Dodo Pulang Kampung

mountain-road-1556177_1920.jpg

“Permisi, Mas, tolong angkat kakinya sebentar, ya.”

Sudah ribuan kali kalimat itu keluar dari mulut Dodo selama setahun terakhir. Bosan? Sudah pasti. Tapi apalah arti kebosanan bagi Dodo. Toh, ia yang memilih untuk pergi ke kota tujuh tahun silam karena bosan mengurus kambing di kampungnya. Seperti para pendatang lainnya, mimpi Dodo ada di belantara beton dan aspal-aspal berborok ini. Bukan di kandang pesing dan bukit-bukit hijau itu.

Maka seperti anjuran saudaranya, ketika arus balik Lebaran tujuh tahun lalu, Dodo dengan bangga memijak kakinya di ibukota; meskipun Yani, istrinya, tak setuju dengan keputusan Dodo. Namun, demi Slamet, anak mereka yang masih tiga tahun itu, ada pengorbanan yang harus dipilih Dodo.

Malam itu adalah malam terakhir Dodo bekerja sebelum libur lebaran tiba. Kereta commuter line yang dinaikinya itu sudah sepi penumpang dan hendak merapat ke stasiun terakhir, Bogor. Dodo masih menggenggam erat gagang pelnya, aroma gerbong yang semerbak jeruk adalah hasil karyanya malam ini. Apa yang ia kerjakan sekarang ini bukanlah yang dibayangkan tujuh tahun silam.

Ia bermimpi membuka gerai Soto Kudus di daerah Jakarta Selatan, kemudian menjadi pengusaha kuliner sukses yang diliput media-media ternama. Sial, warung tenda kecil-kecilan yang dibuka bersama saudaranya itu hangus terbakar, padahal baru lima bulan. Semuanya pada kembali ke kampung, kecuali Dodo. Dodo bertahan di Jakarta, menjalani segala jenis pekerjaan; kuli, sopir angkot, badut pesta, hingga terakhir bekerja sebagai petugas kebersihan di kereta.

“Do, kemari,” panggil kepala bagiannya yang telah menunggu di stasiun Jakarta Kota.

“Ada apa ya, Pak?”

“Ini, THR buatmu.”

Dodo gemetar menerima amplop coklat itu. Ini pertama kalinya ia menerima THR. Matanya berkaca-kaca, membuat teman-teman sejawatnya keheranan. Dodo seperti seorang bocah yang mendapat kado natal dari Sinterklas.

“Seneng amat, Do?” Canda kawan-kawannya.

“Saya bisa pulang, dengan THR ini saya bisa pulang ke kampung dan bertemu anak saya lagi..”

Dodo memang tak pernah pulang selama tujuh tahun terakhir ini. Beberapa kali Yani dan Slamet ingin mengunjungi Dodo di Jakarta, tapi selalu dilarang Dodo. Ia tak mau Yani dan Slamet menjumpai dirinya yang tengah luntang-lantung di belantara Jakarta.

Selalu saja Dodo berjanji ia yang akan pulang ke kampung ketika waktunya tepat. Merayakan lagi lebaran di sana bersama sanak saudara, meskipun Dodo tak merayakan Lebaran seperti istrinya. Memang, ia tak merayakan Lebaran secara imaniah, namun secara kemanusiaan-persaudaraan, Lebaran teramat bermakna buat Dodo.

***

Assalamualaikan, Yani. Ini Dodo.”

Walaikumssalam, Kang. Ada apa telfon malam gini?”

“Akang besok pulang ke kampung, Yan.. Akang mau ketemu kamu dan Slamet.. ”

“…..”

“Yani, kamu teh, tidak usah menangis. Tenang saja, kali ini akang sungguh pulang. Dan mungkin tak akan kembali ke Jakarta lagi. Saya mau kita hidup bertiga dengan tenang di kampung..”

“Setelah tujuh tahun?”

“Ya, saya sudah selesai dengan kota ini. Saya akan tinggal di kampung bersama kamu dan Slamet saja…”

Di dalam telefon genggam masing-masing, isak tangis itu pecah. Yani sedemikian lama menanti Dodo. Dan, Dodo sudah tak tahan lagi dengan perjuangannya di kota ini. Ia menyesal telah begitu takabur mengabaikan cintakasih yang begitu kuat dipupul istrinya dan sanaksaudaranya di kampung sana.

Di Jakarta ia hanya menemui kebencian, amarah, keegoisan, hanya api yang ia jumpai. Barangkali perpisahan tujuh tahun ini adalah cara dari Ilahi untuk menyadarkan Dodo keberartian harta yang sesungguhnya: keluarga.

***

Dodo sebenarnya ingin sekali naik kereta dari stasiun Gambir. Duduk nyaman selama 6 jam menuju kampungnya di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, karena gaji dan THRnya baru turun kemarin ia terpaksa mengurungkan niatnya itu. Mau tak mau ia harus naik bus, moda transportasi yang selalu membuatnya mual.

Duduklah ia dengan nyaman di bus, di kanan belakang, samping jendela. Terminal Senen begitu ramainya dari luar jendela itu. Manusia berbondong-bondong dengan tas-tas besar dan oleh-oleh untuk sanak saudara. Dodo hanya membawa sebuah tas kecil, berisi sisa uang THR yang setengahnya sudah dipakai untuk bayar utangnya. Ia tak punya apa-apa untuk dibawa pulang selain kekecewaannya pada Jakarta.

Langit setengah mendung, awan biru-putih masih beradu dengan gelap yang mulai meminta ruang di atas sana. Mudah-mudahan tidak hujan dan tidak muntah, begitu dalam benak Dodo. Dan seorang ibu tua duduk di kursi sebelahnya.

“Boleh saya duduk sini, Nak?”

“Silahkan, Bu. Silahkan..”

Ia kurang lebih sepantaran ibu Dodo, semisal masih hidup. Dodo teringat ketika kecil di tiap Lebaran, ibunya seringkali membuat ketupat dan sayurmayurnya, padahal mereka sekeluarga tak merayakan. Bahkan rumah mereka terbuka bagi tetangga yang ingin berkunjung dan selalu ramai.

“Kenapa Bunda selalu bikin ketupat? Kita kan tidak Lebaran?”

“Do, kamu suka makan ketupat buatan Bunda?”

“Iya, Bunda. Ketupatan buatan Bunda enak..”

“Kamu setiap hari bisa makan ayam dan daging tapi tetangga-tetanggamu tidak. Bunda ingin kebahagian ini bisa kita bagikan. Ya, lewat ketupat dan kawan-kawannya ini.”

Keluarga Dodo memang yang paling makmur dibandingkan tetangga-tetangganya. Masa kecilnya membahagiakan, dan ia selalu diajarkan oleh Bundanya untuk bergaul dengan siapa saja. Pernah suatu waktu ia ikut takbir keliling. Sekat-sekat yang menghalangi keutuhan bagi rasa kemanusiaan tak pernah ada buat Dodo. Sampai suatu waktu rumahnya dirampok, lalu ayah, ibu dan adiknya jadi korban. Terjadi rebutan warisan dan Dodo terabaikan. Itulah pertama kali hidupnya terasa retak, saat berusia 14 tahun.

“Ibu ingin pulang kampung juga?” Tanya Dodo.

“Iya, Nak. Saya mau kunjungi anak cucu saya di kampung..”

Gerimis pertama turun perlahan, membasahi  jendela. Bus masih melaju di jalan Pramuka menuju flyover Rawamangun. Dodo teringat saat tahun kedua di Jakarta, ia pernah tinggal di sekitar sini selama tiga bulan dan kabur dari kost karena tak sanggup bayar. Sedikit pilu hatinya mengingat itu.

“Kamu sudah lama di Jakarta, Nak?”

“Sudah tujuh tahun, Bu. Ini pertama kalinya saya pulang.”

“Ada yang menantimu pulang?”

“Seorang istri dan anak, Bu..”

Dodo sedikit menundukkan kepala. Menahan airmata, ia membayangkan wajah Yani dan Slamet yang usianya akan menginjak 10 tahun. Ada dosa teramat besar hinggap di pundak Dodo. Yani yang setia menunggunya itu ia khianati.

Dua tahun lalu Dodo baru saja bercerai. Dengan istri yang ia nikahi di Jakarta, namanya Christine, atau dipanggil Tine. Tine yang menampung Dodo di apartemennya ketika luntang-lantung setelah kabur dari kost. Dodo mendapat kontak Tine dari laman jodoh di sebuah koran. Tine yang berusia 15 tahun lebih tua dari Dodo tak mempermasalahkan perbedaan usia itu. Singkat cerita setelah dua bulan tinggal bersama, Tine mengajak Dodo menikah.

Dodo tak bisa menolak. Ia butuh tempat tinggal, ia butuh makan minum. Meskipun di hati kecilnya, nurani itu berteriak, Yani, Slamet, yang harus ia khianati itu. Pernikahan Dodo dan Yani tak tercatat secara negara. Keluarga Yani juga tak merestui pernikahan itu. Untungnya waktu itu ada lembaga agama yang mau menikahkan keduanya, meskipun berbeda.

Kini, dengan Tine, pernikahan diadakan lumayan megah. Resepsi diadakan di ballroom sebuah hotel ternama. Selama tiga tahun hidup Dodo lumayan terjamin. Sampai ia memergoki Tine tengah selingkuh dengan rekan kantornya. Berakhirklah  pernikahan singkat mereka. Dodo tak membawa harta apa-apa, ia menggelandang lagi. Lalu, rasa penyesalan dan rindunya pada Yani muncul kembali.

***

Hujan turun deras dan merata, di sepanjang Jakarta dan Jawa Barat. Bus itu telah mencapai Karawang, tempat yang jadi titik mulai bagi puisi besar Chairil Anwar. Ketika SD dulu Dodo gemar sekali membacakan puisi itu, walaupun tak begitu paham artinya.

“Perjalanan ini rasanya panjang betul, ya, Nak.”

“Iya, Bu. Panjang dan penuh kenangan..”

“Kamu mau kacang, Nak? Ibu lihat kamu cemas, atau malah mual? Kacang ini seperti obat herbal, lho. Bisa bantu menenangkanmu.”

“Terimakasih, Bu,” balas Dodo.

Tujuh butir kacang masuk ke mulutnya. Perlahan tapi pasti, seperti yang dikatkan ibu itu, Dodo mulai merasa tenang. Simbah dosa yang ia tabur di Jakarta tak lagi terasa seperti bara api. Perlahan wujudnya menjadi tetes hujan, basah namun penuh ampun. Kenangan-kenangan itu semestinya dijadikan pelajaran saja, untuk hari-hari cerah yang akan dihabiskan bersama Yani, begitu di kepala Dodo.

Dodo teringat momen kelahiran Slamet. Ia berjanji untuk menyayangi Slamet seperti Ayah Bunda menyayanginya dulu. Mengajari Slamet hal-hal berharga, lalu menyaksikannua tumbuh dewasa. Tentu seperti orang tua lain, Dodo mau Slamet menjadi orang sukses. Beruntungnya dengan kemajuan teknologi, Dodo selalu tahu kabar terbaru Slamet. Saat kelas 1 SD berhasil jadi juara kelas. Saat kelas 2 SD jadi pemenang lomba makan kerupuk 17 Agustus. Saat 3 SD jadi perwakilan sekolah untuk membaca puisi di kantor gubernur. Saat 4 SD jadi juara kelas lagi. Dan kelas 5 SD ini, ia jadi pencetak gol terbanyak di kompetisi sepakbola antardesa.

Dodo senang sekaligus gemas ingin mengajari Slamet bahwa kemenangan bukan satu-satunya cara memeroleh kesuksesan. Tapi, Dodo tak tahu betapa ambisi Slamet untuk jadi yang terbaik adalah karena dirinya juga. Yani selalu menanamkan pada Slamet untuk jadi juara, jadi yang terbaik, dengan begitu ayahnya akan pulang karena bangga pada anaknya. Slamet begitu ingin bertemu Dodo. Walaupun ia seringkali dicaci tak punya bapak oleh temannya. Namun, bagi Slamet, Dodo adalah idolanya. Impiannya terkabul, Dodo kini dalam perjalanan pulang untuk menemuinya.

“Istrimu bagaimana, Nak? Ia sendiri mengurus anakmu selama tujuh tahun?”

“Iya, Bu. Sendiri. Tapi ia wanita yang tangguh.”

Tigabelas tahun silam, Dodo yang anggota grup ketoprak keliling itu, tengah singgah mentas di sebuah kampus besar di Jawa Tengah. Saat itulah, Yani, yang merupakan mahasiswi tingkat akhir fakultas perhotelan berjumpa dengan Dodo. Ia terpana melihat Dodo yang begitu jenaka saat bermain ketoprak. Mereka berkenalan, jatuh cinta, dan menjalin hubungan. Sesederhana itu.

“Kang Dodo..”

“Ya, Yani?”

“Aku punya tebakan, jawab ya?”

“Okay, darling..”

“Barang apa yang lebih berguna setelah pecah?”

“Duh susah, Yani. Kamu teh anak sarjana tata boga, saya cuma lulusan SD..”

“Oh jadi Kang Dodo bawa-bawa status aku. Kenapa sih harus ngerendahin diri terus! Menyebalkan!”

Mereka bertengkar karena hal sesepele itu. Padahal Dodo sudah tahu jawabannya adalah telur, tapi dia ingin menggoda Yani saja; malah Yani yang marah. Begitulah hubungan mereka. Penuh konflik kecil yang di kemudian hari menjadi bahan untuk ditertawakan ulang.

***

Intensitas hujan mulai berkurang. Awan-awan cerah sudah mengintip malu di atas sana. Perjalanan Dodo di bus itu sudah 3/4 jalan, sedikit lagi wajah-wajah yang ia rindukan itu tak hanya lagi imaji. Ia akan mampu membelai rambut Yani, dan mengusap halus ubun-ubun Slamet.

“Wajahmu sudah cerah lagi, Nak.”

“Iya, Bu. Pengharapan saya sudah pulih. Penyesalan saya sudah saya tinggalkan. Tak ada lagi Jakarta dan semua dosanya untuk saya.”

“Kamu sudah memaafkan dirimu?”

“Sudah, Bu. Saya sudah maafkan semuanya, diri saya dan kenangan mengerikan itu. Saya sudah kembali fitrah, seperti Lebaran ini.”

“Syukurlah, Nak. Syukurlah. Oh, ya, kamu terbangun sepanjang jalan, tidak mengantuk?”

“Hehehe sejujurnya mengantuk. Tapi, sebentar lagi sampai, biarlah perjalanan terakhir ini saya nikmati.”

“Tidurlah. Nanti saya bangunkan, Nak. Istirahatlah dengan tenang. Kau pantas mendapatkannya seusai tujuh tahun yang letih ini.”

“Terimakasih, Bu. Telah begitu peduli pada saya sepanjang perjalanan ini.”

“Lelaplah, Nak. Tak ada lagi derita setelah ini. Pejamkanlah matamu.”

Ibu Tua itu mengusap kepala Dodo. Perlahan mata Dodo terpejam. Senyumnya merekah. Ia seperti bayi yang terlelap di dekapan ibunya. Ia suci kembali, ia telah memaafkan dirinya. Semua inderanya yang lelah telah diistirahatkan. Ia tak lagi melihat apa-apa, merasakan apa-apa, membaui apa-apa, dan mendengar apa-apa.

Sementara di dalam bus, jeritan menggelegar. Doa terpanjat begitu bising. Bus itu kehilangan keseimbangan, bergoyang ke kiri ke kanan. Dan pada akhirnya menabrak pembatas jalan lalu terbang bebas menuju dasar jurang. Di antara semua keputusasaan dan rasa takut di dalam sana, Dodo sudah lebih dulu lelap dan bahagia.

***

Hujan sudah terhenti. Awan jingga dan pelangi membumbung tinggi di langit sore itu. Cerah yang puitis. Namun, di dalam rumah itu, airmata Yani jatuh lebih deras dari hujan apapun.

 

2017

 

 

June 25, 2017 at 17:36 Leave a comment

Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Terakhir)

riSeandainya ramalan Suku Maya menjadi nyata, maka lima tahun lalu bumi akan berakhir; dan Desember 2012 menjadi bulan terakhir peradaban manusia. Saya setengah berharap itu terjadi. Setengahnya lagi berharap supaya bisa melihat matahari pagi pertama di tahun 2013.

2012_oxcgn.jpg
(gajadi kiamat nih)

Desember adalah bulan yang berat, teramat berat. Saya mengikhlaskan diri untuk kost di dekat kampus, demi mempermudah akses untuk menjalankan HHK. Jadi tak ada lagi gangguan jam pulang kemalaman, dan energi yang tersita karena pulang pergi Jakarta-Depok. Buat saya mungkin itu pengorbanan yang cukup besar. Tapi, tidak. Tak semestinya pengorbanan itu diagung-agungkan dan diromantisasi. Anggap saja saya tengah mencari cara paling efisien untuk menuntaskan ini.

Oh, ya, sebelumnya saya harus menceritakan sebuah pengalaman menarik di akhir November, ketika panitia inti dari angkatan 2010 melakukan “rapat”, “intensive days” atau apalah namanya di Kebun Raya Bogor.

Sebetulnya itu bukan kali pertama saya ke Kebun Raya Bogor, tapi barangkali yang paling berkesan. Kami ber-17 datang ke Kebun Raya dengan berbagai kerumitan pada pikiran masing-masing tentang cara terbaik menuntaskan ini semua.

Turun di stasiun Bogor setelah berangkat dari UI, lalu berjalan kaki dari stasiun menuju pintu masuk Kebun Raya yang ternyata lumayan jauh. Banyak yang kami bahas di sana, dimulai dari IKSI, Petang Kreatif, dan Hari-hari Kekerabatan (HHK). Saya sendiri sudah tidak senaif dulu dan tidak sekeras dulu. Entah mengapa saya mulai merasa ingin memperjuangkan sesuatu demi IKSI dan segala tetek bengeknya.

615533_4751582797784_1002982720_o.jpg

Satu rahasia yang kami ber-17 simpan selama lima tahun mungkin harus saya ungkap di sini (dan sedikit permohonan maaf bagi teman-teman 2012 yang membaca). Kami dihadapkan pada pilihan yang teramat sulit waktu itu, Petang Kreatif (PK) atau HHK?

Mustahil untuk menjalankan kedua-duanya secara optimal. Bekerja ekstra untuk menggarap PK 2012 berarti mendegradasi energi untuk HHK. HHK Puncak sendiri butuh tenaga ekstra karena masih abu-abu konsep finalnya. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk “melepas” Petang Kreatif, menyerahkan beban terbesarnya kepada senior-senior kami, dan kami memfokusikan diri pada pelaksanaan HHK Puncak.

54581_4751581397749_83091154_o.jpg

Seusai insentive day itu batin saya tersentil. Loh, ternyata perjuangan ini bersama-sama toh. Saya kira hanya satu dua orang yang ditumbalkan, tapi ternyata kebersamaan itu ada. Seperti lagu High School Musical, “We’re All in This Together”.

Saya tak lagi peduli apakah yang saya lakukan selama ini harus dicap sebagai aksi kepahlawanan menyelamatkan IKSI. Persetan. Saya mau berjuang, untuk teman-teman saya ini, untuk adik-adik saya, dan orang-orang lain yang membantu saya sampai sini dan sampai usai nanti.

665670_4751568397424_636323269_o.jpg

***

Desember yang mahaberat itu tiba. Saya punya tanggung jawab akademis yang teramat berat. Saya masih harus menyiapkan 2012 untuk pentas di Petang Kreatif. Saya masih harus mengadakan rapat pleno beberapa kali dan menerima tubian kritik. Go on! I don’t care about pain anymore.

Dan ketika manusia sudah abai pada derita personalnya, niscaya ia akan menikmati momen yang ada. Petang Kreatif berjalan, saya menemani mahasiswa 2012 sampai setengah empat pagi menunggu pengumuman. Benarlah, tak ada gelar juara apapun yang didapat, hanya nominasi poster terbaik. Sedikit sedih karena euforia kemenangan yang saya rasakan tak bisa dirasakan mereka. Tapi, mereka akan kuat, jauh lebih kuat dari kami, saya yakin itu.

Uniknya, beban teramat besar justru saya rasakan di lingkungan akademis, dengan UAS semester lima yang megajahanam.

  1. UAS Sastra Populer saya kerjakan ngebut dari jam empat pagi sampai sembilan pagi di kamar kosan. Isinya jelas mengarang bebas. Duh.
  2. UAS Kemahiran Membaca Naskah Klasik, seingat saya sih di kelas. Karena UTS sudah cukup bagus, saya yang tak bisa baca aksara arab ini ya menggantungkan diri ke bisikan-bisikan gaib dari kirikanan depanbelakang. Makasih ya, teman-teman 2011 yang membantu.
  3. UAS Gender dalam Sastra. Saya membahas Ahmad Dhani dan wanita di dalam lirik lagunya. Tanpa teori, padahal punya banyak fotokopian dan PDF. Dikerjakan sambil sakit di kosan 😦
  4. UAS Penyuntingan. Saya hampir selalu bolos kuliah ini karena jamnya sering saya pakai untuk mengerjakan tugas.. Untung saja UASnya gampang.. hanya menyunting teks beberapa halaman
  5. UAS Bahasa Isyarat. Mata kuliah penghiburan di semester ini. Berbeda dengan kawan-kawan yang mengambil matkul ini di tahun berikutnya, saat itu saya cuma latihan praktik bahasa isyarat saja, tanpa teori. UASnya pun hanya membuat percakapan dengan teman memakai bahasa Isyarat.
  6. UAS Sematik dan Pragmatik. Melalui UAS ini saya gagal atheis karena ternyata Sang Maha muncul dengan Deus ex Machina-nya. Agak panjang sih, tapi saya ceritakan deh. Saya sama sekali tak mengerti mata kuliah ini. Tak ada satupun ilmu yang saya serap. Karena kelasnya berat di Jumat pagi, saya selalu ngantuk. Sering bolos juga. Bahkan menjelang hari pengumpulan UAS (akhir Desember, hari itu bertepatan dengan briefing HHK Puncak ke maba, dua minggu sebelum acara Puncak) saya sama sekali belum mengerjakan. Saya tak bisa, tak mengerti apa yang harus ditulis. Ingin nangis rasanya.Bahkan sudah menyiapkan draft sms permohonan maaf kepada dosen mata kuliah tersebut. Sudah sedemikian menyesal dan dramatis saya tulis dengan janji akan memperbaiki diri saat mengulang di tahun depan. Jujur, minggu itu saya terlalu sibuk menyiapkan HHK dan tetekbengeknya, jadi UAS ini terabaikan. Saya tiba di Teater Daun FIB–tempat briefing–dan tiba-tiba teman saya memeberitahu kalau Dosen menghubunginya, ternyata pengumpulan UAS diundur ke minggu depan. WHAAAAAATTTTTTT!!!!! There you go, alasan kenapa sampai saat ini saya masih beriman hehehe.

timeline_20170610_224551.jpg
(image by Gon, @dkvui)

Dan saya lulus semua matkul semester ini, kok, tenang saja. Mahabaiklah semua  dosen dan nilai-nilai yang mereka berikan.

Kini satu-satunya musuh untuk ditaklukan hanyalah…. HHK Puncak. Let’s do it!

***

Jumat, 4 Januari 2012. Tanggal yang dinantikan selama 9 bulan lebih itu tiba. Seorang anak akan lahir. HHK Puncak yang legendaris itu pun datang menyongsong dengan hujan yang gemuruh di Depok siang itu. Dua tronton melaju menerabas kemacetan Margonda, masuk ke Jalan Tol, dan Puncak terasa makin dekat. Eh, saya tak mau cerita terlalu detail ya, nanti kalau diintip mahasiswa baru tahun 2017 ini jadi spoiler.

Hujan tak juga berhenti menyambut, bahkan sampai Puncak. Di kepala saya sudah tak ada lagi yang dipikirkan selain: mari selesaikan ini sebaik-baiknya. Siapapun yang pernah mengurus HHK Puncak pasti tahu betapa men-zombienya kepala ini. Hari pertama nyaris berlalu sesuai rencana, sampai ada momen drama (tanpa tis) muncul.

Panitia dikumpulkan oleh alumni-alumni dan kemudian dievaluasi-dimarahi-diadudomba di tengah malam. Duh, Gusti! Ini masih ada rundown loh setelah ini.

Ternyata, seusai marah-marahan itu, kami ditahbiskan jadi “anak IKSI” sesungguhnya.

“Selamat Datang di IKSI”

Pret. Sebenernya seremoni itu tidak perlu-perlu amat sih. Tapi, ya namanya juga jurusan tukang drama. Jadi siapatau seremoni kecil ini bisa berkesan dan jadi katalis kami dua hari ke depan. (Ketua IKSI saat itu sampai nangis, lho. hehehe. Ampun, Ndy).

Memasuki hari kedua, sebagian besar lancar, meskipun ada konten yang sedikit kebablasan. Sayangnya, sore hari kedua yang harusnya ada outbond, gagal dilaksanakan karena hujan deras 😦

Lalu malam tiba…. agak suram karena ada… ya, gitu deh… lompat sedikit, akhirnya masuk ke sesi unjuk bakat yang sangat amat seru. Di sini saya merasa bahwa, sebusuk-buruknya rumah ini, kreativitas jurusan ini mungkin nomor satu se-UI. Lalu masuk ke sesi pengukuhan yang lumayan sakral.. dan tuntaslah HHK.

Eits, belum. Minggu pagi, sesi cebur-ceburan menjadi sesi yang superseru. Kampretnya, saya kena diceburin juga.

(saya sedang tidur di ruang kesehatan)

tok.tok

“Boi, dicari alumni tuh, ada yang mao dievalusi”

Dan berhubung di otak saya sudah otomatis respon begitu mendengar kata alumni, segeralah saya bangun, keluar kamar dengan kondisi setengah sadar, dan…. diseret ke kolam. Ternyata ini jebakan dari anak-anak 2012 untuk memaksa saya keluar dari ruang kesehatan. Polos benar, ya.

Usailah, dan kami pulang di siang hari. Sampai di Depok pada sore hari, saya lengsung lelap tidur di selasar Gedung 8 FIB. Seluruh beban sembilan bulan usai sudah. Tapi dibangungkan dan.. pulanglah ke rumah.

Sepanjang senin saya hanya bangun satu jam untuk makan dan buang air. Lalu lanjut tidur, bangun di selasa siang, sama, untuk makan dan buang air. Lalu bangun normal di Rabu pagi. Iya, semelelahkan itu.

1599853_10202663415256828_1127637556_o.jpg

***

Itulah yang terjadi 5-4,5 tahun silam. Momen yang jadi pijakan krusial saya menuju tahun-tahun berikutnya. Cinta itu berawal dari benci. Benci terhadap rumah yang ditinggali, memaksa diri untuk berjuang, tak terasa cinta itu muncul. Benarkah cinta? Entah, saya tak pernah tahu. Yang jelas saya jadi banyak berubah, dan mungkin rumah ini jadi banyak berubah juga?

Bagian yang tak saya sadari adalah, saya meninggalkan comfort zone saya saat menjalankan HHK. Saya masuk ke zona yang asing sama sekali. Lalu, setelah perjalanan itu usai, zona asing ini malah menjelma jadi comfort zone baru saya: IKSI.

Apakah manusia selalu begitu?

Pergi, menuju perjalanan asing yang menjadi rumah baru. Ataukah semua yang pernah ditinggali tetaplah rumah?

Saya tak tahu. Tak akan pernah tahu. Yang saya tahu, cerita Menertawakan Hidup Menertawakan IKSI usai di postingan ini. Masih banyak yang ingin saya ceritakan, tentang cerita-cerita Golden Age of IKSI, FIB itu IKSI, atau Tiga Kursi dan Satu Meja Makan (metafor).

Masihkan bersedia membaca apabila dilanjutkan? Atau kita sudahi di sini saja?

Jawabannya di tangan anda.

 

TAMAT

132046_4751570437475_556327804_o.jpg

 

 

 

 

June 18, 2017 at 11:16 Leave a comment

Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian Kedua)

Hari-hari Kekerabatan adalah omong kosong. Itu yang saya percayai selama hampir dua tahun kuliah. Segala kegiatan orientasi, inisiasi adalah omong kosong, kalau ini prinsip personal saya. Alasannya? Manusia bisa sintas dengan perjuangannya sendiri, tak perlu seremoni “penyambutan” atau “persiapan” sejenis itu. That’s my personal belief.

Maka tibalah saya pada pergumulan batin: personal atau komunal. Personal dalam artian saya harus mengikuti prinsip yang percayai. Komunal dalam artian mengikuti kepentingan situasi orang banyak, dengan konsekuensi harus mengabaikan prinsip personal.

Lalu saya menonton Catatan Si Boy di Youtube. Oom Onky Alexander yang rupawan itu menjadi Boy, yang ironisnya juga ketua pelaksana orientasi mahasiswa baru. Oh, nasip. Ya sudah, siapa tahu saya bisa jadi Boi versi UI, dan ada Meriam Belina menyelip di antara mahasiswa baru hihihi. Just kidding. Dia Boy, saya Boi, saya akan bikin sejarah saya sendiri; dan harus lebih keren meskipun tanpa BMW.

291522_4072351097416_1419695301_o.jpgOnky 1.jpg
(pilih Boi atau Boy?Ngga usah dijawab)

Kepanitiaan terbentuk, diisi manusia-manusia super di angkatan saya di posisi vital. We’re ready to go, except… Masih ada satu isu besar yang terus menerus jadi polemik sedari saya masuk. Namanya adalah…. HHK Puncak.

Ibarat sebuah proses, HHK di IKSI didesain untuk memiliki alur begini: penerimaan mahasiswa baru – kumpul/kenalan senior dan mahasiwa baru – HHK dalam (talkshow dengan alumni Sastra Indonesia) – HHK kunjungan (semacam karya wisata ke tempat-tempat penunjang perkuliahab) – HHK Puncak (titik akhir penyambutan maba dengan beberapa mata acara).

Saya tak ikut HHK Puncak ketika mahasiswa baru. Sengaja. Sudah tahu kalau datang cuma akan dibentak-bentak saja. Buat apa, mereka cuma senior yang lahir lebih dahulu dari saya, seenaknya saja punya hak untuk otoriter. Meskipun beberapa kerap membujuk kalau momen itu penting supaya kelak senior kenal kita dan bisa membantu. Saya tak perlu itu, I’m gonna survive by my ownself.

Sejujurnya polemik HHK Puncak di IKSI terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Tapi, baiklah, sedikit saja. Prosesi Puncak ini biasanya bertempat di luar kampus (sejauh yang saya tahu selalu di daerah puncak), diadakan selama tiga hari, dengan gambaran acara sejenis Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) tapi tentu dengan warna “kekeluargaan” dan “kreativitas” ala sastra Indonesia. Adakah perpeloncoan? Relatif. Bagi yang terbiasa dengan kegiatan semacam ini ketika SMA, ya ini terhitung ringan. Bagi yang “anak mami” mungkin tiga hari ini akan terasa amat panjang dan melelahkan.

Rumitnya, HHK Puncak terakhir diadakan di luar kampus di tahun 2008. Periode setelahnya (2009, 2010, 2011) diadakan di kampus karena adanya anjuran dari Fakultas. Bagi beberapa senior/alumni, nilai “kesakralan” HHK Puncak tidak teresonansi apabila diadakan di dalam kampus; sedikit banyak tercipta gap-gap kecil akibat ini. Tapi biarlah itu jadi pendapat di masing-masing kepala.

Kini semua kembali ke tim panitia kami, wujud HHK seperti apa yang akan kami tampilkan. Dimulai dari pemilihan tema, yakni SEMARAK, pemendekan dari Solid, Energik, Mandiri, Responsif, Aktif dalam IKSI. Lima spirit itu diambil dari hasil diskusi terkait nilai-nilai apa yang dirasa perlu ditanamkan ke mahasiswa baru. Selain itu, Semarak juga bisa berdiri sendiri, tentu dengan harapan akan kemeriahan yang dihadirkan adik-adik baru kami ini.

Singkat cerita, pada akhir Juni 2012, panitia HHK mengadakan rapat PLENO, mengundang segenap warga IKSI untuk mendiskusikan proses tahun ini. Hmm, pleno seringkali jadi momok bagi panitia karena entah mengapa tercipta jarak antara panitia selaku presentator dengan peserta rapat (senior, alumni, dll). Seringkali dihiasi adu pendapat, adu argumen, inferioritas panitia vs superioritas peserta rapat.

Kesal. Emosi. Muak. Najis. Itu yang berkecamuk di kepala saya seusai rapat. Tak ada jalan keluar dari rapat pleno pertama. Yang ada hanya diskriminasi dari beberapa alumni kepada panitia. Beberapa merasa kami selaku panitia tak layak mengadakan HHK Puncak karena dianggap bukan bagian dari kesejarahan itu. Rasanya seperti bocah yang ingin gabung Yakuza, tapi tak diizinkan hehehe. Atau macam Minke yang begitu penuh harapan tapi dipadamkan feodalitas tradisi.

Barangkali, rapat itu adalah salah satu penghinaan terbesar yang pernah saya terima. Meskipun saya memang hina, sih. Padahal saya ingin kepanitiaan ini dan konsep-konsepnya diterima dengan tangan terbuka. Padahal ada kata “Kekeluargaan” dalam IKSI. Nyatanya saya–secara personal–diperlakukan seperti orang asing. Apakah memang kekeluargaan-kekerabatan itu hanya omong kosong? Kekesalan itu seperti melegitimasi semua gambaran saya akan IKSI dua tahun silam: rumah busuk yang lebih baik rubuh.

***

277814_4226305466179_954150554_o.jpg
(banner penyambutan hhk 2012)

Lagi-lagi, untuk pertama kalinya di hidup saya, liburan tengah tahun harus dikorbankan. Hati ini masih remuk redam. Satu-satunya penguat saya adalah wajah-wajah segar itu, para mahasiwa baru itu. Kalau saya tak bisa berjuang untuk orang-orang tua yang menolak saya, ya, saya berjuang untuk anak-anak muda ini saja. Toh, dalam satu keluarga kita boleh pilih lebih akrab dengan kakak atau adik, bukan?

Bulan Juli-Agustus 2012 benar-benar padat. Hampir tiap hari ada rapat panitia dalam menyusun iniitu. Saya harus menyelinginya dengan latihan Sasina untuk tampil di sanasini. Secercah titik terang muncul pada pertengahan Agustus, manakala kami memeroleh “perizinan” dari Program Studi Indonesia (perwakilan dosen) untuk mengadakan HHK Puncak di luar kampus, asalkan diadakan bulan Januari seusai semester ganjil.

Yang berarti saya harus berhadapan dengan orang-orang bebal di pleno itu lagi. Huffft.

Proses awal HHK berjalan dengan lancar. Templatenya tak jauh beda dengan yang saya terima ketika mahasiswa baru. Panitia memposisikan diri sebagai “tokoh jahat” yang tak segan ngomelin mahasiswa baru.

Setelah lima tahun berlalu, saya tak tahu apakah yang kami lakukan itu tepat. Kami mengulangi nasib buruk yang kami terima kepada angkatan 2012. Bukankah harusnya kami memperbaiki? Tapi bukankah semua itu sudah disepakati oleh tim panitia, menjalankan SOP apapun konsekuensinya adalah mutlak hukumnya, kan? Konflik moral ini seperti bagian klimaks film A Few Good Man kalau diingat-ingat hahaha.

Muncullah resistensi dari anak-anak baru ini. Beberapa memilih untuk tak datang dan mengikuti peraturan HHK. Mulai muncul tekanan dari beberapa alumni supaya kami mengubah sikap kepada anak baru; yang artinya mengingkari SOP. Duh, Gusti! Ingin meledak rasanya ini kepala. Susah betul ya menyenangkan semua pihak.

615641_4636387517974_72694600_o.jpg
(foto seusai hhk kunjungan ke perpustakaan nasional)

Berlanjutlah proses HHK menuju Petang Kreatif (PK). Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya memang kehilangan  magical moment dari PK karena beberapa sebab. Tapi, saya tak mau ini terulang pada anak-anak 2012. Momen ini harus berkesan buat mereka.

Sampai detik itu, semua yang saya kerjakan hanya untuk sintas day by day. Saya abaikan akan seperti apa ujung proses HHK ini akan berakhir. Tak lagi ada rapat, tak lagi ada audiensi. Nikmati saja yang, tak ada HHK Puncak pun ya biarlah.

***

Beruntung. Saya teramat beruntung. Saya punya teman-teman angkatan yang hebat dan begitu suportif. Meskipun, sensitivitas isu HHK membuat sedikit perpecahan. Ada yang setuju. Ada yang bimbang. Ada yang tidak. Wajar saja, kok. Paling tidak suport itu terwujud dalam beberapa cara, materi, dan bantuan tenaga.

Di titik ini, perlahan saya sadar tidak lagi sedang berjuang sendiri. Hmm jadi teringat orasi kecil saya di depan angkatan 2011 yang menjadi panitia konsumsi dan mentor.

“Gue bukan Superman. Makanya gue butuh bantuan kalian untuk ngejalanin proses ini bareng-bareng, dengan sekuat tenaga kita semua. Inget, gue bukan superhero.”

Sedikit lupa apakah itu saya ucapkan sebagai retorika belaka atau ungkapan dari hati. Tak penting juga, asalkan menggugah buat si pendengar, mau artifisial mau orisinil tidak ada beda. Ah, mungkin saya cocok jadi motivator.

Pelan-pelan tanpa saya sadari, mereka, kawan-kawan panitia membuat progres sedikit demi sedikit namun menjad berarti. Sisanya ada di pundak saya; akankah menyerah dengan hiruk pikuk HHK ini, atau menuntaskan semuanya. Dengan segala kesulitan di sisa dua bulan ke depan.

740287_10200137426428686_1610088881_o.jpg

[bersambung]

————————————————–

Episode Selanjutnya: Hari Penghakiman Terakhir Telah Tiba, Apakah Rumah Busuk itu Berhasil Dipulihkan?

 

 

 

 

 

June 16, 2017 at 18:34 Leave a comment

Menertawakan Hidup, Menertawakan IKSI (Bagian 1)

Beberapa waktu lalu, ketika saya turun dari kereta di Stasiun Sudirman, saya mendapati momen kontemplatif yang tak sengaja melintas di kepala. Sambil melengos ke kiri-ke kanan menatap gedung-gedung paling kokoh di Jakarta, saya bergumam kecil.


(gedung-gedung sudirman via housing-estate.com)

“Harusnya gue di sini kan nih? Harusnya gitu kan?”

Ya, semestinya begitu. Terdampar di rutinitas kantoran dengan gaji minimal dua kali UMP Jakarta, sambil di tiap weekendnya makan di restoran fancy. Setidaknya, sampai lima tahun lalu, proyeksi akan situasi itu masih relevan. Apabila lima tahun kemudian saya malah terasing dalam ketidakmapanan–sesuai stereotip yang dilekatkan pada pria berumur 1/4 abad–maka saya tak mau diidentikkan dengan gelora generasi milenial. Tidak, cerita saya sedikit berbeda.

Film Man from Nowhere barangkali adalah film yang relevan menceritakan kondisi saya saat ini dan konsekuensi dari pilihan yang diambil pada masa lampau. Pilihan itu datang di tahun 2012, seusai trimester pertama, manakala saya diminta untuk menjadi ketua pelaksana kegiatan orientasi mahasiswa baru di jurusan saya Sastra Indonesia UI. Selanjutnya akan saya tulis sebagai IKSI (Ikatan Keluarga Sastra Indonesia) dan HHK (Hari-hari Kekerabatan) untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru.

***

(via twitter @iksiui)

IKSI bukan nama yang fancy untuk dijual ke alam bebas. Namun, nama yang begitu biasa itu punya ribuan kompleksitas dari ribuan kepala manusia yang pernah menjadi bagiannya, salah satunya ya saya.

Baiklah, mari saya ceritakan masa-masa awal saya bersama IKSI ini, atau bahkan mungkin jauh sebelumnya, sebelum saya ada di sana.

Dimulai saat kelas tiga SMA dan seperti banyak pelajar lainnya, saya harus tentukan jenjang apa yang selanjutnya didaki. Musik adalah pilihan pribadi saya; namun ditolak mentah-mentah oleh keluarga. Lalu saya dengan berat hati mendaftar SIMAK UI (Ujian Mandiri yang diadakan UI). Kenapa berat hati? Entahlah, yang saya ingat waktu itu saya dipaksa untuk daftar oleh orang tua, padahal buat saya pilihannya cuma: musik atau tidak sama sekali.

Dari keterpaksaan itu saya harus menyortir jurusan-jurusan yang sekiranya manusiawi buat ditempuh selama empat tahun. Pilihan pertama adalah Antropologi karena saya sering browsing di wikipedia tentang hal-hal berbau antropologi. Pilihan kedua adalah Sastra Inggris karena nilai tertinggi di raport saya dari kelas satu ya bahasa Inggris. Sejujurnya saya sudah cukup dengan dua pilihan itu saja, tapi karena terlanjur transfer 350 ribu untuk lima jurusan (tiga reguler, dua paralel), mau tak mau harus ada pilihan tambahan.

Pilihan ketiga adalah Sastra Indonesia; mengapa? Bisa dibaca di sini. Tulisan itu saya tulis ketika semester dua–enam tahun silam–lengkap dengan libido yang meledak-ledak, tapi setidaknya saya menceritakan awal mula kedekatan saya dengan sastra Indonesia. Pilihan keempat dan kelima tak perlu lah diceritakan, karena tak relevan juga hehe.

Alhasil tibalah hari pengumuman, kalau tidak salah Sabtu tanggal 8 Mei 2010. Saya dengan setengah hati membuka koran Kompas yang waktu itu memuat nomor-nomor peserta yang lulus tes dengan jurusannya. Kolom Antropologi? Tak tercantum. Kolom Sastra Inggris? Tak tercantum. Selesai sudah, semua seperti yang saya predikaikan, takdir saya adalah untuk kuliah musik.

Saya memberitahu ibu saya, dan dia minta saya cek di web pendaftaran, sekaligus bingung kenapa saya tidak cek tiga jurusan lainnya. Ya, karena tiga jurusan lainnya sudah tidak saya pedulikan, toh cuma diisi karena terlanjur bayar untuk pilih lima jurusan. Dan saya login ke laman web penerimaan.ui.ac.id, muncullah tulisan terkutuk berwarna hijau itu.

“Selamat Anda Berhasil Diterima di Universitas Indonesia dengan Jurusan Sastra Indonesia”

Saya tertawa. Benar-benar tertawa lepas. Bukan tawa kebahagiaan, tapi tawa getir. Mungkin tulisan selamat di atas itu adalah black comedy paling absurd yang dihadiahkan Sang Maha kepada saya. Saya tak tahu harus bersyukur atau meringis.

Jadi begini, okelah selama kelas 1 (yang ngulang karena tidak naik kelas) + kelas 2 saya biasa-biasa aja sama pelajaran Bahasa Indonesia. Suka sekali dengan kegiatan sastranya, tapi cukup kesulitan mengikuti materi tata bahasa. Tapi, saat kelas tiga, nilai Bahasa Indonesia di raport saya tak sampai 60, kalau tidak salah cuma 54! Mungkin anda yang baca tulisan ini tak pernah sekalipun mengalami nilai merah untuk mata pelajaran BI, bukan?

Nilai 54 itu saya peroleh akibat konflik personal dengan guru yang bersangkutan. Intinya saya cuma masuk kelas ketika pelajaran sastra saja, di luar itu saya tak pernah masuk kelas. Ini sungguhan, saat pelajaran puisi saya masuk kelas dan dapat nilai 86. Saat kelas korespondensi, pola kalimat dan semacamnya saya tak pernah masuk. Paling ketika ulangan, itu pun dikerjakan ngasal. Jadi dapat nilai 54 saja sudah banyak bonusnya. Sebagai catatan, satu-satunya nilai merah saya di raport pas kelas tiga ya cuma Bahasa Indonesia itu saja.

Dan lihat, saya diterima masuk jurusan Sastra Indonesia. Just how bad the karma a man can get? Jadi itulah asalmuasal tawa getir saya.

Dengan awal seperti itu, masa depan macam apa yang harus saya harapkan? Saya tak punya pilihan dan harus menjalaninya.

 

***

Universitas Indonesia, medio Agustus 2010. Saya akhirnya kumpul dengan teman seangkatan di IKSI, berhadap-hadapan dengan senior-senior yang ngurusin kami selaku mahasiswa baru. Lalu seperti yang saya bayangkan, tak menarik. Tempat seperti ini–IKSI–harus saya singgahi selama empat tahun? Oh, no.

63884_156281807727821_3430930_n.jpg
(kegiatan hhk menyanyikan hymne iksi, via fb Harli Harun)

Kegiatan mahasiswa baru yang bernama HHK itu teramat memuakkan. Jauh lebih seru OKK UI (orientasi tingkat universitas) dan PSA-MABIM FIB UI (orientasi tingkat fakultas). Muak diomeli sepanjang waktu, buku tugas yang disobek karena tak sesuai ketentuan, disumpahi akan bermasalah saat kuliah karena tak menjalani HHK dengan baik, sampai beragam kegiatan tak penting lainnya. Kampret! Jurusan macam apa ini?! Mending saya kuliah musik ajalah.

Satu-satunya penawar dahaga ya karena IKSI punya grup musik bernama Sasina yang sepertinya sih menarik diikuti. Sisanya? Mbelgedesh. Sekelar HHK, saya kira rutinitas sebagai mahasiswa akan bisa dijalanin utuh. Tapi ternyata.. masih ada satu lagi yang bernama Petang Kreatif.

Petang Kreatif menampilkan mahasiswa baru dari 15 jurusan di Fakultas Ilmu Budaya untuk berkompetisi dalam pementasan teater. Antara tertarik dan tidak sih sebenarnya.. Sialnya saya kena cacar air selama tiga minggu.. Jadi sama sekali tak bisa ikut latihan awal, pun kuliah berantakan karena harus susulan Ujian Tengah Semester.

Secara akademik, absen tiga minggu kuliah berakibat fatal.. dan efeknya berimbas pada saya yang jadi lulus lima tahun. Dengan kondisi itu, petang kreatif seolah jadi angan belaka. Mustahil membagi waktu lagi di luar mengejar ketertinggalan akademis saya.

Intrik-intrik kecil pun terjadi antara senior yang nyaris memaksa pada mahasiswa baru, dengan beberapa mahasiswa baru yang menolak ikut. Saya malas menceritakan detailnya, intinya memuakkan.

Pada akhirnya saya tetap ikut Petang Kreatif sebagai tim musik setelah dibujuk teman. Hasilnya juara dua, dan itu berkat perjuangan kolektif seluruh warga IKSI. Lantas setelah ini apa? Tidak, IKSI telah usai buat saya. Kuliah dan karir saya di masa depan lebih penting. Titik

77733_1742544604365_4285779_o.jpg
(after party petang kreatif, via fb Lucky Christianto)

***

Tenang, saya tak benar-benar meninggalkan jurusan saya. Ketika ada lomba olahraga yang butuh perwakilan jurusan saya tetap ikut, pun di lomba-lomba seni. Tapi saya ikut sebagai diri saya, bukan karena rasa patriotisme jurusan atau apalah. Sampai tiba waktunya angkatan saya harus memimpin IKSI dan menyambut mahasiswa baru di tahun 2012.

Saya ditawari jadi kepala bidang seni. Awalnya ingin menolak, tapi karena rasa kesetiakawanan saya terhadapan angkatan (2010) lebih tinggi dibandingkan untuk jurusan, maka saya terima tawaran itu. Semata menghargai teman-teman seangkatan saya saja kok.

Pun aslinya sudah ada yang ditunjuk jadi ketua HHK, jadi according to system and structure we design, ini mah akan gampang-gampang aja. Saya sudah kepikiran untuk magang lho, selepas tahun 2012 ini.

Tapi, peruntungan saya berubah manakala si calon ketua HHK tak bisa lanjut karena ia juga mengetuai Sasina. Dan nama saya mencuat di bursa bakal calon ketua HHK. Kenapa bisa saya?

Jadi begini, mari saya ceritakan tentang saya di awal tahun 2012 ini. Waktu itu saya masih seorang wise man, sedikit bicara, tapi ketika berbicara akan keluar kalimat-kalimat brilian dan edukasional. Hahahaha. Itu berlebihan, sih. Intinya saya obyektif, ada di tengah-tengah–seperti zodiak saya–dan dapat dipercaya. Karena waktu itu masih ada konflik golongan “merah” vs “hijau”, jadi saya sebagai golongan tengah nan apatis, punya bargaining position yang ideal untuk berhadapan dengan semua pihak.

Saya pun terpilih, dan sudah membayangkan neraka yang harus dijalani 8-10 bulan ke depan. Pun saya sudah menghadapi neraka ketika jadi ketua panitia Liga Futsal Fons Vitae (SMA saya) selama dua tahun berturut-turut. Tak ada lagi yang dapat menghancurkan jiwa ini.

Tema yang saya dan teman-teman panitia usung untuk HHK tahun 2012 ini: Semarak. HHK Semarak. Dan ini titik balik dalam hidup saya.

66774_10151124515030373_900804877_n.jpg

 

[bersambung]

—————————————————-

Episode Selanjutnya: Semarak dan Hari-hari (Hancurnya) Kekerabatan

 

June 15, 2017 at 22:52 Leave a comment

Menyoal Tragedi Kehidupan lewat Goblin (Sebuah Review)

gobs1

Goblin Drama

Hampir dua bulan Goblin berlalu. Saya belum tergerak untuk menonton drama Korea lain. Buat saya, Goblin menyisakan ruang kosong yang tak akan bisa diisi oleh drama lain dalam waktu dekat. Bukan berarti saya hendak mendewakan Goblin sebagai drama yang mahasempurna. Lebih dari itu, menonton Goblin bukan sekadar pencarian atas kesempurnaan sinematografi, penulisan naskah, keaktoran, musik-musikan.

Mengapa Goblin?

Drama berlatar sejarah bukanlah genre sinema yang bisa dinikmati banyak orang. Keterasingan atas sejarah kebudayaan tertentu dapat membuat penonton enggan menyaksikan lebih lanjut. Beberapa penonton berhasil bertahan karena faktor keelokan fisik pemeran, misalnya. Beberapa lainnya karena menyukai kesejarahan itu. Dan beberapa lainnya karena coba-coba beberapa episode pertama dan melewati fase filtrasi tersebut.

Goblin memainkan elemen kesejarahannya sebagai suatu yang sifatnya universal dan tidak menjemukan. Warna tragedi langsung ditawarkan dari episode pertama. Selanjutnya, pada tiap flashback, arah ceritanya hanya dipakai untuk memperjelas konteks tragedi dan semakin menguatkannya.

gobz2

Kim Shin (soompi.com)


Polarisasi tragedi dibubuhkan dalam relasi empat karakter yang saling memikul kekelaman.

Kim Shin aka Goblin yang menjalani hidup nyaris seribu tahun akibat kejahilan Dewa.

Eun Tak aka Goblin’s Bride yang lahir akibat ketidaksengajaan Goblin saat menyelamatkan ibunya.

Kim Shun aka Sunny, adik Kim Shin yang kemudian berinkarnasi.

Wang Yeo aka Grim Reaper, raja dari Goryeo yang mati bunuh diri akibat ketidakmampuannya melupakan Kim Shun, istrinya; dan menjalani hukuman sebagai Malaikat Maut.

gobz3

Goblin dan Eun Tak (soompi.com)

gobz4

Sunny dan Malaikat Maut (soompi.com)


Saya asumsikan anda telah menonton drama ini, jadi saya tak perlu mengulas apa-apa yang terjadi secara detail.

Perkara Cinta: Mengingat dan Melupakan

Relasi romantik antara empat tokoh ini ditampilkan secara terbuka. Termasuk alasan-alasan mereka saling mencintai, ataupun melupakan.

Kisah cinta antara Goblin dan Eun Tak dihiasi dengan warna-warna cerah, jenaka, dan dramatis. Perjalanan mereka pada musim gugur di Quebec, pertemuan kembali di gunung salju, sampai perpisahan sementara mereka di ruang kematian.

Seperti halnya ditampilkan di episode ke-16, pada akhirnya Eun Tak kembali bertemu dengan Goblin di kehidupan nomor duanya. Sekaligus membungkus akhir cerita dengan kebahagiaan semu yang disangka happy ending oleh banyak penonton. Karena perlu diingat, Eun Tak maksimal bereinkarnasi sebanyak empat kali; sementara Goblin nampaknya akan terus hidup abadi sampai akhir zaman. Jadi episode 16 hanya penundaan sementara dari duka abadi yang akan dijalani Goblin sepeninggal reinkarnasi keempat Eun Tak.

gobz5

Goblin dan Eun Tak menikah (tvn)


Saya lebih tertarik pada kisah cinta Wang Yeo (Grim Reaper) dengan Sunny (Kim Shun). Keduanya dipertemukan dalam tragedi di kehidupan pertama dan kedua. Wang Yeo membunuh Kim Shun dan dirinya sendiri di kehidupan pertama. Di kehidupan kedua mereka kembali bertemu, tapi secara tragis Grim Reaper membiarkan cinta mereka untuk terpisah lewat sebuah kecupan perpisahan (dan berpura-pura melupakan).

Ada pesan sublim yang menarik dari tragedi Wang Yeo. Disebutkan bahwa hukuman bagi orang yang membunuh diri adalah ingatannya dihapuskan sehingga tak mampu mengingat nama sendiri. Dengan mengacu konteks tingginya bunuh diri di Korea Selatan dan beberapa negara Asia Timur, penyelipan narasi ini menjadi sebuah amanat bagi para penonton.

Kembali ke relasi Wang Yeo dan Kim Shun; keduanya punya kedalaman tragedi yang berbeda dengan Goblin-EunTak. Goblin dan Eun Tak hidup dengan melampaui takdir yang diberikan Dewa. Goblin tak sengaja membuat Eun Tak lahir; Eun Tak mati dengan kehendaknya sendiri. Begitupun kisah cinta yang mereka jalani, boleh dibilang semuanya adalah bagian dari freewill.

gobz6

Malaikat Maut dan Sunny memutuskan berpisah (tvn)


Wang Yeo dan Kim Shun diikat dalam takdir yang rigid alias deterministik. Wang Yeo semestinya tak membunuh Kim Shun, tapi ia terlanjur dihasut oleh Park Jong-Hun. Jadilah ia membunuh Kim Shun. Lalu semenjak saat itu pikirannya kacau dan kesehatannya memburuk lalu membunuh dirinya sendiri dengan racun. Konsekuensi dari bunuh diri, ia dijadikan Malaikat Maut dan harus menjalani tugas menjemput manusia yang mati. Kim Shun lahir sebagai adik Kim Shin yang pada akhirnya dikhianati oleh Wang Yeo, dan harus ikut mati karenanya. Di kehidupan kedua, ia kembali direkatkan pada Kim Shin lewat Eun Tak, untuk kemudian bertemu lagi dengan Wang Yeo dalam sosok Malaikat Maut. Setelah itu? Seringkali ia dihapus ingatannya oleh Malaikat Maut, hingga akhirnya semua ingatannya pulih, namun tetap tak bisa bersama.

Relasi kedua tokoh ini tanpa kehendak bebas. Dan terjadilah oposisi biner atau situasi yang berlawanan ketika dibandingkan dengan relasi Goblin dan Eun Tak.

Penuh Trivia Kecil yang Berkesan

Adakah yang ingat seusai Goblin “mati” di episode ke-13? Pada awal episode 14 ia terjebak dalam sebuah tempat yang begitu sunyi, atau marilah sebut tempat itu Limbo. Nama yang sama yang digunakan pada film Inception ketika Leonardo DiCaprio terjebak selama berpuluh tahun di alam mimpi. Atau konsep yang sama yang terjadi pada Squall Leonhart di Final Fantasy 8, seusai mengalahkan musuh terakhir; ia terjebak di sebuah daratan kosong tanpa ujung.

gobz7

Limbo dengan lanskap tundra untuk Kim Shin (tvn)


Limbo yang ditinggali Goblin adalah sebuah kesunyian dalam kerinduannya pada Eun Tak. Sungguh, puitis sekali yang dinarasikan Gong Yoo saat Goblin terjebak di limbo. Dengan menarik paralelitas dengan limbo-limbo pada serial lain, saya mendapatkan titik cerah atas fungsi limbo. Limbo adalah ruang kontemplasi, penyesalan, pelarian dari realitas yang dijalani.

Lalu terkait narasi, scriptwriting. Kim Eun-Sook berhasil membuat sebuah gaya bercerita yang unik dan saya rasa tak pernah saya temukan dalam drama lainnya. Ia menggabungkan narasi yang puitik-filosofis dengan narasi yang membumi-keseharian bahasanya. Coba bandingkan ketika Goblin berbincang dengan Eun Tak atau tokoh lain, sebagian besar dialog terjalin dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Namun, ketika ia tengah berkontemplasi, narasi yang keluar dari kepalanya akan sangat puitis.

Perhatikan ketika Eun-Tak tengah meyebrang jalan di Quebec dan zebra cross berubah warna. Cermati narasi yang diucapkan Goblin di dalam kepalanya, sungguh indah bukan. Atau ketika ia tengah memproyeksikan Eun-Tak di usia 29 tahun dan tengah makan siang sendiri menunggu kehadiran seorang pria. Lagi-lagi Goblin membuat narasi yang puitis di kepalanya. Begitupun yang terjadi saat Goblin terjebak di Limbo.

Screen Shot 2017-03-12 at 6.22.59 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.23.04 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.23.20 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.24.06 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.24.16 AM

Kemudahan dalam menggabungkan narasi puitis dengan narasi profan ini terbantu juga dengan genre Goblin yang memadukan fantasi-sejarah-romantik sehingga campur baur nuansa dialog mudah dilakukan.

Trivia pada episode 15 cukup mengharukan. Ketika dua pasutri yang terpisah 73 tahun akibat perang Korea bertemu lagi di ruang kematian. Meskipun hanya beberapa menit, tapi bagian ini cukup mengharukan buat saya. Lagi-lagi karena kecerdaaan Eun-Sook dalam menciptakan dialog antara dua tokoh.

Screen Shot 2017-03-12 at 6.16.48 AM

Terpisah karena perang


Terakhir, mari membicarakan masalah tema. Sulit bagi saya melihat tema atau gagasan besar apa yang hendak disampaikan Goblin. Ia tak ubahnya drama Yunani yang menawarkan tragedi sedari awal. Saya yakin gagasan besarnya tak sesederhana “cinta dapat dipisahkan, tapi kelak akan bersatu jua”. Tidak mungkin sesimpel itu.

Apakah gagasannya tentang “kematian dan kehidupan adalah sebuah kemutlakan” ? Rasanya terlalu apriori. Bagaimana jika: memilih nilai yang dirasa tepat?

Maksud saya, Goblin bukan sebuah drama linear yang menampilkan satu jenis moralitas saja. Ada banyak sudut pandang tokoh yang saling bertabrakan dan membuat kita bebas memilih. Ada Deok Hwa aka Dewa, yang menciptakan takdir sebagai sebuah pertanyaan untuk dijawab manusia. Ada Dewi Kelahiran (Red Lady) yang menyayangi ciptaannya tapi tak bisa bersikap obyektif secara konsisten.

gobz

Dua makhluk mahakuasa

Ada Park Jong-Hun yang destruktif tapi mewakili naluri egoistik manusia yang rasional. Ada abdi setia Goblin yang ratusan tahun mengabdi turun temurun, seolah menunjukkan bahwa pengabdian bukan perbudakan tapi tanda kesetiaan. Juga tentunya nilai yang dibawa empat karakter utama kita. Semuanya mewakili idealisme yang berbeda-beda, dan itulah yang membuat Goblin begitu istimewa.

 

March 12, 2017 at 06:32 Leave a comment

Menjelmamu; Cinta yang Ilahiah

sky-lights-space-dark

 

Seperti halnya menerima kehancuran, penciptaan selalu diawali dengan keporakporandaan di dalam semesta sang pemilik. Riak telaga yang teduh dan halus dapat menghanyutkan batin manusia yang terlampau takut pada suara air. Namun, bagi raga yang dikubur dalam keabadian gurun, setetes air mata pun adalah sesejuk-sesejuknya surga.

Membuyar setelah dimangsa cahaya adalah takdir mahakeji yang tidak bisa dihindari. Cahaya tak melahirkan apa-apa selain kepiluan bagi gelap yang selama ini mengintai dalam sunyi. Sewaktu cahaya berpijar dalam sosok matahari, ia memilih api sebagai wujud yang ekstase. Sembah untuk matahari, sembah untuk cahaya. Tapi masih pula gelap mengintai dari ketidakpercayaan batinnya. Ia tidak menyerah dalam moralitas semesta yang hampir semuanya meruntuh karena tak sanggup menahan tawa-tawa liar dari lidah api. Ia setia pada kehampaannya.

Pada perjalanannya, gelap mengosongkan hampanya sehingga mampu diresapnya kolibri berwarna biru tua. Ia bermain dengan laut sebagai kamuflase, dengan perangkap evolusi sebagai Aves. Matahari tak mampu menembus biru yang pekat. Cahaya dibunuhnya dalam kegagalan matahari. Cahaya adalah kebijakan semesta. Sang Maha menciptanya lebih dulu dari gelap. Maka dihantamkan tubuhnya ke dalam garam yang mengeruh.

Mereka bertempur di dalam ombak. Membayangkan siapakah yang lebih dinanti ketika nanti jadi debur di pantai. Apakah dicintai sebagai arus basah yang menyegarkan, atau sebagai asin yang siap dipanen. Tak ada siapa-siapa di pantai. Tak ada yang pernah tahu siapa yang memenangkannya. Gelap menghambur sekali lagi, beterbangan ia sebagai kolibri yang hilang warna. Menukik tajam ke batas horizon.

Cahaya tak pernah mati. Ia diciptakan untuk mengawali segalanya. Jadilah gunungan angin yang dipilihnya jadi rupa. Ia mengacak-acak batas cakrawala sampai semua terputar di dalam pusaran. Gelap menemui kesekaratannya. Dengan mengamini takdir sebagai yang tak pernah menang, ia memusatkan ketiadannya. Masuklah ia ke dalam tawanan hujan. Supaya jatuh ke tanahbumi, meresap dan tak bisa ditemui lagi.

Mereka sekali lagi bertempur di dalam angin dan deru hujan. Pusaran mahabesar memutari bumi belasan kali. Bagi yang satu adalah penundukan, bagi yang satu adalah upaya pelarian. Tapi, di bawah mereka terlanjur rusak semesta yang terbangun sedemikian sempurna. Loloslah gelap ke dalam tiga tetes yang resap ke tanahbumi.

Cahaya adalah yang tak berpudar. Satu-satunya yang tak diciptakan untuk alpa. Terurailah menjadi bibit anggrek ia di tanahbumi. Akarnya memporakporandakan kedalaman hampa. Dijumpanya sekali lagi gelap yang mendekati inti dari tanahbumi. Gelap memilih panas dari dalam tanahbumi sebagai medium pemusnahan dirinya. Sebelum gelap musnah untuk terakhir kali, cahaya menggapainya dengan lembut. Ditariknya naik menyusuri akar, menuju putik-putik bunga yang menantinya.

Di pembuluh nadi batang anggrek, gelap meronta. Menyayat kekokohan batang itu. Cahaya menahannya dalam usaha terakhirnya itu. Gelap terus meronta, dan untuk terakhir kalinya berubah jadi sehelai daun. Terbanglah ia terhantam sisa-sisa angin badai pertempuran mereka. Ia terbang melampaui atmosfer, meninggalkan semesta yang ia ratapi dan menuju kekosongan yang utama: atapsunyi.

Cahaya adalah rasa sakit yang dipuja oleh Gelap.  Ia akan mati di dalam makna manakala Gelap menyudahi kesekaratan imannya. Sama seperti Gelap, ia menjelmakan dirinya untuk terakhir kali. Kali ini sebagai Cinta. Seumur hidupnya, ia tak boleh menjelma cinta. Cinta adalah abu-abu yang nirsempurna. Menjadi abu-abu berarti menyerahkan dirinya dan gelap untuk hidup dalam ruang derita untuk selamanya. Keduanya tak akan bisa merasakan apa-apa lagi setelah disatukan, tak ada lagi yang menjadi lebih dan kurang.

Gelap menghentikan langkahnya. Ditatapnya cahaya yang telah menjema Cinta yang setengah nyata. Selama masih menyibak terang, tak akan sampai wujudnya sempurna. Gelap adalah pelengkapan, menggenapi keabu-abuan absolut yang harus dimiliki Cinta. Ia bisa memilih untuk lenyap seutuhnya manakala menyentuh atapsunyi dan membiarkan cahaya turut pudar dalam makna.

Gelap telah melihat semuanya, mereka berdua berkejaran, bermain dalam wujud visual, dalam keterikatan gelora dan profanitas rupa. Tak pernah sekalipun gelap menjadi sesuatu yang berasal tanpa rupa di semesta ini. Ia tahu betul, cahaya sudah tak lagi ada, cahaya telah mati dengan menjelma setengah cinta. Setengah takdir yang tersisa berada di pundaknya.

Menyatu. Ia memilih untuk tak memusnahkan makna dalam tubuhnya di atapsunyi. Tapi menyatu dengan cahaya, melengkapi Cinta yang mereka jelma. Kemudian konsepsi warna pudar sudah, tak ada cahaya, putih, gelap, hitam, bahkan abu-abu. Keduanya telah mencapai cinta yang tak lagi diikat makna dalam rupa, ataupun hasrat. Keduanya menyatu jadi Ilahi. Yang tak berbahasa, yang tak mengibaratkan dirinya dengan apa-apa, kecuali: Cinta.

December 26, 2016 at 01:05 Leave a comment

Menjelang Malam di Telaga

blue_lake_valley_county_idaho

untuk buku-buku rumput yang terpahat dalam wajah bahasa:

angin menyimpul di lembah tanggung
antara telaga yang menghimpit aroma kabut
dan lelangitan yang bermain gradasi petang

setapakan koral menyublim, dijelmanya tangga;
sisa tuturan kita teresonansi di bawahnya
diselingi bunyi jangkrik, dan burung-burung sepian
adalah bersamamu: kehangatan muncul

pancar matamu tiadalah menyihir alam
namun ramah meski tak bermula dari sisa-sisa pagi
kau berasal dari setitik pijar awan yang terus-menerus membawakan kesederahaan buatku
sampai menjadi hela nafas yang mengalir di penjuru arteriku
tanpa pernah memaksa masuk

dan bulan mendesak singgah di antara cakapan kita
sebagai metafora dalam keengganan intuisiku
sebagai santapan dalam pengorbananmu.

adakah kita dapat saling berbagi?

-Desember, 2016

December 1, 2016 at 18:26 Leave a comment

Older Posts


Visitor

Date of Post

June 2017
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930