Review W: Ending Picisan untuk Drama Korea Terbaik 2016?

September 15, 2016 at 22:33 Leave a comment

w_korean_drama-p1
W telah tamat. Kalau anda belum menonton drama ini, tontonlah. Anda akan takjub dengan kejeniusan storytellingnya. Penuh metafor dan muatan filosofis yang barangkali sulit didapati pada banyak drama asia.

Paragraf kedua dan seterusnya hanya untuk kalian yang telah menonton drama ini. Atau kalau mau memaksa membaca meskipun belum menontonnya juga tak apa, saya berharap tulisan ini dapat dipahami.

Secara umum saya memilih W sebagai drama terbaik di 2016, setara dengan Signal yang ditayangkan awal tahun 2016. Ah, tapi saya bahkan tak menonton Descendant of the sun, punyakah saya kredibilitas penilaian itu? Belum lagi, masih ada drama untuk musim gugur (akhir tahun), kenapa penilaiannya bisa seprematur ini?

Kalau bicara tentang Signal, drama yang satu ini secara personal menurut saya lebih istimewa dan komplit dibanding W. Namun, secara umum Signal terlalu berat, dengan topik kriminalitas yang mungkin tak bisa merangkul berbagai jenis penonton seperti W ini. Tapi ya kalau semua poin itu diakumulasi, kedua drama ini di mata saya boleh lah dikatakan setara.

 

poster-w-drama-korea-720x1074

Kang Chul

Selayaknya format episode drama Korea, drama ditayangkan 16-20 episod, dengan pembagian dua episod perminggu adalah format standar. W memilih 16 episod, meskipun episod 16 ditayangkan tunggal tanpa didampingi episode 15 karena faktor penayangan olimpiade yang memecah ganjil-genap saat episod 7 -8 menjadi 8-9 di minggu setelahnya. Tapi tak masalah, karena nampaknya dari jauh hari tim produksi sudah memikirkan pemotongan ini sehingga psychological aspect dalam pembangunan alur antara episode genap dan ganjil telah disesuaikan.

Saya bahas sedikit tentang episode genap dan ganjil, ya. Dengan format dua episod perminggu, episode ganjil tayang lebih dahulu, kemudian disusul semalam setelahnya episode genap. Baru setelah jeda enam hari dilanjutkan episode ganjil lagi.

Hukum dasarnya, episode genap akan dibuat se-suspense mungkin pada bagian akhir episode, untuk memancing rasa penasaran penonton menuju penayangan di minggu depan. Sementara episode ganjil dipakai sebagai set-up ataupun penyelesaian dari suspense di akhir episode genap.

Okeey, sekarang saya akan masuk ke dalam drama W ini. Premis ceritanya unik, tapi cukup populer untuk genre sci-fi/fantasy, salah satunya ketika Arnold Sxxxxxxger membintang Last Action Hero. Jadi dalam sebuah cerita fiksi, sang tokoh mampu masuk ke dalam dunia fiksi lainnya alias metafiksi di dalam fiksi. Dalam hal ini Kang Chul, tokoh dari komik W yang merupakan ciptaan dari komikus Oh Sung Moo, ternyata tak sekadar karakter pasif di dalam komik. Ia punya dunia yang ia tinggali sebagaimana layaknya manusia sungguhan, namun realitasnya dibangun dalam sebuah komik.

29ea96654b95b7ec90718f8086691e3e0b1d523d1074c6111b95e6eea75ec08d_-original

Last Action Hero



Oh Sung Moo, sang komikus, mempunya anak perempuan bernama Oh Yeon Joo yang secara ajaib mampu masuk ke dunia komik Kang Chul. Dari sinilah berbagai konflik yang kompleks terjadi. Kurang lebih itu premis cerita W.

Sekali lagi, konsep metafiksi di dalam fiksi ini sebenarnya tak beda jauh dengan banyak cerita sejenis, namun kedudukannya lebih linear. Semisal Bima X yang mengisahkan pertemuan dua dunia yang paralel. Atau Kamen Rider Gaim, yang juga memiliki dua dunia paralel. Atau Signal, sesama drama korea yang mengambil dua dunia paralel dalam wujud time crossing.

Yang membuat menarik adalah pemilihan metafiksi (dunia Kang Chul) di dalam fiksi (dunia Yeon Joo). Seperti yang kita tahu, Yoon Jee ataupun sang ayah berada dalam dimensi yang lebih tinggi dari Kang Chul. Mereka bisa merekonstruksi realitas dalam dunia Kang Chul lewat ilustrasi di atas tablet ajaib yang mereka pakai menggambar komik W.

Mereka bisa menunculkan senjata api hanya dengan menggambar, membunuh tokoh, merekayasa pikiran tokoh, dll. Sementara Kang Chul dan manusia lain dalam komik W hidup tanpa bisa melawan kehendak sang pencipta.

f6ef84d1046c1633469bf1c12871cb467da00e6d_hq

Oh Sung Moo


Ah sungguh, saya mau membahas banyak hal menarik dan bermakna dari drama ini, namun satu tulisan tak akan cukup, malah menjadi terlalu panjang. Saya akan mencoba bicara garis besarnya saja tanpa harus menjelaskan secara detail.

Pertama, relasi antara Kang Chul dengan Sung Moo boleh dikatakan sebagai bentuk perlawanan manusia atas determinisme. Kang Chul selama ini hidup dalam sebuah rangka realitas yang sebenarnya bukan miliknya, tapi sang pencipta komik. Ia tak sadar realitasnya dikonstruksi oleh kekuatan mahabesar (ini mirip dengan kita bukan?).

Pada suatu ketika, ia mampu melampaui dimensinya, dan bertemu dengan sang pencipta. Kemudian dunia yang dijalaninya menjadi lebih cair. Ia kemudian mampu membuat ceritanya sendiri, tanpa perlu campur tangan sang komikus. Free will, alias kemampuan manusia untuk menentukan jalannya sendiri adalah nilai yang terwakili dari ini.

Kedua, mari bicara tentang pola storytelling drama ini. Ada suatu kebiasaan ketika drama punya tendensi mengulur-ulur cerita yang mungkin akan lebih ideal tamat dengan 10-12 episod, tapi dipaksakan sampai 16-20 episode. Drama Remember contohnya, dan W mungkin/nyaris terjerembab dalam pola storytelling yang dragging ini.

Saya sampai lupa berapa kali twist dipaksakan terjadi hanya untuk memperpanjang cerita. Dimulai dengan kematian Kang Chul di sungai Han, kemudian ia dihidupkan lagi. Pada poin ini cerita punya potensi untuk selesai, tapi tetap harus dilanjutkan karena masih banyak plothole untuk ditutup. Lalu, ketika ia meminta Yeon Joo menggambar bahwa semua yang terjadi sampai poin itu hanya mimpi Kang Chul. Tapi… Cerita tetap berlanjut.

Selanjutnya, Sung Moo diminta untuk memberikan wajah bagi si pembunuh, untuk kemudian bisa direkayasa agar sang pembunuh mati terjatuh dari lantai atas. Tamat? Belum. Lalu Kang Chul berusaha mengembalikan wajah Sung Moo yang dicuri sang pembunuh dengan menangkapnya lalu membuatnya terbunuh. Twist. Lalu sang pembunuh berhasil dibunuh Kang Chul saat duel.. Namun dengan tumbal Yeon Joo.. Twist berlanjut. Lalu Yeon Joo hidup kembali, namun Kang Chul dan Sung Moo harus memutuskan siapa yang akan hidup. Baru tamat.

Barangkali ada detail yang salah dituliskan di atas, tapi maklumilah. Setidaknya anda paham begitu banyak twist yang terjadi dalam drama 16 episod ini.

Problematika terbesar dari twist atau deus ex machina, atau asspull adalah ketidakberadaan dari foreshadowing. Alias tidak adanya pengantar dari jauh sebelum twist terjadi. Dengan foreshadow penonton/pembaca bisa mengaitkan korelasi twist dari kemungkinan yang ada sebelumnya. Apabila twist dibuat tanpa adanya foreshadowing, penulis-pengarang akan terlihat sembrono dan seenaknya saja.

Untuk faktor storytelling dan foreshadowing inilah W kalah jauh dari Signal yang benar-benar menjaga dengan rapat kesinambungan cerita. Sekalipun twist muncul tapi tak out of nowhere.

Ketiga, permasalahan eksistensialisme tokoh. Saya mencatat empat tokoh dalam drama ini bergelut dengan masalah jati diri mereka. Oh Sung Moo (komikus), Kang Chul (protagonis komik), Oh Yeon Joo (heroine), Pembunuh (antagonis dalam komik).

Oh Sung Moo punya kisah kelam sebelum menjadi komikus W yang ternama. Ia ditinggal istri dan anaknya. Ia kehilangan kebahagiaan, lalu menggantungkan diri dengan alkohol, lalu sukses dengan komik W. Tapi kesuksesan itu tak memberikannya apa-apa, karena cinta terbesarnya adalah untuk keluarganya, yang tak lagi dimilikinya. Ia menciptakan Kang Chul sebagai tokoh yang diambil dari ilustrasi pria idaman yang dituliskan Oh Yeon Joo. Kisah kelam hidupnya ia wariskan kepada Kang Chul, keluarganya dibunuh, ia dituduh jadi pembunuh, lalu hendak bunuh diri. Namun berkat leap of faith yang dialami Sung Moo, Kang Chul tetap hidup. Sampai pada akhirnya, Sung Moo memilih untuk berkorban bagi Kang Chul agar bisa hidup, mewarisi kegagalannya untuk membahagiakn Yeon Joo sebagai seorang ayah.

Kang Chul adalah protagonis yang hampir seluruh hidupnya dikonstruksi oleh Sung Mo. Ia tak memiliki identitas apa-apa sampai Yeon Joo memberitahunya kalau ia hidup di dunia komik, dan semenjak saat itu, ia hidup sebagai tokoh bebas. Ia tumbuh menjadi dua karakter yang berbeda sejak saat itu. Kang Chul pada setengah akhir W adalah tokoh yang tangguh. Ia mampu menerima kalau selama ini ia tinggal pada realitas semu. Dan mau berkorban bagi banyak tokoh lain, terutama Yeon Joo agar tetap bahagia.

Oh Yeon Joo, adalah kritik tersendiri bagi banyak perempuan di abad modern ini. Ia digambarkan sebagai perempuan naif tipikal drama pada umumnya yang menanti romantika dari pangeran berkuda putihnya. Awalnya saya kira ia adalah jenis tokoh semacam ini. Namun, tidak, penokohan Yeon Joo adalah suatu yang jenius.

Ia menjadi Tuhan hampir di seluruh drama ini. Ia masuk ke dunia Kang Chul dan mengobrak-abrik semua kemapanan yang ada (walaupun harapan awalnya hanya kisah romantik). Ia mampu menjadi sentral dari dua tokoh tragis, Sung Moo dan Kang Chul. Ia berkorban banyak. Menghapus memori Kang Chul tentangnya, sampai mengorbankan nyawanya. Yeon Joo adalah simbol kedewasaan drama ini, dan tim W menbalutnya dalam tampilan fisik seorang wanita yang terkesan seperti perempuan ala drama korea.

160722hinh12

Oh Yeon Jo



Sang Pembunuh adalah tokoh yang unik. Sung Moo tadinya menciptakan Pembunuh tanpa konteks, alias hanya setup untuk membuat Kang Chul punya dorongan untuk maju. Siapa sangka Pembunuh ternyata punya kesadaran sendiri seperti Kang Chul dan meminta identitas, nama. Saya rasa, dari awal Sang Pembunuh adalah representasi dari sisi gelap Sung Moo. Buah dari kejadian tragis sebelum ia memulai W. Hasrat terpendam untuk membalaskan kesedihannya, yang ditumpahkan pada Kang Chul lewat sosok Sang Pembunuh.

Keempat adalah ending drama ini. Seperti saya lampiaskan di judul: Picisan. Mudah saja, kalau drama W ingin diteruskan sampai 20 episode dengan kelanjutan dari ending yang diberikan di episode 16 ini, tidak mustahil, kok. Drama ini sudah kepalang tanggung memakai twist demi twist demi twist. Ya, yang saya maksud, ending ini tak ada bedanya dengan ending-ending yang sebenarnya bisa dihadirkan di tengah drama.

Oh Sung Moo memilih berkorban demi kebahagiaan Kang Chul dan Yeon Joo. Kang Chul menjadi manusia utuh, keluar dari dunia komiknya. Lalu mereka berdua berbahagia bersama. Selesai.

Bukankah ini ending yang terlalu picisan bagi drama serumit W?

Well, sulit memang. Dengan premis cerita di dua episod awal yang dibangun dengan persepsi demikian, ending semacam ini mudah ditebak.

Happy ending: Kang Chul ft Yeon Joo.

Sad ending: Yeon Je terpisah dengan Kang Chul.

Apapun yang terjadi dengan Oh Seong Moo dan tokoh lain dari awal memang tidak akan relevan dengan ending yang ironisnya malah sudah diforeshadow.

Konsekuensi menggunakan relasi romantik antar dua tokoh (pria-wanita) saya rasa membunuh banyaknya pilihan ending yang tersedia.

(Untuk konteks drama Korea, saya akan pakai cerminan drama Signal, sebagai sebuah naratif drama paling sempurna. Disertai open ending yang pada akhirnya tak perlu mengendapkan romantika sebagai tolok ukur.)

Atau mungkin saya yang terlalu skeptis soal relasi romantik? Entahlah.


4686_signal_nowplay_small1

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Memahami Kejeniusan Naoki Urasawa lewat Manga Billy Bat Menjelang Malam di Telaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

September 2016
M T W T F S S
« Apr   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: