Archive for March, 2017

Menyoal Tragedi Kehidupan lewat Goblin (Sebuah Review)

gobs1

Goblin Drama

Hampir dua bulan Goblin berlalu. Saya belum tergerak untuk menonton drama Korea lain. Buat saya, Goblin menyisakan ruang kosong yang tak akan bisa diisi oleh drama lain dalam waktu dekat. Bukan berarti saya hendak mendewakan Goblin sebagai drama yang mahasempurna. Lebih dari itu, menonton Goblin bukan sekadar pencarian atas kesempurnaan sinematografi, penulisan naskah, keaktoran, musik-musikan.

Mengapa Goblin?

Drama berlatar sejarah bukanlah genre sinema yang bisa dinikmati banyak orang. Keterasingan atas sejarah kebudayaan tertentu dapat membuat penonton enggan menyaksikan lebih lanjut. Beberapa penonton berhasil bertahan karena faktor keelokan fisik pemeran, misalnya. Beberapa lainnya karena menyukai kesejarahan itu. Dan beberapa lainnya karena coba-coba beberapa episode pertama dan melewati fase filtrasi tersebut.

Goblin memainkan elemen kesejarahannya sebagai suatu yang sifatnya universal dan tidak menjemukan. Warna tragedi langsung ditawarkan dari episode pertama. Selanjutnya, pada tiap flashback, arah ceritanya hanya dipakai untuk memperjelas konteks tragedi dan semakin menguatkannya.

gobz2

Kim Shin (soompi.com)


Polarisasi tragedi dibubuhkan dalam relasi empat karakter yang saling memikul kekelaman.

Kim Shin aka Goblin yang menjalani hidup nyaris seribu tahun akibat kejahilan Dewa.

Eun Tak aka Goblin’s Bride yang lahir akibat ketidaksengajaan Goblin saat menyelamatkan ibunya.

Kim Shun aka Sunny, adik Kim Shin yang kemudian berinkarnasi.

Wang Yeo aka Grim Reaper, raja dari Goryeo yang mati bunuh diri akibat ketidakmampuannya melupakan Kim Shun, istrinya; dan menjalani hukuman sebagai Malaikat Maut.

gobz3

Goblin dan Eun Tak (soompi.com)

gobz4

Sunny dan Malaikat Maut (soompi.com)


Saya asumsikan anda telah menonton drama ini, jadi saya tak perlu mengulas apa-apa yang terjadi secara detail.

Perkara Cinta: Mengingat dan Melupakan

Relasi romantik antara empat tokoh ini ditampilkan secara terbuka. Termasuk alasan-alasan mereka saling mencintai, ataupun melupakan.

Kisah cinta antara Goblin dan Eun Tak dihiasi dengan warna-warna cerah, jenaka, dan dramatis. Perjalanan mereka pada musim gugur di Quebec, pertemuan kembali di gunung salju, sampai perpisahan sementara mereka di ruang kematian.

Seperti halnya ditampilkan di episode ke-16, pada akhirnya Eun Tak kembali bertemu dengan Goblin di kehidupan nomor duanya. Sekaligus membungkus akhir cerita dengan kebahagiaan semu yang disangka happy ending oleh banyak penonton. Karena perlu diingat, Eun Tak maksimal bereinkarnasi sebanyak empat kali; sementara Goblin nampaknya akan terus hidup abadi sampai akhir zaman. Jadi episode 16 hanya penundaan sementara dari duka abadi yang akan dijalani Goblin sepeninggal reinkarnasi keempat Eun Tak.

gobz5

Goblin dan Eun Tak menikah (tvn)


Saya lebih tertarik pada kisah cinta Wang Yeo (Grim Reaper) dengan Sunny (Kim Shun). Keduanya dipertemukan dalam tragedi di kehidupan pertama dan kedua. Wang Yeo membunuh Kim Shun dan dirinya sendiri di kehidupan pertama. Di kehidupan kedua mereka kembali bertemu, tapi secara tragis Grim Reaper membiarkan cinta mereka untuk terpisah lewat sebuah kecupan perpisahan (dan berpura-pura melupakan).

Ada pesan sublim yang menarik dari tragedi Wang Yeo. Disebutkan bahwa hukuman bagi orang yang membunuh diri adalah ingatannya dihapuskan sehingga tak mampu mengingat nama sendiri. Dengan mengacu konteks tingginya bunuh diri di Korea Selatan dan beberapa negara Asia Timur, penyelipan narasi ini menjadi sebuah amanat bagi para penonton.

Kembali ke relasi Wang Yeo dan Kim Shun; keduanya punya kedalaman tragedi yang berbeda dengan Goblin-EunTak. Goblin dan Eun Tak hidup dengan melampaui takdir yang diberikan Dewa. Goblin tak sengaja membuat Eun Tak lahir; Eun Tak mati dengan kehendaknya sendiri. Begitupun kisah cinta yang mereka jalani, boleh dibilang semuanya adalah bagian dari freewill.

gobz6

Malaikat Maut dan Sunny memutuskan berpisah (tvn)


Wang Yeo dan Kim Shun diikat dalam takdir yang rigid alias deterministik. Wang Yeo semestinya tak membunuh Kim Shun, tapi ia terlanjur dihasut oleh Park Jong-Hun. Jadilah ia membunuh Kim Shun. Lalu semenjak saat itu pikirannya kacau dan kesehatannya memburuk lalu membunuh dirinya sendiri dengan racun. Konsekuensi dari bunuh diri, ia dijadikan Malaikat Maut dan harus menjalani tugas menjemput manusia yang mati. Kim Shun lahir sebagai adik Kim Shin yang pada akhirnya dikhianati oleh Wang Yeo, dan harus ikut mati karenanya. Di kehidupan kedua, ia kembali direkatkan pada Kim Shin lewat Eun Tak, untuk kemudian bertemu lagi dengan Wang Yeo dalam sosok Malaikat Maut. Setelah itu? Seringkali ia dihapus ingatannya oleh Malaikat Maut, hingga akhirnya semua ingatannya pulih, namun tetap tak bisa bersama.

Relasi kedua tokoh ini tanpa kehendak bebas. Dan terjadilah oposisi biner atau situasi yang berlawanan ketika dibandingkan dengan relasi Goblin dan Eun Tak.

Penuh Trivia Kecil yang Berkesan

Adakah yang ingat seusai Goblin “mati” di episode ke-13? Pada awal episode 14 ia terjebak dalam sebuah tempat yang begitu sunyi, atau marilah sebut tempat itu Limbo. Nama yang sama yang digunakan pada film Inception ketika Leonardo DiCaprio terjebak selama berpuluh tahun di alam mimpi. Atau konsep yang sama yang terjadi pada Squall Leonhart di Final Fantasy 8, seusai mengalahkan musuh terakhir; ia terjebak di sebuah daratan kosong tanpa ujung.

gobz7

Limbo dengan lanskap tundra untuk Kim Shin (tvn)


Limbo yang ditinggali Goblin adalah sebuah kesunyian dalam kerinduannya pada Eun Tak. Sungguh, puitis sekali yang dinarasikan Gong Yoo saat Goblin terjebak di limbo. Dengan menarik paralelitas dengan limbo-limbo pada serial lain, saya mendapatkan titik cerah atas fungsi limbo. Limbo adalah ruang kontemplasi, penyesalan, pelarian dari realitas yang dijalani.

Lalu terkait narasi, scriptwriting. Kim Eun-Sook berhasil membuat sebuah gaya bercerita yang unik dan saya rasa tak pernah saya temukan dalam drama lainnya. Ia menggabungkan narasi yang puitik-filosofis dengan narasi yang membumi-keseharian bahasanya. Coba bandingkan ketika Goblin berbincang dengan Eun Tak atau tokoh lain, sebagian besar dialog terjalin dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Namun, ketika ia tengah berkontemplasi, narasi yang keluar dari kepalanya akan sangat puitis.

Perhatikan ketika Eun-Tak tengah meyebrang jalan di Quebec dan zebra cross berubah warna. Cermati narasi yang diucapkan Goblin di dalam kepalanya, sungguh indah bukan. Atau ketika ia tengah memproyeksikan Eun-Tak di usia 29 tahun dan tengah makan siang sendiri menunggu kehadiran seorang pria. Lagi-lagi Goblin membuat narasi yang puitis di kepalanya. Begitupun yang terjadi saat Goblin terjebak di Limbo.

Screen Shot 2017-03-12 at 6.22.59 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.23.04 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.23.20 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.24.06 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.24.16 AM

Kemudahan dalam menggabungkan narasi puitis dengan narasi profan ini terbantu juga dengan genre Goblin yang memadukan fantasi-sejarah-romantik sehingga campur baur nuansa dialog mudah dilakukan.

Trivia pada episode 15 cukup mengharukan. Ketika dua pasutri yang terpisah 73 tahun akibat perang Korea bertemu lagi di ruang kematian. Meskipun hanya beberapa menit, tapi bagian ini cukup mengharukan buat saya. Lagi-lagi karena kecerdaaan Eun-Sook dalam menciptakan dialog antara dua tokoh.

Screen Shot 2017-03-12 at 6.16.48 AM

Terpisah karena perang


Terakhir, mari membicarakan masalah tema. Sulit bagi saya melihat tema atau gagasan besar apa yang hendak disampaikan Goblin. Ia tak ubahnya drama Yunani yang menawarkan tragedi sedari awal. Saya yakin gagasan besarnya tak sesederhana “cinta dapat dipisahkan, tapi kelak akan bersatu jua”. Tidak mungkin sesimpel itu.

Apakah gagasannya tentang “kematian dan kehidupan adalah sebuah kemutlakan” ? Rasanya terlalu apriori. Bagaimana jika: memilih nilai yang dirasa tepat?

Maksud saya, Goblin bukan sebuah drama linear yang menampilkan satu jenis moralitas saja. Ada banyak sudut pandang tokoh yang saling bertabrakan dan membuat kita bebas memilih. Ada Deok Hwa aka Dewa, yang menciptakan takdir sebagai sebuah pertanyaan untuk dijawab manusia. Ada Dewi Kelahiran (Red Lady) yang menyayangi ciptaannya tapi tak bisa bersikap obyektif secara konsisten.

gobz

Dua makhluk mahakuasa

Ada Park Jong-Hun yang destruktif tapi mewakili naluri egoistik manusia yang rasional. Ada abdi setia Goblin yang ratusan tahun mengabdi turun temurun, seolah menunjukkan bahwa pengabdian bukan perbudakan tapi tanda kesetiaan. Juga tentunya nilai yang dibawa empat karakter utama kita. Semuanya mewakili idealisme yang berbeda-beda, dan itulah yang membuat Goblin begitu istimewa.

 

Advertisements

March 12, 2017 at 06:32 1 comment


Visitor

Date of Post

March 2017
M T W T F S S
« Dec   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031