Archive for October, 2012

Minnesota Timberwolves: Living Without Love

Ini mungkin post kedua gue yang ngulas tentang dunia perbasketan. Yang
pertama tentang tokoh anime Slam Dunk dengan tokoh nyatanya di NBA.
Dan kali ini gue mao ngebahas tim basket favorit gue saat ini,
Minnesota Timberwolves.

Jadi, gue udah mulai kenal dunia basket dari jaman Ps1, pas NBA Live
2003 (yang covernya si Jason Kidd) nah darisitu gue mulai suka sama
basket, game basketnya terutama. Sempet maen basket juga pas smp, tapi
terus ga lanjut lagi, gara-gara ga nambah tinggi padahal gue mao jadi
Center -_-

Eniwei, gue sendiri mulai getol ngikutin NBA pas playoff 2006, yang
finalnya Dallas Mavericks vs Miami Heat. Gue fans Mavs waktu itu, Dirk
Nowitzkinya sih. Pokoknya gue tiap maen NBA paling suka pake Mavs di
West dan Atlanta Hawks di East. Dan gue kesel di final itu Mavs kalah
setelah ‘dicurangin’.


Setaon vakum ngamatin NBA, baru pas playoff 2008 gue ngikutin lagi,
soalnya NBA lagi hot garagara blockbuster tradenya Celtics atau Suns
yang ngerekrut O’Neal. Pada akhirnya Celtics juara dan gue ikutan
seneng Lakers kalah (gue ga suka Lakers hoho). Ngikutin juga playoff
2009 dan playoff 2010, tapi reguler seasonnya ga gue ikutin. Baru deh
pas pertengahan reguler season 2010-2011 NBA gue ikutin updatenya tiap
hari. Gara-gara apa? Gara-gara Kevin Love!

Okey, waktu itu gue emang masih fans Mavs bahkan sampe mereka juara
NBA 2011 gue masih fans berat, tapi uniknya pemain favorit gue bukan
dari Mavs tapi si Kevin Love yang notabene pemain Minnesota
Timberwolves. Kok bisa?

Jadi gini, gue adalah penggila statistik pemain NBA. Statistik favorit
gue adalah rebound, entah mengapa gue suka. Dan si Kevin Love ini
adalah pemain pertama yang bikin 30-30 (30 poin, 30 rebound) dalam
25taunan terakhir. Terus gue mulai ngepoin ini pemain dan emang dia
pemain yang ngga biasa. Dia power forward yang rata-rata poinnya 20
per game, dan reboundnya 15 per game. Terakhir kalo ada pemain yang
punya rata-rata poin dan rebound sebanyak itu si Moses Malone di era
80an. See? Impressive isn’t it?

Yang tambah bikin kagum, dia itu pemain kulit putih. Udah jadi rahasia
umum, kalo dari taun 60’an jarang ada pemain kulit putih yang bisa
jadi rebounding leader di NBA. Dan asal elu tau, gue fans berat Wilt
Chamberlain dan Dennis Rodman, jadi ga heran gue jadi fans Kevin Love
juga.


Sayang aja Timberwolves tim yang lagi ancur saat itu. Meskipun awal
2000an sempet jadi salah satu penguasa wilayah Barat dengan Kevin
Garnett sebagai leadernya. Sampe sekarang pun Kevin Garnett masih jadi
pemain terbaik sepanjang masa Timberwolves (wolves lahir 1992). Masuk
ke season 2011-2012 gue memutuskan untuk murtad dari fans Mavs jd
Wolves.


Separuh awal musim itu gue bener-bener bersyukur jadi fans Wolves.
Mereka ternyata punya tim muda yang lumayan hebat, terutama Ricky
Rubio, rookie point guard asal Spanyol yang memulai karir basket
pronya di Eropa pas umur 14! Belom lagi center Nikola Pekovic, yang
secara statistik apa gitu adalah center terefektif setelah Dwight
Howard dan Andrew Bynum. Dan Kevin Love averaging 26 points and 13
rebounds, what an impressive number.

Breakdown Timberwolves terjadi pas Rubio cedera sekitar awal Maret.
Abis itu Wolves jadi terus-terusan kalah, meskipun di salah satu game
of the year NBA, dimana Wolves vs Thunders, Kevin Love berhasil
mecahin franchise rekor yang dibikin Garnett, dengan 51 poin. Tapi ga
lama, Love dan Pekovic cedera. Hancurlah musim Timberwolves yang
awalnya dimulai dengan brilian.

Kevin Love sendiri finis sebagai top 4 point per game, runner up
rebound per game, dan 6th in MVP voting. Pencapaian individual yang
cukup oke buat dia, sekaligus meligitimasi dia sebagai best power
forward in NBA. Puncaknya dia ikut serta di tim nasional basket USA
dan meraih gold medal olympic. Kevin Love punya rebound per game
terbaik sepanjang olimpiade..

Off season Timberwolves juga luar biasa bagus. Mereka ngebuang ‘junk’
semacem Darko Milicic, Michael Beasley, Wes Johnson, Martell Webster,
Wayne Ellington, Anthony Randolph and Anthony Tolliver. Sebagai
gantinya mereka sukses ngerekrut bekas 2007 rookie of the year Brandon
Roy. Duo Russia Alexey Shved dan Andrei Kirilenko, sharpshooter and
athletic player Chase Budinger, serta bigman semacem Greg Stiemsma,
Dante Cunningham, Lou Amudson.

Pre-season mereka juga berjalan efektif dan manjur. Udah klop dan
ready buat bertarung di season 2012-2013, tentunya sambil nunggu Rubio
sehat dan mereka bisa jadi top contender wilayah Barat yang makin lama
makin sengit.

Malang beribu malang. Menjelang pre-seasin match kelima mereka vs
Chicago Bulls, Kevin Love ngalamin cedera tangan kana yang bikin dia
harus absen 6-8 minggu, dalam arti lain dia harus vakum sepanjang
November (10-15 match). A huge huge blow to Minneapolis. Di saat
mereka udah siap nyongsong musim ini, jagoan andalannya cedera, dan
secara psikis tentunya ngeganggu pikiran pemain lainnya, muncul
ketakutan gagal playoff akan muncul prematur gara-gara cederanya Kevin
Love. Entah mengapa kesialan seolah gamao pergi dari Minneapolis. Tapi
bagaimanapun gue akan dukung Wolves musim ini, the question is: can we
survive without Love? Can we live without Love? I hope so.

October 20, 2012 at 16:52 1 comment

Mahasiswa Tanpa Kuasa

Saya bukan mahasiswa yang vokal menyuarakan pendapat dengan
berdemonstrasi atau semacamnya. Saya apatis, karena saya meyakini, ada
batasbatas yang tidak bisa ditembus dengan suara, teriakan akan
keadilan. Batas yang diciptakan kekuasaan. Disadari atau tidak, ada
kekuatan mahabesar yang dibentuk kekuasaan (begitupula kekuasaan
mahabesar dibentuk dari kekuasaan). Karena itu, saya terus memikirkan
cara untuk menembus batasbatas itu, dan saya meyakini bahwa
berdemonstrasi bukanlah solusi (pendapat pribadi saya; namun saya
menghargai mereka yang berdemonstrasi atas dasar keluhuran dan
kerinduan akan keadilan, bukan yang dibuatbuat)

Tempat itu adalah tempat kekuasaan tertinggi dalam universitas
sekaligus yang paling ditakuti (anda tahu apa nama tempat itu). Lantas
dimanakah tempat mahasiswa? Sepertinya di bagian bawah, di atas para
karyawan/office boy, di bawah para dosen. Kesimpulan arogan itu saya
ambil setelah duatahun berkuliah. Sejujurnya, dalam akal sehat yang
saya gunakan, seandainya unviersitas disusun menggunakan hierarki
semacam itu, posisi mahasiswa tentulah berada di bagian teratas.

Untuk siapa universitas dijalankan? Apabila universitas menyangkut
keilmuan, siapa yang paling membutuhkan ilmu itu? Siapa yang membayar
cukup mahal biaya kuliah untuk berkuliah?

Bisakah anda bayangkan seandainya jawaban dari pertanyaan
tersebut–mahasiswa–tidak pernah diakui keberadaannya? Maka tidak
akan ada universitas karena tidak ada si pembelajar. Maka universitas
tidaklah beda dengan kantor biasa, dimana pihak-pihak yang bekerja
digaji, meskipun tidak jelas apa yang dikerjakan.

Dalam membuat hingga menjalankan universitas, unsur esensial apa yang
harus pertama ada? PENGAJARAN. Kalau tidak ada proses transfer
ilmu, tidak jelas apakah tempat tersebut bisa disebut
universitas/sekolah. Memang, di tempat lain seperti toko, kantor, dsb,
proses transfer ilmu tetap saja terjadi, namun tentu bukanlah transfer
ilmu yang diutamakan. Beda dengan universitas/institusi pendidikan
dimana transfer ilmu adalah ciri khas yang diutamakan untuk
menciptakan pembelajarpembelajar yang mapan.

Meskipun tidak terlalu tersirat, di kampus saya, mahasiswa menjadi
‘warga negara’ kelas dua. Secara akademik mahasiswa dituntut cepat
lulus dengan nilai memuaskan, yang dalam arti lain adalah penghapusan
akan pentingnya proses berpikir dan berkarya, karena waktu yang
dimiliki sangat terbatas. Secara sarana-prasarana, pembangunan memang
berjalan megah di kampus saya, tapi pembangunan yang dilakukan justru
tidaklah terlalu esensial. Perbaikan sarana seperti toilet, penyediaan
kursi, pendingin ruangan, perpustakaan yang efisien justru jarang
tersentuh, padahal sangat fundamental dan penting. Benar, mahasiswa
memang dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman, melek teknologi,
siap kerja; tapi bukankah hal tersebut dapat dikuasai tanpa harus
susah payah kuliah? Lantas, mahasiswa hanyalah sebuah status kosong
belaka, bahwa anda berkuliah di universitas beken, sebatas gengsi?

Jangan berkecil hati. Seperti yang saya katakan di awal, ada kekuatan
yang menggiring anda menjadi sosok mahasiswa semacam itu. Ini bukan
kesalahan anda. Sistem dan kekuasaan yang membuat anda menjadi begitu.
Saya tidak akan bertendensi bahwa dengan ‘evolusi’ jati diri mahasiswa
malah  akan membawa keburukan atau malah kebaikan. Tidak. Saya bukan
pihak yang berkuasa dan saya tidak dapat membaca pola pikir mereka,
kenapa sampai harus mereka menggiring mahasiswa ke arah ini.

Mari kembali menggunakan akalsehat. Setelah membaca tulisanomongkosong
saya ini, dimanakah tempat mahasiswa dalam hierarki universitas? Semua
tergantung persepsi anda. Saya meyakini, sekalipun mahasiswa
kehilangan power, dan ada pihak yang memiliki power di atas segala
elemen universitas lainnya, bukan berarti mahasiswa telah dipecundangi
pihak tersebut.

Mereka memiliki kuasa. Kita–mahasiswa–tidak memiliki kuasa seperti
mereka. Namun mereka bukanlah kita, kita adalah kita. Kita dapat
melakukan halhal yang tidak bisa mereka lakukan. Orang yang sedang
dibuai-dibutakan kekuasaan dan kekuatan akan melupakan bahwa ada
deus ex machina yang bisa muncul tiap saat. Siapa yang sangka
reptil raksasa penguasa bumi ratusan juta tahun silam akan binasa oleh
tumbukan meteor dan kekacauan iklim, sementara justru binatangbinatang
kecil yang  sanggup bertahan hidup dan berevolusi lalu bertahan
kelestariannya hingga sekarang.

Lalu siapakah yang harus memunculkan deus ex machina dalam
hal ini? Menanti keajaiban Tuhankah? Ataukah akalsehat yang lalu
menggiring mahasiswa kepada  tindakan cerdas untuk menunjukkan
jatidiri?

October 20, 2012 at 16:18 Leave a comment


Visitor

Date of Post

October 2012
M T W T F S S
« Jun   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031