Archive for April, 2012

Pada Sebuah Tepi

 

            Pada tepi danau, aku menyandarkan peluhku dalam kesendirian, bersama gitar dan lagu yang kuciptakan untuknya. Perlahan-lahan kupetik senar, memainkan nada yang mengalirkan cintaku untuknya. Kenangan lama yang telah tertutup rapat kini terbuka lagi. Kupejamkan mata, selagi angin sore berhembus melewati sela-sela rambutku, dan kubiarkan memori itu hidup lagi dalam lamunanku.

                                          ***

“Mas, rokoknya bisa dimatiin ga?” Terdengar suara perempuan dari belakangku.

Aku menengok ke belakang, melihat sosoknya, dan lalu kumatikan rokokku. Ia, sesosok perempuan manis bertubuh tinggi, dengan rambut hitam sebahu, kemeja lengan panjang berwarna biru dengan tanktop berwarna hitam di dalam kemerjanya, celana jeans, sepatu kets; nampak sempurna untuknya.

Sori ya, Mbak,” balasku sambil tersenyum kepadanya.

Kami berdua bertatapan. Aku, memandangi wajahnya yang manis itu. Dan ia terpaksa memandangi wajahku yang burukrupa ini.

“Aduh, maaf, Mas. Tadi gue disuruh senior soalnya buat ngomelin lo,” ujarnya berbisik kepadaku sambil jari telunjuknya menunjuk kepada beberapa mahasiswa berjaket kuning dengan pita merah melingkar di lengan mereka.

“Ah, engga apa-apa kok hehehe. Elu maba juga? Tanyaku kepadanya.

“Iya, lo maba juga, Mas?”

“Iya, gue maba, manggilnya jangan pake mas napa, kan seumuran haha, gue Ryo, Teknik Kapal,” ujarku kepadanya sembari mengulurkan tangan.

Gue Rena, Psikologi,” jawabnya sambil tersenyum dan menjabat tanganku.

Lalu kami berdua berbincang penuh kehangatan, barangkali karena status kami sebagai sesama mahasiswa baru, keakraban itu cepat tumbuh. Tidak lama kemudian kami berpisah, aku pulang, dan dia kembali berkumpul dengan seniornya. Dalam hati kecilku aku berharap: semoga itu bukan pertemuan terakhir kami.

Doaku seolah menjadi kenyataan, manakala seringkali kami berpapasan di perpustakaan. Entah mengapa, setiap perbincangan kami terasa begitu hangat. Sosok Rena membawa kelegaan buatku; dan semoga, sosokku yang burukrupa ini juga membawa kelegaan buatnya, bukan malah beban.

Sebulan sudah berlalu sejak perjumpaan pertama kami. Sore itu aku tengah menyendiri (lagi) di tepi danau, membawa gitar dan memainkan lagu pengiring senja.

“Mas, rokoknya bisa dimatiin, ga?” Terdengar suara perempuan yang suaranya sudah kukenal dari belakangku. Kemudian aku menengok ke arahnya.

“Eh, elu Ren, kenapa? Disuruh senior lagi? Hahaha,” candaku kepadanya. Sosoknya kembali menawan hatiku. Keelokan matahari senja beserta cahaya keemasannya tidak lebih indah dari senyum dan sinar mata Rena yang berbinar. Kecantikannya berpijar bagai bidadari nirwana.

“Haha, engga lah, Yo. Eh, elo ngapain di sini? Sambil nenteng gitar pula,” tanya Rena.
Aku masih terdiam, masih terhipnotis oleh pesona dan aura eksotisme yang berpijar di wajahnya.
“Eh, kok bengong sih lo, Yo?”

“Wah, sori, Ren, gue lagi engga fokus tadi, keinget ujian buat besok hehe. Eh, tadi lu nanya apa, ya?”

“Yeh, ujian mulu lo pikirin, gue kira lo bengong gara-gara terpesona sama gue hehehe. Hmm, tadi gue nanya, lo ngapain di sini sambil nenteng gitar?” Ujar Rena mengulangi pertanyaannya.

“Ooh, gue emang kadang-kadang ke sini, Ren, kalo lagi jenuh. Gue suka di tepi danau kaya gini. Sepi, tapi rindang banget buat diri gue meneduh,”

“Aaah, kok kita sama, sih? Gue juga suka tempat kaya gini, Yo. Tempat kaya gini bikin hati ngerasa tenang,” jelas Rena.

“Wah, elu juga toh haha,”

“Iya, Yo, hehehe. Eh, lo bisa main gitar, ya? Bikinin gue lagu dong? Bisa, ngga?” Tanya Rena.

“Bisa sih. Tapi butuh waktu, Ren. Biar lagunya bagus..”

“Iyaa, engga apa-apa kok. Take your time, Yo. Dua minggu lagi kita ketemuan di sini lagi, ya? Gue pengen denger lagunya, bisa kan?”

“Bisa kok, Ren hehe. Dua minggu ke depan lu sibuk?”

“Iya, Yo. Sibuk banget, yaudah, gue pergi dulu yaaa. Byeee,” ujar Rena menutup perbincangan kami sore itu.

Aku masih tidak percaya kalau perempuan se-istimewa dia memintaku untuk membuatkan lagu. Saat itu, tidak ada perasaan lain selain perasaan bahagia. Semakin lama, aku semakin sadar, bahwa aku perlahan aku menumbuhkan sebuah benih yang kelak menjadi penyakit: cinta. Selama dua minggu aku mati-matian menyusun nada-nada terindah, lirik termanis; semua hanya untuk Rena. Aku memantapkan hatiku. Perasaan yang kujalin ini harus kulabuhkan padanya, pada saat itu, cinta ini harus kusampaikan padanya. Saat lagu ini kunyanyikan untuknya.

Sore yang kunatikan itu tiba. Tepian danau yang sepi, cahaya keemasan matahari, dan dengan sabar kunanti dirinya. Telah kusiapkan segalanya: mental, gitar, suara, dan segalanya. Sepuluh menit. Tigapuluh menit. Satu jam. Rena belum muncul juga. Sampai akhirnya, pukul delapan malam, tak ada tanda-tanda kehadirannya di tempat ini. Ada apa gerangan? Adakah ia melupakan hari ini atau? Ah, yasudahlah. Menunggu satu jam atau satu minggu sama saja; karena aku percaya, cinta yang tulus bisa mengalahkan pedihnya waktu.

Keesokan harinya kutunggu lagi di tepi danaunihil, tak jua ia nampak. Dua hari, tiga hari, bahkan seminggu, ia tidak juga nampak. Kesalahan terbesarku adalah, aku tidak memiliki facebook, twitter, atau blackberry untuk menghubunginya. Bahkan aku belum sempat menanyakan nomor telefon genggamnya. Tak kumiliki teman dari fakultas psikologi, untuk sekadar menanyakan kabar Rena. Bisajadi kepribadianku yang introvert telah membuatku terlihat dungu. Satu-satunya yang tersisa adalah keberanian. Aku memberanikan diri datang ke fakultas psikologi untuk mencarinya.

Apa yang aku lihat selanjutnya adalah sesuatu yang membuat hatiku hancur sebagaimana letusan Krakatu menghancurkan segala kehidupan kecil di sekitarnya. Aku melihat Rena, dengan setelan pakaiannya yang begitu berbeda. Ia tidak terlihat sporty seperti biasa kulihat. Ia terlihat berbeda, sulit untuk kudeskripsikan. Ia dikelilingi pria-pria tampan dan beberapa perempuan cantik lainnya. Auranya memancar begitu indah. Ia nampak begitu bahagia berada di tengah-tengah mereka. Bahkan seorang pria rupawan di sebelahnya merangkulnya mesra, kemudian mencium pipinya, membelai mesra rambutnya. Aku tersentak. Dan lalu terbangun dari mimpi panjangku. Seolah akal sehat menertawakanku: “Hei bodoh, sadarlah! Kau itu burukrupa dan tidak menarik, mustahil perempuan seperti Rena akan jatuh hati padamu!”

Berminggu-minggu setelah itu, aku larut dalam kesenduan. Tak ada yang lebih pedih dari sebuah harapan yang tak memiliki dermaga untuk berlabuh. Aku baru menyadari bahwa fantasi tidaklah seindah realita. Hidup memang begini, terasa tidak adil, tapi beginilah kenyataan. Sulit bagiku untuk bangun dari kehancuran ini, terlebih lagi manakala wajah Rena menghiasi majalah kampus. Ia seakan menjadi ratu di kampusku, idaman semua pria, barangkali begitu. Aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Tidak, memang aku tidak perah menjadi siapa-siapa di matanya. Aku telah kehilangan Rena. Tidak, aku bahkan tidak pernah memiliknya, bagaimana bisa aku kehilangan dia?

                 ***

            Memori itu kemudian berlalu, setelah kubiarkan hidup sejenak dalam lamunanku. Genap sembilan bulan sudah sejak perjumpaan pertama dengan Rena, di tempat ini juga, di tepi danau. Aku meremas sebuah kertas yang berisi lirik lagu yang seharusnya kuciptakan untuknya; kulempar kertas itu ke danau. Aku bersumpah itu terakhir kalinya aku memainkan lagu itu.

“Usai, sudah usai. Aku harus terbangun. Aku tidak pantas mencintaimu dan engkau tidak mampu lagi kucintai, Rena,” ujar hati kecilku.

Aku berjalan menuju Stasiun Pondok Cina–hendak pulang. Dengan senyuman, aku yakinkan diriku untuk melupakannya. Sampai tiba-tiba sebuah pertemuan yang tak kuduga membuyarkan segalanya. Aku berpapasan dengan Rena! Masih di tepian danau Balairung aku berpapasan dengannya. Kemeja lengan panjang berwarna merah dengan tanktop hitam sebagai dalaman, celana jeans, sepatu kets. Semua masih sama; yang berbeda hanya matanya, matanya memerah–barangkali habis menangis.

Sebenarnya aku hendak menyapanya, tapi aku rasa percuma. Mampukah ia mengingat namaku? lakilaki burukrupa ini.

“Ryo.. Sombong, biasanya nyapa duluan,” ujar Rena mengagetkanku. Ternyata dia masih mengingat namaku.

“Eh, Ren.. Sori tadi lagi bengong hehe. Lu masih inget sama gue?” Tanyaku.

“Masih lah, Yo.. eh, maaf ya, waktu itu gue ga nepatin janji gue,”

“Hah? Janji apaan, Ren?”

“Iya, waktu itu gue udah janji dateng ke tepi danau ini buat denger lagu buatan lo, Yo, tapi gue malah ga dateng..”

“Ooh, lah, justru gue yang engga nepatin janji, harusnya gue yang nyamperin lu dan ngasih lagu itu, Ren.”

“Hmm, yaudah, berarti kita sama-sama salah aja deh hehe,” ujar Rena sambil tersenyum. Senyumanya masih seindah dulu. Cahaya di wajahnya belum pudar.

Maafin gue ya, Yo. Selama ini ga ngasih kabar, soalnya gue…”

“Udahlah, Ren. Lupain, anggep aja engga ada apa-apa. Sekarang lu ada waktu, kan? Nih, gue nyanyiin lagunya,” ujarku memotong kalimat Rena.

Ia mengangguk dan tersenyum. Kali ini jauh lebih manis dan mempesona. Lalu di tepian danau aku memainkan lagu itu sekali lagi, untuknya. Ia nampak begitu menikmatinya. Seolah-olah itu merupakan lagu favoritnya–padahal ia baru pertama kali mendengarnya. Entah, apa karena perasaan bersalah sehingga ia berpurapura menikmatinya, atau ia benar-benar menyukainya. Yang jelas aku bahagia, sekalipun artinya aku mengkhianati sumpah bahwa aku akan menghapus sisa-sisa jejak yang ditinggalkan Rena di hatiku.

Aku tidak peduli apakah selanjutnya aku hanya akan menjadi pelariannya, bonekanya; atau malah sungguh-sungguh menjadi kekasihnya. Cinta mungkin karya Tuhan yang paling absurd. Tapi aku yakin, apa yang seharusnya terjadi, terjadilah.

-Depok, Oktober 2011-

April 21, 2012 at 08:55 Leave a comment


Visitor

Date of Post

April 2012
M T W T F S S
« Mar   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30