Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Terakhir)

June 18, 2017 at 11:16 Leave a comment

riSeandainya ramalan Suku Maya menjadi nyata, maka lima tahun lalu bumi akan berakhir; dan Desember 2012 menjadi bulan terakhir peradaban manusia. Saya setengah berharap itu terjadi. Setengahnya lagi berharap supaya bisa melihat matahari pagi pertama di tahun 2013.

2012_oxcgn.jpg
(gajadi kiamat nih)

Desember adalah bulan yang berat, teramat berat. Saya mengikhlaskan diri untuk kost di dekat kampus, demi mempermudah akses untuk menjalankan HHK. Jadi tak ada lagi gangguan jam pulang kemalaman, dan energi yang tersita karena pulang pergi Jakarta-Depok. Buat saya mungkin itu pengorbanan yang cukup besar. Tapi, tidak. Tak semestinya pengorbanan itu diagung-agungkan dan diromantisasi. Anggap saja saya tengah mencari cara paling efisien untuk menuntaskan ini.

Oh, ya, sebelumnya saya harus menceritakan sebuah pengalaman menarik di akhir November, ketika panitia inti dari angkatan 2010 melakukan “rapat”, “intensive days” atau apalah namanya di Kebun Raya Bogor.

Sebetulnya itu bukan kali pertama saya ke Kebun Raya Bogor, tapi barangkali yang paling berkesan. Kami ber-17 datang ke Kebun Raya dengan berbagai kerumitan pada pikiran masing-masing tentang cara terbaik menuntaskan ini semua.

Turun di stasiun Bogor setelah berangkat dari UI, lalu berjalan kaki dari stasiun menuju pintu masuk Kebun Raya yang ternyata lumayan jauh. Banyak yang kami bahas di sana, dimulai dari IKSI, Petang Kreatif, dan Hari-hari Kekerabatan (HHK). Saya sendiri sudah tidak senaif dulu dan tidak sekeras dulu. Entah mengapa saya mulai merasa ingin memperjuangkan sesuatu demi IKSI dan segala tetek bengeknya.

615533_4751582797784_1002982720_o.jpg

Satu rahasia yang kami ber-17 simpan selama lima tahun mungkin harus saya ungkap di sini (dan sedikit permohonan maaf bagi teman-teman 2012 yang membaca). Kami dihadapkan pada pilihan yang teramat sulit waktu itu, Petang Kreatif (PK) atau HHK?

Mustahil untuk menjalankan kedua-duanya secara optimal. Bekerja ekstra untuk menggarap PK 2012 berarti mendegradasi energi untuk HHK. HHK Puncak sendiri butuh tenaga ekstra karena masih abu-abu konsep finalnya. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk “melepas” Petang Kreatif, menyerahkan beban terbesarnya kepada senior-senior kami, dan kami memfokusikan diri pada pelaksanaan HHK Puncak.

54581_4751581397749_83091154_o.jpg

Seusai insentive day itu batin saya tersentil. Loh, ternyata perjuangan ini bersama-sama toh. Saya kira hanya satu dua orang yang ditumbalkan, tapi ternyata kebersamaan itu ada. Seperti lagu High School Musical, “We’re All in This Together”.

Saya tak lagi peduli apakah yang saya lakukan selama ini harus dicap sebagai aksi kepahlawanan menyelamatkan IKSI. Persetan. Saya mau berjuang, untuk teman-teman saya ini, untuk adik-adik saya, dan orang-orang lain yang membantu saya sampai sini dan sampai usai nanti.

665670_4751568397424_636323269_o.jpg

***

Desember yang mahaberat itu tiba. Saya punya tanggung jawab akademis yang teramat berat. Saya masih harus menyiapkan 2012 untuk pentas di Petang Kreatif. Saya masih harus mengadakan rapat pleno beberapa kali dan menerima tubian kritik. Go on! I don’t care about pain anymore.

Dan ketika manusia sudah abai pada derita personalnya, niscaya ia akan menikmati momen yang ada. Petang Kreatif berjalan, saya menemani mahasiswa 2012 sampai setengah empat pagi menunggu pengumuman. Benarlah, tak ada gelar juara apapun yang didapat, hanya nominasi poster terbaik. Sedikit sedih karena euforia kemenangan yang saya rasakan tak bisa dirasakan mereka. Tapi, mereka akan kuat, jauh lebih kuat dari kami, saya yakin itu.

Uniknya, beban teramat besar justru saya rasakan di lingkungan akademis, dengan UAS semester lima yang megajahanam.

  1. UAS Sastra Populer saya kerjakan ngebut dari jam empat pagi sampai sembilan pagi di kamar kosan. Isinya jelas mengarang bebas. Duh.
  2. UAS Kemahiran Membaca Naskah Klasik, seingat saya sih di kelas. Karena UTS sudah cukup bagus, saya yang tak bisa baca aksara arab ini ya menggantungkan diri ke bisikan-bisikan gaib dari kirikanan depanbelakang. Makasih ya, teman-teman 2011 yang membantu.
  3. UAS Gender dalam Sastra. Saya membahas Ahmad Dhani dan wanita di dalam lirik lagunya. Tanpa teori, padahal punya banyak fotokopian dan PDF. Dikerjakan sambil sakit di kosan 😦
  4. UAS Penyuntingan. Saya hampir selalu bolos kuliah ini karena jamnya sering saya pakai untuk mengerjakan tugas.. Untung saja UASnya gampang.. hanya menyunting teks beberapa halaman
  5. UAS Bahasa Isyarat. Mata kuliah penghiburan di semester ini. Berbeda dengan kawan-kawan yang mengambil matkul ini di tahun berikutnya, saat itu saya cuma latihan praktik bahasa isyarat saja, tanpa teori. UASnya pun hanya membuat percakapan dengan teman memakai bahasa Isyarat.
  6. UAS Sematik dan Pragmatik. Melalui UAS ini saya gagal atheis karena ternyata Sang Maha muncul dengan Deus ex Machina-nya. Agak panjang sih, tapi saya ceritakan deh. Saya sama sekali tak mengerti mata kuliah ini. Tak ada satupun ilmu yang saya serap. Karena kelasnya berat di Jumat pagi, saya selalu ngantuk. Sering bolos juga. Bahkan menjelang hari pengumpulan UAS (akhir Desember, hari itu bertepatan dengan briefing HHK Puncak ke maba, dua minggu sebelum acara Puncak) saya sama sekali belum mengerjakan. Saya tak bisa, tak mengerti apa yang harus ditulis. Ingin nangis rasanya.Bahkan sudah menyiapkan draft sms permohonan maaf kepada dosen mata kuliah tersebut. Sudah sedemikian menyesal dan dramatis saya tulis dengan janji akan memperbaiki diri saat mengulang di tahun depan. Jujur, minggu itu saya terlalu sibuk menyiapkan HHK dan tetekbengeknya, jadi UAS ini terabaikan. Saya tiba di Teater Daun FIB–tempat briefing–dan tiba-tiba teman saya memeberitahu kalau Dosen menghubunginya, ternyata pengumpulan UAS diundur ke minggu depan. WHAAAAAATTTTTTT!!!!! There you go, alasan kenapa sampai saat ini saya masih beriman hehehe.

timeline_20170610_224551.jpg
(image by Gon, @dkvui)

Dan saya lulus semua matkul semester ini, kok, tenang saja. Mahabaiklah semua  dosen dan nilai-nilai yang mereka berikan.

Kini satu-satunya musuh untuk ditaklukan hanyalah…. HHK Puncak. Let’s do it!

***

Jumat, 4 Januari 2012. Tanggal yang dinantikan selama 9 bulan lebih itu tiba. Seorang anak akan lahir. HHK Puncak yang legendaris itu pun datang menyongsong dengan hujan yang gemuruh di Depok siang itu. Dua tronton melaju menerabas kemacetan Margonda, masuk ke Jalan Tol, dan Puncak terasa makin dekat. Eh, saya tak mau cerita terlalu detail ya, nanti kalau diintip mahasiswa baru tahun 2017 ini jadi spoiler.

Hujan tak juga berhenti menyambut, bahkan sampai Puncak. Di kepala saya sudah tak ada lagi yang dipikirkan selain: mari selesaikan ini sebaik-baiknya. Siapapun yang pernah mengurus HHK Puncak pasti tahu betapa men-zombienya kepala ini. Hari pertama nyaris berlalu sesuai rencana, sampai ada momen drama (tanpa tis) muncul.

Panitia dikumpulkan oleh alumni-alumni dan kemudian dievaluasi-dimarahi-diadudomba di tengah malam. Duh, Gusti! Ini masih ada rundown loh setelah ini.

Ternyata, seusai marah-marahan itu, kami ditahbiskan jadi “anak IKSI” sesungguhnya.

“Selamat Datang di IKSI”

Pret. Sebenernya seremoni itu tidak perlu-perlu amat sih. Tapi, ya namanya juga jurusan tukang drama. Jadi siapatau seremoni kecil ini bisa berkesan dan jadi katalis kami dua hari ke depan. (Ketua IKSI saat itu sampai nangis, lho. hehehe. Ampun, Ndy).

Memasuki hari kedua, sebagian besar lancar, meskipun ada konten yang sedikit kebablasan. Sayangnya, sore hari kedua yang harusnya ada outbond, gagal dilaksanakan karena hujan deras 😦

Lalu malam tiba…. agak suram karena ada… ya, gitu deh… lompat sedikit, akhirnya masuk ke sesi unjuk bakat yang sangat amat seru. Di sini saya merasa bahwa, sebusuk-buruknya rumah ini, kreativitas jurusan ini mungkin nomor satu se-UI. Lalu masuk ke sesi pengukuhan yang lumayan sakral.. dan tuntaslah HHK.

Eits, belum. Minggu pagi, sesi cebur-ceburan menjadi sesi yang superseru. Kampretnya, saya kena diceburin juga.

(saya sedang tidur di ruang kesehatan)

tok.tok

“Boi, dicari alumni tuh, ada yang mao dievalusi”

Dan berhubung di otak saya sudah otomatis respon begitu mendengar kata alumni, segeralah saya bangun, keluar kamar dengan kondisi setengah sadar, dan…. diseret ke kolam. Ternyata ini jebakan dari anak-anak 2012 untuk memaksa saya keluar dari ruang kesehatan. Polos benar, ya.

Usailah, dan kami pulang di siang hari. Sampai di Depok pada sore hari, saya lengsung lelap tidur di selasar Gedung 8 FIB. Seluruh beban sembilan bulan usai sudah. Tapi dibangungkan dan.. pulanglah ke rumah.

Sepanjang senin saya hanya bangun satu jam untuk makan dan buang air. Lalu lanjut tidur, bangun di selasa siang, sama, untuk makan dan buang air. Lalu bangun normal di Rabu pagi. Iya, semelelahkan itu.

1599853_10202663415256828_1127637556_o.jpg

***

Itulah yang terjadi 5-4,5 tahun silam. Momen yang jadi pijakan krusial saya menuju tahun-tahun berikutnya. Cinta itu berawal dari benci. Benci terhadap rumah yang ditinggali, memaksa diri untuk berjuang, tak terasa cinta itu muncul. Benarkah cinta? Entah, saya tak pernah tahu. Yang jelas saya jadi banyak berubah, dan mungkin rumah ini jadi banyak berubah juga?

Bagian yang tak saya sadari adalah, saya meninggalkan comfort zone saya saat menjalankan HHK. Saya masuk ke zona yang asing sama sekali. Lalu, setelah perjalanan itu usai, zona asing ini malah menjelma jadi comfort zone baru saya: IKSI.

Apakah manusia selalu begitu?

Pergi, menuju perjalanan asing yang menjadi rumah baru. Ataukah semua yang pernah ditinggali tetaplah rumah?

Saya tak tahu. Tak akan pernah tahu. Yang saya tahu, cerita Menertawakan Hidup Menertawakan IKSI usai di postingan ini. Masih banyak yang ingin saya ceritakan, tentang cerita-cerita Golden Age of IKSI, FIB itu IKSI, atau Tiga Kursi dan Satu Meja Makan (metafor).

Masihkan bersedia membaca apabila dilanjutkan? Atau kita sudahi di sini saja?

Jawabannya di tangan anda.

 

TAMAT

132046_4751570437475_556327804_o.jpg

 

 

 

 

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Kedua) Dodo Pulang Kampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

June 2017
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: