Menjelmamu; Cinta yang Ilahiah

December 26, 2016 at 01:05 Leave a comment

sky-lights-space-dark

 

Seperti halnya menerima kehancuran, penciptaan selalu diawali dengan keporakporandaan di dalam semesta sang pemilik. Riak telaga yang teduh dan halus dapat menghanyutkan batin manusia yang terlampau takut pada suara air. Namun, bagi raga yang dikubur dalam keabadian gurun, setetes air mata pun adalah sesejuk-sesejuknya surga.

Membuyar setelah dimangsa cahaya adalah takdir mahakeji yang tidak bisa dihindari. Cahaya tak melahirkan apa-apa selain kepiluan bagi gelap yang selama ini mengintai dalam sunyi. Sewaktu cahaya berpijar dalam sosok matahari, ia memilih api sebagai wujud yang ekstase. Sembah untuk matahari, sembah untuk cahaya. Tapi masih pula gelap mengintai dari ketidakpercayaan batinnya. Ia tidak menyerah dalam moralitas semesta yang hampir semuanya meruntuh karena tak sanggup menahan tawa-tawa liar dari lidah api. Ia setia pada kehampaannya.

Pada perjalanannya, gelap mengosongkan hampanya sehingga mampu diresapnya kolibri berwarna biru tua. Ia bermain dengan laut sebagai kamuflase, dengan perangkap evolusi sebagai Aves. Matahari tak mampu menembus biru yang pekat. Cahaya dibunuhnya dalam kegagalan matahari. Cahaya adalah kebijakan semesta. Sang Maha menciptanya lebih dulu dari gelap. Maka dihantamkan tubuhnya ke dalam garam yang mengeruh.

Mereka bertempur di dalam ombak. Membayangkan siapakah yang lebih dinanti ketika nanti jadi debur di pantai. Apakah dicintai sebagai arus basah yang menyegarkan, atau sebagai asin yang siap dipanen. Tak ada siapa-siapa di pantai. Tak ada yang pernah tahu siapa yang memenangkannya. Gelap menghambur sekali lagi, beterbangan ia sebagai kolibri yang hilang warna. Menukik tajam ke batas horizon.

Cahaya tak pernah mati. Ia diciptakan untuk mengawali segalanya. Jadilah gunungan angin yang dipilihnya jadi rupa. Ia mengacak-acak batas cakrawala sampai semua terputar di dalam pusaran. Gelap menemui kesekaratannya. Dengan mengamini takdir sebagai yang tak pernah menang, ia memusatkan ketiadannya. Masuklah ia ke dalam tawanan hujan. Supaya jatuh ke tanahbumi, meresap dan tak bisa ditemui lagi.

Mereka sekali lagi bertempur di dalam angin dan deru hujan. Pusaran mahabesar memutari bumi belasan kali. Bagi yang satu adalah penundukan, bagi yang satu adalah upaya pelarian. Tapi, di bawah mereka terlanjur rusak semesta yang terbangun sedemikian sempurna. Loloslah gelap ke dalam tiga tetes yang resap ke tanahbumi.

Cahaya adalah yang tak berpudar. Satu-satunya yang tak diciptakan untuk alpa. Terurailah menjadi bibit anggrek ia di tanahbumi. Akarnya memporakporandakan kedalaman hampa. Dijumpanya sekali lagi gelap yang mendekati inti dari tanahbumi. Gelap memilih panas dari dalam tanahbumi sebagai medium pemusnahan dirinya. Sebelum gelap musnah untuk terakhir kali, cahaya menggapainya dengan lembut. Ditariknya naik menyusuri akar, menuju putik-putik bunga yang menantinya.

Di pembuluh nadi batang anggrek, gelap meronta. Menyayat kekokohan batang itu. Cahaya menahannya dalam usaha terakhirnya itu. Gelap terus meronta, dan untuk terakhir kalinya berubah jadi sehelai daun. Terbanglah ia terhantam sisa-sisa angin badai pertempuran mereka. Ia terbang melampaui atmosfer, meninggalkan semesta yang ia ratapi dan menuju kekosongan yang utama: atapsunyi.

Cahaya adalah rasa sakit yang dipuja oleh Gelap.  Ia akan mati di dalam makna manakala Gelap menyudahi kesekaratan imannya. Sama seperti Gelap, ia menjelmakan dirinya untuk terakhir kali. Kali ini sebagai Cinta. Seumur hidupnya, ia tak boleh menjelma cinta. Cinta adalah abu-abu yang nirsempurna. Menjadi abu-abu berarti menyerahkan dirinya dan gelap untuk hidup dalam ruang derita untuk selamanya. Keduanya tak akan bisa merasakan apa-apa lagi setelah disatukan, tak ada lagi yang menjadi lebih dan kurang.

Gelap menghentikan langkahnya. Ditatapnya cahaya yang telah menjema Cinta yang setengah nyata. Selama masih menyibak terang, tak akan sampai wujudnya sempurna. Gelap adalah pelengkapan, menggenapi keabu-abuan absolut yang harus dimiliki Cinta. Ia bisa memilih untuk lenyap seutuhnya manakala menyentuh atapsunyi dan membiarkan cahaya turut pudar dalam makna.

Gelap telah melihat semuanya, mereka berdua berkejaran, bermain dalam wujud visual, dalam keterikatan gelora dan profanitas rupa. Tak pernah sekalipun gelap menjadi sesuatu yang berasal tanpa rupa di semesta ini. Ia tahu betul, cahaya sudah tak lagi ada, cahaya telah mati dengan menjelma setengah cinta. Setengah takdir yang tersisa berada di pundaknya.

Menyatu. Ia memilih untuk tak memusnahkan makna dalam tubuhnya di atapsunyi. Tapi menyatu dengan cahaya, melengkapi Cinta yang mereka jelma. Kemudian konsepsi warna pudar sudah, tak ada cahaya, putih, gelap, hitam, bahkan abu-abu. Keduanya telah mencapai cinta yang tak lagi diikat makna dalam rupa, ataupun hasrat. Keduanya menyatu jadi Ilahi. Yang tak berbahasa, yang tak mengibaratkan dirinya dengan apa-apa, kecuali: Cinta.

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Menjelang Malam di Telaga Menyoal Tragedi Kehidupan lewat Goblin (Sebuah Review)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

December 2016
M T W T F S S
« Sep   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: