Dodo Pulang Kampung

June 25, 2017 at 17:36 1 comment

mountain-road-1556177_1920.jpg

“Permisi, Mas, tolong angkat kakinya sebentar, ya.”

Sudah ribuan kali kalimat itu keluar dari mulut Dodo selama setahun terakhir. Bosan? Sudah pasti. Tapi apalah arti kebosanan bagi Dodo. Toh, ia yang memilih untuk pergi ke kota tujuh tahun silam karena bosan mengurus kambing di kampungnya. Seperti para pendatang lainnya, mimpi Dodo ada di belantara beton dan aspal-aspal berborok ini. Bukan di kandang pesing dan bukit-bukit hijau itu.

Maka seperti anjuran saudaranya, ketika arus balik Lebaran tujuh tahun lalu, Dodo dengan bangga memijak kakinya di ibukota; meskipun Yani, istrinya, tak setuju dengan keputusan Dodo. Namun, demi Slamet, anak mereka yang masih tiga tahun itu, ada pengorbanan yang harus dipilih Dodo.

Malam itu adalah malam terakhir Dodo bekerja sebelum libur lebaran tiba. Kereta commuter line yang dinaikinya itu sudah sepi penumpang dan hendak merapat ke stasiun terakhir, Bogor. Dodo masih menggenggam erat gagang pelnya, aroma gerbong yang semerbak jeruk adalah hasil karyanya malam ini. Apa yang ia kerjakan sekarang ini bukanlah yang dibayangkan tujuh tahun silam.

Ia bermimpi membuka gerai Soto Kudus di daerah Jakarta Selatan, kemudian menjadi pengusaha kuliner sukses yang diliput media-media ternama. Sial, warung tenda kecil-kecilan yang dibuka bersama saudaranya itu hangus terbakar, padahal baru lima bulan. Semuanya pada kembali ke kampung, kecuali Dodo. Dodo bertahan di Jakarta, menjalani segala jenis pekerjaan; kuli, sopir angkot, badut pesta, hingga terakhir bekerja sebagai petugas kebersihan di kereta.

“Do, kemari,” panggil kepala bagiannya yang telah menunggu di stasiun Jakarta Kota.

“Ada apa ya, Pak?”

“Ini, THR buatmu.”

Dodo gemetar menerima amplop coklat itu. Ini pertama kalinya ia menerima THR. Matanya berkaca-kaca, membuat teman-teman sejawatnya keheranan. Dodo seperti seorang bocah yang mendapat kado natal dari Sinterklas.

“Seneng amat, Do?” Canda kawan-kawannya.

“Saya bisa pulang, dengan THR ini saya bisa pulang ke kampung dan bertemu anak saya lagi..”

Dodo memang tak pernah pulang selama tujuh tahun terakhir ini. Beberapa kali Yani dan Slamet ingin mengunjungi Dodo di Jakarta, tapi selalu dilarang Dodo. Ia tak mau Yani dan Slamet menjumpai dirinya yang tengah luntang-lantung di belantara Jakarta.

Selalu saja Dodo berjanji ia yang akan pulang ke kampung ketika waktunya tepat. Merayakan lagi lebaran di sana bersama sanak saudara, meskipun Dodo tak merayakan Lebaran seperti istrinya. Memang, ia tak merayakan Lebaran secara imaniah, namun secara kemanusiaan-persaudaraan, Lebaran teramat bermakna buat Dodo.

***

Assalamualaikan, Yani. Ini Dodo.”

Walaikumssalam, Kang. Ada apa telfon malam gini?”

“Akang besok pulang ke kampung, Yan.. Akang mau ketemu kamu dan Slamet.. ”

“…..”

“Yani, kamu teh, tidak usah menangis. Tenang saja, kali ini akang sungguh pulang. Dan mungkin tak akan kembali ke Jakarta lagi. Saya mau kita hidup bertiga dengan tenang di kampung..”

“Setelah tujuh tahun?”

“Ya, saya sudah selesai dengan kota ini. Saya akan tinggal di kampung bersama kamu dan Slamet saja…”

Di dalam telefon genggam masing-masing, isak tangis itu pecah. Yani sedemikian lama menanti Dodo. Dan, Dodo sudah tak tahan lagi dengan perjuangannya di kota ini. Ia menyesal telah begitu takabur mengabaikan cintakasih yang begitu kuat dipupul istrinya dan sanaksaudaranya di kampung sana.

Di Jakarta ia hanya menemui kebencian, amarah, keegoisan, hanya api yang ia jumpai. Barangkali perpisahan tujuh tahun ini adalah cara dari Ilahi untuk menyadarkan Dodo keberartian harta yang sesungguhnya: keluarga.

***

Dodo sebenarnya ingin sekali naik kereta dari stasiun Gambir. Duduk nyaman selama 6 jam menuju kampungnya di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, karena gaji dan THRnya baru turun kemarin ia terpaksa mengurungkan niatnya itu. Mau tak mau ia harus naik bus, moda transportasi yang selalu membuatnya mual.

Duduklah ia dengan nyaman di bus, di kanan belakang, samping jendela. Terminal Senen begitu ramainya dari luar jendela itu. Manusia berbondong-bondong dengan tas-tas besar dan oleh-oleh untuk sanak saudara. Dodo hanya membawa sebuah tas kecil, berisi sisa uang THR yang setengahnya sudah dipakai untuk bayar utangnya. Ia tak punya apa-apa untuk dibawa pulang selain kekecewaannya pada Jakarta.

Langit setengah mendung, awan biru-putih masih beradu dengan gelap yang mulai meminta ruang di atas sana. Mudah-mudahan tidak hujan dan tidak muntah, begitu dalam benak Dodo. Dan seorang ibu tua duduk di kursi sebelahnya.

“Boleh saya duduk sini, Nak?”

“Silahkan, Bu. Silahkan..”

Ia kurang lebih sepantaran ibu Dodo, semisal masih hidup. Dodo teringat ketika kecil di tiap Lebaran, ibunya seringkali membuat ketupat dan sayurmayurnya, padahal mereka sekeluarga tak merayakan. Bahkan rumah mereka terbuka bagi tetangga yang ingin berkunjung dan selalu ramai.

“Kenapa Bunda selalu bikin ketupat? Kita kan tidak Lebaran?”

“Do, kamu suka makan ketupat buatan Bunda?”

“Iya, Bunda. Ketupatan buatan Bunda enak..”

“Kamu setiap hari bisa makan ayam dan daging tapi tetangga-tetanggamu tidak. Bunda ingin kebahagian ini bisa kita bagikan. Ya, lewat ketupat dan kawan-kawannya ini.”

Keluarga Dodo memang yang paling makmur dibandingkan tetangga-tetangganya. Masa kecilnya membahagiakan, dan ia selalu diajarkan oleh Bundanya untuk bergaul dengan siapa saja. Pernah suatu waktu ia ikut takbir keliling. Sekat-sekat yang menghalangi keutuhan bagi rasa kemanusiaan tak pernah ada buat Dodo. Sampai suatu waktu rumahnya dirampok, lalu ayah, ibu dan adiknya jadi korban. Terjadi rebutan warisan dan Dodo terabaikan. Itulah pertama kali hidupnya terasa retak, saat berusia 14 tahun.

“Ibu ingin pulang kampung juga?” Tanya Dodo.

“Iya, Nak. Saya mau kunjungi anak cucu saya di kampung..”

Gerimis pertama turun perlahan, membasahi  jendela. Bus masih melaju di jalan Pramuka menuju flyover Rawamangun. Dodo teringat saat tahun kedua di Jakarta, ia pernah tinggal di sekitar sini selama tiga bulan dan kabur dari kost karena tak sanggup bayar. Sedikit pilu hatinya mengingat itu.

“Kamu sudah lama di Jakarta, Nak?”

“Sudah tujuh tahun, Bu. Ini pertama kalinya saya pulang.”

“Ada yang menantimu pulang?”

“Seorang istri dan anak, Bu..”

Dodo sedikit menundukkan kepala. Menahan airmata, ia membayangkan wajah Yani dan Slamet yang usianya akan menginjak 10 tahun. Ada dosa teramat besar hinggap di pundak Dodo. Yani yang setia menunggunya itu ia khianati.

Dua tahun lalu Dodo baru saja bercerai. Dengan istri yang ia nikahi di Jakarta, namanya Christine, atau dipanggil Tine. Tine yang menampung Dodo di apartemennya ketika luntang-lantung setelah kabur dari kost. Dodo mendapat kontak Tine dari laman jodoh di sebuah koran. Tine yang berusia 15 tahun lebih tua dari Dodo tak mempermasalahkan perbedaan usia itu. Singkat cerita setelah dua bulan tinggal bersama, Tine mengajak Dodo menikah.

Dodo tak bisa menolak. Ia butuh tempat tinggal, ia butuh makan minum. Meskipun di hati kecilnya, nurani itu berteriak, Yani, Slamet, yang harus ia khianati itu. Pernikahan Dodo dan Yani tak tercatat secara negara. Keluarga Yani juga tak merestui pernikahan itu. Untungnya waktu itu ada lembaga agama yang mau menikahkan keduanya, meskipun berbeda.

Kini, dengan Tine, pernikahan diadakan lumayan megah. Resepsi diadakan di ballroom sebuah hotel ternama. Selama tiga tahun hidup Dodo lumayan terjamin. Sampai ia memergoki Tine tengah selingkuh dengan rekan kantornya. Berakhirklah  pernikahan singkat mereka. Dodo tak membawa harta apa-apa, ia menggelandang lagi. Lalu, rasa penyesalan dan rindunya pada Yani muncul kembali.

***

Hujan turun deras dan merata, di sepanjang Jakarta dan Jawa Barat. Bus itu telah mencapai Karawang, tempat yang jadi titik mulai bagi puisi besar Chairil Anwar. Ketika SD dulu Dodo gemar sekali membacakan puisi itu, walaupun tak begitu paham artinya.

“Perjalanan ini rasanya panjang betul, ya, Nak.”

“Iya, Bu. Panjang dan penuh kenangan..”

“Kamu mau kacang, Nak? Ibu lihat kamu cemas, atau malah mual? Kacang ini seperti obat herbal, lho. Bisa bantu menenangkanmu.”

“Terimakasih, Bu,” balas Dodo.

Tujuh butir kacang masuk ke mulutnya. Perlahan tapi pasti, seperti yang dikatkan ibu itu, Dodo mulai merasa tenang. Simbah dosa yang ia tabur di Jakarta tak lagi terasa seperti bara api. Perlahan wujudnya menjadi tetes hujan, basah namun penuh ampun. Kenangan-kenangan itu semestinya dijadikan pelajaran saja, untuk hari-hari cerah yang akan dihabiskan bersama Yani, begitu di kepala Dodo.

Dodo teringat momen kelahiran Slamet. Ia berjanji untuk menyayangi Slamet seperti Ayah Bunda menyayanginya dulu. Mengajari Slamet hal-hal berharga, lalu menyaksikannua tumbuh dewasa. Tentu seperti orang tua lain, Dodo mau Slamet menjadi orang sukses. Beruntungnya dengan kemajuan teknologi, Dodo selalu tahu kabar terbaru Slamet. Saat kelas 1 SD berhasil jadi juara kelas. Saat kelas 2 SD jadi pemenang lomba makan kerupuk 17 Agustus. Saat 3 SD jadi perwakilan sekolah untuk membaca puisi di kantor gubernur. Saat 4 SD jadi juara kelas lagi. Dan kelas 5 SD ini, ia jadi pencetak gol terbanyak di kompetisi sepakbola antardesa.

Dodo senang sekaligus gemas ingin mengajari Slamet bahwa kemenangan bukan satu-satunya cara memeroleh kesuksesan. Tapi, Dodo tak tahu betapa ambisi Slamet untuk jadi yang terbaik adalah karena dirinya juga. Yani selalu menanamkan pada Slamet untuk jadi juara, jadi yang terbaik, dengan begitu ayahnya akan pulang karena bangga pada anaknya. Slamet begitu ingin bertemu Dodo. Walaupun ia seringkali dicaci tak punya bapak oleh temannya. Namun, bagi Slamet, Dodo adalah idolanya. Impiannya terkabul, Dodo kini dalam perjalanan pulang untuk menemuinya.

“Istrimu bagaimana, Nak? Ia sendiri mengurus anakmu selama tujuh tahun?”

“Iya, Bu. Sendiri. Tapi ia wanita yang tangguh.”

Tigabelas tahun silam, Dodo yang anggota grup ketoprak keliling itu, tengah singgah mentas di sebuah kampus besar di Jawa Tengah. Saat itulah, Yani, yang merupakan mahasiswi tingkat akhir fakultas perhotelan berjumpa dengan Dodo. Ia terpana melihat Dodo yang begitu jenaka saat bermain ketoprak. Mereka berkenalan, jatuh cinta, dan menjalin hubungan. Sesederhana itu.

“Kang Dodo..”

“Ya, Yani?”

“Aku punya tebakan, jawab ya?”

“Okay, darling..”

“Barang apa yang lebih berguna setelah pecah?”

“Duh susah, Yani. Kamu teh anak sarjana tata boga, saya cuma lulusan SD..”

“Oh jadi Kang Dodo bawa-bawa status aku. Kenapa sih harus ngerendahin diri terus! Menyebalkan!”

Mereka bertengkar karena hal sesepele itu. Padahal Dodo sudah tahu jawabannya adalah telur, tapi dia ingin menggoda Yani saja; malah Yani yang marah. Begitulah hubungan mereka. Penuh konflik kecil yang di kemudian hari menjadi bahan untuk ditertawakan ulang.

***

Intensitas hujan mulai berkurang. Awan-awan cerah sudah mengintip malu di atas sana. Perjalanan Dodo di bus itu sudah 3/4 jalan, sedikit lagi wajah-wajah yang ia rindukan itu tak hanya lagi imaji. Ia akan mampu membelai rambut Yani, dan mengusap halus ubun-ubun Slamet.

“Wajahmu sudah cerah lagi, Nak.”

“Iya, Bu. Pengharapan saya sudah pulih. Penyesalan saya sudah saya tinggalkan. Tak ada lagi Jakarta dan semua dosanya untuk saya.”

“Kamu sudah memaafkan dirimu?”

“Sudah, Bu. Saya sudah maafkan semuanya, diri saya dan kenangan mengerikan itu. Saya sudah kembali fitrah, seperti Lebaran ini.”

“Syukurlah, Nak. Syukurlah. Oh, ya, kamu terbangun sepanjang jalan, tidak mengantuk?”

“Hehehe sejujurnya mengantuk. Tapi, sebentar lagi sampai, biarlah perjalanan terakhir ini saya nikmati.”

“Tidurlah. Nanti saya bangunkan, Nak. Istirahatlah dengan tenang. Kau pantas mendapatkannya seusai tujuh tahun yang letih ini.”

“Terimakasih, Bu. Telah begitu peduli pada saya sepanjang perjalanan ini.”

“Lelaplah, Nak. Tak ada lagi derita setelah ini. Pejamkanlah matamu.”

Ibu Tua itu mengusap kepala Dodo. Perlahan mata Dodo terpejam. Senyumnya merekah. Ia seperti bayi yang terlelap di dekapan ibunya. Ia suci kembali, ia telah memaafkan dirinya. Semua inderanya yang lelah telah diistirahatkan. Ia tak lagi melihat apa-apa, merasakan apa-apa, membaui apa-apa, dan mendengar apa-apa.

Sementara di dalam bus, jeritan menggelegar. Doa terpanjat begitu bising. Bus itu kehilangan keseimbangan, bergoyang ke kiri ke kanan. Dan pada akhirnya menabrak pembatas jalan lalu terbang bebas menuju dasar jurang. Di antara semua keputusasaan dan rasa takut di dalam sana, Dodo sudah lebih dulu lelap dan bahagia.

***

Hujan sudah terhenti. Awan jingga dan pelangi membumbung tinggi di langit sore itu. Cerah yang puitis. Namun, di dalam rumah itu, airmata Yani jatuh lebih deras dari hujan apapun.

 

2017

 

 

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Terakhir) Layulah, Bungaku.

1 Comment Add your own

  • 1. galuhsakti  |  July 1, 2017 at 14:55

    Baru baca, Boi. Bagus. you’re good in making the irony. hhe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Visitor

Date of Post

June 2017
M T W T F S S
« Mar   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: