Terima Kasih, Alfred Riedl.

July 16, 2011 at 11:43 Leave a comment

Alfred Riedl. Sosok berusia 61 tahun ini mendadak menjadi secercah harapan bagi dunia persepakbolaan Indonesia, manakala ia, dengan persiapan yang relatif singkat, mampu menghantarkan timnas Indonesia menjadi runner-up di Piala AFF 2010 lalu.

Meskipun gagal menjadikan Indonesia sebagai kampiun di kejuaraan tersebut, namun Ridel berhasil membawa angin sejuk di tengah carut marutnya persepakbolaan Indonesia. Tangan dinginnya, ketegasannya dalam pemilihan pemain, dan kejeliannya meracik formasi yang tepat, cukup mengagumkan. Hal ini terlihat ketika ia dengan tegas mencoret Boaz Salossa dari skuad timnas yang akan berlaga di Piala AFF, padahal ketika itu Boaz sedang dalam kondisi terbaiknya; namun Riedl berkata lain, sikap indisipliner yang ditunjukkan Boaz manakala mangkir dari latihan membuat Riedl tanpa segan mencoretnya. Riedl seolah menegaskan bahwa tidak ada pilih kasih di timnas Indonesia, semua harus menaati aturan yang ada.
Lalu hal yang mengejutkan juga terjadi ketika Riedl memutuskan untuk membangkucadangkan Bambang Pamungkas yang menjabat sebagai kapten tim. Posisinya sebagai kapten kemudian diberikan kepada Firman Utina, dan posisi strikernya diberikan kepada Irfan Bachdim. Dalam hal ini kita bisa melihat kejelian Riedl, yang mungkin merasa bahwa Bambang dengan usia yang sudah 30 tahun, akan lebih fit jika dijadikan supersub ketimbang bermain sejak awal.

Riedl juga berusaha mati-matian agar skuadnya tidak diintervensi oleh pihak-pihak luar, seperti pejabat PSSI dan semacamnya. Meskipun pada akhirnya ia harus mengalah kepada mereka-mereka tersebut, dan merelakan timnas diajak kesana kemari oleh mereka-mereka itu, padahal ketika itu timnas butuh konsentrasi tinggi untuk menghadapi partai final Piala AFF. Lalu hasilnya kita bisa lihat sendiri, timnas bermain tanpa determinasi pada leg pertama dan kalah 0-3. Pada leg kedua yang dilangsungkan di Jakarta, timnas hanya mampu menang 2-1, dan kalah agregat. Untuk kesekian kalinya, Indonesia kembali gagal menjadi juara se-ASEAN.

Ya, banyak yang merasa bahwa intervensi saat itu berimplikasi pada performa timnas saat leg pertama. Bisajadi hal ini benar, sekalipun kita juga harus mengakui, bahwa Malaysia bermain lebih baik ketimbang Indonesia. Mengenai insiden laser, saya rasa pemain bola yang professional tidak bisa menjadikan hal non-teknis semacam itu sebagai alasan mengapa kalah. Setidaknya, Alfred Riedl cukup berhasil dalam Piala AFF kali ini. Sudah lama rasanya kita, sebagai rakyat Indonesia, dibuat bangga dan kagum atas apa yang dilakukan oleh Tim Nasional Indonesia. Jasa besar bukan hanya milik pemain, namun juga suporter, staff timnas, dan tentunya Alfred Riedl. Well, mungkin ada juga sedikit jasa PSSI.

Perlu kita ketahui juga, bahwa sosok tegas Riedl berhasil menjadikannya sebagai salah satu ‘pahlawan’ sepakbola di Vietnam. Riedl berhasil menghantarkan Vietnam mencapai babak perempat final Piala Asia 2007. Bahkan saat Riedl menangani Laos, Riedl berhasil membawa tim sepakbola Laos lolos sebagai peringkat satu saat fase grup di SEA Games 2009 dan mempecundangi Indonesia dengan skor 2-0. Boleh dibilang, Riedl adalah yang terbaik di Asia Tenggara, setara dengan Radojko Avramovich (pelatih tim Singapura).

Sial bagi Riedl, ternyata pergantian kepemimpinan dan kepengurusan di PSSI malah membawa malapetaka baginya. Riedl dipecat oleh ketua PSSI yang baru, Djohar Arifin. Alasan pemecatannya pun sedikit aneh, disebutkan oleh Djohar bahwa kontrak kerja Riedl yang tidak jelas dan dicurigai waktu itu Riedl menandatangani kontrak kerja sepihak dengan Nirwan Bakrie, dan bukan PSSI. Jadi kurang lebih, Riedl dipecat karena dia dianggap bukan pelatih yang sah karena kontrak kerjanya tidak ada.
Janggal? Ya, saya juga merasa hal ini sedikit janggal dan sedikit mengada-ada. Bayangkan, Alfred Riedl, pelatih yang sudah hampir 30 tahun malang melintang di dunia kepelatihan ternyata menandatangani kontrak kerja yang tidak jelas. It doesn’t make sense for me. Apa iya, seorang sekaliber Riedl mampu bertindak seceroboh itu.

Riedl memang dikenal bersikeras untuk tidak memanggil pemain yang berlaga di LPI untuk masuk timnas karena LPI belum menjadi kompetisi yang diakui FIFA. Untuk yang satu ini mungkin Riedl terkesan memaksakan diri, padahal jelas sekali, orang yang mainnya level tarkam sekalipun tentu saja boleh dipanggil ke timnas asalkan memenuhi kriteria pelatih. Ya, saya tau dan yakin, Riedl pasti diintervensi oleh staff PSSI saat itu (Nurdin cs). Mungkin inilah yang membuat Riedl dicap sebagai antek rezim Nurdin sehingga harus dibersihkan dari rezim Djohar. Djohar sendiri sepertinya merupakan ‘ketua titipan’ dari Arifin Panigoro (pendiri LPI, juga kontra dengan Nurdin cs).

Sayang, sungguh sayang. Keputusan ini seperti dibuat terlalu terburu-buru. Ketika skuad Indonesia susunan Riedl sudah mulai menunjukkan hasil, kini ia justru dipecat. Ketika tanggal 23 Juli, Indonesia sudah harus menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2014 versus Turkmenistan, Mr Alfred justru ‘diusir’. Beliau mungkin gagal menjadikan Indonesia untuk juara di Piala AFF. Beliau mungkin gagal membawa timnas U-23 untuk lolos ke olimpiade. Beliau mungkin bersikeras tidak memanggil pemain LPI akibat suruhan pihak yang berkuasa. Tapi, apakah tidak ada rasa berterima kasih kepada Riedl, atas segala usaha yang ia lakukan? Kenapa staff PSSI yang baru tidak mendahulukan kepentingan timnas dan berkepala dingin mengenai masalah kontrak kerja Alfred Riedl yang fakta sebenarnya belum tentu seperti fakta yang mereka utarakan?

Masihkah PSSI sama seperti yang dahulu? Masihkah sepakbola yang kita cintai dipolitisir oleh pihak yang berkuasa?
Masihkan PSSI mementingkan urusan administrasi terlebih dahulu ketimbang prestasi?

Entahlah, bukan privilege saya untuk menjawab hal tersebut. Saya hanya penikmat sepakbola, bukan pengamat sepakbola, yang hafal isi statuta PSSI dan semacamnya. Yang saya tahu, permainan sepakbola adalah sarana pelepas kejenuhan. Ya, tujuan utama sebuah permainan adalah melepaskan diri dari kepenatan.
11 lawan 11 yang memperebutkan 1 buah bola sepak. Dengan lapangan sekitar 100x50m. Dengan waktu pertandingan 2x45menit, perpanjangan waktu 2x15menit, lalu adu pinalti. Dengan segala formasi, kolektivitas, tendangan dan atraksi. Dengan wasit-wasit dan aturannya. Dengan pemain cadangan, pelatif, dan staff tim yang bertanding. Dan tentu saja, para penonton dan suporter yang memenuhi stadion pertandingan.
Grrr.

Mengapa sih, susah sekali untuk menikmati permainan sepakbola di Indonesia!?

Taken from Washington Post

Semoga kejadian ini menjadikan Mr Alfred Riedl untuk lebih berhati-hati dalam memilih tim yang akan ditangani. Ya, bukan berhati-hati dengan pemainnya, namun berhati-hati dengan orang-orang yang ‘berkuasa’.

Terima kasih Alfred Riedl!

—-Jakarta, 15 Juli 2011—

*)tulisan ini hanya opini saya semata sebagai penikmat sepakbola yang gerah dengan carut marut persepakbolaan Indonesia

Advertisements

Entry filed under: Pemikiran Bebas. Tags: , , , .

Näkemiin Nokia Asa yang Mati Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: