Archive for July, 2013

Commuter Line: Sebuah Pelajaran Berharga tentang Arti Kesempurnaan Hidup dan Cinta

Kali ini saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Tanpa melalui seminar atau perkuliahan atau derita hidup; namun lewat komedi kehidupan yang satir. Kereta rel listrik. Saya telah menjadikan ratusan perjalanan bersama krl sebagai sumber inspirasi, moodbooster, pelatih kesabaran, dan hal-hal inspiratif lainnya. Hingga akhirnya saya berani membuat penghakiman atas layak atau tidaknya kereta untuk saya naiki. Sabtu ini pun tak jauh berbeda. Saya membayar. Saya berkuasa untuk mendapat kenyamanan sempurna. Terlebih lagi, empat kereta beruntun akan singgah di stasiun keberangkatan saya dalam rentan 25-30 menit. Asal anda tahu, sempurna dalam menaiki kereta bagi saya adalah kenyamanan. Kursi-kursi yang sepi, ac yang dingin, interior dan eksterior kereta yang modern. Belakangan, semenjak terjadi perubahan tarif menjadi progresif (murah) kesempurnaan itu jarang saya dapatkan, karena pengguna kereta melonjak banyak. Maka sabtu siang ini harusnya jadi penebusan buat saya. “Empat kereta beruntun, masa sih gaada yang sempurna”. Dan selamat membaca tulisan bodoh saya ini.

image

Sabtu adalah hari yang cukup ramai. Hampir sepanjang hari kereta penuh, meskipun tidak segila hari biasa. Tapi saya punya tanggung jawab yang harus saya penuhi di tempat tujuan, jadi kereta sepenuh apapun akan saya hadapi. Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, empat kereta beruntun dalam rentang 30 menit adalah berita bernafaskan surga bagi saya. Terbayang kenyamanan di depan mata. Logika perkeretaapian saya yang terasah selama tiga tahun memunculkan premis: jika jarak antara kereta pertama dan kereta berikutnya tidak sampai 10 menit, maka kereta kedua dipastikan sepi. Premis yang saya pegang teguh dan menyelamatkan saya ratusan kali dari penuhnya kereta. Beruntung saya punya banyak fleksibilitas waktu sehingga merelakan sepuluh menit tidak masalah asal sepadan dengan kenyamanan. Beruntung hanya sedikit orang yang memiliki fleksibilitas itu, sehingga hanya sedikit orang yang mau merelakan waktu seperti saya. I prefer luxury and comfort more than time and money (not really). Stasiun ramai, kereta pertama yang nanti tiba jelas akan penuh, saya menganggap orang-orang di stasiun ini tidak memiliki fleksibilitas waktu seperti saya, sehingga kereta kedua maupun ketiga tentu akan saya naiki. Selanjutnya dari awal menunggu kereta sampai menaiki kereta keempat menyadarkan saya bahwa kejadian hari ini adalah pelajaran kehidupan yang berharga. Sampai pada akhirnya saya mengibaratkan kereta-kereta ini sebagai calon kekasih atau sederhananya sebagai perempuan idaman saya. Mengapa? Mari simak.

Kereta pertama tiba. Kereta generasi baru/muda, warnanya merah (pengguna krl pasti tahu betul). Ada beberapa jenis kereta listrik, dan kereta merah ini adalah primadona di antara semuanya. Acnya dingin, interior,eksteriornya paling modern. Ah, luar biasa, saya ibaratkan ia sebagai perempuan cantik rupawan. Dan seperti yang sebelumnya saya duga, kereta ramai, termasuk yang hendak naik dari stasiun ini. Tentu asas kenyamanan saya menolak untuk memberi respon kepada kaki saya untuk masuk. Biarlah orang-orang lain memenuhi kereta sementara saya menunggu 5 menit hingga kereta kedua tiba. Lalu saya ibaratkan penuhnya kereta ini sebagai perempuan cantik yang sedang dekat dengan banyak lelaki. Ah, saya mencari kereta yang sepi, yang hanya menyediakan hatinya buat saya. Lalu 5 menit berlalu.

Kereta kedua pun tiba. Keretanya tergolong generasi lama, silver dengan strip biru, saya tahu betul kereta ini, baik eksterior maupun interiornya sangat biasa dan tidak membangun mood, acnya juga tidak sedingin kereta generasi baru berwarna merah. Padahal tempat duduk di dalamnya cukup lenggang dan lega. Saya memutuskan tidak naik, karena faktor desain. Hahaha kalau diibaratkan seperti perempuan, kereta ini adalah perempuan yang rupanya biasa saja ekuivalen dengan desain interior dan eksteriornya yang biasa, namun mencintai saya apa adanya, diibaratkan lewat seat kereta yang masih lenggang. Tapi saya tetap menolaknya.

Kereta ketiga hadir cukup lama, sekitar 10 menit. Lalu kereta itu tiba, generasi baru dengan eksterior merah dan ac dingin tentunya. Sebenarnya kereta tidak ramai, namun semua seat penuh terduduki, otomatis nurani saya refleks menolak. Untuk apa saya naik kereta tapi tidak duduk. Kalau diibaratkan perempuan, kereta ini adalah perempuan yang cantik dan segar lewat desain dan pendingin udaranya, namun seat yang penuh saya analogikan sebagai tawaran si perempuan yang mengajak saya berusaha untuk mendapatkan hatinya, jadi saya harus bersabar hingga stasiun yang tak tentu sebelum mendapat tempat duduk dan merasakan kenyamanan kereta yang sempurna. Ah, itu tak sebanding, masih ada kereta keempat yang berjarak dua stasiun saja. Saya menolak si cantik ini karena saya enggan berusaha.

image

Tak sampai dua menit kereta keempat tiba. Hati saya berbunga-bunga, kereta generasi baru, dan seat yang sangat kosong terlihat dari jendela. Hati saya berbunga-bunga seibarat menemukan pujaan hati yang sempurna. Kereta berhenti dan saya masuk dengan senyuman, sampai senyum itu terasa kecut. Kali ini ac kereta tidak dingin, sebatas angin freon yang bahkan tidak lebih menyejukkan dari kipas angin. Saya rasanya ingin menertawakan diri sendiri. Ternyata kesebaran saya tidak berbuah kesempurnaan. Kereta ini saya ibaratkan sebagai perempuan yang mencintai saya seutuhnya lewat bangku-bangku kosongnya, ia juga perempuan yang rupawan dengan desain interior dan eksteriornya yang modern. Namun pendingin udara yang nyaris tidak itu membuatnya terlihat seperti seorang janda, bukan seorang perawan. Bukan bermaksud sentimentil atau menyinggung tapi ini yang saya alami. Lalu penghakiman barusan tadi itu seolah-olah tambah membuat tawa miris saya bertambah ketika saya berjalan ke gerbong dua saat kereta mendekati stasiun tujuan (agar lebih cepat menuju pintu keluar stasiun). Pendingin udara nyala dengan temperatur yang sejuk dan optimal. Jadi ac panas itu hanya terjadi di gerbong saya! Hahahaha. Bangsat. Saya sungguh-sungguh tidak mau berusaha bergerak ke gerbong lain untuk mendapatkan kenyamanan sempurna itu. Jadi ternyata si kereta cantik ini sempurna, namun karena saya tidak berusaha lebih keras untuk mendapatkannya yang saya rasakan hanya keburukannya saja!

Empat kereta, kesemuanya punya kekurangan dan kelebihan, sampai akhirnya saya menyadari tidak ada yang sempurna, meskipun di detikdetik akhir kereta keempat menjadi sempurna seutuhnya. Saya bersabar menunggu dan merelakan 30 menit sejak sampai stasiun, dilewati kereta pertama sampai ketiga hingga naik kereta keempat demi mendapatkan kesempurnaan hari. Ternyata saya tak mendapatkan apa yang saya ma, bahkan di kereta terakhir yang sebenarnya memberikan kenyamanan sempurna apabila saya mau berusaha menggerakan kaki saya ke gerbong sebelah. Kalau pengalaman ini saya jadikan pelajaran hidup maka akan berbunyi: “bersabar itu perlu, tapi bersabar tanpa berusaha apa-apa tidak akan memberikan hasil yang sempurna,”

mungkin bisa diterapkan dalam mencari kekasih dan jodoh hidup:

“cinta memang butuh waktu dan kesabaran, tapi jika ia tidak diperjuangkan dengan segenap pengorbananmu, maka jangan pernah kau berharap untuk mendapatkan cinta yang sempurna.”

image

Advertisements

July 27, 2013 at 19:29 1 comment

J-Rocks: Nescafe Journey (Music Review)

Finally, a new album, dengan beberapa track baru yang fresh dari J-rocks! Last time mereka ngerilis full album itu taun 2007 dengan titel Spirit. Berarti enam taun mereka matisuri di dunia peralbuman (Road to Abbey ngga gue itung, soalnya itu mini-album). Dan album ini jadi pelepas dahaga yang paling seger tentunya.

Nah, selanjutnya gue akan ngereview album ini dengan beberapa kritikan pastinya. Oke ga perlu lamalama, gue start dari track pertama.

Perjalanan
Ini opening track yang ngebangkitin selera banget. Musiknya Japanese Rock total, terakhir gue bisa denger lagu macem ini dari J-rocks ya pas masih album Topeng Sahabat. Permainan gitar, bass, drum ataupun vokal di lagu ini bener-bener nostalgic banget. Serasa dibawa balik ke era 90’an akhir gara-gara alunan musiknya. Liriknya simpel, ya kira-kira pembangkit semangat standar J-rocks lah. Lagu ini kalo menurut j-rocks.co.id sih dibikin sama Iman. Tapi yang paling gue favoritin sih melodi bassnya si Wima, 90’s Tetsu bangets broh! Asli ini stimulus yang yahud untuk ngedengerin satu album full. Gue kasih nilai 8,5/10 deh buat track pembuka ini.

Save Our Soul
Nyaris keblinger sama save our soulnya Padi, tapi eh, ternyata beda lagu. Ngga, ngga banyak Japanese Rock sound diinput ke lagu ini. Lebih ke Western hardrock, ga heran sih soalnya Muse kan jadi influence terbesar J-Rocks juga. Personally gue ga terlalu menikmati lagu ini, karena gue come to but this CD to listen some Japanese Rock-esque music. Musiknya sih oke, kalo dibandingin lagu-lagu rocknya Kotak sih jauhlah ya menang ini. Liriknya lumayan, semi-religius tapi pesannya universal. Agak kontras sama track pembuka karena nuansa lagu ini dark, satu koridor sama lagu Mestinya Kuakhiri Semua. Overall, gue mencoba obyektif dan memberi nilai 7/10 untuk lagu ini.

Falling In Love
An old track, aslinya dari mini-album Road to Abbey. Ini track yang bagus, lho. Musiknya dibikin sama Wima, jadi ga heran komposisinya agak manis, dibanding Iman yang tastenya lebih ke life-struggling. Lagunya catchy tapi ga murahan, paduan antar instrumen juga terdenger simpel tapi ga murahan. Nuansa lagunya sebenernya ga terlalu Japanese tapi susah kalo mao dikategoriin pop lokal, let’s call it J-Rocks style. Yap, gue kasih 8,5/10 untuk lagu yang manis ini.

Mestinya Kuakhiri Semua.
Kalo gue ga salah inget, VideoClip pertama J-Rocks tuh lagu ini. Sekitar 2004an akhir, pas mereka juara lomban band Nescafe itu. Lagu ini pro-kontranya banyak kalo diliat di internet, banyak oknum Cielers (fans laruku) ngeklaim lagu ini komposisinya terlalu mirip, bahkan dibilang plagiat Butterfly Selleepnya Laruku. Okay, cut the crap, oknum-oknum macem itu gue yakin cuma pendengar kelas rendah yang terlalu cepet ngejudge musikalitas J-rocks. Lah, kalo Larukunya aja ga sewot, ngapa oknum-oknum fansnya yang sok ngerti musik dan ngecap band lain plagiat. Oke, cuma selingan, balik ke oldest track ini. Jaman lagunya keluar, musiknya udah masuk kategori high-level, meskipun liriknya standar. Kalo di taon 2013? Engga ada lagi band-band kepagian (yang nongolnya pagi doang di tv) punya level musikalitas se-lagu ini. Semua instrumen maksimal di lagu ini, but due to controversy and etc, I can’t really give a straight 9 for this track. Let it goes with 7,5/10.

Lepaskan Diriku
Track yang pada jaman rilisnya jadi ironi juga. Tapi menurut gue, kalo ada award untuk top 5 J-Rocks song, gue rasa lagu ini ada di tiga besar! Lirik boleh standar, tapi musik yang dicreate J-Rocks seakan memberi apresiasi buat anak-anak yang baru ngeband untuk ngulik komposisi rumit ini (gue korbannya). Gue rasa band-band major label lain kalo disuruh ngefullcover lagu ini cuma seiprit yang sanggup. Track ini adalah tonggak J-Rocks dari zaman dikritik sampe setenar sekarang, dan lagu ini selalu gema lah. Lagu yang goks ini, gue kasi 8,5/10.

Kau Curi Lagi
Pas zaman videoklipnya rilis, setengah dari total viewers pasti nonton di youtube gara-gara pengen liat Prisa doang haha. Oke, track ini dicomot dari album Spirit. Persoanally bukan lagu yang gue favoritin, tapi berkat melodi bassnya Wima lagu ini keangkat di telinga gue. Liriknya simpel, musiknya cukup ngebeat, mungkin lagu ini eksperimennya si Wima (dia yang compose) jadi masih wajar kalau engga begitu spesial. Tapi bolehlah gue kasih 7/10.

Ya Aku
Track ini bikin penget ngajak goyang, di bagian verse liriknya juga jenaka, nuansanya full-happy. Despite the very short song duration, this track is one of my favorite. Musiknya tergolong fresh karena emang track ini nongol circa 2011an. Lagi-lagi, Wima jadi hero di lagu ini, melodi bassnya lumayan ajaib buat ngisi komposisi lagu yang standar ini. Tapi ya, bighole di lagu ini ya justru di simplicity lagu ini. Soalnya sekitaran 2009-2011 J rocks ga banyak bikin single yang greget. Seandainya aja track ini resmi rilis di album ini dan bukan 2011, gue yakin first impression gue akan beda lagi. Mari beri nilai 8/10.

Bintangku
Perttama nongol 2011an juga, ga jauh dari Ya Aku jarak rilisnya. Sepengetahuan gua pas nonton konser musik kepagian, lagu ini didedikasiin buat Jrockstar (nama fansnya). Nah justru gue merasa tastenya kebalik sama Ya Aku. Irama di lagu Ya Aku jauh lebih cocok dijadiin semacam hymne atau dedicated song to fans. Komposisi lagu ini lumayan komples, eksperimenannya si Wima finally hit the board. Liriknya, ya standar J Rocks lah hehe. Tapi setelah gue denger beberapa kali, emang ada bagian yang cocok jadi mars Jrockstar; pas bagian shout ramerame “Je Rok Star”. Officially released on this album, rasanya lumayan pas ditempatin di track ke-8, mengingat track ke-9 cukup korelatif sama lagu ini. 7,5/10 (nah, don’t surprise, I just dong feel this song worth compared to Perjalanan or Warnai Dunia which I’ll describe after this).

Warnai Dunia
Two sentences to describe.
1. For me, this track undoubtedly has became my number one favorite
2. J Rocks really know how to compose a closing track while bringing the listener to childhood days.

Oke, lagu ini ajaib menurut gue. Pertama denger serasa diajak balik ke minggu pagi sama sore hari di taun 90an, sambil ngebayangin nyanyi ending kartun kesukaan. Yap, lagu ini moremore nostalgic than Perjalanan. Nuansa jepang keanimeanimean ga usah dipertanyakan lagi, dengerin sepuluh kali bisa-bisa air mata ngucur nangisin masa kecil kita yang indah itu. Musiknya dicompose Wima, dan sebagai pembanding, di album ini setengah dari total track hasil comoposean Wima. Dan sorry to Iman, Wima undoubtedly beat you so damn much by this. Mau gue kasih perfect ten, tapi ya gara-gara penempatan track Dari Ngopi… yang nongol ga penting di akhir album, terpaksa gue kasi 9/10.

Okey, itu reviewnya, mungkin kalo sebatas review kayak gitu ga memuaskan. Ya, beli gih sana albumnya di Indomaret. Cuma 25 ribu, plus bonus nescafe 5 sachet pula. Bukannya promosi tapi dengan 25 ribu yang daripada diabisin sia-sia nongkrong di kafe trus beli smoothies yang sekian teguk langsung abis, mending dialokasiin bakal beli album ini hehe.

Colongan
Bukan, colongan bukun judul lagu J rocks yang lain. Jadi pas kemaren nonton+denger video demonya si Wima dan Bass GLnya, gue mencuri dengar semacam lagu baru J-rocks. Lirik pembukanya, “dan, kau bawa diriku larut ke dalam mimpiku..” selanjutnya gue lupa, tapi kadar kepuitisannya ada di atas standar lagu J-Rocks. Nuansa musiknya juga beda banget, kalo kata anak band nih, “musiknya indie”, nah itu dia, gatau sih akan beneran jadi track di album baru atau gimana, tapi rasa-rasanya bolehlah optimis nungguin

July 12, 2013 at 13:25 Leave a comment


Visitor

Date of Post

July 2013
M T W T F S S
« Jun   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031