Archive for August, 2014

Hunter x Hunter and Kamen Rider Gaim: Random Thought about Humanity

Lima minggu lagi mungkin akan jadi minggu yang menyenangkan sekaligus menyesakkan buat saya. Ya, dua serial favorit saya akan tamat 5 minggu dari sekarang. Hunter X Hunter (sekarang episode 143, tamat 148) dan Kamen Rider Gaim (sekarang 42, tamat 47) akan mengakhiri masa bakti mereka di list serial terbaik taun ini dalam playlist saya (itupun masih bisa ditambah GTO 2014 yang 5 minggu lagi juga tamat). Unik memang, seolah mereka ditakdirkan berakhir berbarengan. Pertanyaannya mungkin adalah, “apa sih yang spesial dari Hunter X Hunter dan Kamen Rider Gaim?”

Tontonan kartun dan serial superhero semacam itu ya untuk anak-anak, bener kan? Kalau mengacu pada stereotip umum barangkali benar. Lagipula untuk apa saya–di usia yang dikategorikan dewasa–masih menonton tontonan semacam itu? Harusnya saya bisa menonton serial yang lebih serius dan dewasa, bukan? Tidak, bukan begitu, sangat tidak adil apabila tontonan yang menurut opini publik dikategorikan sebagai tontonan anak-anak diasumsikan mutlak tak punya nilai lebih untuk golongan usia lain. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut tentang dua serial ini, saya tantang anda untuk menonton kedua serial ini dari awal hingga episode sekarang/sampai tamat. Setelah itu barulah anda nilai apakah dua serial ini murni hanya hiburan kosong yang hanya diperuntukkan untuk anak-anak; atau mereka punya nilai melebihi itu.

***

Hunter X Hunter

image

Saya akan memulai dari Hunter x Hunter (selanjutnya disingkat HxH) lebih dahulu. Hunter x Hunter adalah serial ternama, di Indonesia sempat tayang awal 2000an, popularitasnya tinggi. Saya yakin rata-rata orang kelahiran 80an akhir sampai pertengahan 90an pasti pernah menonton atau setidaknya mengetahui serial ini. Gon, Killua, Hisoka, Genei Ryodan, Kurapika, Leorio pasti nama yang tidak begitu asing. Sekadar pengantar, HxH ditulis oleh mangaka bernama Yoshiro Togashi, yang sebelumnya telah dikenal sebagai penulis manga terkenal YuYu Hakusho (lagi, generasi 90an pasti ingat serial ini). Mengenai isi cerita, saya anjurkan untuk yang buta akan serial HxH untuk menonton/membaca terlebih dahulu. Bagi yang tahu cerita HxH pasti familiar dengan ujian Hunter, Arena Tenchu, Yorkshin City dan Greed Island. Di Indonesia yang pernah ditayangkan adalah animasi HxH versi 1999, melingkupi ujian Hunter sampai kekalahan Kurolo Lucifer (di jepang versi 1999 ditayangkan sampai Greed Island alias GI yang tidak sempat ditayangkan di Indonesia).

Dulu saya mengira HxH selesai sampai kekalah Kuroro, namun setelah membeli dvd GI tahun 2005, saya akhirnya tahu bahwa HxH tamat di GI. Tapi sekitar lima tahun kemudian ketika situs manga online bertebaran, saya kaget ketika mengetahui HxH ternyata belum tamat dan masih berlanjut seusai GI. Yang lebih mengejutkan lagi ketika saya tak menyangka progresi cerita HxH yang awalanya terlihat menegangkan namun lucu dan menghibur berubah drastis setelah GI Arc. Saya perkenalkan Chimera Ant Arc bagi anda yang tidak mengetahui keberlanjutan Hunter x Hunter seusai Greed Island.

image

Sekali lagi, saya anjurkan anda untuk menonton Chimera Ant Arc (selanjutnya disingkat CA) ini via animasi HxH versi 2011, atau mungkin sekalian dengan Greed Island Arc jika Hunter x Hunter yang anda terakhir tonton masih versi TV7 (yang tidak menayangkan GI Arc). Barulah setelah itu uraian dari saya akan mudah anda cerna.

Gara-gara CA inilah HxH masuk dalam list serial favorit saya. Ia menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki One Piece, Naruto, Bleach, Fairy Tail, atau serial sejenis. Ia tidak sekedar menawarkan pertempuran atau kekuatan mahadahsyat saja. CA mampu menjadi pucuk identitas dari Hunter x Hunter. CA menawarkan manusia sebagai gagasan utamanya. Lebih tepatnya: “apakah manusia itu”

Umumnya dalam sebuah serial petualangan semacam ini mudah ditemukan tokoh antagonis dan protagonis. Tapi dalam CA saya rasa sulit segamblang itu menentukan mana si jahat dan mana si baik. Karena pada akhir CA bisajadi konsepsi tentang tokoh baik dan jahat terasa tidak selinear itu. Ini tidak semata-mata manusia (hunter) versus chimera ant, tidak, ini jauh lebih konpleks dari itu.

image

Berikut saya akan jabarkan beberapa momen yang menurut saya membawa elemen filosofis yang cukup kuat.

1. Killua vs Rammot

2. King vs Komugi

3. Netero vs Meruem

4. Gon vs Pitou

5. Mereum Resolve

***

image

Killua vs Rammot barangkali tidak begitu berkesan, karena hanya berlangsung setengah episode. Tapi lewat pertempuran inilah akhirnya kita diberi penjelasan mengapa Killua seperti penakut dan selalu di bawah bayang-bayang Ilumi. Pada pertarungan ini Killua membebaskan dirinya dari manipulasi Ilumi, sehingga bisa bertarung tanpa takut kalah atau mati.

Komugi

Komugi

Mereum vs Komugi mungkin tidak tepat disebut pertempuran. Mereka bertarung Gungi (catur tradisional Jepang), dan Meruem selalu kalah. Lewat sosok Komugi inilah Meruem yang tadinya bengis mulai memahami sosok manusia. Ia yang dulu melihat manusia sebagai makhluk lemah dan rendah perlahan-lahan dibukakan mata hatinya. Momen ini adalah momen yang menggambarkan esensi cerita CA.

Netero vs Meruem.

image

Hunter terkuat melawan monster terkuat. Hasilnya? Netero dikalahkan mutlak oleh Meruem, sebelum Netero menggunakan bom untuk membuat sekarat Meruem. Pertearungan ini bukan sekadar serang menyerang, bunuh membunuh. Ini pertempuran penuh filosofi. Pertempuran ini menunjukkan betapa tercelanya manusia dibanding Chimera Ant. Netero hadir ke pertempuran ini dengan semangat Machiavellian, Meruem datang ke pertempuran dengan pandangan terbuka akan hak-hak pihak yang lemah ala Marthin Luther King. Pada akhirnya si Machiavellian mati secara fisik namun menang secara filosofis.

Gon vs Pitou.

Adult Gon

Lagi, Yoshiro Togashi menggambarkan keterpurukan manusia. Barangkali aforisma ini tepat: “ketika manusia telah kehilangan segalanya maka dia tidak akan ragu untuk mengorbankan dirinya.” Aforisma yang merujuk pada Gon. Gon menunjukkan keputusasaan seorang manusia yang telah kehilangan segalanya. Ia menyesal karena kebodohannya Kaito mati. Ia menyesal kenapa menjadi sangat lemah. Ia menyesal karena apa yang diperjuangkannya ternyata nihil. Maka jadilah ia manusia sejati yang menyerahkan hidupnya demi menuntaskan takdir sebelumnya sebagai manusia yang gagal.

Meruem Resolve.

Meruem dying

Di akhir CA Arc, Meruem dengan fisik monsternya telah menjadi manusia seutuhnya. Ia menggenapi namanya yang berarti “Cahaya Terang”. Ia berhasil menjadi cahaya bagi Komugi yang buta itu. Ia berhasil memperlihatkan bahwa manusialah monster sesungguhnya yang melabeli sesuatu buruk-jahat apabila merugikan kaum manusia. Meruem mengawali hidup sebagai makhluk bengis brutal, dan kini mengakhirinya sebagai makhluk yang tercerahkan. Penuh kepasrahan.

Mungkin momen tersebut hanya beberapa dari momen luar biasa yang terjadi dalam CA Arc. Tapi saya meyakini bahwa momen-momen tersebut adalah momen penting dan krusial yang membentuk pesan tentang “apakah manusia itu”. Jawaban yang diberikan Togashi memang multitafsir, tapi saya yakin, pesan yang ingin disampaikan lewat CA adalah: manusia adalah makhluk superior yang takakan pernah mau menjadi inferior.

Ironisnya, kemenangan Hunter atas Chimera Ant barangkali sepintas mirip kemenangan Goku cs atas Cell/Buu, atau Kenshin atas Shishio, atau Yusuke atas Toguro atau.. Tidak, tidak, ini berbeda. Faktanya memang tak berubah: manusia lagi-lagi menang dan mengalahkan tokoh jahat. Namun manusia sesungguhnya mengalami kekalahan telak, secara moril. Dimulai dengan peradaban kotor NGL, tirani busuk Diego dan East Gorteu, sampai keengganan untuk berkompromi dengan lawan. Togashi berhasil menampilkan kebusukan manusia beserta potensi evolusi manusia yang begitu mengerikan.

Saya kira anda semua setuju? Atau tidak? Tidak masalah. Tapi bagi saya, lewat CA Arc, HxH sungguh meletakkan dirinya sebagai sebuah serial populer dengan premis yang terlihat sederhana namun sesungguhnya begitu kompleks dan mengerikan. Cukuplah alasan itu untuk menjadikan Hunter x Hunter serial favorit saya.

image

***

Kamen Rider Gaim

image

Kamen Rider Gaim terlihat konyol pada awalnya. Buah-buahan dan tema yang nampaknya kekanak-kanakan; sangat kontras apabila dibandingkan seri Kamen Rider Heisei seperti Kuuga, Ryuki, Faiz, Blade. Tapi marilah kita kesampingkan penilaian atas tampilan visual semata, dan mulai mencermati isi cerita serial ini. Sebagai informasi awal, serial ini ditulis oleh Gen Urobuchi alias Urobutcher yang mendalami berbagai bacaan filsafat dan seringkali menggunakan tema nihilistik dalam serial-serial lain yang ia ciptakan. Apakah cukup hanya karena identitas si penulis maka mutlak serial ini punya nilai lebih?  Silakan anda nilai sendiri.

Kamen Rider Gaim bagi saya adalah fusion dari serial Kamen Rider sebelumnya. Elemen Kuuga dan Agito muncul dalam sosok monster helheim beserta kedigjayaannya. Elemen Ryuki muncul dalam pertempuran antar Rider. Elemen Blade muncul dalam sosok tokoh utama yang pada akhirnya menjalani takdir sebagai Overlord. Dan Gaim berhasil mengombinasikan semua elemen itu menjadi sebuah tontonan yang fully-desperate.

Kuuga

RyukiBlade

Sama seperti HxH, Gaim menceritakan betapa rumitnya manusia dan segala tujuan hidupnya. Ini digambarkan dalam kompleksitas para Rider yang punya tujuan, motivasi dan kompleks yang berbeda. Pertanyaan utama dalam serial ini adalah: “manusia ditakdirkan untuk menjadi apa”

***

Jangan bayangkan Kamen Rider Gaim sebagai serial yang linear memberi status antagonis dan protagonis pada karakternya. Sungguh, sampai episode 42 ini, saya tidak tahu siapa protagonis dan antagonis yang sesungguhnya (hampir mirip Ryuki). Apakah Helheim beserta Overlord penghuninya jahat? Tidak, bagi saya. Helheim menyedot bumi bukan karena ingin menguasai bumi atau apa, namun kodrat alamiahnya adalah seperti itu. Lantas dapatkah sesuatu yang alamiah kita katakan jahat? Lantas bagaimana dengan para Kamen Rider yang hendak menghentikan dan menghancurkan Helheim yang jelas-jelas tidak mewakili sifat jahat? Apakah mereka bisa disebut pahlawan, hero, atau semacamnya.

HelheimOverlord

Kasus Helheim ini sangat unik dan buat saya berbeda denga serial Kamen Rider lainnya. Main villain biasanya dipenuhi tendensi untuk menguasai bumi atau semacamnya, namun hal ini tidak muncul pada Helheim. Yang diperangi oleh para Rider adalah kondisi alam. Lantas bagaimana dengan tokoh lain?

Takatora Kureshima (KR Zangetsu)

Zangetsu

berniat menjadi penyelamat dengan menyelamatkan 1/7 penduduk bumi dan mengorbankan 6/7 sisanya dari serbuang Helheim. Apakah ia pahlawan? Tak ada yang tahu, ia terbunuh kenaifannya.

Sid (KR Sigurd)

Sigurd

berniat mendapatkan kekuatan forbidden fruit untuk menguasai dunia, alasan yang cukup untuk menjadikannya antagonis, tapi toh ia mati sebelum melaksanakan niat jahatnya.

Ryouma Sengoku (KR Duke)

Duke

sampai episode 42 belum diketahui motif utamanya. Ia tokoh yang sulit dimasukan ke kategori lawan ataupun kawan.

Mitsuzane Kureshima (KR Ryugen)

Ryugen

ia tokoh yang paling menyedihkan di serial ini. Seorang manusia yang mengidamkan utopia dan memiliki egoisme yang luar biasa. Maka ketika lingkungan sekitarnya mengabaikannya, ia menjadi desktruktif. Pure evil? Tidak, ia tokoh yang mendapat tekanan semenjak kecil, maka ketika ia dewasa dan menjadi seperti sekarang, siapa yang harus disalahkan?

Kaito Kumon (KR Baron)

Baron

counterpart dari tokoh utama kita. Sama-sama berinisial KK (yang satu Kouta Kazuraba) namun sifat mereka berbagai dua kutub magnet Baron adalah sosok anti-hero, tapi bukan villain, entah apakah bisa disebut pahlawan, karena yang ia pedulikan adalah cara untuk menjadi kuat. Yang kuat hidup yang lemah mati.

Kouta Kazuraba (KR Gaim)

Gaim K

tokoh utama yang rasanya mudah disematkan gelar protagonis. Main hero? Pada mulanya begitu, ia memilih untuk mengorbankan dirinya asalkan manusia dapat selamat, ya, senaif itu. Ia telah diberikan berbagai gambaran bahwa manusia hanya akan berakhir seperti Femushin (ras yang dulu diserang helheim juga), akan saling bunuh dan siksa asal dapat bertahan hidup. Tapi ia mengabaikan peringatan itu dan tetap memilih manusia, sementara ia akan berakhir menjadi Overlord. Unconditional Love? Or just plain stupid?

Konflik dalam KR Gaim bukan perkara monster vs manusia. Tapi manusia dengan dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya pihak di luar manusia bukanlah musuh yang berarti, melainkan persepsi dan tujuan hidup manusialah yang jadi masalah.

***

Urobutcher menghidangkan kita semangkuk sup paling lezat namun setelah memakannya kita akan mati. Ia menghidangkan sup itu dalam Kamen Rider Gaim. Bumbu utamanya? Nihilistiknya. Tak ada yang baik ataupun yang buruk. Sungguh ngeri menonton Gaim sebagai orang dewasa, tentu lebih mudah bagi anak kecil untuk menonton Gaim dan menyuruhnya untuk menentukan mana yang baik dan buruk. Saya seperti mendapat flashback dari Ryuki, tentang kealpaan dari baik dan buruk. Hanya ada kebaikan bila ada keburukan, begitupula sebaliknya. Bedanya, Ryuki memberi arah tujuan yang jelas, sementara tidak dalam Gaim. Andakaita menjadi yang terkuat bisajadi menderita karena harus memilih, seperti yang diucapkan Sagara kepada Mai:

“Pada akhirnya ia harus memilih, untuk menyelamatkan manusia namun dengan mengorbankan dirinya menjadi Overlord, atau memilih menjadi Overlord dan membiarkan manusia musnah”

Ingat perumpamaan lokal kita? Bagai makan buah simalakama.

Dan sedari awal, Gaim telah memberikan kita kenihilan itu. Bahwa apapun yang terjadi pada manusia adalah derita. Lantas, bagaimana dengan tujuan hidup manusia. Urobutcher menjawabnya dengan jelas: 0.

***

Itulah penjabaran saya atas dua serial favorit saya ketika ditinjau dari aspek humaniora. Apabila anda tak sependapat, tak masalah, ini murni penafsiran saya atas dua serial tersebut. Tapi saya harap jangan lagi kita membangun opini konyol dan remeh, yang menganggap serial kartun ataupun superhero hanya tontonan bocah. Kalau kita cukup peka, ada banyak aspek penting dan krusial yang bisa digali.

August 23, 2014 at 23:20 Leave a comment


Visitor

Date of Post

August 2014
M T W T F S S
« Mar   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031