Commuter Line: Sebuah Pelajaran Berharga tentang Arti Kesempurnaan Hidup dan Cinta

July 27, 2013 at 19:29 1 comment

Kali ini saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Tanpa melalui seminar atau perkuliahan atau derita hidup; namun lewat komedi kehidupan yang satir. Kereta rel listrik. Saya telah menjadikan ratusan perjalanan bersama krl sebagai sumber inspirasi, moodbooster, pelatih kesabaran, dan hal-hal inspiratif lainnya. Hingga akhirnya saya berani membuat penghakiman atas layak atau tidaknya kereta untuk saya naiki. Sabtu ini pun tak jauh berbeda. Saya membayar. Saya berkuasa untuk mendapat kenyamanan sempurna. Terlebih lagi, empat kereta beruntun akan singgah di stasiun keberangkatan saya dalam rentan 25-30 menit. Asal anda tahu, sempurna dalam menaiki kereta bagi saya adalah kenyamanan. Kursi-kursi yang sepi, ac yang dingin, interior dan eksterior kereta yang modern. Belakangan, semenjak terjadi perubahan tarif menjadi progresif (murah) kesempurnaan itu jarang saya dapatkan, karena pengguna kereta melonjak banyak. Maka sabtu siang ini harusnya jadi penebusan buat saya. “Empat kereta beruntun, masa sih gaada yang sempurna”. Dan selamat membaca tulisan bodoh saya ini.

image

Sabtu adalah hari yang cukup ramai. Hampir sepanjang hari kereta penuh, meskipun tidak segila hari biasa. Tapi saya punya tanggung jawab yang harus saya penuhi di tempat tujuan, jadi kereta sepenuh apapun akan saya hadapi. Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, empat kereta beruntun dalam rentang 30 menit adalah berita bernafaskan surga bagi saya. Terbayang kenyamanan di depan mata. Logika perkeretaapian saya yang terasah selama tiga tahun memunculkan premis: jika jarak antara kereta pertama dan kereta berikutnya tidak sampai 10 menit, maka kereta kedua dipastikan sepi. Premis yang saya pegang teguh dan menyelamatkan saya ratusan kali dari penuhnya kereta. Beruntung saya punya banyak fleksibilitas waktu sehingga merelakan sepuluh menit tidak masalah asal sepadan dengan kenyamanan. Beruntung hanya sedikit orang yang memiliki fleksibilitas itu, sehingga hanya sedikit orang yang mau merelakan waktu seperti saya. I prefer luxury and comfort more than time and money (not really). Stasiun ramai, kereta pertama yang nanti tiba jelas akan penuh, saya menganggap orang-orang di stasiun ini tidak memiliki fleksibilitas waktu seperti saya, sehingga kereta kedua maupun ketiga tentu akan saya naiki. Selanjutnya dari awal menunggu kereta sampai menaiki kereta keempat menyadarkan saya bahwa kejadian hari ini adalah pelajaran kehidupan yang berharga. Sampai pada akhirnya saya mengibaratkan kereta-kereta ini sebagai calon kekasih atau sederhananya sebagai perempuan idaman saya. Mengapa? Mari simak.

Kereta pertama tiba. Kereta generasi baru/muda, warnanya merah (pengguna krl pasti tahu betul). Ada beberapa jenis kereta listrik, dan kereta merah ini adalah primadona di antara semuanya. Acnya dingin, interior,eksteriornya paling modern. Ah, luar biasa, saya ibaratkan ia sebagai perempuan cantik rupawan. Dan seperti yang sebelumnya saya duga, kereta ramai, termasuk yang hendak naik dari stasiun ini. Tentu asas kenyamanan saya menolak untuk memberi respon kepada kaki saya untuk masuk. Biarlah orang-orang lain memenuhi kereta sementara saya menunggu 5 menit hingga kereta kedua tiba. Lalu saya ibaratkan penuhnya kereta ini sebagai perempuan cantik yang sedang dekat dengan banyak lelaki. Ah, saya mencari kereta yang sepi, yang hanya menyediakan hatinya buat saya. Lalu 5 menit berlalu.

Kereta kedua pun tiba. Keretanya tergolong generasi lama, silver dengan strip biru, saya tahu betul kereta ini, baik eksterior maupun interiornya sangat biasa dan tidak membangun mood, acnya juga tidak sedingin kereta generasi baru berwarna merah. Padahal tempat duduk di dalamnya cukup lenggang dan lega. Saya memutuskan tidak naik, karena faktor desain. Hahaha kalau diibaratkan seperti perempuan, kereta ini adalah perempuan yang rupanya biasa saja ekuivalen dengan desain interior dan eksteriornya yang biasa, namun mencintai saya apa adanya, diibaratkan lewat seat kereta yang masih lenggang. Tapi saya tetap menolaknya.

Kereta ketiga hadir cukup lama, sekitar 10 menit. Lalu kereta itu tiba, generasi baru dengan eksterior merah dan ac dingin tentunya. Sebenarnya kereta tidak ramai, namun semua seat penuh terduduki, otomatis nurani saya refleks menolak. Untuk apa saya naik kereta tapi tidak duduk. Kalau diibaratkan perempuan, kereta ini adalah perempuan yang cantik dan segar lewat desain dan pendingin udaranya, namun seat yang penuh saya analogikan sebagai tawaran si perempuan yang mengajak saya berusaha untuk mendapatkan hatinya, jadi saya harus bersabar hingga stasiun yang tak tentu sebelum mendapat tempat duduk dan merasakan kenyamanan kereta yang sempurna. Ah, itu tak sebanding, masih ada kereta keempat yang berjarak dua stasiun saja. Saya menolak si cantik ini karena saya enggan berusaha.

image

Tak sampai dua menit kereta keempat tiba. Hati saya berbunga-bunga, kereta generasi baru, dan seat yang sangat kosong terlihat dari jendela. Hati saya berbunga-bunga seibarat menemukan pujaan hati yang sempurna. Kereta berhenti dan saya masuk dengan senyuman, sampai senyum itu terasa kecut. Kali ini ac kereta tidak dingin, sebatas angin freon yang bahkan tidak lebih menyejukkan dari kipas angin. Saya rasanya ingin menertawakan diri sendiri. Ternyata kesebaran saya tidak berbuah kesempurnaan. Kereta ini saya ibaratkan sebagai perempuan yang mencintai saya seutuhnya lewat bangku-bangku kosongnya, ia juga perempuan yang rupawan dengan desain interior dan eksteriornya yang modern. Namun pendingin udara yang nyaris tidak itu membuatnya terlihat seperti seorang janda, bukan seorang perawan. Bukan bermaksud sentimentil atau menyinggung tapi ini yang saya alami. Lalu penghakiman barusan tadi itu seolah-olah tambah membuat tawa miris saya bertambah ketika saya berjalan ke gerbong dua saat kereta mendekati stasiun tujuan (agar lebih cepat menuju pintu keluar stasiun). Pendingin udara nyala dengan temperatur yang sejuk dan optimal. Jadi ac panas itu hanya terjadi di gerbong saya! Hahahaha. Bangsat. Saya sungguh-sungguh tidak mau berusaha bergerak ke gerbong lain untuk mendapatkan kenyamanan sempurna itu. Jadi ternyata si kereta cantik ini sempurna, namun karena saya tidak berusaha lebih keras untuk mendapatkannya yang saya rasakan hanya keburukannya saja!

Empat kereta, kesemuanya punya kekurangan dan kelebihan, sampai akhirnya saya menyadari tidak ada yang sempurna, meskipun di detikdetik akhir kereta keempat menjadi sempurna seutuhnya. Saya bersabar menunggu dan merelakan 30 menit sejak sampai stasiun, dilewati kereta pertama sampai ketiga hingga naik kereta keempat demi mendapatkan kesempurnaan hari. Ternyata saya tak mendapatkan apa yang saya ma, bahkan di kereta terakhir yang sebenarnya memberikan kenyamanan sempurna apabila saya mau berusaha menggerakan kaki saya ke gerbong sebelah. Kalau pengalaman ini saya jadikan pelajaran hidup maka akan berbunyi: “bersabar itu perlu, tapi bersabar tanpa berusaha apa-apa tidak akan memberikan hasil yang sempurna,”

mungkin bisa diterapkan dalam mencari kekasih dan jodoh hidup:

“cinta memang butuh waktu dan kesabaran, tapi jika ia tidak diperjuangkan dengan segenap pengorbananmu, maka jangan pernah kau berharap untuk mendapatkan cinta yang sempurna.”

image

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

J-Rocks: Nescafe Journey (Music Review) Kebaikan itu..

1 Comment Add your own

  • 1. D_Jung  |  January 10, 2014 at 19:54

    Wahhh mantap banget bang.. Bner semua butuh waktu dan kesabaran, tapi ga akan terjadi apa2 klo kita ga usaha..
    Thanks bgt bang, gw jadi ngerti satu hal.. Walaupun gw cewek tapi gw jga hrus brusaha tuk dpt si dia yg smpurna, bukan hanya nunggu dia yang hanya akan datang..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

July 2013
M T W T F S S
« Jun   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d bloggers like this: