Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian 1)

June 15, 2017 at 22:52 Leave a comment

Beberapa waktu lalu, ketika saya turun dari kereta di Stasiun Sudirman, saya mendapati momen kontemplatif yang tak sengaja melintas di kepala. Sambil melengos ke kiri-ke kanan menatap gedung-gedung paling kokoh di Jakarta, saya bergumam kecil.


(gedung-gedung sudirman via housing-estate.com)

“Harusnya gue di sini kan nih? Harusnya gitu kan?”

Ya, semestinya begitu. Terdampar di rutinitas kantoran dengan gaji minimal dua kali UMP Jakarta, sambil di tiap weekendnya makan di restoran fancy. Setidaknya, sampai lima tahun lalu, proyeksi akan situasi itu masih relevan. Apabila lima tahun kemudian saya malah terasing dalam ketidakmapanan–sesuai stereotip yang dilekatkan pada pria berumur 1/4 abad–maka saya tak mau diidentikkan dengan gelora generasi milenial. Tidak, cerita saya sedikit berbeda.

Film Man from Nowhere barangkali adalah film yang relevan menceritakan kondisi saya saat ini dan konsekuensi dari pilihan yang diambil pada masa lampau. Pilihan itu datang di tahun 2012, seusai trimester pertama, manakala saya diminta untuk menjadi ketua pelaksana kegiatan orientasi mahasiswa baru di jurusan saya Sastra Indonesia UI. Selanjutnya akan saya tulis sebagai IKSI (Ikatan Keluarga Sastra Indonesia) dan HHK (Hari-hari Kekerabatan) untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru.

***

(via twitter @iksiui)

IKSI bukan nama yang fancy untuk dijual ke alam bebas. Namun, nama yang begitu biasa itu punya ribuan kompleksitas dari ribuan kepala manusia yang pernah menjadi bagiannya, salah satunya ya saya.

Baiklah, mari saya ceritakan masa-masa awal saya bersama IKSI ini, atau bahkan mungkin jauh sebelumnya, sebelum saya ada di sana.

Dimulai saat kelas tiga SMA dan seperti banyak pelajar lainnya, saya harus tentukan jenjang apa yang selanjutnya didaki. Musik adalah pilihan pribadi saya; namun ditolak mentah-mentah oleh keluarga. Lalu saya dengan berat hati mendaftar SIMAK UI (Ujian Mandiri yang diadakan UI). Kenapa berat hati? Entahlah, yang saya ingat waktu itu saya dipaksa untuk daftar oleh orang tua, padahal buat saya pilihannya cuma: musik atau tidak sama sekali.

Dari keterpaksaan itu saya harus menyortir jurusan-jurusan yang sekiranya manusiawi buat ditempuh selama empat tahun. Pilihan pertama adalah Antropologi karena saya sering browsing di wikipedia tentang hal-hal berbau antropologi. Pilihan kedua adalah Sastra Inggris karena nilai tertinggi di raport saya dari kelas satu ya bahasa Inggris. Sejujurnya saya sudah cukup dengan dua pilihan itu saja, tapi karena terlanjur transfer 350 ribu untuk lima jurusan (tiga reguler, dua paralel), mau tak mau harus ada pilihan tambahan.

Pilihan ketiga adalah Sastra Indonesia; mengapa? Bisa dibaca di sini. Tulisan itu saya tulis ketika semester dua–enam tahun silam–lengkap dengan libido yang meledak-ledak, tapi setidaknya saya menceritakan awal mula kedekatan saya dengan sastra Indonesia. Pilihan keempat dan kelima tak perlu lah diceritakan, karena tak relevan juga hehe.

Alhasil tibalah hari pengumuman, kalau tidak salah Sabtu tanggal 8 Mei 2010. Saya dengan setengah hati membuka koran Kompas yang waktu itu memuat nomor-nomor peserta yang lulus tes dengan jurusannya. Kolom Antropologi? Tak tercantum. Kolom Sastra Inggris? Tak tercantum. Selesai sudah, semua seperti yang saya predikaikan, takdir saya adalah untuk kuliah musik.

Saya memberitahu ibu saya, dan dia minta saya cek di web pendaftaran, sekaligus bingung kenapa saya tidak cek tiga jurusan lainnya. Ya, karena tiga jurusan lainnya sudah tidak saya pedulikan, toh cuma diisi karena terlanjur bayar untuk pilih lima jurusan. Dan saya login ke laman web penerimaan.ui.ac.id, muncullah tulisan terkutuk berwarna hijau itu.

“Selamat Anda Berhasil Diterima di Universitas Indonesia dengan Jurusan Sastra Indonesia”

Saya tertawa. Benar-benar tertawa lepas. Bukan tawa kebahagiaan, tapi tawa getir. Mungkin tulisan selamat di atas itu adalah black comedy paling absurd yang dihadiahkan Sang Maha kepada saya. Saya tak tahu harus bersyukur atau meringis.

Jadi begini, okelah selama kelas 1 (yang ngulang karena tidak naik kelas) + kelas 2 saya biasa-biasa aja sama pelajaran Bahasa Indonesia. Suka sekali dengan kegiatan sastranya, tapi cukup kesulitan mengikuti materi tata bahasa. Tapi, saat kelas tiga, nilai Bahasa Indonesia di raport saya tak sampai 60, kalau tidak salah cuma 54! Mungkin anda yang baca tulisan ini tak pernah sekalipun mengalami nilai merah untuk mata pelajaran BI, bukan?

Nilai 54 itu saya peroleh akibat konflik personal dengan guru yang bersangkutan. Intinya saya cuma masuk kelas ketika pelajaran sastra saja, di luar itu saya tak pernah masuk kelas. Ini sungguhan, saat pelajaran puisi saya masuk kelas dan dapat nilai 86. Saat kelas korespondensi, pola kalimat dan semacamnya saya tak pernah masuk. Paling ketika ulangan, itu pun dikerjakan ngasal. Jadi dapat nilai 54 saja sudah banyak bonusnya. Sebagai catatan, satu-satunya nilai merah saya di raport pas kelas tiga ya cuma Bahasa Indonesia itu saja.

Dan lihat, saya diterima masuk jurusan Sastra Indonesia. Just how bad the karma a man can get? Jadi itulah asalmuasal tawa getir saya.

Dengan awal seperti itu, masa depan macam apa yang harus saya harapkan? Saya tak punya pilihan dan harus menjalaninya.

 

***

Universitas Indonesia, medio Agustus 2010. Saya akhirnya kumpul dengan teman seangkatan di IKSI, berhadap-hadapan dengan senior-senior yang ngurusin kami selaku mahasiswa baru. Lalu seperti yang saya bayangkan, tak menarik. Tempat seperti ini–IKSI–harus saya singgahi selama empat tahun? Oh, no.

63884_156281807727821_3430930_n.jpg
(kegiatan hhk menyanyikan hymne iksi, via fb Harli Harun)

Kegiatan mahasiswa baru yang bernama HHK itu teramat memuakkan. Jauh lebih seru OKK UI (orientasi tingkat universitas) dan PSA-MABIM FIB UI (orientasi tingkat fakultas). Muak diomeli sepanjang waktu, buku tugas yang disobek karena tak sesuai ketentuan, disumpahi akan bermasalah saat kuliah karena tak menjalani HHK dengan baik, sampai beragam kegiatan tak penting lainnya. Kampret! Jurusan macam apa ini?! Mending saya kuliah musik ajalah.

Satu-satunya penawar dahaga ya karena IKSI punya grup musik bernama Sasina yang sepertinya sih menarik diikuti. Sisanya? Mbelgedesh. Sekelar HHK, saya kira rutinitas sebagai mahasiswa akan bisa dijalanin utuh. Tapi ternyata.. masih ada satu lagi yang bernama Petang Kreatif.

Petang Kreatif menampilkan mahasiswa baru dari 15 jurusan di Fakultas Ilmu Budaya untuk berkompetisi dalam pementasan teater. Antara tertarik dan tidak sih sebenarnya.. Sialnya saya kena cacar air selama tiga minggu.. Jadi sama sekali tak bisa ikut latihan awal, pun kuliah berantakan karena harus susulan Ujian Tengah Semester.

Secara akademik, absen tiga minggu kuliah berakibat fatal.. dan efeknya berimbas pada saya yang jadi lulus lima tahun. Dengan kondisi itu, petang kreatif seolah jadi angan belaka. Mustahil membagi waktu lagi di luar mengejar ketertinggalan akademis saya.

Intrik-intrik kecil pun terjadi antara senior yang nyaris memaksa pada mahasiswa baru, dengan beberapa mahasiswa baru yang menolak ikut. Saya malas menceritakan detailnya, intinya memuakkan.

Pada akhirnya saya tetap ikut Petang Kreatif sebagai tim musik setelah dibujuk teman. Hasilnya juara dua, dan itu berkat perjuangan kolektif seluruh warga IKSI. Lantas setelah ini apa? Tidak, IKSI telah usai buat saya. Kuliah dan karir saya di masa depan lebih penting. Titik

77733_1742544604365_4285779_o.jpg
(after party petang kreatif, via fb Lucky Christianto)

***

Tenang, saya tak benar-benar meninggalkan jurusan saya. Ketika ada lomba olahraga yang butuh perwakilan jurusan saya tetap ikut, pun di lomba-lomba seni. Tapi saya ikut sebagai diri saya, bukan karena rasa patriotisme jurusan atau apalah. Sampai tiba waktunya angkatan saya harus memimpin IKSI dan menyambut mahasiswa baru di tahun 2012.

Saya ditawari jadi kepala bidang seni. Awalnya ingin menolak, tapi karena rasa kesetiakawanan saya terhadapan angkatan (2010) lebih tinggi dibandingkan untuk jurusan, maka saya terima tawaran itu. Semata menghargai teman-teman seangkatan saya saja kok.

Pun aslinya sudah ada yang ditunjuk jadi ketua HHK, jadi according to system and structure we design, ini mah akan gampang-gampang aja. Saya sudah kepikiran untuk magang lho, selepas tahun 2012 ini.

Tapi, peruntungan saya berubah manakala si calon ketua HHK tak bisa lanjut karena ia juga mengetuai Sasina. Dan nama saya mencuat di bursa bakal calon ketua HHK. Kenapa bisa saya?

Jadi begini, mari saya ceritakan tentang saya di awal tahun 2012 ini. Waktu itu saya masih seorang wise man, sedikit bicara, tapi ketika berbicara akan keluar kalimat-kalimat brilian dan edukasional. Hahahaha. Itu berlebihan, sih. Intinya saya obyektif, ada di tengah-tengah–seperti zodiak saya–dan dapat dipercaya. Karena waktu itu masih ada konflik golongan “merah” vs “hijau”, jadi saya sebagai golongan tengah nan apatis, punya bargaining position yang ideal untuk berhadapan dengan semua pihak.

Saya pun terpilih, dan sudah membayangkan neraka yang harus dijalani 8-10 bulan ke depan. Pun saya sudah menghadapi neraka ketika jadi ketua panitia Liga Futsal Fons Vitae (SMA saya) selama dua tahun berturut-turut. Tak ada lagi yang dapat menghancurkan jiwa ini.

Tema yang saya dan teman-teman panitia usung untuk HHK tahun 2012 ini: Semarak. HHK Semarak. Dan ini titik balik dalam hidup saya.

66774_10151124515030373_900804877_n.jpg

 

[bersambung]

—————————————————-

Episode Selanjutnya: Semarak dan Hari-hari (Hancurnya) Kekerabatan

 

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Menyoal Tragedi Kehidupan lewat Goblin (Sebuah Review) Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Kedua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

June 2017
M T W T F S S
« Mar   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: