Archive for October, 2011

Bimbang

“Saya hanya akan menghargai mereka yang menghargai saya!”

Ujar seorang aktris muda yang digosipkan berpacaran dengan seorang pengusaha yang sudah beristri.

***

Pagi ini sama dengan pagi kemarin. Mungkin sama dengan minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu. Matahari tidak pernah lupa bersinar. Selalu ada bayangan menyertai langkahnya di pagi yang cerah. Bayangan gelap yang membias mengikuti langkah si penderita. Dirinya.

Seharusnya ia hidup berbahagia. Pesonanya merebak di antara bunga dan embun pagi. Sekalipun bibirnya tak bergincu, senyumnya mampu menawarkan kesejukan di kala matahari menyingsing di antara hari. Seharusnya ia berbahagia, lebih bahagia dari burung yang terbang bebas di langit kota.

Usianya menginjak 27 tahun akhir April ini. Menikah sudah pasti jadi impiannya. Memiliki anak, menjadi ibu rumah tangga, keluarga yang harmonis. Hidup semanis itu. Seharusnya semua yang ia inginkan bisa menjadi nyata, seandainya ia tidak meninggal. pagi ini.

***

Berulang-ulang media infotaiment memberitakan kematian aktris muda ini. Bahkan narasi yang mereka sampaikan cenderung spekulatif dan mengaitkan kematian aktris ini dengan isu perselingkuhannya dengan pengusaha mebel itu. Kematiannya dianggap tidak wajar oleh banyak pihak. Memang, bukti yang ada tidak cukup menunjukkan kalau ia mati dibunuh. Kematiannya lebih terlihat seperti bunuh diri. Tergeletak di ruang tamu dengan nadi teriris.

“Sekali lagi saya tegaskan, saya bukan perusak rumah tangga orang, saya wanita baik-baik dan taat beragama.” Lagi-lagi infotaiment menampilkan statement-statement si aktris, beberapa hari sebelum ia mati.

Yang teraktual, nampak si pengusaha mebel dan istrinya menjalani pemeriksaan terkait kematian si aktris. Masing-masing menyewa pengacara handal untuk menangani kasus ini; masing-masing ingin membuktikan kalau kematian si aktris tidak ada keterkaitannya dengan mereka.

***

“Pak polisi, saya tahu siapa yang ngebunuh mbak itu,” ujar seorang bocah yang tinggal dekat rumah si aktris kepada beberapa polisi yang sedang melakukan pengecekan TKP.

“Yang benar kamu, dik. Bapak sedang sibuk mencari barang bukti, nih,” timpal si Polisi.

“Tapi beneran Pak, orangnya ada tuh di sana tuh,” balas si bocah sembari menunjuk ke sebuah rumah.

Polisi yang tadinya tidak menggubris si bocah tadi, mulai tergelitik rasa penasarannya. Kemudian dengan langkah yang cepat, ia sampai ke sebuah rumah yang besar–sekitar 750meterpersegi–dengan pintu gerbang berwarna putih yang juga besar. Kebetulan gerbang itu tidak terkunci, polisi dan bocah tersebut langsung masuk ke dalam.

“Tuh, itu tuh pak orangnya,” tunjuk si anak.

Polisi itu tersentak. Karena yang ada di hadapannya adalah seorang kakek renta yang mungkin usianya di atas 75 tahun. Polisi itu menjadi gusar, bingung dan bertanya-tanya; apa mungkin orang setua ini sanggup membunuh aktris itu.

“Maaf, Pak, apakah Bapak yang tinggal di rumah ini?” Tanya polisi tersebut kepada si kakek.

“Betul, ada perlu apa situ datang ke rumah saya?”

“Begini, Pak, tadi pagi tetangga Bapak ada yang meninggal, yang aktris itu, Pak, Bapak kenal sama dia?”

“Ooh, dia, itu saya yang bunuh kok, kenapa memangnya?”

Polisi itu terdiam. Dia memang polisi baru, ini pun adalah kasusnya yang ketiga. Tapi ia tidak menyangka kalau si kakek ini benar pelakunya, dan semudah ini mengakui perbuatannya.

“Maaf Bapak, saya tidak mengerti maksud Bapak, Bapak bilang tadi Bapak membunuh dia?”

“Guoblok. Masih muda tapi kupingnya budek. Tolol pula otaknya. Ya saya yang bunuh dia, lalu kenapa!?”

“Ehm, itu perbuatan melanggar hukum, Pak, bapak bisa dipenjara..”

“Lho, terus kalo saya dipenjara kenapa?”

“Ya Bapak jadi harus tinggal di penjara. Tinggal di penjara tidak enak, Pak. Kenapa Bapak bunuh dia?”

“Kalo tidak enak kenapa? Situ mau gantiin saya dipenjara, hah?! Lho, wong dia yang minta dibunuh kok, ya tak bunuh lah. Ngga baik nolak permintaan orang.”

“Tapi kan membunuh itu dosa, Pak, itu juga melanggar hukum. Harusnya Bapak mengerti hal semacam itu.”

“Sontoloyo koe. Memangnya situ siapa? Tuhan? Bisa-bisanya bilang saya berdosa gara-gara membunuh. Situ ga pernah bunuh semut, kecoa, tikus?”

“Bapak! Tolong bedakan antara membunuh manusia dan binatang. Jelas berbeda, Pak. Secara hukum jelas aturannya, di Kitab Suci juga sudah dijelaskan hal itu, Pak!”

“Wong edan dasar. Saya ini ngga bisa baca-tulis, gimana mao baca kitab suci sama kitab hukum! Lho, memang apa bedanya manusia dengan binatang?! Kok pilih kasih gitu!”

Si Polisi kewalahan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya bodoh namun terlalu kompleks untuk dijawab. Baru kali ini ia dihadapkan pada seseorang yang nampak tidak berpendidikan namun mampu menyulitkan dirinya yang berpendidikan.

“Gini, Pak, Tuhan menciptakan manusia lebih sempurna dari makhluk lain, oleh karena itu manusia berbeda derajatnya dengan binatang. Manusia harus lebih dihargai daripada binatang.”

“Situ kok sok tahu ya?! Memang Tuhan pernah ngomong begitu ke sampean?”

“Tidak sih, Pak, tapi kan di kitab suci dituliskan begitu..”

“Saya ngga bisa baca, apa saya mesti percaya sama kata-kata sampean? Jangan-jangan sampean cuma mau ngejebak saya!?”

“Haduh bukan begitu, Pak, yang jelas Tuhan itu MahaSempurna MahaAdil dan segala-galanya deh, Pak, semua yang dikatakan dan dilakukannya itu sempurna..”

“Situ kalo ngomong berbelit-belit, udah gitu tukang bohong pula. Kalo Dia MahaAdil kenapa manusia dan binatang beda derajatnya!? Situ ini jangan mengarang yang aneh-aneh tentang Tuhan, ya!? Kualat nanti!”

Polisi tersebut mulai merasa kesal. Ia naik darah. Hal sepele semacam ini membuang waktunya, tugas terpentingnya adalah mengungkap kejadian meninggalnya si artis. Bagaimanamungkin ia bisa terjebak pada perbincangan yang di luar nalar. Ia merasa sangat bodoh karena telah meladeni perdebatan dengan seorang kakek yang mengaku membunuhnya. Lalu ia menenangkan pikirannya.

“Iya, maaf, Pak, tadi saya khilaf. Semua perkataan saya hanya pendapat saya pribadi. Hal itu tidak mencerminkan sifat Tuhan dan semacamnya.”

“Nah begitu dong, itu baru bagus. Anak muda zaman sekarang memang paling sulit mengakui kesalahan dan kekalahan.”

“Kalau begitu, izinkan saya bertanya ke masalah sebelumnya, adakah alasan si aktris itu untuk meminta Bapak bunuh?”

“Oh itu, dia bilang ke saya, kalo dia bosen sama kehidupan ini. Dia bosen digosipin hal murahan. Si pengusaha mebel itu bapaknya si aktris ini. Makanya mereka sering digosipin jalan bareng dan kumpul kebo. Dia ngerasa kasihan dan bersalah pada si bapaknya ini karena gara-gara dia jadi digosipin gitu.”

“Tunggu, jadi bagaimana dengan istri si pengusaha? Itu ibunya si aktris ini?”

“Oh, bukan. Si pengusaha ini pas muda hobi mendaki gunung. Jadi waktu itu dia ga sengaja ngehamilin temen sependakiannya. Lalu temen si pengusaha ini pergi entah kemana.”

“Lalu si pengusaha menikah dengan istrinya yang sekarang. Begitu, Pak?”

“Tepat sekali, nak. Si aktris juga ngga mau menceritakan hal yang sebenarnya ke publik, ia ngga mau reputasi si pengusaha rusak. Nah, sekarang apalagi yang mau situ tanya?”

“Jadi, dia meminta Bapak bunuh karena merasa frustasi dengan masalah di hidupnya?”

“Dia bilang sih gitu. Lagipula dia bilang, dia udah kena kanker paru-paru akut, udah stadium akhir, umurnya juga udah ga lama lagi, jadi wajar menurut saya, saya juga kasihan sama dia, mending mati deh.”

“Wew, begitu ya. Hmm”

“Jadi gimana, situ jadi nangkep saya atau gimana nih?”

“……. Saya tanya atasan saya dulu, Pak.”

Polisi muda itu melangkah perlahan meninggalkan rumah Kakek tadi. Dengan langkah sayu yang menyertai keraguan di hatinya; namun tetap bahunya yang tegap itu dibasahi sisa-sisa sinar keemasan matahari yang sebentar lagi kembali ke peraduannya. Ia tahu sore ini mungkin tidak ada bedanya dengan sore kemarin, ataupun sore seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, setahun yang lalu. Namun baginya sore ini mengubah segalanya, terlebih lagi ketika dia menerima sms di handphonenya, bahwa hasil otopsi menunjukkan kalau si aktris memang menderita kanker akut, dan umurnya tidak lama lagi.

Kini, sore ini tidak lagi sama baginya. Kini, ia mungkin harus membiarkan sore ini menelan lenyap kenyataan yang ada; keadilan yang tidak bisa diungkapkan.

***

“Saya lebih baik mati, daripada ditindas oleh isu-isu busuk semacam ini. Saya lebih baik mati daripada difitnah hal-hal najis semacam ini.”

——-Jakarta, Juli 2011——–

Advertisements

October 2, 2011 at 00:18 Leave a comment


Visitor

Date of Post

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31