Manusia dalam Kemiskinannya

February 22, 2014 at 15:13 1 comment

Mana yang anda pilih?

  1. Menjadi karyawan kantoran yang kerja senin-jumat dari pukul 08.00 sampai 17.00 dengan gaji 3,7 juta rupiah sebulan
  2. Menjadi bos yang datang ke kantor cukup hari rabu saja pukul 10.00 sampai 12.00 siang dengan penghasilan 1,3 milyar perbulannya

 

Simpan jawabannya dalam hati. Tak usah berpusing mempermasalahkan delusi dalam pertanyaan saya. Kita lanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.

 

Mana yang anda pilih?

  1. Anda menjadi karyawan dengan gaji seperti pertanyaan di atas, namun ketika mati nanti anda masuk surga
  2. Anda menjadi bos dengan penghasilan seperti pertanyaan di atas, namun ketika mati anda masuk neraka.

 

Simpan jawabannya dalam hati. Tak usah berpusing mempermasalahkan ketololan pertanyaan saya yang seolah sok seperti Sang MahaKuasa.

Saya rasa cukup dua pertanyaan itu yang mengawali perjumpaan anda dengan saya di tulisan ini. Tenang, saya tak punya latar psikologi ataupun ekonomi, saya bahkan tak punya simpulan untuk jawaban dari dua pertanyaan di atas. Saya hanya menulis pertanyaan tersebut sembari mengamati rasionalitas manusia di zaman modern ini (mungkin post-modern). Hampir semua manusia berlomba untuk hidup layak dan lepas dari kemiskinan, kalau disuruh memilih untuk hidup dengan kemiskinan atau kemakmuran, manusia normal pasti ingin hidup dengan segala kemakmuran. Jelas, saya ataupun anda lebih memilih naik taxi premium ketimbang angkot apabila segala sarana transportasi digratiskan. Sederhana saja, siapa sih yang mau hidup susah?

 

Dalam hal ini jelas takaran kita adalah materi/harta; bukan kekayaan yang lain, tapi kekayaan yang bentuknya nyata: harta. Katakanlah dengan harta yang banyak kita bisa memperoleh kenyamanan, dan segala sesuatu di kehidupan rasanya terpenuhi. Maka manusia zaman sekarang begitu tergila-gilanya pada harta, begitu banyak buku tentang cara cepat jadi kaya bertebaran di tokobuku, bahkan seminarseminar mahal dari para motivator sengaja diselenggarakan bagi mereka yang ingin cepat sukses dan kaya. Seumur hidup saya tak pernah melihat seminar berjudul “ Cara Menjadi Miskin”, barangkali menjadi orang miskin adalah hal yang bertentangan dengan akalsehat, karena miskin identik dengan derita, manusia normal mana yang mau hidup menderita?  Kecuali mungkin Tuhan mulai gundah, lalu ia berteriaklantang dari langit:

“Mulai detik ini setiap orang kaya yang meninggal tak akan masuk surga, hanya orang miskin yang boleh masuk surga!”

Nah, bisajadi orang-orang akan berlomba-lomba menjadi miskin agar bisa merasakan kebahagiaan abadi di surga ketimbang merasakan kenikmatan duniawi menjadi kaya namun disiksa selamanya di neraka. Tapi tak jadi jaminan pula, apakah sepadan menderita seumur hidup hanya untuk masuk surga? Barangkali ada manusiamanusia pragmatis yang hidup berkelimpahan sampai umur 80an, lalu mereka segera mendonasikan hartanya, mungkin ke lembaga sosial, atau ke sanaksaudaranya agar ia jatuh miskin lalu bisa masuk surga. Tapi sudahlah, itu hanya pengandaian, bagaimanapun tidak masuk akal rasanya ada orang yang lebih pilih jatuh miskin ketimbang jadi kaya.

Sebelumnya saya menulis, kalau miskin identik dengan derita, ya, identik, namun tidak mutlak ketika menjadi miskin sudah pasti menderita. Penderitaan adalah konsep batiniah, sama dnegan antonimnya, kebahagiaan. Kalau kita bisa memanipulasi otak kita sedemikian rupa untuk mengubah hal yang sebenarnya merupakan “derita” menjadi “bahagia”, tentu miskinkaya bukan lagi masalah derita atau bahagia. Saya rasa banyak motivator yang bercerita bagaimana dulu ketika mereka miskin namun sekarang menjadi kaya setelah melewati proses yang penuh derita. Ya, kalau mereka tidak menjadi kaya dan tetap miskin, siapa yang mau mendengar celoteh seharga ratusan juta mereka itu. Tentu manusia merasakan bahwa ketika mereka dalam kondisi miskin dan menderita lahmereka akan berhasrat untuk bahagia dan berkecukupan-kaya. Salah satu pembangun harapan mereka adalah buaian storytelling para motivator dengan fall and rise-nya. Percayalah ketika kita masih menganggap dirikita miskin, buaian mereka adalah suatu cahaya pengharapan bagi kita.

Apakah saya terdengar memojokkan para motivator? Terlalu sentimentalis? Barangkali ya, tapi percayalah, apakah anda mau dengan cerita dari seorang motivator yang dulunya kaya tapi sekarang jatuh miskin? Tentu tidak bukan. Kekayaan akan selalu jadi target, apalagi di masa sekarang, dimana kemewahan-kenyamanan hanya bisa diperoleh dengan mengeluarkan uang. Bagaimana caranya anda bisa baca tulisan saya ini kalau tidak mengalokasikan uang anda untuk membeli perangkat browsing atau kuota internet? Tenang saja, saya tidak hendak mempermasalahkan komersialisasi aspek kehidupan manusia yang kemudian kita kenal dengan kapitalisme, tidak. Tapi saya justru bertanyatanya lagi, apakah di masa lampau, para penggagas sistem uang telah mempertimbangkan bahwa ribuan tahun kemudian dunia akan sekompleks ini? Kalau iya, berarti mereka sungguh berengsek, telah membiarkan keturunannya di bumi ini menjadi kacaubalau begini; kalau mereka tidak tahu dan kini melihat bumi dari alam sana, mungkinkah mereka berharap waktu terulang kembali agar jangan sampai sistem uang diaplikasikan di bumi ini? Entahlah.

Lebih jauh lagi ada hal yang menganggu saya, tujuan menjadi kaya dalam kehidupan ini. Misalnya begini, umur manusia paling mencapai 67-75 tahun, seandainya dari kecil lahir di keluarga kaya dan sampai mati tetap kaya, maka selama itulah kita bisa merasakan manfaat dari kekayaan kita. Kalau baru bisa kaya ketika umur 50an, berarti sekitar 20 tahun merasakan kaya. Apabila sempat kaya pada usia 30an tapi jatuh miskin usia 60an, maka 30 tahun kekayaan itu kita rasakan. Kesamaan dari semua pengandaian ini? Kekayaan hanyalah kesementaraan sementara kematian adalah mutlak. Lalu dalam kesementaraan hidup ini apa guna kekayaan tersebut, hmm barangkali “aku ingin menikmati hidupku yang singkat ini dengan sepuaspuasnya,” lalu setelah itu “aku tak ingin anak cucuku hidup miskin dan menderita.” Selalu seperti itu, kecuali ada seorang kaya yang beranggapan bahwa setelah mati segala harta itu akan berguna baginya, dan ia meminta keluarganya untuk menguburnya bersama seluruh hartanya. Tapi saya rasa tak ada manusia yang bangkit dari mati lalu berkata “sial, kurs rupiah di alam kematian sana nilainya rendah, kita harus kumpulkan uang lebih banyak lagi”. Dalam artian, bagi si orangmati tersebut, harta yang ia kumpulkan di dunia tak ada manfaatnya lagi bagi dirinya. Bagaimana jika berasumsi seperti ini, hidup manusia di dunia ini adalah sementara, ketika ia mati maka ia abadi di alam  kematian, saya rasa logis bukan? Lalu bukankah dengan begitu akan lebih bermanfaat jika kita memupuk kekayaan yang bisa kita nikmati di alam kematian sana? Bukankah itu terdengar lebih rasional dari segi ekonomi, kekayaan abadi ketimbang yang temporer? Masalahnya, saya rasa kita masih belum bisa merumuskan kekayaan macam apa yang dapat kita nikmati di alam kematian. Ada yang bilang amal dan pahala, bisajadi, tapi takarannya bagaimana? Kembali ke pembahasan di awal, misalnya amal dan pahala adalah kekayaan sejati di alam kematian, maka saya akan tetap hidup sebagai orang kaya di dunia, ketika memasuki usia senja atau sudah terdeteksi kena penyakit parah barulah saya secara pragmatis mengamalkan harta saya bagi kaum menderita lalu beroda-beribadah secara rajin, sesederhana itu bukan? Tidak, bagian ini saya hanya bercanda, silakan tentukan sendiri apa yang menurut anda merupakan kekayaan yang bisa kita bawa ke alam kematian.

Lagi-lagi ada yang mengganjal saya, ketika kita miskin tentu kita tahu apa yang harus kita lakukan, apa yang hendak kita tuju. Ketika kita sudah sangat berkelimpahan, apa yang perlu kita lakukan? Anggaplah kita sudah muak memperkaya diri lagi, lantas apa? Palingpaling menikmati hidup, beli iniitu sampai nantinya mati. Saya jadi ingat obrolan dengan orangtua saya, “warisan terbaik bukanlah harta, melainkan ilmu. Harta bisa dihabiskan dalam sekejap, tapi ilmu melekat abadi.” Saya rasa katakata ini ada benarnya, terkait dengan kesementaraan di dunia. Seandainya saya berilmu, saya bisa membagikannya ke seluruh manusia di dunia tanpa takut jatuh miskin dan menderita, bagi mereka pun ilmu itu bisa dibagikan lagi ke keturunannya dan orang lain; sementara kalau saya kayaraya lalu saya bagikan ke orangorang miskin danmenderita di dunia pun, palingpaling itu tidak akan membuat mereka kaya, hanya memberi nafas sejenak untuk sehari. Jadi saya rasa, hanya ilmu pengetahuanlah yang memberi ruangan bagi kita untuk merasa bebas dari cap miskin dan kaya, yang ada hanya kegembiraan ketika mendapat pengetahuan baru (meskipun kadang ada kengerian dan keputusasaan juga) 🙂

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Review Film Comic 8: A Comedy Masterpiece Narasi Berperikebinatangan

1 Comment Add your own

  • 1. Lifeman  |  May 3, 2014 at 02:36

    mungkin saya berfikir kearah yang sama,
    tapi nampaknya level anda jauh diatas saya,
    boleh minta emailnya mungkin?
    Ada beberapa hal yang ingin saya tnyakan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

February 2014
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

%d bloggers like this: