Mahasiswa Tanpa Kuasa

October 20, 2012 at 16:18 Leave a comment

Saya bukan mahasiswa yang vokal menyuarakan pendapat dengan
berdemonstrasi atau semacamnya. Saya apatis, karena saya meyakini, ada
batasbatas yang tidak bisa ditembus dengan suara, teriakan akan
keadilan. Batas yang diciptakan kekuasaan. Disadari atau tidak, ada
kekuatan mahabesar yang dibentuk kekuasaan (begitupula kekuasaan
mahabesar dibentuk dari kekuasaan). Karena itu, saya terus memikirkan
cara untuk menembus batasbatas itu, dan saya meyakini bahwa
berdemonstrasi bukanlah solusi (pendapat pribadi saya; namun saya
menghargai mereka yang berdemonstrasi atas dasar keluhuran dan
kerinduan akan keadilan, bukan yang dibuatbuat)

Tempat itu adalah tempat kekuasaan tertinggi dalam universitas
sekaligus yang paling ditakuti (anda tahu apa nama tempat itu). Lantas
dimanakah tempat mahasiswa? Sepertinya di bagian bawah, di atas para
karyawan/office boy, di bawah para dosen. Kesimpulan arogan itu saya
ambil setelah duatahun berkuliah. Sejujurnya, dalam akal sehat yang
saya gunakan, seandainya unviersitas disusun menggunakan hierarki
semacam itu, posisi mahasiswa tentulah berada di bagian teratas.

Untuk siapa universitas dijalankan? Apabila universitas menyangkut
keilmuan, siapa yang paling membutuhkan ilmu itu? Siapa yang membayar
cukup mahal biaya kuliah untuk berkuliah?

Bisakah anda bayangkan seandainya jawaban dari pertanyaan
tersebut–mahasiswa–tidak pernah diakui keberadaannya? Maka tidak
akan ada universitas karena tidak ada si pembelajar. Maka universitas
tidaklah beda dengan kantor biasa, dimana pihak-pihak yang bekerja
digaji, meskipun tidak jelas apa yang dikerjakan.

Dalam membuat hingga menjalankan universitas, unsur esensial apa yang
harus pertama ada? PENGAJARAN. Kalau tidak ada proses transfer
ilmu, tidak jelas apakah tempat tersebut bisa disebut
universitas/sekolah. Memang, di tempat lain seperti toko, kantor, dsb,
proses transfer ilmu tetap saja terjadi, namun tentu bukanlah transfer
ilmu yang diutamakan. Beda dengan universitas/institusi pendidikan
dimana transfer ilmu adalah ciri khas yang diutamakan untuk
menciptakan pembelajarpembelajar yang mapan.

Meskipun tidak terlalu tersirat, di kampus saya, mahasiswa menjadi
‘warga negara’ kelas dua. Secara akademik mahasiswa dituntut cepat
lulus dengan nilai memuaskan, yang dalam arti lain adalah penghapusan
akan pentingnya proses berpikir dan berkarya, karena waktu yang
dimiliki sangat terbatas. Secara sarana-prasarana, pembangunan memang
berjalan megah di kampus saya, tapi pembangunan yang dilakukan justru
tidaklah terlalu esensial. Perbaikan sarana seperti toilet, penyediaan
kursi, pendingin ruangan, perpustakaan yang efisien justru jarang
tersentuh, padahal sangat fundamental dan penting. Benar, mahasiswa
memang dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman, melek teknologi,
siap kerja; tapi bukankah hal tersebut dapat dikuasai tanpa harus
susah payah kuliah? Lantas, mahasiswa hanyalah sebuah status kosong
belaka, bahwa anda berkuliah di universitas beken, sebatas gengsi?

Jangan berkecil hati. Seperti yang saya katakan di awal, ada kekuatan
yang menggiring anda menjadi sosok mahasiswa semacam itu. Ini bukan
kesalahan anda. Sistem dan kekuasaan yang membuat anda menjadi begitu.
Saya tidak akan bertendensi bahwa dengan ‘evolusi’ jati diri mahasiswa
malah  akan membawa keburukan atau malah kebaikan. Tidak. Saya bukan
pihak yang berkuasa dan saya tidak dapat membaca pola pikir mereka,
kenapa sampai harus mereka menggiring mahasiswa ke arah ini.

Mari kembali menggunakan akalsehat. Setelah membaca tulisanomongkosong
saya ini, dimanakah tempat mahasiswa dalam hierarki universitas? Semua
tergantung persepsi anda. Saya meyakini, sekalipun mahasiswa
kehilangan power, dan ada pihak yang memiliki power di atas segala
elemen universitas lainnya, bukan berarti mahasiswa telah dipecundangi
pihak tersebut.

Mereka memiliki kuasa. Kita–mahasiswa–tidak memiliki kuasa seperti
mereka. Namun mereka bukanlah kita, kita adalah kita. Kita dapat
melakukan halhal yang tidak bisa mereka lakukan. Orang yang sedang
dibuai-dibutakan kekuasaan dan kekuatan akan melupakan bahwa ada
deus ex machina yang bisa muncul tiap saat. Siapa yang sangka
reptil raksasa penguasa bumi ratusan juta tahun silam akan binasa oleh
tumbukan meteor dan kekacauan iklim, sementara justru binatangbinatang
kecil yang  sanggup bertahan hidup dan berevolusi lalu bertahan
kelestariannya hingga sekarang.

Lalu siapakah yang harus memunculkan deus ex machina dalam
hal ini? Menanti keajaiban Tuhankah? Ataukah akalsehat yang lalu
menggiring mahasiswa kepada  tindakan cerdas untuk menunjukkan
jatidiri?

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

After Two Years (Some Short Memoirs) Minnesota Timberwolves: Living Without Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

October 2012
M T W T F S S
« Jun   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d bloggers like this: