Archive for September, 2013

Kebaikan itu..

Kita harus berbuat baik terhadap sesama

Kebaikan itu relatif

Kita bertemu pada dua premis umum yang samasama mengungkit “kebaikan”. Premis pertama biasa dijumpai pada pelajaran Kewarganegaraan dan Agama tingkat SD. Premis kedua tidak diajarkan, namun dipelajari sendiri, biasanya pada tingkat mahasiswa.

 

Kalau bisa dicerna, kedua premis itu kontradiktif. Berbuat baik adalah kewajiban, namun kebaikan itu sendiri indefinitif. Katakanlah tradisi valentine. Berbagi cinta kasih, merayakan cinta bersama orang-orang tersayang bagi sebagian penduduk negara maju adalah bentuk sebuah “kebaikan” tapi di beberapa negara lain, tradisi valentine dianggap “menyesatkan”. Kebaikan di satu tempat, bisa berarti keburukan di tempat lain. Jika diukur dari sejarah panjang peradaban manusia, hal ini adalah sebuah kewajaran.

Saat kecil (SD) diajari untuk berbuat kebaikan karena sebagai seorang anakkecil, makna kebaikan tidaklah sedemikian luas. Apa yang tertulis di kitab, diajari guru orang tua, seorang anak memahami kebaikan dengan cara itu. Ketika dewasa, kebaikan ternyata tidak sesederhana yang diajarkan saat kecil. Dua premis tadi pun menjadi masuk akal untuk dipahami.

Yang ingin saya cermati adalah apa yang melandasi seseorang melakukan sebuah tindak “kebaikan”. Lalu saya menemukan kata “surga” dalam penggalian atas makna kebaikan.

Surga-kebaikan
Neraka-kejahatan

Sedari kecil dua keterikatan ini pasti diajari oleh banyak orang. Pemuka agama, orangtua, dsb. Terlebih lagi landasannya adalah baitbait suci dari kitab kepercayaan, tambah mutlaklah keterikatan surga-kebaikan, neraka-kejahatan. Surga neraka pun tak melulu diidentikan dengan tempat roh manusia berada setelah mati, surga neraka bisa berupa situasi/keadaan (nyaman-ketidaknyamanan). Tapi konsep surga neraka sebagai sebuah situasi/keadaan terlalu kompleks untuk dijabarkan, karena situasi semacam itu terlalu dipengaruhi unsur psikologis bahkan genetik-biologis (enzimenzim dalam tubuh).

Sebagai sebuah tempat, seringkali manusia diajari bahwa yang berbuat baiklah yang dapat masuk surga, yang berbuat jahat semasa hidup akan masuk neraka. Premis yang sederhana sekaligus juga meresahkan di era modern (atau mungkin post-modern menurut filsuffilsuf) ini. Dalam menentukan baik atau jahat/buruk tentulah perlu standarisasi, namun merujuk kembali pada “kebaikan itu relatif” (cobalah gali contoh yang mirip dengan yang saya sampaikan di atas untuk memastikan bahwa premis ini valid), tidak semua kebaikan yang dilakukan berarti kebaikan di mata orang lain. Dalam kitabkitab kepercayaan, banyak tertulis perihal kebaikankebaikan yang wajib dilakukan. Persoalannya, dilema seringkali terjadi ketika kebaikan dalam kitab terbentur dengan realitas era modern (saya tak layak beri contoh, cobalah cari ayat/bait dr kitab anda sendiri yang realisasinya mustahil dilakukan pada masa sekarang). Standarisasi kebaikan dari kitab bisasaja terbentur realita bukan?

Lantas, jika bicara tentang kebaikan, apakah kebaikan yang kita semua lakukan berlandaskan surga saja? Tentu masuk akal, kita berbuat baik karena kita takut masuk neraka. Namun, mungkinkah kebaikan itu dilakukan tanpa memperdulikan konsekuensi surga-neraka? Maksud saya adalah kebaikan yang murni dilandasi tanpa latar surga-neraka, kebaikan yang dilandasi karena identitas kita sebagai sesama makhluk yang membutuhkan. Contoh: menjadi sukarelawan banjir atas dasar kemanusiaan, tanpa peduli apakah hal itu mengakibatkan masuk surga atau neraka.
Paham?

Ahmad Dhani ft Chrisye – Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada (lagu)

A.A. Navis – Rubuhnya Surau Kami (cerpen)

Kalau anda pusing membaca tulisan ini, cobalah mendengar dan membaca dua karya seni tersebut, sebagai bantuan untuk memahami.

Saya tidak membenarkan atau menyalahkan dua karya tersebut. Bagaimanapun juga keduanya hanya karya seni, tak sungguh menggambarkan kelayakan seorang masuk surga atau neraka.

Tapi andaikan surga neraka tak pernah ada, atau katakanlah, gagasan mengenai surga neraka tak pernah ada, bagaimana nasib peradaban manusia? Hancur tak “bermoral” kah? Saya tak tahu banyak, tapi beberapa orang sering mencontohkan negri Jepang dan penduduknya yang kesadaran relijiusnya berbeda dengan negara Asia kebanyakan. Barangkali mereka tidak begitu mempedulikan substansi surga neraka namun tetap mampu menjalani kehidupan dengan wajar.

Sementara Rubuhnya Surau Kami menggarisbawahi tentang kebaikan yang dilandasi imingiming surga. Hasilnya justru tokoh-tokoh itu dimasukkan Tuhan ke neraka. Mungkin cerpen ini terlalu keras menghakimi, namun ini hanyalah sebuah karya, tidak perlu diperdebatkan dengan kitabkitab kepercayaan. Anggap saja inti yang ingin disampaikan Navis adalah, “berbuat baiklah, bukan karena engkau menggilai nikmat surga, tapi karena kepedulianmu pada sekitarmu.”

Nah, begitu saja tulisan ini. Saya tidak bermaksud ofensif. Tulisan ini tidak pakai landasan layaknya karya ilmiah. Ini cuma pengamatan saya, kalau anda tergugah maupun tidak itu hak anda. Saya ini masih bodoh dan terus belajar, dengan mengamati apa yang ada di sekitaran. Jangan terburuburu tersinggung lalu menghakimi sebelum memahaminya. Salam.

(Ah, dan mulai saat ini kalau bisa jangan melabeli orang dengan -isme atas karyanya. Toh, kita masih samasama belajar memahami kehidupan.

 

Advertisements

September 1, 2013 at 11:08 Leave a comment


Visitor

Date of Post

September 2013
M T W T F S S
« Jul   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30