Memahami Kejeniusan Naoki Urasawa lewat Manga Billy Bat

September 4, 2016 at 16:18 Leave a comment

naoki-urasawa.jpg

 

Saya sangat beruntung membeli majalah animonster edisi awal tahun 2006. Kenapa? Karena lewat sebuah rubrik pada edisi itu, saya jadi berkenalan dengan Naoki Urasawa.

Sepuluh tahun sudah saya mengikuti-membaca bermacam manga karya Urasawa, hampir semua seri panjang karangannya saya baca, minus Pluto. Itu berarti Monster, 20th Century Boys dan Billy Bat telah saya kecap keseluruhannya, dari chapter pertama hingga selesai.

20th Century Boys adalah mahakarya fiksi yang tak akan saya lupakan. Saya tak tahu berapa banyak pembaca di Indonesia yang kesampaian buat mengoleksi ke-22 volumenya (diterbitkan oleh Level Comic), karena peluncurannya di Indonesia begitu singkat, sekitar dua tahunan. Baru kemudian saya membaca Monster, yang sebenarnya dikarang lebih dulu dibanding 20CB. Terimakasih kepada internet yang memudahkan akses saya membacanya, karena ia diterbitkan oleh M&C jauh sebelum saya mengetahui Urasawa.

Terakhir, saya membaca Billy Bat sekitar tahun 2014, saat sedang bergelut dengan skripsi. Sempat terputus hampir dua tahun, saya menyelesaikan seri ini di tahun 2016.

Basa-basi di atas sebenarnya tidak perlu. Tapi saya rasa, menjelaskan latar kedekatan saya dengan karya-karya Urasawa mungkin akan memudahkan Anda memahami tulisan saya ini.
(Akan ada banyak konten cerita yang saya pakai alias penuh spoiler, diharapkan anda sebaiknya sudah membaca tiga manga itu)

yG7tKJKP_QTPnON_oGJaLQYktQcm6cIfc_IV7weYIMs.png


Untuk tulisan ini saya mau mereview Billy Bat, mungkin tidak secara kronologis ataupun komplit, tapi secara tematik, garis besar cerita, maupun ekstrinsik (maklumilah, saya berjarak dua tahun untuk mengingat seluruh cerita yang belum sempat saya baca ulang).

Secara tematik, bagi saya Billy Bat adalah penyempurnaan dari 20CB. Keduanya sama-sama membahas gejolak misterius yang terjadi di dunia, pengaruh dari elemen masa lalu terhadap problematika di masa mendatang, belum lagi karakter-karakter rumit yang terkait satu sama lain. Begitu pula dengan kejadian-kejadian penting dalam peradaban manusia yang berusaha dijelaskan lewat beberapa kejadian dalam kedua manga.

Pun begitu, perbedaan terbesarnya terletak pada simbolisme yang muncul pada kedua manga ini. Saya menilai, apa yang coba diraih oleh 20CB adalah membuat sebuah dunia fiksional dengan mencampuradukan realitas dan fiksi. Urasawa mencoba merekonstruksi apocalypse secara realistik, tanpa melibatkan meteor, faktor metafisis, namun murni pertempuran antara manusia. Tak bisa dipungkiri, unsur sci-fi sangat kuat dalam 20CB yang memang berusaha menggambarkan dunia pre-apocalypse, post-apocalypse, dan final-apocalypse.

Kegilaan yang ditumpuk Urasawa lewat alur maju-mundur, kompleksitas karakter membuat 20CB mampu jadi sebuah cult. Karakter-karakternya begitu berwarna. Urasawa begitu lepas mengilustrasikan cerita tanpa memberikan ruang bernapas bagi pembaca. Kejutan tak pernah henti. Maka tak heran kalau manga ini diangkat jadi trilogi film yang menguras biaya teramat besar saat itu. 20th Century Boys pantas menjadi primadona di masanya.

Bagaimana nasib Billy Bat? Kalau boleh jujur, saya tak yakin Billy Bat mampu menjadi sebuah cult. Terlepas dari jumlah chapter yang lebih sedikit, namun saya merasakan nuansa berbeda yang mau ditawarkan Urasawa pada para pembacanya.

Ya, sepintas Billy Bat adalah buah dari keberhasilan Urasawa dengan genre ala 20CB-nya. Tapi, disadari atau tidak, Billy Bat adalah sebuah karya yang sangat dewasa, melebihi 20CB.

Billy Bat memang tidak dirancang untuk menghadirkan dunia nan-berwarna ala 20CB. Reality-bending tetap jadi sajian utama. Kejadian-kejadian nyata tetap coba dijelaskan lewat sebuah gagasan imajiner yang kalau dipikir masuk akal.

Simbolisme manga Billy Bat juga turut menjelaskan semangat zaman kala itu, dimana komik-komik Barat mulai menguasai pasar dunia. Disney, DC, Marvel, dan lain-lain. Menarikanya, apabila 20CB mencoba merangkum semuanya dalam sebuah rancangan sci-fi yang realistis, Billy Bat justru lebih mengarah ke fantasi, bahkan cenderung satiris.

Billy Bat seolah jadi dekonstruksi 20CB. 20CB  kaya akan penjelasan saintifik yang menghipnotis, Billy Bat hadir dengan realitas sederhana. Tidak ada robot, tidak ada gegap gempita kiamat, hanya seorang komikus yang hidup di tengah konflik dunia seperti yang tergambar dalam buku sejarah.

Namun, 20CB tak mencoba keluar terlalu jauh, sci-fi yang dipakai berusaha dirangkum dengan logis dan realistis bagi pembaca. Billy Bat menghadirkan karakter fantasi bernama Billy Kelelawar (di dalam manga bernama Billy Bat). Seekor kelelawar mistik yang hanya bisa dilihat sebagian kecil manusia terpilih, dan menghanyutkan pikiran mereka untuk melakukan hal yang dipinta Billy kelelawar.

Terdengar seperti manga horror/fantasi? Betul, keberadaan Billy kelelawar membuat manga ini terpisah dari sebuah sci-fi-mystery realis macam 20CB. Ia membuat manga Billy Bat tak bisa lagi dilihat sebagai suatu yang punya potensi menjadi realistis, selain sebagai bacaan fantasi sejenis Dragon Ball, Naruto dan kawan-kawan sejenisnya.

Dan setelah menanti sampai 150 chapter lebih untuk mendapatkan penjelasan asal muasal dan tujuan sebenarnya dari kelelawar itu, toh kita hanya diberikan 5-6 halaman penjelasan singkat saja.

Sekilas saya teringat manga Gantz, yang begitu mahsyur dan kompleks, namun ketika pengarangnya kehabisan daya untuk melanjutkan lebih jauh, ia hanya memberi 10 halaman penjelasan tentang nilai semesta di manga, dari hampir 400 chapter yang ditulis.

Saya takut Urasawa terkena sindrom yang sama ketika ia berusaha menjelaskan eksistensi kelelawar Billy hanya dengan sekian halaman. Ya, saya tahu sih Billy Bat memang sangat rapat dan padat secara keseluruhan, namun ya…

Saat itu sebenarnya saya kecewa dengan penjelasan yang ditawarkan. Bahwa Billy hanya kelelawar mistik dari dunia paralel yang singgah di dunia paralel terakhir dan berusaha mengubah nasib manusia. Sounds cliche, but.. Yeah..

Saya yang mulanya menduga kalau Billy kelelawar bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga membuat seluruh manga terbentengi dalam label realis, ternyata salah. Dari awal memang ini cerita fantasi (surealis?) yang mestinya tak dibebani ekspektasi itu..

Tapi, apakah semua grand design yang dibangun sedemikian rupa dalam 160 chapter akan runtuh begitu saja? Semua dialog-dialog penting, gagasan filosofis, akan sia-sia? Tidak, semua tidak sia-sia.

Ketika saya mencoba menarik dunia fiksi Billy Bat ke dalam dunia manusia yang saya jalani ini, maka semua yang diciptakan dalam manga mempunyai maksud. Billy kelelawar in real is human consciousness.

Billy Kelelawar adalah sebuah elemen yang memisahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Kecerdasan, kemampuan bertindak secara rasional, naluri, atau apapun itu yang dianugerahkan Tuhan/evolusi kepada manusia.

Kevin Yamagata dan Kevin Goodman dalam manga mengikuti arahan Billy kelelawar untuk terus menggambar dan menciptakan nilai. Dalam konteks dunia nyata, Billy adalah asa mereka, angan, harapan mereka, yang melandasi perjuangan mereka untuk terus membuat komik.

Hitler, Enstein, pertemuan tokoh bersejarah dengan Billy membuat mereka mempublikasikan gagasan terkenal mereka dan menjadikan mereka punya tempat dalam sejarah. Dalam hal ini Billy menjadi intelegensi mereka, kecerdasan, rasionalitas mereka yang secara unik membuat mereka lebih unggul dari manusia lain.

Darimana saya mampu menginterpretasikan ini? Jawabannya ada di chapter terakhir. Ketika seorang anak yang selamat dari medan perang membaca seri terakhir dari komik Billy Bat (komik di dalam manga), dan secara tak sengaja menarik garis paralel, bahwa seperti tokoh dalam komik, ia harus belajar dan menjadi hebat.

Manga Billy Bat yang saya baca kurang lebih punya nilai sama dengan komik Billy Bat di dalam manga yang dibaca anak itu (ini bukan komikception ya). Dari sebuah serial fantasi kita bisa menginterpretasikan nilai-nilai di dalamnya ke dalam dunia nyata.

Billy Bat secara sublim menjadi sebuah pengantar pesan (fungsi yang saya percaya kurang ditekankan dalam 20CB). Urasawa menjadikan Billy Bat bukan lagi sebagai ajang untuk memamerkan kejeniusan storytellingnya seperti pada 20CB, melainkan sebagai karya kontemplatif untuk memahami betapa rumit nan indahnya peradaban manusia.

Reka ulang kematian John F Kennedy di manga harusnya jadi suatu yang mubazir ketika ribuan artikel atau cuplikan video di internet bisa diakses dengan mudah di zaman ini. Tapi Urasawa menunjukkan bahwa kematian Kennedy telah mengubah banyak hal dalam sejarah di dalam manga, maupun di dunia nyata.

Ia juga mengangkat potensi kebaikan manusia di dalam chapter-chapter akhir ketika dua tentara perang sama-sama menginjak ranjau darat, dan akhirnya jadi bersahabat karena kesamaan nasib itu. Ia mengangkat perang sebagai sesuatu yang buruk namun tetap memiliki kebermaknaan lain yang bernilai baik di dalamnya.

Urasawa tengah menggali potensi kebaikan manusia lewat banyak tokoh dalam manga ini. Ia berusaha memberikan harapan kepada manusia lewat Billy kelelawar.

Yeah, pada akhirnya memang tak ada “WoooW” yang muncul dalam diri saya seperti ketika selesai membaca 20CB. Tapi saya mengakhiri Billy Bat dengan sebuah senyum kepuasan, bahwa sebuah manga-komik bisa menjadi alat pembawa perubahan bagi dunia.

*Dan saya akan baca ulang manga ini, siapa tahu dapat hal baru lagi.

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Review EP: 90 Horse Power Review W: Ending Picisan untuk Drama Korea Terbaik 2016?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

September 2016
M T W T F S S
« Apr   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: