Cinta Hanya 25 Ribu

July 7, 2011 at 22:10 2 comments

“Aku ingin membeli cinta, apakah kau menjualnya?” Tanya seorang pria paruh baya kepada karyawan toserba.

“Ada. Bapak mau yang seperti apa?”

“Yang berwarna cerah, tapi tidak terlalu cerah. Kira-kira yang seperti itu ada?”

“Yap. Tunggu sebentar. Biar saya cari stoknya dulu di gudang.” Jawab karyawan toserba.

Pria paruh baya ini bernama Johan. Dengan sabar ia menunggu si karyawan mengambilkan cinta dari gudang. Dan sepuluh menitpun berlalu ketika si karyawan membawa sebuah bungkusan kotak yang dilapisi kertas kado warna peach.

“Ini yang bapak cari. Cinta ada di dalam kotak ini. Kalau ada yang bapak butuhkan lagi, panggil saya saja.” Ujar si karyawan sembari kembali meneruskan menyusun barang di rak.

Johan melangkah dengan bahagia menuju ke meja kasir. Ia tidak perduli seberapa mahal ia harus membayar cinta tersebut. Setidaknya ia mempunya sebuah kartu kredit dengan limit 50juta. Setara dengan penghasilannya selama 3bulan.

“Berapa harganya?” Tanya Johan sambil menyerahkan kotak berisi cinta itu kepada kasir.

“25 ribu rupiah, pak.” Jawab si kasir.

“25 ribu rupiah? Hanya segitu? Huahahaha murah sekali harga cinta di toko ini.” Johan tertawa sejadi-jadinya, sepertinya menertawakan harga cinta yang begitu murah. Bahkan hanya seharga gajinya selama beberapa menit.

“Mbak. Saya sudah 20 tahun lebih mencari cinta. Bahkan 5 tahun yang lalu, ketika saya masih hidup susah, harga sebuah atau sekotak cinta bahkan mencapai 25 juta! Bah, sementara gajiku waktu itu cuma 750ribu sebulan.” Lanjut Johan setengah curhat.

“Mungkin ini akibat inflasi atau semacamnya pak, atau mungkin karena negri Cina sudah berhasil menciptakan cinta imitasi dan bajakan. Sehingga harganya menjadi amat sangat murah.” Ujar si kasir menanggapi Johan.

“Huh, mengerti juga kau soal cinta. Bagaimanapun aku tetap tak habis pikir, mengapa cinta menjadi tidak ada harganya seperti ini. Kalau begini semua orang bisa membeli cinta, memiliki cinta. Dan sialnya, kita jadi tidak bisa membedakan mana cinta yang asli, mana cinta yang palsu. Bah, jangan-jangan toko kau ini menjual cinta palsu, hah?”

“Eeh, saya tidak tau pak soal itu. Memang stok cinta menumpuk di gudang. Bahkan cinta berwarna gelap sudah habis semua. Jarang ada yang membeli warna cerah seperti bapak.”

“Bah, memang mengapa dengan warna cerah? Aneh kali”

“Saya sih cuman dengar lho pak, katanya cinta yang cerah dan berseri lebih cepat luntur lalu menjadi gelap pekat. Sekalinya gelap, cinta itu akan sulit menjadi cerah sepenuhnya, meskipun bisa menjadi cerah, tapi tetap saja cinta itu cacat. Jadilah orang-orang memutuskan membeli cinta yang gelap dan kelam. Agar tidak perlu takut kalau-kalau cinta itu luntur.”

“Ah, goblok mereka semua itu! Tau apa mereka tentang cinta. Aku ini, Johan, sudah 20tahun mencoba mendapatkan cinta, membelinya. Mereka adalah orang-orang idiot. Kalau mereka membeli cinta hanya untuk menyia-nyiakannya, untuk apa mereka beli! Untuk kesenangan? Tidak tau rupanya mereka kalau ada orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk memburu cinta yang diimpikan. Cinta terlalu mudah dibeli pada zaman ini.”

“Mungkin begitu, pak. Mungkin beda zaman, beda juga filosofi tentang cintanya.”

“Hahaha. Bodoh. Mana mungkin begitu. Daridulu hakikat pembelian cinta itu sama. Karena mereka butuh cinta. Cuma saja, orang-orang sekarang kurang bisa menghargai cinta. Harga yang harus dibayar untuk sebuah cinta itu sangat besar. Bukan hanya sekadar nominal uang. Tapi juga harus menerima, apabila cinta yang telah ia milikki tidak sesuai dengan harapannya. Itulah cinta, mbak. Hanya perlu memahami itu.”

“Wah, bapak hebat. Kata-kata bapak sungguh brilian. Sepertinya bapak piawai betul memahami cinta.” ujar si kasir sambil tersenyum.

“Kau salah. Karena aku tidak pernah memiliki cinta, maka dari itu aku bisa berteori dan banyak berpanjanglebar soal cinta. Kalau sudah kupunyai cinta itu sedari dulu, aku pasti lebih bijaksana dan tidak perlu berkoar-koar macam ini.” Balas Johan.

“Ah, ini, tidak jadi aku beli. Untukmu saja, biar aku yang bayar. Anak muda sepertimu perlu banyak cinta yang cerah dan segar. Oke, Rii..na. Rina?” Lanjut Johan sambil membayar 25ribu dan melihat tanda pengenal di baju kasir, lalu memberikan kotak berisi cinta itu kepada Rina.

“Lho, bukannya ini yang selama 20tahun ini bapak cari? Kenapa tidak jadi bapak beli? Tanya Rina keheranan.

“Hahaha. Terlalu murah. Itu tidak setara dengan penantian dan pengorbananku selama ini. Aku perlu cinta yang layak. Cinta yang pantas untuk kumiliki setalah 20tahun berjuang menemukannya.”

—Jakarta, 7 Juli 2011—-

Advertisements

Entry filed under: Prosa. Tags: , , .

Gang Bank: #1 Born of The Lucky Bastard Bakmi Koh Amsyong

2 Comments Add your own

  • 1. ibnumarogi  |  July 8, 2011 at 17:27

    Sekali ini gua dibuat terpesona oleh tulisan engkau, wahai Anakmuda. Siapa namamu, Kisanak? *eh

    Keren banget, Boi. Cerita yang menarik itu yang bikin pembaca tersedot dalam alurnya. Ah, cerpen ini bikin gua kepingin tambah…tambah…tambah lagi ngebaca narasinya.

    Reply
  • 2. decaires  |  July 9, 2011 at 01:25

    Begitulah. Haha.
    Entah mengapa gue jadi suka bikin prosa yang kayak gini. Dua/Tiga karakter berdialog, nyampein idenya masing-masing haha.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: