Ekskul Futsal: Runtuhnya Sebuah Dinasti

March 10, 2012 at 10:44 2 comments

Tercatat sudah hampir 2 tahun saya lulus dari SMA saya, Fons Vitae 1. Selama hampir 2 tahun  pula rasa rindu akan kenangan masa-masa itu selalu menghinggapi hati saya. Terlepas dari apakah masa SMA saya indah ataupun tidak indah, saya tetap merindukannya. Salah satu kenangan yang melengkapi masa-masa itu adalah “Futsal”; cabang olahraga terpopuler di sekolah saya. Sebagian dari masa SMA saya selalu diwarnai olahraga ini: futsal. Mengenai bagaimana perjalanan karir futsal saya selama SMA bisa dilihat di sini.

Apa yang akan saya selanjutnya ceritakan adalah sebuah ironi, tentang sebuah kejayaan yang pudar menjadi kehancuran. Ironi ekstrakurikuler futsal di SMA saya. Barangkali aturan ini hanya berlaku di sekolah saya; bahwa ekskul futsal bukan cuma milik siswa aktif, namun juga alumni, yang ingin bermain. Tidak ada batasan dalam hal keanggotaan. Dari semenjak saya masuk SMA (2006) hingga sekarang (2012) ekskul futsal merupakan ekskul yang paling konsisten dalam latihan. Mereka-mereka yang telah menjadi alumni, banyak yang mendedikasikan waktunya untuk tetap ikut ekskul futsal. Naik dan turun prestasi bukan perkara, kebahagiaan dalam bermain bersama adalah yang utama. Saya rasa jarang ditemui sma yang ekskul futsalnya dapat membaurkan alumni dan siswa aktif seperti di SMA saya. Pemain yang usianya berbeda 5-6 taun tetap bisa bermain bersama dalam satu tim tanpa canggung. Ekskul futsal di SMA saya tidak bisa dianggap ekskul yang remeh.

Bukan berarti semua kebahagiaan itu tanpa penghalang. Beberapa tahun lalu, banyak ekskul yang “dimatikan” paksa. Alasannya rumit, ada yang bilang karena bermasalah dengan alumni ekskul tersebut, atau kegiatannya yang tidak sesuai koridor peraturan yang berlaku, sampai karena kurangnya peminat. Ekskul futsal bukanlah ekskul semacam itu. Selama saya 4 tahun menjadi siswa, kendala dari peserta ekskul hampir tidak nampak. Peminat dan alumni selalu ada dan konsisten. Masalah terbesar justru datang dari faktor eksternal. Saya tidak ingin berspekulasi, tapi mungkin saja, ada pihak-pihak yang tidak suka dengan keberlangsungan ekskul futsal, dan ingin memajukan cabang ekskul lain.

Permasalahan ini begitu kentara buat saya. Awal mengikuti ekskul ini (2006), ekskul futsal melebihi ekspektasi saya; baik alumninya, maupun staf kepelatihannya yang profesional. Semuanya sesuai dengan gambaran ekstrakurikuler SMA yang ideal; sekalipun ketika angkatan saya masuk, latihan lapangan sepakbola sudah tidak diadakan lagi. Tahun-tahun berikutnya, perubahan terjadi pada ekskul futsal. Staf kepelatihan lama sudah tidak melatih lagi. Prestasi mendadak drop, bahkan sampai saya lulus tidak ada lagi gelar juara satu berhasil didapat. Bahkan, meskipun hampir 5 tahun staf kepelatihan profesional itu diganti (sejak tahun ajaran 2007-2008), saya masih tidak tahu alasan dibalik penggantian itu. Uang? Ketidaksukaan? Rasa dengki melihat kesuksesan ekskul futsal? Saya tidak tahu.

Sempat saya dan alumni lain mengadakan Liga Futsal Fons Vitae 1. Setidaknya liga ini perlahan bisa merapatkan kembali gap antar angkatan. Liga yang prestisius ini digelar selama 3 kali dalam periode dua tahun (2010-2011). Meskipun masalah datang silih berganti sepanjang liga; namun liga tetap berjalan sesuai harapan. Selama 2 tahun saya menjadi alumni, waktu ekskul turut berubah. Jika dulu dalam seminggu diadakan 2 kali (Selasa & Jumat), sekarang hanya diadakan sekali (Selasa) bahkan alumni hanya bisa bermain Jumat dan terkadang Rabu. Seolah-olah eksistensi ekskul futsal terkikis oleh waktu. Sungguh, sangat tidak logis ekskul futsal sekarang ini dapat menyamai kualitas atau malah kejayaan ekskul futsal masa lalu. Belum lagi masalah perizinan, dimana harus ada izin sebelum alumni menggunakannya untuk latihan; perihal masalah izin semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah ada benturan yang merugikan pihak sekolah/yayasan dengan alumni. Tidak pernah ada konflik serius. Wajar apabila kemudian terjadi kelinglungan dalam masalah komunikasi perizinan ini. “Ibarat sebuah rumah yang kokoh dengan taman yang indah, namun kemudian taman itu dihancurkan, diganti dengan bangunan untuk perluasan rumah karena merasa esensi keindahan bangunan rumah adalah pada kokoh bangunannya dan bukan pada asri tamannya; atau sebaliknya, rumput-rumput di taman itu tumbuh tidak terawat dan menjadi liar sehingga membuat rumah terlihat kumuh dan juga suara bising serangga-serangganya ingin menunjukkan bahwa kehidupan di taman itu lebih nyata daripada ketidakpeduliin orang rumah akan kelangsungan hidup di taman.” Tidak, relasi antara sekolah saya dan ekskul futsal bukanlah simbiosis parasitisme semacam itu. Batasan-batasan norma itu tidak tersentuh maupun dilanggar. Semua masih dalam batas kewajaran. Pihak ekskul futsal alumni tidak berusaha untuk berbuat kacau di sekolah, semua hanya sebatas futsal dan canda tawa antar pemain.

Saya mencintai (mantan) sekolah saya, dan saya tidak peduli apakah (mantan) sekolah saya menghormati alumninya yang turut ambil serta dalam mendirikan peradaban di sekolah ini atau tidak; tapi sangat ironis bagi saya, ketika (mantan) sekolah saya itu tidak memperdulikan kelangsungan hidup ekskunya, dalam hal ini ekskul futsal.

Tiap tahun futsal tidak pernah kekurangan peminat. Lalu mengapa ekskul ini seolah “dimatikan” perlahan-lahan? Mungkin sebuah piala kejuaraan futsal tidaklah begitu bermakna. Mungkin juga, kedekatan antara alumni dan siswa aktif tidaklah begitu penting. Bahkan mungkin, futsal bukanlah olahraga yang berguna kelak di kehidupan. Tapi saya yakin, mereka yang mempunyai pemikiran semacam itu adalah orang yang tidak pernah merasakan betapa nikmatnya bermain futsal.

Saya sebagai seorang alumnus, tidak berharap apa-apa. Toh, semua peraturan ada pada pihak sekolah dan birokrasinya. Tapi, kenangan-kenangan itu tidak akan pernah bisa dibunuh; bukan cuma saya, tapi juga alumni lain dengan kenangannya masing-masing.

—-

*) saya memilih penggunaan kata “sekolah” ketimbang “mantan sekolah” karena saya meyakini bahwa setelah menjadi alumnus, saya tetap bagian dari keluarga “sekolah” itu.

*)hanya 3 kali “mantan sekolah” saya gunakan, untuk menunjukkan situasi keasingan dan seolah pudarnya eksistensi alumni sebagai bagian dari “sekolah”

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Let’s Go Kamen Riders (2011): Movie Analysis After Two Years (Some Short Memoirs)

2 Comments Add your own

  • […] dari setaun yang lalu, pasti udah nyimak betapa serunya gue main futsal pas sma, dll. Atau mungkin postingan gue beberapa bulan lalu, yang nyeritain sedihnya nasib alumni-alumni futsal. Itu cuma sebagian […]

    Reply
  • 2. 5 Hal Ini Membuatmu Kangen Masa Sekolah | Ehloo.Com  |  August 25, 2015 at 19:35

    […] Ekskul Futsal via Decaires  […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

March 2012
M T W T F S S
« Feb   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: