Keretaku, Keretamu

June 20, 2011 at 16:42 6 comments

“Keretamu tiba, membelah kabut kelabu
Kereteku terhenti, dalam lamunan pemecah ngilu.
Aku pergi sendiri kembali sendiri.
Kau pergi dan pulang; bersama kambing-sapi”

Itu merupakan sepenggal puisi karya gue sendiri, yang gue ciptakan sebagai penginteperetasian gue atas kereta. Gue persempit lagi; pengintepretasian gue atas kereta rel listrik yang melintas di Jabodetabek.

Sebelum mulai menuliskan apa-apa, gue mao lo ngebayangin situasi ini:
Bayangin lo ada di ruangan 2×1,5m bersama dengan 10 manusia lainnya. Sumpek? Lumayan. Sekarang bayangin kalo salah satu dari mereka ada yang ngerokok. Kesel? Lumayan. Terus bayangin kalo orang-orang di dalem situ terakhir mandi 12 jam yang lalu. Bau?? Pastinya *kecuali lo lagi pilek*. Dan bayangin kalo tiba-tiba, 3 orang di dalem ruangan itu maksain diri buat keluar dari pintu, saling tubruk gitu.

Nah, itu adalah gambaran ketika lo naik kereta ekonomi/ac pas jam sibuk. Sempit, sesek, bisa napas pun udah beruntung. Untungnya, gue ga perlu mengalami hal seburuk itu ketika naik kereta. Biar gampang gue jelasin dulu, deh.

Kira-kira ini adalah timeline kepadatan kereta rel listrik (krl) jurusan Bogor-Jakarta, Jakarta-Bogor

05.00 – 09.30 adalah jam padet, jam masuk kantor gitu. Kereta jurusan Bogor-Jakarta pastinya penuh banget jam-jam segitu, soalnya orang-orang dari Bogor, Depok pada berbondong-bondong berangkat kerja ke Jakarta. Sementara itu, kalo kereta jurusan Jakarta-Bogor malah relatif sepi jam segitu, soalnya ga banyak orang Jakarta yang berangkat kerja ke Bogor.

09.30 – 14.00 adalah periode transisi. Jadi pada jam ini, penumpang kereta jurusan Bogor-Jakarta udah ga sepadet periode berangkat kerja. Yah, meskipun masih lumayan penuh juga sih, tapi masih manusiawi dah padetnya. Kalo jurusan Jakarta-Bogor, mulai pukul 12.00 ke atas akan terjadi lonjakan penumpang dibanding pagi. Gue gatau dah, itu orang-orang yg udah selesai kerja trus pengen pulang atau apa.

14.00 – 22.00 range waktunya emang cukup panjang, 8 jam, tapi bagi pengguna kereta bisa dibilang, di atas jam 14.00 udah termasuk jam pulang kantor. Arah Jakarta-Bogor padetnya udah separah pas jam berangkat kerja, lebih parah malah, soalnya sebagian besar secara emosi mereka pasti lelah, sehingga gampang emosian. Sampe kereta terakhir yang berangkat ke Bogor pun pasti ntuh kereta tetep penuh. Jurusan Bogor-Jakarta udah ga begitu padet lagi penumpangnya. Satu-satunya yang bikin padet ya gara-gara armada kereta yang beroperasi ke arah Jakarta dikurangin. Jam 07.00 ke atas kereta jurusan Bogor-Jakarta udah termasuk kategori sepi. Ada sih yang bediri, tapi dikit.

Oke, gue ga kebayang betapa menderitanya mereka-mereka yang naik kereta padet pas jam padet. Sarden, Kornet, Tuna, serasa dikalengin dempet-dempetan, cing. Nyiksa!

Hoki banget gue naik kereta yang berkebalikan dengan jam padet. So far gue cuma beberapa kali naek kereta ‘brutal’ yang bener-bener padet. Dan itu sudah cukup menjadi ‘terrible moment’ buat gue.

Oke. Kalo kereta rel listriknya itu dibagi jadi tiga (khusus jabodetabek): kereta ekonomi biasa, kereta ekonomi ac, kereta ekspress.

Mari gue jelaskan masing-masing kereta.

Kereta Ekonomi Biasa


Ini kereta biasa disebut juga kereta ekonomi hot, soalnya panas, kipas angin ga nyala, angin sepoi-sepoi doang. Segala jenis penumpang ada di sini, dari yang mandi kembang sampe yang 2 bulan kaga mandi, sasaran kereta ini mungkin tingkat ekonomi menengah ke bawah. Nah, kalo lo pernah ngeliat kereta yang penumpangnya ngebludak sampe naek ke atep kereta, itulah kereta ekonomi hot.

Kelebihan: 1. Murah, yeah tarifnya 1000-2000 rupiah doang. Dengan harga segitu lo bisa pergi sejauh puluhan kilometer; 2. Banyak Jajanan. Yoman, cuma di kereta ekonomi yang dibolehkan ada pedagangnya (meskipun peraturan resminya ga boleh). Makanan yang dijual 4 sehat 5 penyakit, variatif, tp cenderung kurang higienis. Banyak juga pedagang yang jual barang-barang elektronik dan kebutuhan lainnya, mirip kayak warung berjalan deh, hebatnya lagi penjual yang nyamperin elu, bukan elu yang nyamperin mereka.

Kekurangan: *tarik napas dalem-dalem* 1. Banyak Maling & PK. Segala jenis maling beserta penjahat kelamin ada disini, apalagi di kereta yang ‘brutal’ padetnya, jangan heran kalo ada orang yg gesek-gesek alat kelamin, plus jangan heran kalo pas turun tau-tau hape lo udah raib; 2. Pengap, yah bayangin aja ilustrasi 2×1,5 meter yang gue ceritain di atas; 3. Lelet. Karena penumpang overloaded akibatnya kereta mao ga mao harus sedikit diperlambat biar ga membahayakan penumpang. Belum lagi kalo disusul kereta ekspress; 4. Susah Turun. Yap, ini sial banget. Lo mao turun, tapi karena saking penuhnya lo susah buat ke pintu keluar, tau-tau kebablasan, keretanya keburu jalan.

Kereta Ekonomi AC

Gue lebih suka nyebut nih kereta sebagai “Kereta Ekonomi Hairdryer”, soalnya ACnya lebih mirip hairdryer sama kipas angin ketimbang Air Conditioner, cing. Harga karcisnya relatif, 5500 rupiah untuk sekali perjalanan Jakarta-Bogor. Penumpangnya masih cukup variatif, kebanyakn dari yang ekonominya sedang-sedang saja barangkali.

Kelebihan: 1. Lebih Aman dan Nyaman. Sekalipun kereta ini lagi padet, tetep lebih aman karena pintu sama jendelanya ketutup, dan gaada penjual gitu-gitu, jadi sedikit lebih cozy dibanding eko hot; 2. Adil. Yap, dibanding kereta ekonomi yang karcisnya ga diperiksain sama sekali, kereta eko ac lebih adil. Karcis biasanya pasti di-cek, jadi semua penumpang sebagian besar pasti beli karcis. Jadi adil lah buat semuanya.

Kekurangan: 1. AC apa Kipas Angin apa Hairdryer? Ini pertanyaan gue sedari dulu, tiap keretanya padet, entah mengapa yang terasa cuman angin dari kipas angin gitu, bukan ac-nya, pernah juga gue naik kereta ekonomi ac yang ac-nya bener-bener kayak hairdryer, anget.; 2. Petugas ‘Licik’. Yap, licik disini bisa diartiin sebagai cerdas yang mengesalkan orang lain. Tiap ditanya kenapa ac-nya panas, pasti dijawab, “lagi rusak ac-nya”. Lebih brengsek lagi, pas kereta bener-bener panas, mereka cenderung ga narikin/ngecekin karcis, biar ga diomelin mungkin. Dan gue selalu bingung, pas pagi-pagi gue naik kereta ekonomi ac yang sepi, acnya bener-bener dingin, ga kerasa ada kipas angin, tapi pas giliran rame malah kipas anginnya yang dinyalain.

Kereta Ekspress


Ini adalah kereta penyelamat gue. Gue engga kebayang kalo gaada kereta ini tiap gue ketelatan bangun. Kereta ini cuma perlu kurang dari 30 menit untuk menempuh jarak 40-50 kilometer. Harganya ya relatif mahal, 9000-11000 rupiah. Penumpangnya ya jelas orang-orang yang penghasilannya diatas 3 juta sebulan.

Kelebihan: 1. Nyaman dan Sangat Aman. Yep, semakin mahal tentu semakin eksklusif. Penumpang kereta ini ga terlalu banyak, jadi relatif sepi dan aman dari pencuri.; 2. Adem, ac di kereta ini bener-bener ac, ademnya pol.; 3. Cepat sampai tujuan. Yap, kereta ekspress cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu sehingga ga buang-buang waktu untuk berenti di banyak stasiun, imbasnya, kereta ekonomi dan ekonomi ac yang menghalangi kereta ini akan disuruh mengalah, dan membiarkan disusul kereta ekspress di stasiun yang jalurnya ada banyak.

Kekurangan: 1. Menerlambatkan Penumpang di Kereta yang Disusul. Yeah, seringkali temen-temen gue cerita ke gue betapa keselnya mereka ketika kereta ekonomi/ac mereka disusul ekspress gue. Alhasil mereka jadi sering terlambat.; 2. Membingungkan bagi Pemula. Penumpang-penumpang yang masih awam pasti bakal sulit ngebedain antara kereta ekonomi ac dengan kereta ekspress. Soalnya dari luar kebanyakan sama. Banyak juga penumpang yang naik kereta ekspress bingung karena keretanya ga berenti di stasiun yang hendak mereka singgahi, kebablasan gitu.

Yap, deskripsinya begitu mengenai kehidupan perkeretaapian di Jabodetabek. Dan sayangnya, sistem 3 jenis kereta ini akan berakhir pada tanggal 1 Juli. Yap, kereta ekonomi hot dipertahankan, namun kereta ekonomi ac dan ekspress akan dilebur jadi 1 kereta baru bernama “Commuter Line”. Kereta ini berhenti di setiap stasiun dan secara otomatis menghilangkan elemen dari kereta ekspress, yaitu berhenti di beberapa stasiun saja. Jelas membahagiakan mereka-mereka yang dulunya keretanya sering dibalap sama ekspress, sekaligus menyengsarakan mantan pengguna kereta ekonomi ac dan ekspress. Mengapa? Karena harga karcisnya 8000 dan 9000 rupiah. Mantan pengguna ekonomi ac mau tak mau harus merogoh kocek lebih buat menggunakan kereta ini, sementara mantan pengguna ekspress akan dirugikan karena sistem efisiensi waktu yang biasa mereka andalkan akan lenyap dan harga karcisnya pun sama dengan ekspress.

2 Juli. Ya, mulai 2 Juli semua tulisan gue ini akan menjadi kenangan belaka.

——Jakarta, 20 Juni 2011——-

Advertisements

Entry filed under: Pemikiran Bebas.

Puisi Gang Bank; Sebuah Prolog

6 Comments Add your own

  • 1. ibnumarogi  |  June 20, 2011 at 18:48

    Pertama-tama gua mau copas ini:
    Dan gue selalu bingung, pas pagi-pagi gue naik kereta ekonomi ac yang sepi, acnya bener-bener dingin, ga kerasa ada kipas angin, tapi pas giliran rame malah kipas anginnya yang dinyalain.
    Gua juga heran.

    Sesungguhnya meniadakan ekspres pun tak masalah jika:
    1. Jadwalnya betul-betul ditaati.
    2. Jadwal KRL hot tidak dikurangi.
    3. Harga karcis yang aduhai bikin kantong bolong.
    4. Pelayanan meningkat, mulai dari informasi kedatangan kereta, AC yang berasal dari freon [BUKAN KIPAS], serta keamanan dan kenyamanan yang menjadi keutamaan.

    Phew..saatnya beralih pada moda transportasi konvensional: sepeda motor.

    Reply
  • 2. decaires  |  June 21, 2011 at 10:47

    yeah. 2000 dan 9000 itu jomplang sekali selisihnya. ckck

    Reply
    • 3. ibnumarogi  |  June 22, 2011 at 16:42

      Mungkin ada kesengajaan. I mean, tarif yang ditentukan itu hanya menyasar kalangan bawah (2ribu) dan atas (9ribu) saja, sehingga kalangan menengah menjadi galau dibuatnya: pilih yang bawah atau atas. Ck!
      It’s not fair!

      Reply
  • 4. dymussaga  |  June 21, 2011 at 11:39

    good writing, boy.. jadi irisia itu ini ya…?hehehe…
    hmmm dulu pas semester 1 dan 2 gue selalu menempuh perjalanan jakarta-depok naik kereta ac ekonomi. pernah suatu hari gue naik kereta ekonomi daan gue syok banget pas ngeliat kalung ibu2 dijambret di depan mata gue. bahaya banget lah pokoknya kalo di kereta ekonomi mah…dari pencopet, pengemis yang suka maksa, tukang jualan yg malesin dll. eh, kenapa ya kalo di kereta ekonomi ga diperiksain aja karcisnya, kayak di eko ac atau ekspress? seenggaknya biar orang-orang juga jadi gak sembarang naik, gitu lho…

    Reply
    • 5. decaires  |  June 25, 2011 at 21:04

      Hmm, kalo gue sih sempet naik kereta ekonomi yang di-cek karcisnya. Sekali doang tapi. Nyaris setengah gerbong kena denda gara2 gapunya karcis.
      Itupun di-cek gara2 keretanya lagi sepi. Coba lagi penuh, males juga mungkin petugasnya.
      Bisajuga petugas yang harusnya narikin karcis takut dipukulin massa. Serem juga kan kalo dia narikin karcis preman yang bertato gitu. Haha

      Reply
  • 6. ucuph  |  July 1, 2011 at 13:48

    waahahahahahahaahhaha ~
    ini hr trakhir ya boy..
    skrg tanggal 1..
    waduh,lo ampe detail ngerti itu kereta..
    gw gk ngerti sama sekali – _ –

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

June 2011
M T W T F S S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: