Bakmi Koh Amsyong

July 9, 2011 at 20:03 Leave a comment

Mungkin ada banyak hal yang bisa direnggut dari kehidupan ini. Tapi tidak dengan kenangan yang menyertainya.

***

Hari ini begitu terik. Aku tidak tahu apakah matahari sedang benci-bencinya pada manusia atau apa. Yang jelas hari ini melelahkan buatku; lapar, haus, dan sedikit gejala dehidrasi. Makanan dan minuman dingin tentu akan membantu menyejukan hari ini. Semoga.

Daerah sekitar sini tidak terlalu asing buatku, karena dulu–sekitar 4 tahun yang lalu–kantor tempatku bekerja lokasinya terletak di sekitar sini. Ada satu tempat yang begitu berkesan buatku; Bakmi Koh Amsyong. Yeah, meskipun sudah 4 tahun berlalu, citarasa masakan di ‘restoran’ itu masih teringat terus di otakku. Sialnya, aku baru 2 kali makan di situ. Dan rasa rindu itu menyeruak; kuah mie-nya, baksonya, tekstur mie-nya, dan gurih pangsit gorengnya. Dan tentu, es kelapa mudanya. Ah, nostalgia yang indah. Sebaiknya aku bergegas kesana.

Aku berjalan sejenak. Rasa-rasanya aku telah sampai. Tapi terasa berbeda. Terlalu banyak gedung di sini. Dulu, 4 tahun yang lalu, di sini adalah semacam daerah kuliner, banyak rumah makan, termasuk resto Bakmi Koh Amsyong.

“Maaf Pak, disini kalau tidak salah ada rumah makan Bakmi Koh Amsyong, kan?” Tanyaku kepada seorang sopir taksi yang sedang kongkow-kongkow di warung kopi.

“Ooh, warung bakmi itu? Udah digusur mas, dua tahun yang lalu,” jawab sopir taksi tersebut.

“Hah? Digusur?”

“Begitulah mas. Setahu saya, lahan ini merupakan lahan yang disengketakan. Dan sepertinya, rumah-rumah makan yang dulu berdiri di sini merupakan bangunan liar. Jadi terpaksa diadakan penggusuran. Dan hasilnya, ya gedung-gedung yang didirikan disini. Setahu saya begitu,” ujar si supir taksi.

“Waduh, kira-kira bapak tahu kemana Bakmi Koh Amsyong pindah sekarang?” Tanyaku kepada supir taksi itu.

“Ooh, saya tahu mas, tidak terlalu jauh dari sini. Nanti bareng sama saya saja mas, nanti saya lewat situ kok. Tidak usah bayar mas, tenang saja.”

“Wah, saya jadi ga enak mas hehehe,” jawabku dengan pura-pura tidak enak, padahal sebenarnya aku senang.

Seusai supir taksi itu menghabiskan kopinya, segera ia menghantarkanku ke lokasi baru Bakmi Koh Amsyong. Lokasinya sangat tidak strategis. Berbeda jauh dengan lokasi sebelumnya dimana banyak orang yang lalu lalang. Tempat yang baru ini sangat tidak cocok dijadikan rumah makan. Kalau kata orang Cina: fengsuinya buruk. Tapi entahlah, aku orang yang modern, tidak seharusnya aku memperdulikan hal yang sifatnya tidak kasat mata dan mistis begitu.

***

Mungkin aku harus sedikit menceritakan tentang sejarah Bakmi Koh Amsyong, yang kudengar dari bekas teman kantorku dulu.

Bakmi Koh Amsyong sudah ada sejak tahun 1968 (42 tahun yang lalu). Waktu itu, daerah di sekitar sini masih sepi. Belum terlalu banyak perumahan dan semacamnya. Boleh dibilang, Bakmi Koh Amsyong merupakan satu-satunya rumah makan yang menawarkan menu mie cina, dengan berbagai macam pilihan daging: ayam, sapi, kerbau, babi, udang. Dalam waktu singkat, Bakmi Koh Amsyong menjadi salah satu rumah makan yang paling sering dikunjungi orang-orang daerah sini. Hingga lambat laun, berita tentang kelezatan Bakmi Koh Amsyong menyebar hingga ke pelosok kota. Uniknya–menurut cerita temanku tadi, yang sudah makan mie Koh Amsyong sejak kecil–rasa mie Koh Amsyong tidak pernah berubah, selama berpuluh-puluh taun, citarasa mie tersebut dipertahankan. Sekitar pertengahan dekade 1980an, mulai muncul salah satu ‘brand’ baru dari Bakmi Koh Amsong, yaitu, Es Kepala Muda (Ya, memang kata kepala sengaja diplesetkan dari kata kelapa). Rasa es kepala muda ini bahkan pernah membuat seorang mentri pada masa itu (1980an) sampai bersusah-susah datang ke daerah ini. Cuma sekadar untuk mencicipi lezatnya es kepala muda ala Koh Amsyong.

Oh iya, nama Koh Amsyong sendiri diambil dari nama si pemilik rumah makan, yang nama panjangnya aku lupa. Hmm, okey, perutku sudah terlalu lapar, sudah saatnya aku masuk ke dalam dan makan.

Hmm. Ini mengagetkanku. Ternyata, rumah makan ini masih ramai sekalipun sudah pindah lokasi yang jarang orang lewat. Bisajadi mereka-mereka ini adalah penggemar fanatik Bakmi Koh Amsyong yang tidak bisa hidup tanpa menikmati es kepala muda dan bakminya.

“Ini menunya mas, silahkan, mau pesan apa mas?” Tanya seorang pelayan rumah makan sambil memberikanku menu makanan.

Sedari tadi sudah ada gambaran akan makanan yang mau kupesan. Dan coba tebak.

“Hmm, es kepala muda dan bakmie sapi dengan pangsit goreng,” jawabku.

“Oke mas.”

Yap. Selagi mereka membuatkan makanan pesananku, aku mencuri waktu untuk memperhatikan rumah makan ini. Wah, mereka membuat interior rumah makan ini agar semirip mungkin dengan interior yang dahulu. Termasuk ruangan yang tetap dibagi dua, ber-ac dan kipas angin. Dengan jam dinding JungHan keluaran tahun 1960an lengkap dengan bandul besarnya. Juga permen-permen dan jajanan manis ala tahun 1960an. Ah, rupanya mereka betul-betul mempertahankan apa yang mereka pegang teguh sedari dulu. Mungkin bisajadi pepatah itu benar. Kunci kesuksesan adalah konsistensi.
Harga makanan sendiri relatif tidak jauh berubah dengan 4 tahun lalu. Meskipun cukup mahal sepertinya; menu pesananku saja harganya 35 ribu rupiah. Tinggal aku menunggu, apakah citarasa makanan di rumah makan ini berubah atau tidak.

***

Es kepala muda tiba lebih dahulu di mejaku. Dari penampilannya saja sudah menggoda, jadi lebih baik kucicipi.

Wah, rasanya sama sekali tidak berubah. Manisnya, suasana sejuk di dalam tubuhku mengajakku bernostalgia ketika aku masih bekerja di daerah sini.

Tidak berapa lamu aku lihat ada pelanggan lagi yang datang. Seorang bapak dengan anaknya yang masih SD. Mereka memilih untuk duduk di ruang ber-AC dan si bapak pun dengan cepat memesan makanan dari bukumenu. Sepertinya setiap mengantar anaknya pulang ia sering singgah disini, karena ia nampak sudah afal dengan menunuya. Sepertinya.

“Ini mas mie-nya, maaf menunggu lama,” ujar si pelayan sambil membawakan mieku yang menyudahi pengamatan singkatku.

Aku hanya balas ia dengan tersenyum. Saatnya mencicipi mie daging sapi ini beserta pangsit gorengnya. Yap! Inilah rasa makanan yang kurindukan, yang semua orang rindukan. Begitu gurih, kenyal, luar biasa. Mungkin kalian menganggapku berlebihan; tapi, mie ini benar-benar lezat buatku.

Dengan lahap aku memakan mie-ku. Dan dua orang pelanggan masuk lagi ke dalam rumah makan ini. Mereka berdua duduk di meja sampingku.

“Permisi, bapak-bapak mau pesan apa?” Ujar pelayan kepada dua bapak itu sambil menyodorkan menu.

“Teh anget dan tiga pangsit rebus sapi. Cepat ya!” Ujar salah seorang bapak tanpa melihat menu lagi.

“Dan kau mau pesan apa din?” Ujar bapak itu lagi kepada bapak di sampingnya.

“Saya, teh anget aja pak, yang murah,” balas bapak yang satu lagi.

“Ah, kau ini pesannya yang murah-murah terus, kau ini supirku, harus pesan yang mahalan dikit. Hey mbak, pesan satu es kepalakepala muda itu ya,” timpal bapak itu sembari memperjelas status sosial bapak yang di sebelahnya.

Kalau aku perhatikan, si bapak yang majikan ini sepertinya pernah terkena stroke. Koordinasi tangannya kurang begitu bagus; bicaranya pun tidak selancar seperti dialog yang aku tuliskan. Bahkan ketika tadi hendak duduk, dia harus dibantu oleh si supir. Aku rasa, ia adalah seorang long time-customer, pelanggan lama sepertinya. Buktinya ia tahu harus memesan apa tanpa melihat menu, dan nafsunya begitu menggebu-gebu ketika memesan pangsit kuah itu. Untuk apa pula ia bersusah-susah datang ke rumah makan yang lokasinya tidak mengenakkan ini kalau ia bukan seorang pelanggan setia. Hmmm.

Alasanku diperkuat oleh kemunculan Koh Amsyong yang tiba-tiba sudah berdiri di samping bapak itu, dan mulai saling bicara. Entah bahasa apa yang mereka gunakan. Hokkian? Mandarin? Aku tidak tahu.

Aku selesai dengan makananku, dan membayarnya. Tidak lupa aku juga memesan satu bungkus mie untuk ku makan di rumah.

Tidak terasa sudah pukul 4 sore. Langit sudah mulai menjadi jingga. Tiada lagi terasa sisa-sisa kehadiran terik matahari. Entah apakah karena waktu yang semakin berlalu dan menjadi sore, atau karena efek sejuk dan harmonis yang kudapatkan dari rumah makan Bakmi Koh Amsyong tadi.

—Jakarta, 9 Juli 2011—

Advertisements

Entry filed under: Prosa. Tags: , , .

Cinta Hanya 25 Ribu Näkemiin Nokia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: