Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Kedua)

June 16, 2017 at 18:34 Leave a comment

Hari-hari Kekerabatan adalah omong kosong. Itu yang saya percayai selama hampir dua tahun kuliah. Segala kegiatan orientasi, inisiasi adalah omong kosong, kalau ini prinsip personal saya. Alasannya? Manusia bisa sintas dengan perjuangannya sendiri, tak perlu seremoni “penyambutan” atau “persiapan” sejenis itu. That’s my personal belief.

Maka tibalah saya pada pergumulan batin: personal atau komunal. Personal dalam artian saya harus mengikuti prinsip yang percayai. Komunal dalam artian mengikuti kepentingan situasi orang banyak, dengan konsekuensi harus mengabaikan prinsip personal.

Lalu saya menonton Catatan Si Boy di Youtube. Oom Onky Alexander yang rupawan itu menjadi Boy, yang ironisnya juga ketua pelaksana orientasi mahasiswa baru. Oh, nasip. Ya sudah, siapa tahu saya bisa jadi Boi versi UI, dan ada Meriam Belina menyelip di antara mahasiswa baru hihihi. Just kidding. Dia Boy, saya Boi, saya akan bikin sejarah saya sendiri; dan harus lebih keren meskipun tanpa BMW.

291522_4072351097416_1419695301_o.jpgOnky 1.jpg
(pilih Boi atau Boy?Ngga usah dijawab)

Kepanitiaan terbentuk, diisi manusia-manusia super di angkatan saya di posisi vital. We’re ready to go, except… Masih ada satu isu besar yang terus menerus jadi polemik sedari saya masuk. Namanya adalah…. HHK Puncak.

Ibarat sebuah proses, HHK di IKSI didesain untuk memiliki alur begini: penerimaan mahasiswa baru – kumpul/kenalan senior dan mahasiwa baru – HHK dalam (talkshow dengan alumni Sastra Indonesia) – HHK kunjungan (semacam karya wisata ke tempat-tempat penunjang perkuliahab) – HHK Puncak (titik akhir penyambutan maba dengan beberapa mata acara).

Saya tak ikut HHK Puncak ketika mahasiswa baru. Sengaja. Sudah tahu kalau datang cuma akan dibentak-bentak saja. Buat apa, mereka cuma senior yang lahir lebih dahulu dari saya, seenaknya saja punya hak untuk otoriter. Meskipun beberapa kerap membujuk kalau momen itu penting supaya kelak senior kenal kita dan bisa membantu. Saya tak perlu itu, I’m gonna survive by my ownself.

Sejujurnya polemik HHK Puncak di IKSI terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Tapi, baiklah, sedikit saja. Prosesi Puncak ini biasanya bertempat di luar kampus (sejauh yang saya tahu selalu di daerah puncak), diadakan selama tiga hari, dengan gambaran acara sejenis Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) tapi tentu dengan warna “kekeluargaan” dan “kreativitas” ala sastra Indonesia. Adakah perpeloncoan? Relatif. Bagi yang terbiasa dengan kegiatan semacam ini ketika SMA, ya ini terhitung ringan. Bagi yang “anak mami” mungkin tiga hari ini akan terasa amat panjang dan melelahkan.

Rumitnya, HHK Puncak terakhir diadakan di luar kampus di tahun 2008. Periode setelahnya (2009, 2010, 2011) diadakan di kampus karena adanya anjuran dari Fakultas. Bagi beberapa senior/alumni, nilai “kesakralan” HHK Puncak tidak teresonansi apabila diadakan di dalam kampus; sedikit banyak tercipta gap-gap kecil akibat ini. Tapi biarlah itu jadi pendapat di masing-masing kepala.

Kini semua kembali ke tim panitia kami, wujud HHK seperti apa yang akan kami tampilkan. Dimulai dari pemilihan tema, yakni SEMARAK, pemendekan dari Solid, Energik, Mandiri, Responsif, Aktif dalam IKSI. Lima spirit itu diambil dari hasil diskusi terkait nilai-nilai apa yang dirasa perlu ditanamkan ke mahasiswa baru. Selain itu, Semarak juga bisa berdiri sendiri, tentu dengan harapan akan kemeriahan yang dihadirkan adik-adik baru kami ini.

Singkat cerita, pada akhir Juni 2012, panitia HHK mengadakan rapat PLENO, mengundang segenap warga IKSI untuk mendiskusikan proses tahun ini. Hmm, pleno seringkali jadi momok bagi panitia karena entah mengapa tercipta jarak antara panitia selaku presentator dengan peserta rapat (senior, alumni, dll). Seringkali dihiasi adu pendapat, adu argumen, inferioritas panitia vs superioritas peserta rapat.

Kesal. Emosi. Muak. Najis. Itu yang berkecamuk di kepala saya seusai rapat. Tak ada jalan keluar dari rapat pleno pertama. Yang ada hanya diskriminasi dari beberapa alumni kepada panitia. Beberapa merasa kami selaku panitia tak layak mengadakan HHK Puncak karena dianggap bukan bagian dari kesejarahan itu. Rasanya seperti bocah yang ingin gabung Yakuza, tapi tak diizinkan hehehe. Atau macam Minke yang begitu penuh harapan tapi dipadamkan feodalitas tradisi.

Barangkali, rapat itu adalah salah satu penghinaan terbesar yang pernah saya terima. Meskipun saya memang hina, sih. Padahal saya ingin kepanitiaan ini dan konsep-konsepnya diterima dengan tangan terbuka. Padahal ada kata “Kekeluargaan” dalam IKSI. Nyatanya saya–secara personal–diperlakukan seperti orang asing. Apakah memang kekeluargaan-kekerabatan itu hanya omong kosong? Kekesalan itu seperti melegitimasi semua gambaran saya akan IKSI dua tahun silam: rumah busuk yang lebih baik rubuh.

***

277814_4226305466179_954150554_o.jpg
(banner penyambutan hhk 2012)

Lagi-lagi, untuk pertama kalinya di hidup saya, liburan tengah tahun harus dikorbankan. Hati ini masih remuk redam. Satu-satunya penguat saya adalah wajah-wajah segar itu, para mahasiwa baru itu. Kalau saya tak bisa berjuang untuk orang-orang tua yang menolak saya, ya, saya berjuang untuk anak-anak muda ini saja. Toh, dalam satu keluarga kita boleh pilih lebih akrab dengan kakak atau adik, bukan?

Bulan Juli-Agustus 2012 benar-benar padat. Hampir tiap hari ada rapat panitia dalam menyusun iniitu. Saya harus menyelinginya dengan latihan Sasina untuk tampil di sanasini. Secercah titik terang muncul pada pertengahan Agustus, manakala kami memeroleh “perizinan” dari Program Studi Indonesia (perwakilan dosen) untuk mengadakan HHK Puncak di luar kampus, asalkan diadakan bulan Januari seusai semester ganjil.

Yang berarti saya harus berhadapan dengan orang-orang bebal di pleno itu lagi. Huffft.

Proses awal HHK berjalan dengan lancar. Templatenya tak jauh beda dengan yang saya terima ketika mahasiswa baru. Panitia memposisikan diri sebagai “tokoh jahat” yang tak segan ngomelin mahasiswa baru.

Setelah lima tahun berlalu, saya tak tahu apakah yang kami lakukan itu tepat. Kami mengulangi nasib buruk yang kami terima kepada angkatan 2012. Bukankah harusnya kami memperbaiki? Tapi bukankah semua itu sudah disepakati oleh tim panitia, menjalankan SOP apapun konsekuensinya adalah mutlak hukumnya, kan? Konflik moral ini seperti bagian klimaks film A Few Good Man kalau diingat-ingat hahaha.

Muncullah resistensi dari anak-anak baru ini. Beberapa memilih untuk tak datang dan mengikuti peraturan HHK. Mulai muncul tekanan dari beberapa alumni supaya kami mengubah sikap kepada anak baru; yang artinya mengingkari SOP. Duh, Gusti! Ingin meledak rasanya ini kepala. Susah betul ya menyenangkan semua pihak.

615641_4636387517974_72694600_o.jpg
(foto seusai hhk kunjungan ke perpustakaan nasional)

Berlanjutlah proses HHK menuju Petang Kreatif (PK). Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya memang kehilangan  magical moment dari PK karena beberapa sebab. Tapi, saya tak mau ini terulang pada anak-anak 2012. Momen ini harus berkesan buat mereka.

Sampai detik itu, semua yang saya kerjakan hanya untuk sintas day by day. Saya abaikan akan seperti apa ujung proses HHK ini akan berakhir. Tak lagi ada rapat, tak lagi ada audiensi. Nikmati saja yang, tak ada HHK Puncak pun ya biarlah.

***

Beruntung. Saya teramat beruntung. Saya punya teman-teman angkatan yang hebat dan begitu suportif. Meskipun, sensitivitas isu HHK membuat sedikit perpecahan. Ada yang setuju. Ada yang bimbang. Ada yang tidak. Wajar saja, kok. Paling tidak suport itu terwujud dalam beberapa cara, materi, dan bantuan tenaga.

Di titik ini, perlahan saya sadar tidak lagi sedang berjuang sendiri. Hmm jadi teringat orasi kecil saya di depan angkatan 2011 yang menjadi panitia konsumsi dan mentor.

“Gue bukan Superman. Makanya gue butuh bantuan kalian untuk ngejalanin proses ini bareng-bareng, dengan sekuat tenaga kita semua. Inget, gue bukan superhero.”

Sedikit lupa apakah itu saya ucapkan sebagai retorika belaka atau ungkapan dari hati. Tak penting juga, asalkan menggugah buat si pendengar, mau artifisial mau orisinil tidak ada beda. Ah, mungkin saya cocok jadi motivator.

Pelan-pelan tanpa saya sadari, mereka, kawan-kawan panitia membuat progres sedikit demi sedikit namun menjad berarti. Sisanya ada di pundak saya; akankah menyerah dengan hiruk pikuk HHK ini, atau menuntaskan semuanya. Dengan segala kesulitan di sisa dua bulan ke depan.

740287_10200137426428686_1610088881_o.jpg

[bersambung]

————————————————–

Episode Selanjutnya: Hari Penghakiman Terakhir Telah Tiba, Apakah Rumah Busuk itu Berhasil Dipulihkan?

 

 

 

 

 

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian 1) Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Terakhir)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

June 2017
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: