 2S2 cukup optimal, mengingat pemain-pemainnya memiliki shooting yang kuat. Kelemahan terbesar tim ini adalah sektor kiper. Nidji, merupakan kiper baru, seringkali membuat blunder dan kehilangan konsentrasi. Hal ini membuat 2S5 mudah sekali mencetak gol pada semifinal klasmit.

Offense: 80
Defense: 65
Strength: 85
Teamwork: 70
Balance: 65

List of Players

Pangeran (*****)
Raby (*****)
Kamser (***)
Nidji (**)
Andre Ina (***)
Septa (**)
Rafael Botak (*)

———————————————————–

XIS3
Sebagai salah satu kelas unggulan, 2S3 mempunyai skuad yang seimbang. Dari segi penyerangan ada sosok Erik-Nico, duet lini depan tertajam satu angkatan. Di lini pertahanan ada Agus, BC, Boi. BC diplot menjadi pemain bertahan karena kemampuan defensenya yang baik selain menjadi kiper. Sementara itu, dari bangku cadangan, para pemain seperti Richard, Jipi mempunya kualitas yang cukup baik sebagai pelapis. Kekuatan serangan S3 ada di atas rata-rata angkatan; pertahanan cukup stabil. Satu-satunya kekurangan adalah kerjasama tim. Kurangnya kerjasama tim dan komunikasi menjadi malapetaka bagi S3 manakala mereka takluk secara dramatis dari 2S2 di perempatfinal klasmit.

Offense: 90
Defense: 75
Strength: 75
Teamwork: 65
Balance: 70

List of Players

Nico (*****)
Boi (****)
Erik (*****)
BC (****)
Agus (***)
Jipi (***)
Jason (**)
Andre Berak (**)
Richard (***)
Robby (**)

——————————————–

      XIS4
Secara kualitas, 2S4 setara dengan 2A2. Tidak ada pemain yang menonjol ataupun superior. Hanya mengandalkan Maxi dan Arthur, tim ini seringkali menemui kesulitan dalam penyerangan dan pertahanan. Kekelahan 1-8 dari S3 di perdelapanfinal klasmit menjadi bukti bahwa mereka masih inferior dibanding tim lain.

Offense: 55
Defense: 40
Strength: 65
Teamwork: 55
Balance: 40

List of Players

Arthur (***)
Albert Lincu (***)
Michael Conrad (**)
Maxi (***)
Tendy (*)
Johan (*)

—————————————————

XIS5
2S5, tidak diragukan lagi merupakan tim tersolid se-angkatan. Memiliki dua playmaker yang bisa saling melapis (Dewa, Martin), memiliki dua defender yang solid (Cocok, Frendy), serta kiper nomor 1 se-angkatan (Karno). Tidak ketinggalan striker S5 yang bisa disebut sebagai Inzaghi Marsudirini, Kevin Ahong, dan juga pemain dari bench yang cukup bisa melapis. 26 gol dalam 4 pertandingan menjadi bukti kedigjayaan mereka sebagai juara klasmit futsal 2009. Penyerangan dan pertahanan yang stabil membuat jarang ada tim yang mampu mengalahkan mereka. Kelemahan 2S5 adalah lemahnya konsistensi menjelang akhir permainan, entah kelelahan atau sengaja mengendurkan pertahanan atau apa, seringkali mereka banyak kejebolan pada akhir-akhir pertandingan (FutsalCity, klasmit).

Offense: 90
Defense: 85
Strength: 70
Teamwork: 80
Balance: 75

List of Players

Cocok (*****)
Eduardus Martin (*****)
Sukarno (*****)
Dipta (***)
Dewa (****)
Frendy (****)
Almerio (**)
Samuel (**)
Kevin Ahong (***)
Starchan (**)
Hans Senyum (**)

——————————————————–

Tadi itu review singkat gue, bagian extra lah istilahnya. semua ditulis dengan obyektif, berdasarkan penilaian gue seusai klasmit Juni 2009.

November 27, 2011 at 16:53 Leave a comment

A Goalkeeper

Yep, sampai juga pada 2 chapter terakhir kisah kepenjagagawangan gue. Isinya cuma karir perfutsalan di tahun terakhir gue di SMA sih, tapi sengaja gue pisahin jadi dua bagian, soalnya bagian terakhir ini rada panjang, dramatis pula. So, let’s begin the story…

***
Kalo boleh ditotal semenjak gue jadi kiper yang bisa ngejatohin badan, berarti udah 3 tahun 8 bulan gue melaluinya (November 2005-Juli 2009). Kalo diruntut sejak pertama kali gue nyoba jadi kiper beneran berarti udah sekitar 6 taun (Juli 2003). Such a long period.

Gue tiba di tahun terakhir gue di SMA. Dan seperti kisah “Anak yang Hilang” di perumpaan yang diceritakan Yesus di Alkitab, gue udah kembali. Gue yang dulu sempet ikut ekskul futsal, terus keluar, kini kembali lagi jadi anggota ‘keluarga futsal FonsVitae Marsudirini’ *aalah kepanjangan.
Yep, gue berterimakasih ke Erik yang secara tidak sengaja membuat gue terpaksa bergabung lagi. Kebetulan, sekitar awal Agustus 2009, SMA gue ngadain lomba, cabang olahraga dan seni, salah satunya futsal. Shall I join the competition? Or shall I be idealistic again? Dua pertanyaan itu berkecamuk terus.
Di satu sisi, mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir gue untuk memperkuat tim sekolah gue buat tanding lomba futsal. Di sisi lain, kalo gue ikut seleksi tim dan kepilih, berarti pelatih gue adalah Pa Agus, orang yang justru ga mendapat respek gue selama 3 tahun terakhir di SMA.

Gue ngalah sama idealisme gue. Ini kesempatan gue, harus gue manfaatkan. Gue udah cukup lama mencari pengalaman jadi kiper, ini saatnya gue show off. Dan gue pun mengikuti proses seleksi.

Proses seleksinya cukup kompetitif. Saingan gue sebagai kiper ada BC, Karno. Ada juga pesaing lain, yang juga belom lama ikut ekskul: Dipta dan Vincent (kelas 3), Temon (kelas 2), Tides dan Dean (kelas 1). Cukup banyak, dan yang dipilih cuma 4 kiper doang buat ngewakilin tim Fv A dan Fv B. Kalo takarannya pengalaman, jelas gue, Karno, BC yang dipilih. Proses seleksi cukup panjang, sekitar 2 minggu, dan tibalah hasil pengumuman. Fv A adalah tim utama yang difokuskan pemain-pemain senior, Fv B buat tim yang relatif lebih junior. Satu persatu pemain yang lolos seleksi dipanggilin, BC jadi kiper utama tim A, dan secara mengejutkan Karno dipilih jadi first choice goalkeeper di tim Fv B. Gue jadi bertanya-tanya, dimanakah gue bakal ditempatkan. Pa Agus akhirnya masukin gue jadi second choice goalkeeper di Fv A, dan Dipta jadi second choice di Fv B. Kalo boleh jujur, sebenernya gue kecewa. Gue lebih memilih jadi cadangannya Karno yang jelas kualitasnya ada di atas gue saat itu. Sementara faktanya gue jadi cadangannya BC; bukan maksud nyombong nih, gue ga ngerasa kualitas gue ada di bawah BC. Kecewanya bukan itu aja, kalo gue se-tim sama Karno minimal gue bisa jadi back-up dia yang solid, soalnya tipe goalkeeping gue gabeda jauh dari Karno. Sama-sama jago main lemparan, sama-sama suka main langsung ke depan. Sementara BC tipe kiper yang ultra-defensif, bertolakbelakang banget sama gue, gue sekelas sama dia jadi ngertilah sama ability gue.

Secara tim, kualitas tim Fv A sama Fv B jomplang banget. Tim Fv A isinya all starnya Marsud semua, sementara Fv B rata-rata muka baru semua. Secara karakter, Fv A pasti lebih tinggi egonya dibanding Fv B. Sulit nyari sosok true leader di tim Fv A, kaptennya emang Pangeran, tapi di Fv A ada pemain yang keras kepala macem Erik, Anu, Tegar. Kualitas pemain yang relatif setara juga jadi problem. Terkadang di suatu turnamen, tim lu akan butuh sosok superstar dan hero. Tim Fv A, dengan kualitas pemain yang setara, ga punya hal ini. Sementara Fv B, jelas pemain paling berpengalaman ya si Karno, dariawal gue udah ngeduga dia bakal jadi superstar di Fv B. Ibaratnya Oliver Kahn di World Cup 2002, atau Peter Smeichel *gatau nulisnya* di Euro 1992.

Prediksi gue sedikit banyak ada benarnya. Sepanjang babak penyisihan, Fv A melaju mulus, unbeatable 100% kemenangan mutlak, sempet menang 4-0 dan 7-0. Gue sempet main full di pertandingan terakhir grup vs SMA Damai, dan menang 7-0. Bagaimana dengan Fv B? Fv B juga sukses jadi juara grup kalo ga salah. Meskipun perjuangan mereka relatif berat, tapi mereka cukup kompak. Sesuai dugaan gue, Karno jadi Man of the Match di setiap pertandingan Fv B. Leadershipnya ketara banget, bisa ngangkat pemain muda di Fv B.
Alhasil semifinal menanti. Fv A sebagai juara grup 1, ngelawan runner up grup 2, Don Bosco. Sementara Fv B ngelawan runner up grup 1, SMA 31.
Pertandingan yang pertama Fv B vs 31. Pertandingan di luar dugaan, 31 langsung ambil alih permainan, Fv B langsung ketinggalan 4-1, Karno juga lagi jelek mainnya. Untungnya pas babak kedua Fv B berhasil ngejar, meskipun pada akhirnya 31 tetep menang, 5-4. Kebetulan salah satu pemain 31 (namanya Syahdan kalo ga salah) yang pas tanding lawan Fv A di grup 1 ga main, di pertandingan ini jadi Man of the Matchnya.

Selanjutnya Fv A vs Don Bosco. Berhubung ini semifinal, hasil pertandingan kadang ditentuin sama penampilan si pemain bintang; pertanyaanya, Fv A, yang gapunya superstar di timnya, apakah mereka sanggup ngalahin Don Bosco?…
Pertandingan berimbang dan berlangsung keras. Gue lupa gimana detailnya, tapi sampe pertengahan babak kedua, Fv A ketinggalan 1-3 sama Don Bosco. Situasi tim ga kondusif, timeout yang diambil pun ga gitu ngefek, alhasil sindrom ‘no real star’ terjadi. Erik tiba-tiba ngamuk dari bench dan ngebanting botol air gara-gara pengen dimainin. Pa Agus akhirnya mainin dia, takut mungkin kalo Erik ngamuk-ngamuk. Ga lama, Anu ngelakuin hal yang sama, tapi Pa Agus tak mengacuhkannya. Sampai tinggal menit-menit terakhirsi Anu dimainin. Ternyata, Pa Agus ga sadar kalo Anu lagi on-fire, ga berapa lama setelah dimasukkin, dia ngegolin. Situasi di lapangan bener-bener panas, penonton yang mulai kesel sama Don Bosco, mulai nyorakin mereka. Tapi percuma, karena ga sampe satu menit kemudian, pertandingan berakhir. Skor 3-2 untuk keunggulan Don Bosco atas Fv A.

Kelabu buat Fonsvitae. Tadinya ekspektasi begitu besar agar final di turnamen ini adalah derby Marsudirini antara Fv A versus Fv B. Sialnya, derby justru terjadi di perebutan juara ketiga.. Seusai pertandingan versus Don Bosco, beberapa pemain Fv A sempat bersitegang. Situasi tim kacau balau. Dan gue ga yakin, dengan situasi setidakondusif ini, Fv A bakal sanggup ngalahin Fv B besok.

Besoknya hari itu pun tiba. BC ga dateng, dan terpaksa gue main full di pertandingan ini. Tim Fv B fullteam, dengan Karno di bawah mistar gawang, di depannya ada Ervin, Anton, Monang, Tommy. Sementara tim gue, Timmy, Tegar, Martin, Nico (kalo ga salah). Bagi orang lain, pertandingan ini ga penting, cuma perebutan juara ketiga doang. Tapi bagi gue, pertandingan ini adalah sebuah harga diri. Yap, ini adalah “pertarungan pribadi gue lawan Karno”. Selama ampir 4 tahun, gue selalu ada di bawah bayang-bayang Karno. Ibaratnya kartun Tsubasa: Wakashimazu versus Wakabayashi. Kali ini saatnya gue ngelepasin diri dari belenggu itu, kalo gue berhasil menang, berarti gue akan jadi kiper nomor 1 di Marsud.

Pertandingan dimulai, cuaca terik-seterikteriknya. Fv B berhasil unggul duluan lewat tendangan keras Ervin. Fv A ngebales, Nico ngegolin. Fv B ngegolin lagi lewat akselerasi Monang. Dibales lagi sama Fv A, lewat Dansut. Tapi lagi-lagi dibales lagi sama Ervin. Babak pertama berlangsung seru dengan serangan silih berganti. Kedudukan 3-2 untuk keunggulan Fv B. Malapetaka buat gue dateng di babak kedua. Gue ngebikin blunder fatal. Ervin ngeshoot bola datar ke arah kanan, pertama gue pengen nangkep, entah mengapa jadi gue tepis. Dan bodohnya, bukan gue tepis ke samping, bolanya malah gue tepis ke depan. Jadilah bola tiba di kaki Monang, dan dengan mudah di nyeplosin bola ke gawang kosong. Gol. Sehabis gol itu, gue down, ngerasa bego iya. Gue ngerasa ada gap besar antara gue dan Karno gara-gara gol tolol itu. But the match still yet to over. Andre Timy berhasil menghidupkan nyawa tim Fv A setelah tendangan kerasnya ngejebol gawang Karno. Situasi ketat, skor 4-3. Fv A ngegempur Fv B terus-terusan. Tapi seolah ada tembok di depan gawang Fv B, entah itu jampi-jampi atau kiper lawan yang jago (cape nyebut namanya haha). Malahan, tim Fv B yang ngejebolin gawang Fv B setelah Tegar ngelakuin blunder, bolanya direbut David dan gol. Di sisa akhir pertandingan Karno digantiin sama Dipta. Pertandingan berakhir dengan kemenangan 5-3 Fv B atas Fv A. Pertandingan tersebut ngebuktiin gaada yang mustahil dalam pertandingan. Di atas kertas materi Fv A jauh jauh lebih berkualitas dari Fv B, tapi fakta berbicara lain. Akhirnya, gue dan pemain Fv A lain terpaksa tersenyum kecut ketika ngelihat pemain Fv B ngangkat trofi juara ketiga T_T

***
By the way, FV cup tadi itu prolog dari chapter ini, ada kisah yang jauh lebih mendebarkan sekaligus menyedihkan di chapter ini. Sekarang gue mulai cerita tentang situasi perfutsalan antar kelas. Kebetulan kelas 3 kali ini dibagi atas 6 kelas IPS, 2 kelas IPA. Rata-rata komposisi murid sama, cuma ‘beberapa orang’ doang yang dipindah. Sialnya, pihak sekolah nampaknya gatau betapa vitalnya ‘beberapa orang’ ini dalam kondisi perfutsalan antarkelas di Fv.
Mari gue gambarkan:

Transfer (pemain futsalnya doang)
XIIS6. In: Kamser(!), Maxi (!), Dewa(!!), Albert (!), Starchan, Jason.. Out:-

XIIS5. In: Erik (!!!).. Out (from XIS5): Frendy (!!), Dewa (!!), Dipta (!)

XIIS4. In:- Out (from XIS4): Maxi (!)

XIIS3. In: Dipta (!).. Out (from XIS3): Erik (!!!), Berak, Jason.

XIIS2. In: Berak.. Out (from XIS2): Kamser (!)

XIIS1. In: Frendy (!!).. Out (from XIS1): Albert (!)

XIIA1. In:- Out:-

XIIA2: In:- Out:-

NB:
(!) : important player for the former class
(!!) : very improtant player for the former class
(!!!): very very impotnat player for the former class

Hmm semoga penjabaran gue di atas tadi bisa dimengerti. Anyway, peta kekeuatan angkatan gue jadi nyebar sih. 3S6 jadi kekuatan baru dengan Dewa-Maxi-Kamser-Albert. Ipa ngga mengalami perubahan, tetep kelas 3A1 jadi salah satu kompetitor tangguh dengan Andre Timy dan Anu. 3S1 kedatangan defender tangguh, Frendy, tapi mereka kehilangan kipernya, Albert. 3S2 kehilangan Kamser yang berarti kerugian besar, karena sektor penyerangan mereka cuma bertumpu sama Andre Ina dan Pangeran. 3S4 kehilangan Maxi, dan membuat skuad mereka semakin menurun kualitasnya. Sementara 3S3 dan 3S5 seolah digembosi habisa-habisan. 3S3 kehilangan Jason dan Andre Berak, dua defender yang cukup tangguh, dan kehilangan terbesar gue adalah dipindahkannya Erik ke S5! Kebayang betapa beratnya perjuangan kelas gue ke depannya dengan hanya mengandalkan Nico. Tapi untungnya ada Dipta in ke kelas gue, jadi gue sama Dipta bisa saling backup. Sementara 3S5, kehilangan Dewa si playmaker dan Frendy si defender tentu ngasih impact yang besar. Tapi, mereka kedatengan Erik, pemain yang secara ofensif merupakan striker dengan kemampuan ofensif terlengkap.

Jelas, sangat jelas, 3S5 jadi poros kekuatan terbesar di angkatan gue. Secara matematis, gaada kelas lain yang sanggup ngalahin S5, terlebih lagi setelah Erik masuk.

‘Turnamen rutin’ di futsalcity seakan ngebuktiin betapa parahnya efek kehilangan Erik buat kelas gue. Kelas gue kalah terus lawan 3S6. Ya, kelas baru itu. Kelas gue jadi pesakitan, bahkan cuma bisa menang lawan 3S2 yang bermain tanpa Pangeran. Di tengah frustasinya gue pada saat itu (September/Oktober 2009), akhirnya gue mencetuskan untuk mengadakan rematch dengan S5. Skuadnya pake skuad pas kelas 2. Jadi, Andre Berak, Jason, Erik main buat kelas gue. Sementara Dewa, Frendy, Dipta main buat 2S5. So far juga kelas gue masih imbang 1-1 dengan S5. Sekali kelas gue menang di Futsal City, sekali kalah pas klasmit.

Kelas gue mulai dengan lambat, akhirnya ketinggalan cukup jauh, ampir 7 gol. Gue juga nampak kepayahan, dateng telat pula gue kalo ga salah. Untungnya, gue punya duet maut Erik-Nico. Perlahan-lahan kelas gue ngejar, sampe skor akhirnya cuma beda dua gol. Frendy kayaknya kewalahan nanganin Erik yang fisiknya jauh lebih kuat, sementara Cocok kewalahan ngatasin akselerasi si Nico. Jadilah di menit-menit akhir pertandingan, kelas gue nguruh pertahanan “2S5″. Dan sebuah long passing dari Nico ke depan gawang, di sana ada Erik udah nunggu, tapi dia dijaga ketat Frendy. Tapi berkat body balancenya dia berhasil menang adu body lawan Frendy dan Karno. Gol. Skor cuma beda 1, 10-11 kalo ga salah. Sampai tiba-tiba pertandingan berakhir. Gue ngeliat ke arah jam, kayaknya pertandingan mulai jam 3.15, tapi abisnya sekitar 4.08. Tapi yaudahlah, mungkin lagi apes aja tautau kelar lebih cepet. Gataunya, salah satu anak S5 ada yang bilang ke abang yang jaga tempatnya kalo mainnya udh kelar di lapangan itu; dalam bahasa sederhannya: dicepetin abisnya!

Gue yang masih emosi garagara kelas akhirnya lepas kendali, gue protes dan ngomel-ngomel ke arah bench S5, sekalipun harus berantem dan dikeroyok, gue ga peduli, gue ga teriman didzolimi. Itungannya kelas gue kalah ga fair kalo gitu. Gue teriman kalah 1 gol atau 5 gol sekalipun asalkan caranya bener. Kalo begini kan bikin esmosi… (Waktu itu gue benerbener marah coy)

Semenjak saat itu, gue ogah ngadu futsal di FutsalCity lagi hahaha..

Anyway, segitu dulu buat bagian pertama ini.. Soalnya kalo gue lanjutin bakal kepanjangan sob.. Jadi ditunggu aja post lanjutannya yak..

November 26, 2011 at 22:57 Leave a comment

Bad Goalkeeper

Berhubung banyak orang yang nyuruh gue buat ngelanjutin cerita tentang karir kepenjagagawangan gue, maka sebagai penebusan hutang, cerita ini akan gue lanjutkan huehuehue.

***

Cerita berlanjut pas gue naik ke kelas 2 SMA. Berhubung kelasnya dibagi IPA dan IPS, otomatis murid-muridnya diacak lagi. Dan gue sampailah di kelas 2S3 (2 Sosial 3), dan waw, secercah harapan menghampiri gue, kenapa? Soalnya skuad futsal kelas gue ini kece bener cuy. Gue sekelas lagi sama Erik, tambahannya, di kelas gue ada Nico si prince of soccer dari X1 dan ada BC, si kiper nomor 2 Marsud. Ditambah pemain lain kayak Jason, Richard, Jipi, Agus dll yang main futsalnya juga lumayan.

Sementara itu, kelas lain cenderung ga menonjol banget, kecuali: 2IPA1 ada Anu dan Andre Timy, 2S2 ada Pangeran dan Raby. Dan yang paling bikin gue was-was adalah 2S5. Di 2S5 ada Karno, Dewa, ditambah pemain lain macem Martin, Frendy, Cocok. Tiga nama terakhir waktu itu gue ga tau spesifik kemampuannya gimana, yang jelas rintangan terberat gue adalah 3 kelas itu.

Masuk ke bulan November 2008. Angkatan gue ini ngadain liga kecil-kecilan. Jadi tiap kelas ngadu futsal gitu di Futsal City Kalimalang. Anyway, dari satu angkatan, yang paling menonjol kayaknya 2S5. Mereka unbeatable. Sementara itu kelas gue baru aja kalah tanding lawan 2S2. Harusnya menang, tapi gue blunder 4x, ngoper bola ke lawan, jadilah kalah. Di tengah kekesalan karena kekalahan itu, akhirnya kelas gue ngajak ngadu 2S5 yang hari itu abis tanding juga. Jadilah pertarungan paling akbar di tahun ini dimulai. Kelas gue ketinggalan dulu karena gue masih aja blunder, dan gue terpaksa digantiin Erik, dia jadi kiper. Kedua tim sama-sama kelelahan. Pertandingan sebenarnya antiklimaks, tapi akhirnya dimenangin kelas gue. Dan perlu dicatat, ini adalah kekalahan pertama the invisible class, 2S5. Beda 1 gol doang sih tapi.

Kalender perfutsalan selanjutnya adalah klasmiting bulan Desember 2008. Sama kayak taun sebelumnya, taun ini klasmittingnya pake sistem undian, jadi hoki-hokian dapet futsal atau engga. Dan seusai undian dibagi. Kelas gue masuk rute yang ga asik. Kelas gue nge-bye. Tapi pertandingan pertama gue adalah melawan pemenang 2S5 vs 2A1. Abis itu kalo kelas gue menang kemungkinan lawan 3S3 yang lagi hot-hotnya gara-gara Kevin Cuki sama anak kelasnya lagi on-fire. Rute yang berat, terlebih lagi kalo harus ngelawan 2S5, aroma dendam pasti berasa banget. Ibarat El Classico, 2S5 tuh Barcelona, kelas gue tuh Real Madrid. Dan hari itu 2S5 berhasil ngalahin 2A1 lewat adu pinalti. Kelas mereka solid luar biasa. Karno-Martin-Cocok-Frendy-Dewa. Tibalah kelas gue melawan kelas mereka.

Sebenernya kelas gue lagi ga diuntungkan. Pertama, Nico lagi cedera. Kedua, BC yang siangnya harus tanding ngewakilin Marsud, jadi konsennya kepecah. Ketiga, tim mereka udah tanding duluan, jadi pasti feelnya udah dapet. Pertandingan dimulai, lewat Richard kelas gue berhasil nyuri gol duluan. Namun ga berapa lama Martin berhasil nyamain skor. Dan 2S5 lalu leading setelah tendangan Martin kena badan BC dan berbelok ke arah yang ga gue duga. Erik pun mao ga mao jadi ujung tombak sendirian. Dan ini relatif susah, dua bek mereka, Frendy dan Cocok, susah buat dilewatin. Akhirnya Martin menggenapi hattricknya usai mencetak gol pada akhir babak kedua. 3-1. Sedikit mengevaluasi, tim gue ternyata defensenya rapuh banget. Gaada pemain yang bisa jadi full-defense. Rata-rata naluri menyerangnya yang tinggi.

2S5 sendiri akhirnya takluk sama 3S3 lewat sebuah pinalti kontroversial yang sampe saat ini masih jadi bahan pergunjingan. Dan 3S3 jadi juara setelah ngalahin 3S5 di final.

Sekadar rekap, selama tahun 2008, gue sama sekali ga ikut ekskul futsal semenjak ekskul ini dihandle sama si Pa Agus. Ibaratnya karir gue sebagai kiper Fv, ampir usai.

***

Masuk ke tahun 2009, gegap gempita futsal udah ga se-wah tahun lalu. Rata-rata anak Fv lagi sibuk belajar. Dan klasmit masih bulan Juni. Masih lama. Karno masih ikut ekskul begitu juga dengan anak yang lain, prestasti Futsal fv juga lumayan, runner up di Kanaan Cup, dan waktu itu yang ngelatih si Willy (alumni) bukan si Agus.

Sekitar bulan Mei, gue mendapat kabar aneh. Ternyata, Pa Agus memendam rasa kagum sama Erik. Dia ngerasa Erik punya style main kayak Cipe (eks kapten Fv), dan berharap Erik ikut ekskul. Gue ngasih tau kabar ini ke Erik, dan dia bingung. Gue paksa dia buat ikut ekskul aja, tapi dia kayak ragu gitu. Akhirnya, gue berbesar hati dan berjanji nemenin dia ekskul! Oh, man, terpaksalah gue merendahkan harga diri gue buat sahabat gue yang satu ini hahaha.

Akhirnya, gue ekskul lagi, begitu juga Erik yang akhirnya ekskul. Selama ekskul, gue merasa skill goalkeeping gue terpaut jauh dari BC dan Karno. Gue ga nyangka, ga ikut ekskul satu setengah tahun bisa ngebikin gap sejauh ini. Sementara itu, dalam beberapa kali sparing, Erik selalu jadi pilihan utama Pa Agus, ngegeser pemain lain. Gue ngerinya, pemain lain ada yang iri ngeliat Erik di-anak emasin gitu, tapi kayaknya sih engga ada.

Dan Juni 2008. Momen yang dinanti-nantikan pun tiba. Klasmitting. Prediksi awal gue adalah, klasmitting kali ini akan dikuasai oleh kelas 2. Soalnya gap kemampuan antara kelas 1 dan 2 tuh jauh banget. Lalu gue ngeliat competition chart. Ga enak banget rute gue, pertama harus ngelawan 2S4, trus kemungkinan 2S2, trus kemungkinan (pasti sih sebenernya) ngelawan 2S5. Baru dah final yang kemungkinan lawan 2A1. Rute yang teramat berat, tapi harus coba gue lewati.

Pertandingan pertama ngelawan 2S4 berjalan sesuai rencana. Skor 8-1. Semua pemain yang didaftarin klasmit futsal main. Bukannya ngeremehin S4, tapi perbedaan kualitas pemain emang cukup jauh. Sementara itu, kelas-kelas kayak 2S5, 2S2, 2A1 juga sama-sama menang dengan skor meyankinakn atas lawan-lawannya. Yang mengejutkan cuma 2S1 yang tumbang dari kelas non-unggulan X3.

Pertandingan selanjutnya ngelawan 2S2. Pertandingan ini pada nantinya, bahkan bertahun-tahun kemudian akan dikenang sebagai “Game of The Century of Classmeet”. Yang nonton luar biasa rame. Pinggir lapangan, sampe yang nonton dari lantai 2 rame banget. Cuacanya juga agak mendung dan sejuk. Kedua tim secara historis emang bersaing ketat, bahkan lebih ketat dari persaingan 2S3 dan 2S5. Kedua tim ini siap saling bunuh. Skuad kelas gue: Gue (Kiper), BC, Agus, Nico, Erik. Skuad 2S2: Nidji (Kiper), Raby, Kamser, Pangeran, Ina. Kelas gue unggul di bagian kiper, jelas level antara gue dan Nidji jauh. Tapi 2S2 punya Raby the monkey boy yang agresif, dan ada Pangeran si kapten futsal Fv. It’s gonna be a tough tough match. Kelas gue berhasil unggul 2 gol lewat Erik dan Nico yang ngemanfaatin ketidaksigapan Nidji. Tapi, Ina berhasil menggetarkan gawang gue lewat sebuah tendangan kaki kiri yang terarah. 2-1. Ga lama Pangeran berhasil ngebikin skor seri 2-2 lewat golnya. Yap, gue yakin Pangeran menyimpan dendam dari kekalahan satu setengah tahun yang lalu. Dia main on-fire banget. Sebelum babak pertama usai, Erik berhasil ngebawa kelas gue leading lagi. Skor 3-2. Masuk first half, timbul keragu-raguanan di benak gue. Apakah formasi harus diubah atau engga. Gue pengen ngejadiin BC kiper, tapi entar kelas gue ngga ada bek, sedangkan Pangeran udah tau betul titik kelemahaan gue. Akhirnya gaada pergantian, dan dengan skuad yang sama kelas gue memulai babak kedua. Babak kedua berubah drastis, kalo babak pertama kelas gue yang nguasain pertandingan, kali ini giliran 2S2 yang nguasain pertandingan. Kelas gue digempur terus, dan duet maut Erik Nico mandek. Akhirnya Pangeran berhasil menjebol gawang gue lagi dengan proses yang kurang lebih sama dengan gol dia sebelumnya. Selama 6 menit selanjutnya kedua kelas bergantian nyerang, tapi gaada gol. Sebagai gambaran, situasi pertandingan saat itu sebelas-duabelas dengan pertandingan Italia vs Jerman di World Cup 2006, kedua tim sama-sama gamau ngalah. Bencana buat kelas gue datang di 2 menit terakhir. Memanfaatkan long pass dari Raby, Kamser berhasil ngeheading bola ke gawang gue dan masuk. 3-4 skornya. Kelas gue mulai panik dan langsung agresif, sebenernya Erik sempet bikin gol tapi dianulir wasit. Akhirnya kejadiaan naas yang nimpa Jerman di World Cup 2006 terjadi buat kelas gue, Pangeran berhasil mencetak hattrick dan ngejebol gawang gue dengan gol yang kurang lebih sama kayak gol Del Piero ke gawan Jerman pas World Cup 2006. Kelas gue tumbang dengan skor 3-5. Dan ga berapa lama, hujan pun turun seolah menggambarkan kesedihan kelas gue. Seusai pertandingan, beberapa anak Marsud bilang kalo pertandingan tadi itu pertandingan klasmit futsal paling seru yang pernah mereka tonton. Menurut gue juga harusnya pertandingan tadi jadi final klasmit. Tapi yasudahlah.

Besoknya, di semifinal 2S2 ketemu 2S5. 2S2 harusnya sih pede dan bisa ngalahin 2S5 kalo mainnya sebagus kemarin. Tapi, apa dikata, hasilnya justru antiklimaks. 2S2 kalah 9-0 dari 2S5. Bikin kecewa gue nontonnya, dan jadi berharap supaya kelas gue aja yang lawan 2S5 kalo gini caranya ckck. 2S5 jadi juara setelah ngalahin 2A1 dengan skor 6-3 kalo ga salah. Yang jelas pada klasmit ini, 2S5 ngedominasi abis-abisan, mereka mencetak 26 gol dari 4 pertandingan. Tapi, gue masih yakin kalo kelas gue yang ngelawan mereka di semifinal, hasilnya mungkin ga begitu hahaha.

Begitulah kisah perkiperan gue di tahun ketiga gue di SMA. Secara keseluruhan sih ga bagus, gaada prestasi yang berhasil dicapai, padahal kelas gue punyu skuad yang komplit. Sekali lagi, Gue belum berhasil mengungguli Karno di tahun ketiga gue di SMA. Dan apakah gue akan sanggup mengungguli dia di tahun keempat gue di SMA? Kita tunggu cerita selanjutnya.. (Bersambung)

November 19, 2011 at 11:18 Leave a comment

Indonesia (Sebenarnya) Bisa

Ada sebuah ironi di balik kemenangan 2-0 tim U-23 Indonesia atas tim U-23 Singapura pada SEA Games kemarin. Ya, kekalahan 0-4 timnas senior Indonesia atas Qatar pada Penyisihan Pra-Piala Dunia terasa menyakitkan. Jelas kekalahan tersebut memupus harapan Indonesia untuk merasakan atmosfer eksotisme Rio de Janeiro pada Piala Dunia 2014 nanti. Hasil yang amat kontras dengan kondisi timnas senior setahun yang lalu, dimana para pemain dipuja-puja karena berhasil menunjukkan prestasi gemilang pada Piala AFF 2010.

Beberapa pihak mungkin merasa, pesaing Indonesia di Grup E bukanlah lawan yang sepadan: Qatar, Bahrain, Iran. Kalau patokannya adalah peringkat FIFA, mungkin saya setuju, Indonesia peringkatnya berada cukup jauh di bawa ketiga tim ini. Tapi kalau alasannya adalah faktor fisik/postur badan, saya jelas tidak setuju. Penjelasannya mudah, sebuah tim, postur tinggi atau kecil masing-masing punya keunggulan. Jadi, sedikit sulit diterima apabila alasan kekalahn adalah faktor fisik. Lantas apa penyebab ‘ketidakberhasilan’ timnas senior untuk meraih kemenangan di kancah Asia atau bahkan dunia? Berikut analisis saya sebagai seorang penikmat sepakbola.

1. Kurangnya Kompetisi yang Kompetitif
Untuk ukuran Asia Tenggara, mungkin Kompetisi di Indonesia adalah yang terbaik. Tapi, apabila dibandingkan dengan kompetisi seperti di Jepang, Korea, atau Timur Tengah, jelaslah berbeda jauh dari segi kualitas. Adanya kejomplangan kompetisi tingkat senior dan junior bisajadi menjadi penyebabnya. Sangat jarang ada kompetisi untuk tingkat usia 14-18 tahun. Sekalipun ada, kualitas komeptisi yang ada tidak sebaik kompetisi senior. Pernahkan kita menonton kompetisi usia muda di televisi? Karena dinilai kurang ‘menjual’ maka kompetisi usia muda sering dipandang sebelah mata. Akhirnya, remaja-remaja dengan bakat hebat cenderung kehilangan tempat untuk mengasah kemampuannya. Tidak heran ketika mereka dewasa, bakat itu pudar, dan mereka jadi pemain yang ‘biasa’ saja. Akhirnya ini berpengaruh juga terhadap kualitas kompetisi dalam negri.

2. Wilayah yang Terlalu Luas
Indonesia memiliki ribuan pulau dan beberapa pulau besar. Ini adalah anugerah sekaligus musibah. Ada daerah yang mendapat perhatian cukup baik, ada daerah yang terbengkalai/terlupakan, menurut saya, hal ini menyebabkan Indonesia sulit untuk maju, baik dalam bidang politik maupun olahraga, khususnya sepakbola. Coba kita lihat negara seperti Jerman atau Spanyol. Wilayah mereka berada pada satu dataran yang sama. Jauh lebih mudah melakukan scouting apabila dibanding wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Akhirnya, tidak heran kalau pemain timnas cenderung didominasi satu suku tertentu, meskipun sekarang, hal ini sudah muali terkikis.

3. Karakter yang Berbeda-beda
Ini adalah implikasi dari poin nomor dua. Anggaplah si pelatih berhasil mengumpulkan 30 pemain dari 8 pulau besar. Masalah baru bisajadi muncul di sini. Pemain dari masing-masing daerah mempunya karakter yang berbeda. Misalnya: pemain Papua terkenal dengan karakter individualistisnya; pemain pulau Jawa dengan ketenangan dan kewaspadaannya; pemain Sumatera+Sulawesi+Kalimantan dengan karakter keras dan berani. Percaya atau tidak, karakter semacam ini terlihat di lapangan ketika mereka bermain. Bukan bermaksud untuk menyetujui stereotip semacam ini, tapi fakta ini memang mengusik saya. Karakter pemain, apabila dimanfaatkan dengan baik, dapat menjadi senjata yang efektif. Biarkan pemain Papua menempati posisi striker, karena karakter individualistis mereka berguna ketika bertarung dengan bek lawan. Tempatkan pemain berkarakter berani sebagai bek, dalam hal ini pemain Sumatera dan Sulawesi, seorang bek haruslah pemain yang tangguh, tanpa kompromi, namun cerdas dan sigap. Selanjutnya, pemain dari pulau Jawa bisa ditempatkan sebagai playmaker, pemain tengah. Karakter pemain Jawa adalah kalem. Pemain tengah yang baik adalah yang tenang dan tidak terburu-buru, dan sejauh ini karakter ini cocok dengan pemain dari Jawa. Mengenai naturalisasi, saya antara setuju dan tidak setuju. Tidak setuju apabila PSSI melakukan naturalisasi asal-asalan, tidak semua pemain keturunan yang bermain di Liga Eropa layak dinaturalisasi. Mereka yang hanya bermain di liga level 3 Eropa tentu tidak perlu dinaturalisasi. Lalu saya setuju, apabila naturalisasi dilakukan untuk efektivitas tim nasional. Misalnya, timnas Indonesia lemah di bek tengah atau gelandang jangkar; maka naturalisasilah pemain asing/keturunan yang sanggup bermain di posisi tersebut. Jadi, fungsi pemain asing adalah pelengkap tim.

4. Pelatih Harus Bisa Memanfaatkan Postur Kecil Pemain
Seringkali pelatih yang melatih Indonesia, salah menggunakan strategi/formasi. Bermain umpan jauh/lambung tidaklah begitu efektif dengan postur Indonesia. Pola permainan seperti Barcelona/Arsenal cukup cocok untuk Indonesia. Bermain umpan pendek dan possesion haruslah diterapkan pelatih. Selama 7 tahun lebih mengamati sepakbola Indonesia, baru ketika Wim Rijsbergen menangani Indonesia, pola umpan pendek begitu kentara. Pernah juga ketika Piala Asia 2007, umpan pendek diterapkan. Sementara pelatih lain, bahkan Alfred Riedl, menurut saya tidak menggunakan pola umpan pendek. Pelatih haruslah memahami kemampuan/limit pemain timnas. Kesalahan penerapan formasi seringkali menyebabkan Indonesia gagal meraih kemenangan.

Lantas, apakah ketika semua hal di atas berhasil dibenahi lalu Indonesia bisa berprestasi?
Saya tidak bisa menjamin itu, karena dalam sepakbola tidak ada yang pasti. Real Madrid yang begitu tangguhnya, bisa kalah dari tim kecil seperti Levante. Namun, apabila segala aspek yang bobrok dari timnas berhasil dibenahi, tentu ini mempermudah usaha timnas untuk berprestasi. Tidak perlu muluk-muluk, cukup untuk menjadi juara di level Asia Tenggara dan menjaga konsistensi penampilan. Tidak mustahil bagi Indonesia untuk masuk 5 besar Asia. Perlahan dan perlahan; sisanya ditentukan oleh faktor keberuntungan, dan faktor non-teknis lain (baca: faktor perjudian). Selamat berjuang untuk timnas. Doa saya menyertai langkah kalian.

November 12, 2011 at 11:11 Leave a comment

Older Posts


Visitor

Date of Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.