Review EP: 90 Horse Power


Hmm udah ampir dua tahun ga pernah nulis lagi di blog ini, tapi berhubung tahun ini nampaknya jadi tahun yang seru buat nulis, jadi gue nulis lagi.

Anyway kali ini gue mao ngereview sebuah EP yang belom lama gue beli, yakni EP dari band 90 Horse Power.

Mungkin flashback dikit tentang band ini dulu deh. 90 Horse Power (90 HP) itu band dari FIB UI, yep, most of us taunya band jebolan FIB ya Payung Teduh, tapi aslinya ada banyak, cuma emang ga dapet eksposure dan ketenaran seperti Payung Teduh aja.

Gue ga gitu inget kapan band ini pertama gue tonton livenya, kalo ga salah akhir 2014-an, tapi mulai ngeh bangetnya ya 2015. Soalnya maklum, ada banyak band di FIB, tapi dikit yang perjalanan karirnya bisa lebih dari setahun. Termasuk pesimisme gue ketika liat 90 HP, apakah ini cuma fun band yang manggung iseng-iseng, atau emang mau konsisten manggung. So far kebukti kalo band ini paling engga memenuhi kualifikasi dasar sebagai musisi panggung: rajin perform.

Kalo impresi pertama ngeliat mereka? Seems out of the blue, dan oh, fine. Dalam artian untuk warna musik atau teknik atau apalah ya gitu, gaada yang spesial. Ah, tapi toh gue juga bukan sarjana musik yang bisa dengan bebas ngejudge musikalitas orang. Intinya, ya, karena nuansa musik yang diusung cenderung simpel dan easy listening, gue anggep fine-fine aja, ga perlu dikritisi lebih.

Tapi, sama halnya dengan impresi kita terhadap manusia, butuh waktu untuk memahami. Impresi pertama ga mutlak merupakan gambaran sesungguhnya. Maka, seiring waktu, impresi gue terhadap band ini berubah.

Jujur, gue termasuk penikmat segala macam genre, dari yang lagu folk dua chord yang simpel, sampe standar jazz yang ga perlu patokan beat dan tangga nada lagi. Tapi gue selalu punya tempat tersendiri untuk musik-musik pop yang cerdas, dan gue rasa 90 HP jatuh ke kategori itu.

Gue butuh waktu untuk sadar bahwa mereka ga ambil pusing untuk ngecover lagu orang, dan dengan bangganya bawain lagu sendiri.

Yep, meskipun manggung di fakultas sendiri, tetep butuh nyali buat bawain lagu sendiri. Kadang ada apresiasi semu, komentar bias karena yang manggung temen sendiri, jadi mau ga mau harus muji.

Dan setelah puluhan kali manggung, awal taun ini mereka ngerilis EP mereka yang judulnya selftitled, 90 Horse Power (kayaknya, sih). Isinya tiga lagu, dan gue akan coba ngereview.

Lagu pertama judulnya Kabar Dari Hujan, durasi 3:04. Gue coba liat liriknya dulu, dan dugaan gue tepat–karena pas live kadang ga clear denger liriknya–kalo semuanya mainan rima. Liriknya sederhana, tapi cukup motivatif. Musiknya entah kenapa ada aroma throwback yang agak pop punk-ish gitu, apalagi kalo tempo lagunya dicepetin 1,5 kali, tambah berasa.

Lagu kedua judulnya Tersenyum Nanti, durasi 4:18. Pas bagian intro lagu dari detik pertama sampe detik 25, ngejebak banget. Pertama-tama gitar masuk pake efek delay ala semi-shoegaze dan dreampop gt. Terus masuk beat drum yang ngingetin gue sama beat drum di intro lagu L’Arc en Ciel yang Fourth Avenua Cafe. Dan gue rasa emang ada sedikit bumbu Japanese Pop-Rock yang mau dimasukin ke lagu ini. Permainan rima masih ada di lagu ini, dan gue asumsikan mereka emang mau bikin ciri khas lirikal dengan format kayak gini. Lagunya ga segembira track pertama, tapi secara diksi jauh lebih berbobot dari lagu pertama.

Dan lagu terakhir, track ketiga dari EP ini, judul lagunya Tak Lepas Pergi, durasi 5:21. Nah, kalo melihat kaidah psikologis dalam penyusunan tracklist sebuah EP (ini sok-sokan doang kok), mestinya lagu terakhir itu yang paling nendang secara komposisi, magnum opus EP itulah kira-kira. Dan kayaknya sih, 90 HP nerapin kaidah ini. Lagu terakhir ini keliatan dikasih muatan lebih, baik pilihan notasi pas reff, ataupun pilihan diksi secara keseluruhan. Yep, kalo misalnya istilah terburuk-terbaik dalam berkesenian itu valid, bolehlah gue kasih titel “The Best Song of This Ep” untuk track nomor tiga ini.

Secara keseluruhan, kerja anak-anak 90 HP untuk bikin EP ini patut banget diapresiasi. Gue ngikutin proses home-recording mereka untuk EP ini via instagram mereka. Ditambah lagi packaging yang baik, ada kaos yang bahan dan desainnya oke, juga personal greetings dari mereka untuk pembeli EP ini.

Semoga, ya, semoga, 90 Horse Power dan EP-nya ini bisa jadi inspirasi buat banyak musisi kampus lainnya untuk pede bawain lagu sendiri, dan bikin rilisan fisik biar uang yang diabisin buat bayar studio ngeband, untuk transportasi, beli efek, dan semua waktu yang kebuang pas latian ga jadi sia-sia.

April 24, 2016 at 18:40 Leave a comment

Problematika Tontonan Anak

Sebelum memulai tulisan ini, saya harus menjelaskan bahwa saya bukan psikolog anak ataupun peneliti cerita anak. Jadi tulisan yang anda baca adalah interpretasi saya atas fenomena belakangan ini, dan saya bukan seorang expert. Paling tidak saya pernah mengalami masa kanak-kanak, sehingga tidak ada salahnya saya coba mencermati kejadian belakangan ini. Saya berusaha seobyektif mungkin dalam menulis ini, tapi kalau pada akhirnya terlihat subyektif di mata anda, tak masalah. Dan belum tentu apa yang saya tulis di sini semua benar adanya.

Saya percaya bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang (seharusnya) menyenangkan, entah itu masa kanak-kanak di tahun 70an, 80an, 90an, sampai 2010an seperti sekarang. Paling tidak di Indonesia seharusnya begitu–terlepas dari segala kisruh politik-ideologi-dansemacamnya pada masa itu–mengingat sudah sedemikian berkembangnya berbagai hiburan untuk anak-anak. Sebagai seorang yang pernah mengalami masa kanak-kanak pada tahun 90an hingga awal 2000an saya menemukan sebuah hal yang menarik. Anak laki-laki yang sezaman dengan saya pastilah ingin menjadi superhero. Generasi kami adalah generasi yang tumbuh dengan sajian superhero. Komik, serial animasi, dan serial lokal, sangat kental dengan elemen superhero (pada dekade sebelumnya juga sama tapi tak semasif generasi kami). Saya rasa tak perlu menyebutkan apa-apa saja superhero itu, tapi yang jelas saya ataupun anda pernah berkhayal menjadi ranger merah, bukan? Anak perempuan generasi tersebut pun saya rasa juga sama, tontonan seperti sailor moon, minky momo, dll adalah warna tersendiri bagi kami.

Saya tak sanggup membayangkan hidup tanpa suguhan seperti itu ketika kecil. Maka dari itu saya bersyukur pernah mengalami masa kanak-kanak yang full of heroes. Tapi bukan berarti anak-anak generasi sekarang tidak memiliki masa kanak-kanak yang inspiratif. Ya, saya mengakui fakta bahwa anak-anak sekarang dibanding generasi 10-15 tahun yang lalu tumbuh dalam lingkungan sosio-kultural yang berbeda. Saya yakin teknologilah yang berperan menghasilkan perbedaan itu. Anak-anak sekarang dengan gadget canggih dan games-gamesnya, sementara kami dengan permainan lapangan dan playstation kuno kami. Alternatif hiburan antara generasi saya dan sekarang jelas jadi berbeda. Ketika tidak punya uang merental PS (ataupun sedang dilarang main PS) kami bisa bermain permainan tradisional, dan patut diingat, serial kartun di sore hari ataupun minggu pagi adalah kewajiban buat kami, tidak bisa dilewatkan. Saya tak tahu bagaimana nasib sekarang, tapi saya jarang menemukan anak-anak bermain permainan tradisional, paling-paling futsal. Lalu tontonan bocah? Opsi tayangannya tak banyak, itupun cenderung diulang-ulang terus.

Sekarang saya ingin memfokuskan tulisan ini pada aspek tontonan karena belakangan isu mengenai tontonan anak sedang banyak diperbincangkan.

Saya akan memulai dengan komentar saya atas artikel-artikel di web ini. (Silakan anda buka dan baca sendiri)

Tepatkah yang dilakukan KPI? Bisajadi ya bisajadi tidak. Perlu ditelaah mengapa KPI mendadak jadi sesensitif ini. Adakah tayangantayangan tersebut benarbenar berpengaruh pada pola prilaku anak? Atau kalau yang dikhwatirkan adalah timbulnya kekerasan akibat rangsangan dari tontonan itu, apakah bisa ditunjukkan data-faktual kejadiannya?

Saya mengapresiasi KPI apabila keputusan mereka didasari atas fakta dari kasus yang benar-benar terjadi, dan tidak hanya asal menghakimi bahwa serial bocah yang menampilkan adegan tarung-darah-kekerasan sudah pasti akan membuat si anak jadi kriminal. Atau bisa dilakukan sampling macam ini. Ambillah contoh generasi saya. Tumbuh dengan puluhan-ratusan serial superhero yang sebagian besar menampilkan–yang mereka sebut–adegan kekerasan. Dari sekian juta anak, seberapa besar pengaruhnya ke tindakan kriminal? Seingat saya kasus kekerasan yang terjadi justru akibat Sm*ckD*wn (tontonan dewasa). Adakah seorang anak yang kemudian jadi pembunuh karena menonton Detective Conan? atau adakah anak yang justru bercita-cita menjadi detektif, kriminolog, peneliti forensik? Mana yang lebih banyak?

Saya sepakat kalau misalkan KPI menginterpretasi tontonan anak sebagai alat pedagogis yang membentuk karakter anak sehingga perlu dijauhkan dari nilai-nilai yang tak baik. Saya setuju bahwa sebagai orang yang lebih dewasa harusnya kita membantu anak-anak tumbuh ke arah yang lebih positif dan baik, serta mengontrol input-input apa saja yang boleh masuk ke mereka. Tapi pertanyaan saya, bagaimana prosesnya sehingga tontonan yang ketika kecil saya jadikan sebagai pembangun motivasi hidup justru dianggap sebagai serial “berbahaya” di masa sekarang? Ya, 10-15 tahun adalah waktu yang panjang, banyak pergeseran nilai yang terjadi. Tapi perlu diingat, ini bukan perkara politik-historis di mana sang pemenang bisa menentukan baik-buruknya suatu masa, ini perkara dunia anak-anak!

Sederhananya saya contohkan lewat permainan anak-anak. Ketika kecil saya biasa bermain bentengan, tak jongkok, polisi maling dan semacamnya. Berdarah, lecet, koreng, keseleo dan luka-luka lainnya pernah saya alami. Lalu kenapa dengan teknologi pengobatan zaman sekarang yang lebih canggih,  anak-anak sekarang seolah diproteksi orangtua dari permainan yang justru ketika kecil dimainkan orangtuanya? Ya, mungkin karena biaya berobat zaman sekarang mahal.

Kembali ke tontonan anak. Kalau melihat kesensitivan censorship di era ini, saya tak akan heran kalau serial ultraman yang melaser musuhnya tiap episode tiba-tiba bisa dicabut hak siarnya. Apalagi serial Samurai X dengan segala pembantaiannya itu. Meskipun, sekali lagi saya yakin, pasti hampir semua anak generasi saya tidak mendadak jadi pembunuh dan kriminal semua akibat menonton serial itu. Kalaupun ada pasti jumlahnya teramatsangat sedikit. Lalu apakah ini berarti generasi anak-anak sekarang adalah generasi ultrasensitif yang ketika melihat adegan kekerasan seketika akan menjadi buas?

Ironisnya adalah seekstrim apapun sensor di tivi, toh ada media internet yang menyediakan segala jenis serial. Anak berusia 8 tahun bisa dengan mudah menonton film sebrutal The Raid 2, atau filmfilm ekstrim lainnya. Meskipun kasus ini hanya dapat terjadi di kota besar dengan akses internet cepat. Sementara censorship yang dilakukan KPI hanya berimbas pada golongan-penduduk di daerah yang minim internet (pelosok) sehingga sarana hiburan satusatunya adalah tivi. Dapat saya simpulkan, censorship tersebut minim efek jika dilihat dalam skala nasional.

Tapi lagi-lagi semua keputusan ada di tangan KPI terkait keefektifan censorship tontonan anakanak jaman sekarang ini. Lagipula saya tak ingin membandingkan dan memujamuja bahwa generasi saya lebih baik dari generasi sekarang. Tidak, samasekali tidak. Setiap generasi mempunya cirikhas dan memorinya masingmasing. Barangkali generasi anakanak sekarang memiliki memori dan cerita yang tidak saya mengerti bagusnya, namun berkesan buat mereka. Lagipula hidup ini dinamis dan akan berubah secara otomatis, bukan?

Saya jadi ingat ketika kecil, ketika itu saya berperan jadi ranger merah, teman saya jadi ranger hijau dan kami purapura berkelahi di kelas, tanpa sengaja saya terlalu kelas memukul dan teman saya menangis. Ayah saya kemudian menasihati saya sambil memberitahu bahwa power ranger hanya bohongbohongan dan tidak boleh memukul orang. Ya, pada akhirnya ayah dan ibu saya tetap membiarkan saya menonton serial-serial superhero itu tapi dengan mendampingi dan menjelaskan iniitu yang tak boleh dilakukan. Saya rasa, banyak anak di generasi saya yang turut dibimbing juga ketika menonton. Lalu dengan segala censorship yang ada sekarang ini, bagaimana peran orangtua dalam membimbing anak? Apa hanya mengandalkan KPI? Bukankah harusnya orangtua turut mendampingi karena itu merupakan kewajiban? Atau jangan-jangan sebenarnya saya salah. Sebenarnya tak ada yang berubah dari anak generasi saya dan generasi sekarang, yang berubah adalah cara orangtua bertanggungjawab mendampingi anak. Tapi justru kita yang seolah menyalahkan si anak, mendiskreditkannya bahwa dia tidak boleh nonton ini, nanti jadi kasar; bahwa dia tak memiliki nalar dan payah. Janganjangan justru kita, orang dewasa, orangtua yang sebenarnya berubah dan mengorbankan anak dengan segala tontonannya, karena tidak mau repot mendampingi mereka. Ah, jangan-jangan iya.

September 30, 2014 at 14:17 Leave a comment

Hunter x Hunter and Kamen Rider Gaim: Random Thought about Humanity

Lima minggu lagi mungkin akan jadi minggu yang menyenangkan sekaligus menyesakkan buat saya. Ya, dua serial favorit saya akan tamat 5 minggu dari sekarang. Hunter X Hunter (sekarang episode 143, tamat 148) dan Kamen Rider Gaim (sekarang 42, tamat 47) akan mengakhiri masa bakti mereka di list serial terbaik taun ini dalam playlist saya (itupun masih bisa ditambah GTO 2014 yang 5 minggu lagi juga tamat). Unik memang, seolah mereka ditakdirkan berakhir berbarengan. Pertanyaannya mungkin adalah, “apa sih yang spesial dari Hunter X Hunter dan Kamen Rider Gaim?”

Tontonan kartun dan serial superhero semacam itu ya untuk anak-anak, bener kan? Kalau mengacu pada stereotip umum barangkali benar. Lagipula untuk apa saya–di usia yang dikategorikan dewasa–masih menonton tontonan semacam itu? Harusnya saya bisa menonton serial yang lebih serius dan dewasa, bukan? Tidak, bukan begitu, sangat tidak adil apabila tontonan yang menurut opini publik dikategorikan sebagai tontonan anak-anak diasumsikan mutlak tak punya nilai lebih untuk golongan usia lain. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut tentang dua serial ini, saya tantang anda untuk menonton kedua serial ini dari awal hingga episode sekarang/sampai tamat. Setelah itu barulah anda nilai apakah dua serial ini murni hanya hiburan kosong yang hanya diperuntukkan untuk anak-anak; atau mereka punya nilai melebihi itu.

***

Hunter X Hunter

image

Saya akan memulai dari Hunter x Hunter (selanjutnya disingkat HxH) lebih dahulu. Hunter x Hunter adalah serial ternama, di Indonesia sempat tayang awal 2000an, popularitasnya tinggi. Saya yakin rata-rata orang kelahiran 80an akhir sampai pertengahan 90an pasti pernah menonton atau setidaknya mengetahui serial ini. Gon, Killua, Hisoka, Genei Ryodan, Kurapika, Leorio pasti nama yang tidak begitu asing. Sekadar pengantar, HxH ditulis oleh mangaka bernama Yoshiro Togashi, yang sebelumnya telah dikenal sebagai penulis manga terkenal YuYu Hakusho (lagi, generasi 90an pasti ingat serial ini). Mengenai isi cerita, saya anjurkan untuk yang buta akan serial HxH untuk menonton/membaca terlebih dahulu. Bagi yang tahu cerita HxH pasti familiar dengan ujian Hunter, Arena Tenchu, Yorkshin City dan Greed Island. Di Indonesia yang pernah ditayangkan adalah animasi HxH versi 1999, melingkupi ujian Hunter sampai kekalahan Kurolo Lucifer (di jepang versi 1999 ditayangkan sampai Greed Island alias GI yang tidak sempat ditayangkan di Indonesia).

Dulu saya mengira HxH selesai sampai kekalah Kuroro, namun setelah membeli dvd GI tahun 2005, saya akhirnya tahu bahwa HxH tamat di GI. Tapi sekitar lima tahun kemudian ketika situs manga online bertebaran, saya kaget ketika mengetahui HxH ternyata belum tamat dan masih berlanjut seusai GI. Yang lebih mengejutkan lagi ketika saya tak menyangka progresi cerita HxH yang awalanya terlihat menegangkan namun lucu dan menghibur berubah drastis setelah GI Arc. Saya perkenalkan Chimera Ant Arc bagi anda yang tidak mengetahui keberlanjutan Hunter x Hunter seusai Greed Island.

image

Sekali lagi, saya anjurkan anda untuk menonton Chimera Ant Arc (selanjutnya disingkat CA) ini via animasi HxH versi 2011, atau mungkin sekalian dengan Greed Island Arc jika Hunter x Hunter yang anda terakhir tonton masih versi TV7 (yang tidak menayangkan GI Arc). Barulah setelah itu uraian dari saya akan mudah anda cerna.

Gara-gara CA inilah HxH masuk dalam list serial favorit saya. Ia menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki One Piece, Naruto, Bleach, Fairy Tail, atau serial sejenis. Ia tidak sekedar menawarkan pertempuran atau kekuatan mahadahsyat saja. CA mampu menjadi pucuk identitas dari Hunter x Hunter. CA menawarkan manusia sebagai gagasan utamanya. Lebih tepatnya: “apakah manusia itu”

Umumnya dalam sebuah serial petualangan semacam ini mudah ditemukan tokoh antagonis dan protagonis. Tapi dalam CA saya rasa sulit segamblang itu menentukan mana si jahat dan mana si baik. Karena pada akhir CA bisajadi konsepsi tentang tokoh baik dan jahat terasa tidak selinear itu. Ini tidak semata-mata manusia (hunter) versus chimera ant, tidak, ini jauh lebih konpleks dari itu.

image

Berikut saya akan jabarkan beberapa momen yang menurut saya membawa elemen filosofis yang cukup kuat.

1. Killua vs Rammot

2. King vs Komugi

3. Netero vs Meruem

4. Gon vs Pitou

5. Mereum Resolve

***

image

Killua vs Rammot barangkali tidak begitu berkesan, karena hanya berlangsung setengah episode. Tapi lewat pertempuran inilah akhirnya kita diberi penjelasan mengapa Killua seperti penakut dan selalu di bawah bayang-bayang Ilumi. Pada pertarungan ini Killua membebaskan dirinya dari manipulasi Ilumi, sehingga bisa bertarung tanpa takut kalah atau mati.

Komugi

Komugi

Mereum vs Komugi mungkin tidak tepat disebut pertempuran. Mereka bertarung Gungi (catur tradisional Jepang), dan Meruem selalu kalah. Lewat sosok Komugi inilah Meruem yang tadinya bengis mulai memahami sosok manusia. Ia yang dulu melihat manusia sebagai makhluk lemah dan rendah perlahan-lahan dibukakan mata hatinya. Momen ini adalah momen yang menggambarkan esensi cerita CA.

Netero vs Meruem.

image

Hunter terkuat melawan monster terkuat. Hasilnya? Netero dikalahkan mutlak oleh Meruem, sebelum Netero menggunakan bom untuk membuat sekarat Meruem. Pertearungan ini bukan sekadar serang menyerang, bunuh membunuh. Ini pertempuran penuh filosofi. Pertempuran ini menunjukkan betapa tercelanya manusia dibanding Chimera Ant. Netero hadir ke pertempuran ini dengan semangat Machiavellian, Meruem datang ke pertempuran dengan pandangan terbuka akan hak-hak pihak yang lemah ala Marthin Luther King. Pada akhirnya si Machiavellian mati secara fisik namun menang secara filosofis.

Gon vs Pitou.

Adult Gon

Lagi, Yoshiro Togashi menggambarkan keterpurukan manusia. Barangkali aforisma ini tepat: “ketika manusia telah kehilangan segalanya maka dia tidak akan ragu untuk mengorbankan dirinya.” Aforisma yang merujuk pada Gon. Gon menunjukkan keputusasaan seorang manusia yang telah kehilangan segalanya. Ia menyesal karena kebodohannya Kaito mati. Ia menyesal kenapa menjadi sangat lemah. Ia menyesal karena apa yang diperjuangkannya ternyata nihil. Maka jadilah ia manusia sejati yang menyerahkan hidupnya demi menuntaskan takdir sebelumnya sebagai manusia yang gagal.

Meruem Resolve.

Meruem dying

Di akhir CA Arc, Meruem dengan fisik monsternya telah menjadi manusia seutuhnya. Ia menggenapi namanya yang berarti “Cahaya Terang”. Ia berhasil menjadi cahaya bagi Komugi yang buta itu. Ia berhasil memperlihatkan bahwa manusialah monster sesungguhnya yang melabeli sesuatu buruk-jahat apabila merugikan kaum manusia. Meruem mengawali hidup sebagai makhluk bengis brutal, dan kini mengakhirinya sebagai makhluk yang tercerahkan. Penuh kepasrahan.

Mungkin momen tersebut hanya beberapa dari momen luar biasa yang terjadi dalam CA Arc. Tapi saya meyakini bahwa momen-momen tersebut adalah momen penting dan krusial yang membentuk pesan tentang “apakah manusia itu”. Jawaban yang diberikan Togashi memang multitafsir, tapi saya yakin, pesan yang ingin disampaikan lewat CA adalah: manusia adalah makhluk superior yang takakan pernah mau menjadi inferior.

Ironisnya, kemenangan Hunter atas Chimera Ant barangkali sepintas mirip kemenangan Goku cs atas Cell/Buu, atau Kenshin atas Shishio, atau Yusuke atas Toguro atau.. Tidak, tidak, ini berbeda. Faktanya memang tak berubah: manusia lagi-lagi menang dan mengalahkan tokoh jahat. Namun manusia sesungguhnya mengalami kekalahan telak, secara moril. Dimulai dengan peradaban kotor NGL, tirani busuk Diego dan East Gorteu, sampai keengganan untuk berkompromi dengan lawan. Togashi berhasil menampilkan kebusukan manusia beserta potensi evolusi manusia yang begitu mengerikan.

Saya kira anda semua setuju? Atau tidak? Tidak masalah. Tapi bagi saya, lewat CA Arc, HxH sungguh meletakkan dirinya sebagai sebuah serial populer dengan premis yang terlihat sederhana namun sesungguhnya begitu kompleks dan mengerikan. Cukuplah alasan itu untuk menjadikan Hunter x Hunter serial favorit saya.

image

***

Kamen Rider Gaim

image

Kamen Rider Gaim terlihat konyol pada awalnya. Buah-buahan dan tema yang nampaknya kekanak-kanakan; sangat kontras apabila dibandingkan seri Kamen Rider Heisei seperti Kuuga, Ryuki, Faiz, Blade. Tapi marilah kita kesampingkan penilaian atas tampilan visual semata, dan mulai mencermati isi cerita serial ini. Sebagai informasi awal, serial ini ditulis oleh Gen Urobuchi alias Urobutcher yang mendalami berbagai bacaan filsafat dan seringkali menggunakan tema nihilistik dalam serial-serial lain yang ia ciptakan. Apakah cukup hanya karena identitas si penulis maka mutlak serial ini punya nilai lebih?  Silakan anda nilai sendiri.

Kamen Rider Gaim bagi saya adalah fusion dari serial Kamen Rider sebelumnya. Elemen Kuuga dan Agito muncul dalam sosok monster helheim beserta kedigjayaannya. Elemen Ryuki muncul dalam pertempuran antar Rider. Elemen Blade muncul dalam sosok tokoh utama yang pada akhirnya menjalani takdir sebagai Overlord. Dan Gaim berhasil mengombinasikan semua elemen itu menjadi sebuah tontonan yang fully-desperate.

Kuuga

RyukiBlade

Sama seperti HxH, Gaim menceritakan betapa rumitnya manusia dan segala tujuan hidupnya. Ini digambarkan dalam kompleksitas para Rider yang punya tujuan, motivasi dan kompleks yang berbeda. Pertanyaan utama dalam serial ini adalah: “manusia ditakdirkan untuk menjadi apa”

***

Jangan bayangkan Kamen Rider Gaim sebagai serial yang linear memberi status antagonis dan protagonis pada karakternya. Sungguh, sampai episode 42 ini, saya tidak tahu siapa protagonis dan antagonis yang sesungguhnya (hampir mirip Ryuki). Apakah Helheim beserta Overlord penghuninya jahat? Tidak, bagi saya. Helheim menyedot bumi bukan karena ingin menguasai bumi atau apa, namun kodrat alamiahnya adalah seperti itu. Lantas dapatkah sesuatu yang alamiah kita katakan jahat? Lantas bagaimana dengan para Kamen Rider yang hendak menghentikan dan menghancurkan Helheim yang jelas-jelas tidak mewakili sifat jahat? Apakah mereka bisa disebut pahlawan, hero, atau semacamnya.

HelheimOverlord

Kasus Helheim ini sangat unik dan buat saya berbeda denga serial Kamen Rider lainnya. Main villain biasanya dipenuhi tendensi untuk menguasai bumi atau semacamnya, namun hal ini tidak muncul pada Helheim. Yang diperangi oleh para Rider adalah kondisi alam. Lantas bagaimana dengan tokoh lain?

Takatora Kureshima (KR Zangetsu)

Zangetsu

berniat menjadi penyelamat dengan menyelamatkan 1/7 penduduk bumi dan mengorbankan 6/7 sisanya dari serbuang Helheim. Apakah ia pahlawan? Tak ada yang tahu, ia terbunuh kenaifannya.

Sid (KR Sigurd)

Sigurd

berniat mendapatkan kekuatan forbidden fruit untuk menguasai dunia, alasan yang cukup untuk menjadikannya antagonis, tapi toh ia mati sebelum melaksanakan niat jahatnya.

Ryouma Sengoku (KR Duke)

Duke

sampai episode 42 belum diketahui motif utamanya. Ia tokoh yang sulit dimasukan ke kategori lawan ataupun kawan.

Mitsuzane Kureshima (KR Ryugen)

Ryugen

ia tokoh yang paling menyedihkan di serial ini. Seorang manusia yang mengidamkan utopia dan memiliki egoisme yang luar biasa. Maka ketika lingkungan sekitarnya mengabaikannya, ia menjadi desktruktif. Pure evil? Tidak, ia tokoh yang mendapat tekanan semenjak kecil, maka ketika ia dewasa dan menjadi seperti sekarang, siapa yang harus disalahkan?

Kaito Kumon (KR Baron)

Baron

counterpart dari tokoh utama kita. Sama-sama berinisial KK (yang satu Kouta Kazuraba) namun sifat mereka berbagai dua kutub magnet Baron adalah sosok anti-hero, tapi bukan villain, entah apakah bisa disebut pahlawan, karena yang ia pedulikan adalah cara untuk menjadi kuat. Yang kuat hidup yang lemah mati.

Kouta Kazuraba (KR Gaim)

Gaim K

tokoh utama yang rasanya mudah disematkan gelar protagonis. Main hero? Pada mulanya begitu, ia memilih untuk mengorbankan dirinya asalkan manusia dapat selamat, ya, senaif itu. Ia telah diberikan berbagai gambaran bahwa manusia hanya akan berakhir seperti Femushin (ras yang dulu diserang helheim juga), akan saling bunuh dan siksa asal dapat bertahan hidup. Tapi ia mengabaikan peringatan itu dan tetap memilih manusia, sementara ia akan berakhir menjadi Overlord. Unconditional Love? Or just plain stupid?

Konflik dalam KR Gaim bukan perkara monster vs manusia. Tapi manusia dengan dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya pihak di luar manusia bukanlah musuh yang berarti, melainkan persepsi dan tujuan hidup manusialah yang jadi masalah.

***

Urobutcher menghidangkan kita semangkuk sup paling lezat namun setelah memakannya kita akan mati. Ia menghidangkan sup itu dalam Kamen Rider Gaim. Bumbu utamanya? Nihilistiknya. Tak ada yang baik ataupun yang buruk. Sungguh ngeri menonton Gaim sebagai orang dewasa, tentu lebih mudah bagi anak kecil untuk menonton Gaim dan menyuruhnya untuk menentukan mana yang baik dan buruk. Saya seperti mendapat flashback dari Ryuki, tentang kealpaan dari baik dan buruk. Hanya ada kebaikan bila ada keburukan, begitupula sebaliknya. Bedanya, Ryuki memberi arah tujuan yang jelas, sementara tidak dalam Gaim. Andakaita menjadi yang terkuat bisajadi menderita karena harus memilih, seperti yang diucapkan Sagara kepada Mai:

“Pada akhirnya ia harus memilih, untuk menyelamatkan manusia namun dengan mengorbankan dirinya menjadi Overlord, atau memilih menjadi Overlord dan membiarkan manusia musnah”

Ingat perumpamaan lokal kita? Bagai makan buah simalakama.

Dan sedari awal, Gaim telah memberikan kita kenihilan itu. Bahwa apapun yang terjadi pada manusia adalah derita. Lantas, bagaimana dengan tujuan hidup manusia. Urobutcher menjawabnya dengan jelas: 0.

***

Itulah penjabaran saya atas dua serial favorit saya ketika ditinjau dari aspek humaniora. Apabila anda tak sependapat, tak masalah, ini murni penafsiran saya atas dua serial tersebut. Tapi saya harap jangan lagi kita membangun opini konyol dan remeh, yang menganggap serial kartun ataupun superhero hanya tontonan bocah. Kalau kita cukup peka, ada banyak aspek penting dan krusial yang bisa digali.

August 23, 2014 at 23:20 Leave a comment

Narasi Berperikebinatangan

Ayolah, hanya karena sebuah narasi maka publik marah? Ya, bisajadi. Saya ingin mengangkat kasus viral tentang seorang pria yang memposting foto kucing mati dengan kepala pecah, lalu memberi narasi bahwa ia membunuh kucing itu dengan tembakan dari senapannya. Tersirat nuansa bangga dari tindakannya itu. Publik marah, menyumpahinya, menghujatnya, bahkan hendak menuntutnya dengan pasal terkait penyiksaan binatang. Benarkah tindakan publik? Salahkah pria itu? Mari kita teliti.

Saya jelas bukan pecinta binatang yang gemar memelihara hewan peliharaan. Bagi saya binatang dan manusia setara adanya, sama-sama menghuni bumi ini, ada lahir ada mati, hanya kita memiliki kecerdasan dan katakanlah akal budi. Menurut versi agama, Tuhan yang memberi perbedaan itu. Menurut Darwinis, progresi evolusi manusia lah yang menyebabkannya berbeda. Apapun itu, mengacu pada kodrat hidupmati, kita sama dengan binatang.

Mana yang lebih menyedihkan?

1. Seorang milyuner berusia 97 tahun yang meninggal di rumah sakit mewah.

2. Seekor anak kucing yang mati ditembak “pemburu”.

Apapun jawabannya tak masalah, itu pilihan anda. Saya ingin berbicara tentang narasi dan kemampuannya mempengaruhi opini publik kebanyakan. Coba bayangkan seandainya begini:

Saya membeli burung parkit di pasar Pramuka. Sampai di rumah, ia saya masukkan kandang. Esoknya ia mati, mungkin gagal beradaptasi dengan kandang barunya. Lalu saya melakukan salah satu dari dua hal ini:

A. Saya pindahkan bangkai parkit ke teras rumah. Saya foto, lalu saya beri caption/narasi yang isinya “hahaha burung parkit ini lemah, saya beri racun sedikit saja ia langsung mati, Siapa lagi ya korban saya selanjutnya?

B. Saya pindahkan bangkai parkit itu ke atas kasur. Saya foto lalu memberi narasi “Feodora, burung parkit kesayanganku ini telah berpulang. Dulu ia kupungut di jalan dengan keadaan tak bisa terbang, kurawat ia selama dua minggu, dan selama dua minggu itu banyak berkat turun kepadaku. Saya percaya bila kita baik terhadap hewan maka akan ada karma baik bagi kita. Selamat jalan Feodora.”

Kalau anda ingin tertawa membaca dua opsi di atas, silakan tertawa. Sederhana bukan? Narasi dapat mempermainkan persepsi anda. Padahal kedua narasi itu hanyalah akalakalan saya, manipulasi saja. Justru saya melihat bahwa dengan adanya kasus si pemburu yang pamer kemampuannya bunuh hewan itu, kita dapat melihat bagaimana masyarakat bereaksi terhadap penggunaan bahasa. Seandainya si pemburu itu menuliskan narasi mirip opsi B di atas maka bisajadi ia akan mendapat banyak simpati. Atau gantilah yang ia bunuh adalah tikus-hama, mungkin reaksi yang timbul di masyarakat akan berbeda. Apa gara-gara faktor anak kucingnya? Bisa jadi. Harusnya ada peneliti yang berani mengkaji pengaruh anak kucing terhadap melankolia bangsa.

Saya tahu anak kucing itu wajahnya “lucu”. Apakah anak ular lucu? Apakah anak kecoak lucu? Tunggu, saya baru ingat, kucing mempunyai nilai mistis yang tinggi; bahkan sejak zaman peradaban Mesir Kuno. Jadi itu yang membuatnya spesial? Hmm, tunggu dulu. Apakah babi, anjing, ayam, kuda, kambing, kura-kura, dan ikan teri derajatnya lebih rendah dari kucing? Sebentar, sebentar, kalau patokan kita adalah pada nilai mistis-agamis bahwa kucing (dan sapi) itu “suci”  maka hewan lain boleh dijadikan makanan? Kalau rujukannya itu, tentu boleh dong? Tapi kalau kita berpatokan pada evolusionis yang melihat hewan dari tingkat evolusi serta kepunahannya, maka harusnya yang tidak boleh kita makan adalah daging hiu dan hewan terancam punah lainnya, kalau kucing harusnya boleh. Lalu kita bagaimana? Jangan-jangan kita tidak berpatokan pada keduanya, cuma karena kucing itu lucu dan ramah pada manusia, maka ia jadi kita agung-agungkan. Hmm saya jadi teringat pada komentar negatif terhadap foto kucing korban si pemburu itu, yakni “anak kucing yang tak bersalah itu dibunuh…” Kalau secara gramatikal ada frasa tak bersalah, maka kalau saya tulis “anak kucing yang bersalah itu dibunuh…” bagaimana? Hahahaha.

Saya sih nulis ini hanya sok tahu saja yak, tapi pasti anda akan merasa saya seperti idiot ketika menulis “anak kucing yang bersalah..” Tapi tunggu dulu, kenapa “anak kucing yang tak bersalah..” malah terdengar berterima? Saya seperti merasa ada logika yang tak beres di sini. Untuk menentukan bersalah dan tak bersalah berarti kita harus memakai standar moral dong? Coba perhatikan.

“Budi terlibat tawuran dan membacok musuh dari sekolah lain”

“Budi berhasil melerai perkelahian antar sekolah”

Dalam sekejap kita akan mengatakan bahwa Budi1 bersalah, Budi2 tidak bersalah. Betul tidak? Ya kalau manusia sih gampang saja menentukan standar moral seperti itu. Bagaimana dengan hewan? Atau spesifiknya kucing?

“Kucing Ana mengeluarkan fecesnya di ruang tamu”

“Kucing Ana mengeluarkan fecesnya di kamar mandi”

 

Barangkali anda akan merasa saya bodoh, kucing kan tidak punya akal budi, ya wajar saja kalau berak sembarangan, kan dia hewan. Nah, saya rasa kalau anda memahami katakata saya ini mungkin anda akan tertawa.

Anggap saja tulisan saya ini permainan bahasa. Anda bebas cap saya tidak berperikebinatangan. Tapi kita tergerak karena suatu foto dan narasi yang kita sendiri tidak megetahui kebenarannya, barangkali semata-mata emosi. Ada satu lagi sih, sebenarnya kalau memang kita mao menganut asas keperibinatangan, maka adillah pada semuanya. Kalau setiap hari kita makan ayan goreng tepung di resto cepat saji Barat atau semacamnya, bagaimana mungkin semudah itu kita iba, tapi lupa apa yang telah kita lakukan.

Salam damai. Tidak ada niat untuk ofensif ataupun tendensius, marilah berakal sehat. (kalau anda emosi membacanya, bayangkan tulisan ini sebagai sebuah materi yang dibawakan standup comedian, mungkin akan lucu)

March 1, 2014 at 15:22 1 comment

Manusia dalam Kemiskinannya

Mana yang anda pilih?

  1. Menjadi karyawan kantoran yang kerja senin-jumat dari pukul 08.00 sampai 17.00 dengan gaji 3,7 juta rupiah sebulan
  2. Menjadi bos yang datang ke kantor cukup hari rabu saja pukul 10.00 sampai 12.00 siang dengan penghasilan 1,3 milyar perbulannya

 

Simpan jawabannya dalam hati. Tak usah berpusing mempermasalahkan delusi dalam pertanyaan saya. Kita lanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.

 

Mana yang anda pilih?

  1. Anda menjadi karyawan dengan gaji seperti pertanyaan di atas, namun ketika mati nanti anda masuk surga
  2. Anda menjadi bos dengan penghasilan seperti pertanyaan di atas, namun ketika mati anda masuk neraka.

 

Simpan jawabannya dalam hati. Tak usah berpusing mempermasalahkan ketololan pertanyaan saya yang seolah sok seperti Sang MahaKuasa.

Saya rasa cukup dua pertanyaan itu yang mengawali perjumpaan anda dengan saya di tulisan ini. Tenang, saya tak punya latar psikologi ataupun ekonomi, saya bahkan tak punya simpulan untuk jawaban dari dua pertanyaan di atas. Saya hanya menulis pertanyaan tersebut sembari mengamati rasionalitas manusia di zaman modern ini (mungkin post-modern). Hampir semua manusia berlomba untuk hidup layak dan lepas dari kemiskinan, kalau disuruh memilih untuk hidup dengan kemiskinan atau kemakmuran, manusia normal pasti ingin hidup dengan segala kemakmuran. Jelas, saya ataupun anda lebih memilih naik taxi premium ketimbang angkot apabila segala sarana transportasi digratiskan. Sederhana saja, siapa sih yang mau hidup susah?

 

Dalam hal ini jelas takaran kita adalah materi/harta; bukan kekayaan yang lain, tapi kekayaan yang bentuknya nyata: harta. Katakanlah dengan harta yang banyak kita bisa memperoleh kenyamanan, dan segala sesuatu di kehidupan rasanya terpenuhi. Maka manusia zaman sekarang begitu tergila-gilanya pada harta, begitu banyak buku tentang cara cepat jadi kaya bertebaran di tokobuku, bahkan seminarseminar mahal dari para motivator sengaja diselenggarakan bagi mereka yang ingin cepat sukses dan kaya. Seumur hidup saya tak pernah melihat seminar berjudul “ Cara Menjadi Miskin”, barangkali menjadi orang miskin adalah hal yang bertentangan dengan akalsehat, karena miskin identik dengan derita, manusia normal mana yang mau hidup menderita?  Kecuali mungkin Tuhan mulai gundah, lalu ia berteriaklantang dari langit:

“Mulai detik ini setiap orang kaya yang meninggal tak akan masuk surga, hanya orang miskin yang boleh masuk surga!”

Nah, bisajadi orang-orang akan berlomba-lomba menjadi miskin agar bisa merasakan kebahagiaan abadi di surga ketimbang merasakan kenikmatan duniawi menjadi kaya namun disiksa selamanya di neraka. Tapi tak jadi jaminan pula, apakah sepadan menderita seumur hidup hanya untuk masuk surga? Barangkali ada manusiamanusia pragmatis yang hidup berkelimpahan sampai umur 80an, lalu mereka segera mendonasikan hartanya, mungkin ke lembaga sosial, atau ke sanaksaudaranya agar ia jatuh miskin lalu bisa masuk surga. Tapi sudahlah, itu hanya pengandaian, bagaimanapun tidak masuk akal rasanya ada orang yang lebih pilih jatuh miskin ketimbang jadi kaya.

Sebelumnya saya menulis, kalau miskin identik dengan derita, ya, identik, namun tidak mutlak ketika menjadi miskin sudah pasti menderita. Penderitaan adalah konsep batiniah, sama dnegan antonimnya, kebahagiaan. Kalau kita bisa memanipulasi otak kita sedemikian rupa untuk mengubah hal yang sebenarnya merupakan “derita” menjadi “bahagia”, tentu miskinkaya bukan lagi masalah derita atau bahagia. Saya rasa banyak motivator yang bercerita bagaimana dulu ketika mereka miskin namun sekarang menjadi kaya setelah melewati proses yang penuh derita. Ya, kalau mereka tidak menjadi kaya dan tetap miskin, siapa yang mau mendengar celoteh seharga ratusan juta mereka itu. Tentu manusia merasakan bahwa ketika mereka dalam kondisi miskin dan menderita lahmereka akan berhasrat untuk bahagia dan berkecukupan-kaya. Salah satu pembangun harapan mereka adalah buaian storytelling para motivator dengan fall and rise-nya. Percayalah ketika kita masih menganggap dirikita miskin, buaian mereka adalah suatu cahaya pengharapan bagi kita.

Apakah saya terdengar memojokkan para motivator? Terlalu sentimentalis? Barangkali ya, tapi percayalah, apakah anda mau dengan cerita dari seorang motivator yang dulunya kaya tapi sekarang jatuh miskin? Tentu tidak bukan. Kekayaan akan selalu jadi target, apalagi di masa sekarang, dimana kemewahan-kenyamanan hanya bisa diperoleh dengan mengeluarkan uang. Bagaimana caranya anda bisa baca tulisan saya ini kalau tidak mengalokasikan uang anda untuk membeli perangkat browsing atau kuota internet? Tenang saja, saya tidak hendak mempermasalahkan komersialisasi aspek kehidupan manusia yang kemudian kita kenal dengan kapitalisme, tidak. Tapi saya justru bertanyatanya lagi, apakah di masa lampau, para penggagas sistem uang telah mempertimbangkan bahwa ribuan tahun kemudian dunia akan sekompleks ini? Kalau iya, berarti mereka sungguh berengsek, telah membiarkan keturunannya di bumi ini menjadi kacaubalau begini; kalau mereka tidak tahu dan kini melihat bumi dari alam sana, mungkinkah mereka berharap waktu terulang kembali agar jangan sampai sistem uang diaplikasikan di bumi ini? Entahlah.

Lebih jauh lagi ada hal yang menganggu saya, tujuan menjadi kaya dalam kehidupan ini. Misalnya begini, umur manusia paling mencapai 67-75 tahun, seandainya dari kecil lahir di keluarga kaya dan sampai mati tetap kaya, maka selama itulah kita bisa merasakan manfaat dari kekayaan kita. Kalau baru bisa kaya ketika umur 50an, berarti sekitar 20 tahun merasakan kaya. Apabila sempat kaya pada usia 30an tapi jatuh miskin usia 60an, maka 30 tahun kekayaan itu kita rasakan. Kesamaan dari semua pengandaian ini? Kekayaan hanyalah kesementaraan sementara kematian adalah mutlak. Lalu dalam kesementaraan hidup ini apa guna kekayaan tersebut, hmm barangkali “aku ingin menikmati hidupku yang singkat ini dengan sepuaspuasnya,” lalu setelah itu “aku tak ingin anak cucuku hidup miskin dan menderita.” Selalu seperti itu, kecuali ada seorang kaya yang beranggapan bahwa setelah mati segala harta itu akan berguna baginya, dan ia meminta keluarganya untuk menguburnya bersama seluruh hartanya. Tapi saya rasa tak ada manusia yang bangkit dari mati lalu berkata “sial, kurs rupiah di alam kematian sana nilainya rendah, kita harus kumpulkan uang lebih banyak lagi”. Dalam artian, bagi si orangmati tersebut, harta yang ia kumpulkan di dunia tak ada manfaatnya lagi bagi dirinya. Bagaimana jika berasumsi seperti ini, hidup manusia di dunia ini adalah sementara, ketika ia mati maka ia abadi di alam  kematian, saya rasa logis bukan? Lalu bukankah dengan begitu akan lebih bermanfaat jika kita memupuk kekayaan yang bisa kita nikmati di alam kematian sana? Bukankah itu terdengar lebih rasional dari segi ekonomi, kekayaan abadi ketimbang yang temporer? Masalahnya, saya rasa kita masih belum bisa merumuskan kekayaan macam apa yang dapat kita nikmati di alam kematian. Ada yang bilang amal dan pahala, bisajadi, tapi takarannya bagaimana? Kembali ke pembahasan di awal, misalnya amal dan pahala adalah kekayaan sejati di alam kematian, maka saya akan tetap hidup sebagai orang kaya di dunia, ketika memasuki usia senja atau sudah terdeteksi kena penyakit parah barulah saya secara pragmatis mengamalkan harta saya bagi kaum menderita lalu beroda-beribadah secara rajin, sesederhana itu bukan? Tidak, bagian ini saya hanya bercanda, silakan tentukan sendiri apa yang menurut anda merupakan kekayaan yang bisa kita bawa ke alam kematian.

Lagi-lagi ada yang mengganjal saya, ketika kita miskin tentu kita tahu apa yang harus kita lakukan, apa yang hendak kita tuju. Ketika kita sudah sangat berkelimpahan, apa yang perlu kita lakukan? Anggaplah kita sudah muak memperkaya diri lagi, lantas apa? Palingpaling menikmati hidup, beli iniitu sampai nantinya mati. Saya jadi ingat obrolan dengan orangtua saya, “warisan terbaik bukanlah harta, melainkan ilmu. Harta bisa dihabiskan dalam sekejap, tapi ilmu melekat abadi.” Saya rasa katakata ini ada benarnya, terkait dengan kesementaraan di dunia. Seandainya saya berilmu, saya bisa membagikannya ke seluruh manusia di dunia tanpa takut jatuh miskin dan menderita, bagi mereka pun ilmu itu bisa dibagikan lagi ke keturunannya dan orang lain; sementara kalau saya kayaraya lalu saya bagikan ke orangorang miskin danmenderita di dunia pun, palingpaling itu tidak akan membuat mereka kaya, hanya memberi nafas sejenak untuk sehari. Jadi saya rasa, hanya ilmu pengetahuanlah yang memberi ruangan bagi kita untuk merasa bebas dari cap miskin dan kaya, yang ada hanya kegembiraan ketika mendapat pengetahuan baru (meskipun kadang ada kengerian dan keputusasaan juga)🙂

February 22, 2014 at 15:13 1 comment

Review Film Comic 8: A Comedy Masterpiece

Saya lupa kapan terakhir kali saya pergi ke bioskop untuk menonton film lokal. Beruntungnya, rasa penasaran saya terhadap sebuah film berjudul Comic 8 memancing saya untuk nonton film lokal lagi. Daya tarik filmnya? Tentu embel-embel “first action-comedy movie” di Indonesia. Dan setelah saya menontonnya, embel-embel itu kurang lengkap, harusnya: “first psychological-action-comedy movie”, ya psychological, mengapa? Mari simak ulasan saya.

Image

***

Sejujurnya saya tak begitu menggemari film komedi, pengecualian mungkin terhadap Hangover series yang membalut komedi dengan proses deduksi-kronologisnya. Paling tidak, saya mengharapkan ada “twist” atau sesuatu yang “mindblown” ketimbang plot yang lurus-lurus saja, termasuk untuk Comic 8 ini. Bagian berikutnya akan memuat banyak spoiler, jadi kalau anda mau merasakan langsung sensasi film ini sambil menonton langsung, hentikanlah sampai di sini.

Baiklah. Film Comic 8 diawali dengan perampokan Bank INI oleh tiga kelompok perampok. The Amateurs, The Freaks, dan The Gangsters, mereka merupakan kelompok yang berbeda dengan tujuan perampokan yang berbeda. Film lalu menampilkan flashback masing-masing kelompok, latar belakang mereka serta alasan mereka merampok. Meskipun mereka sempat bersitegang satu sama lain namun akhirnya mereka didamaikan oleh seorang sandera, Indro Warkop. Mereka kemudian melebur dana menamai diri mereka DPR (Dewan Perwakilan Rampok). Polisi yang mengepung gedung meminta mereka melepas sandera, namun DPR meminta syaratsyarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Pada bagian inilah diketahui kalau kedelapan perampok sebenarnya merupakan pasien rumah sakit jiwa, karena kedelapannya mengenakan gelang yang sama. Kemudian muncullah dokter Panji yang mencoba membujuk DPR untuk berhenti namun diabaikan. Kemudian muncul flashback dokter Panji, dan adegan flashback ini mengingatkan saya pada adegan film Shutter Island di mercusuar. Kedelapan perampok ini ternyata merupakan pasien yang sengaja dibrainwash menjadi perampok oleh dokter Panji. Kemudian mereka dipecah menjadi tiga kelompok dan diperintah untuk merampok Bank INI, dan flashback masing-masing kelompok sebelumnya merupakan delusi semata yang terjadi di rumahsakitjiwa (ya, mirip ShutterIsland dan PintuTerlarang).

Image

Singkat cerita mereka berhasil melarikan diri dengan membawa uang, dan masuk ke truk dokter Panji, hingga kemudian mereka disetrum sampai pingsan oleh Panji. Pada adegan berikutnya terlihat Panji mengantar kedelapan orang itu ke kantor polisi untuk diproses. Namun ternyata delapan orang itu adalah sosok yang berbeda dan ditemukan barangbukti (video) bahwa Panji-lah otak di balik perampokan ini, ia ditahan, lalu mobil yang dipakai anak buah Panji membawa uang berhasil dilacak dan semua komplotan penjahat yang mempergunakan pasien rsj untuk merampok kemudian ditahan. Di akhir cerita, bagian flashback bertitel The Truth dijelaskan bahwa kedelapan orang itu bukanlah pasien rsj sungguhan, mereka adalah semacam tentara (The Expendables?) yang bekerja di bawah perintah Indro Warkop yang ternyata merupakan bos mereka. Indro menugaskan mereka untuk menyamar jadi pasien rsj guna membongkar kedok kejahatan di rsj. Mereka dihipnotis oleh Indro hingga menjadi kurang waras dan dimasukkan ke rsj.

Tenang, saya hanya mencantumkan bagian-bagian penting saja tulisan di atas, kecerdasan lawakan dan lain-lain lebih baik anda nikmati sendiri :))

Saya menyukai film ini, bukan hanya karena kecerdasan lawaknya, ataupun keindahan sinematografinya, terlebih karena mindblowing element yang diterapkan di film ini. Double Twist barangkali istilah yang dapat saya pakai untuk menjelaskan mindblown element di film ini. Pertama ketika terjadi flashback dokter Panji, bagian ini sungguhsungguh mengingatkan saya pada ShutterIsland dan Pintu Terlarang dimana semua hanya imajinasi saja. Namun ketika saya cek, bagian flashback ini terjadi di bagian 4/7 cerita, dan rasanya terlalu cepat munculnya (mengingat dua film yang saya sebut itu menempatkan penjelasan tentang delusi di akhir film). Saya khawatir cerita akan berjalan awkward karena premis utama film sudah diketahui, maka cerita nampakanya akan berakhir begitu saja, entah para penjahat dan dokter berhasil kabur atau justru ditangkap. Kalau benar begitu maka film ini gagal buat saya. Namun sungguh cerdas, sutradara maupun writer film ini, menambahkan satu twist lagi di akhir yang membuat saya kembali berdecak kagum. Meskipun twist kedua ini polanya mirip dengan Modus Anomali (lagilagi Joko Anwar) ya ternyata mereka bukan orang gila, tapi semacam pasukan khusus (The Expendables? Again) yang punya misi membongkar kejahatan di rsj sehingga terpaksa dihipnotis agar gila.

Image

Image

Analoginya sih seperti permen sugus: bungkus terluar itu ShutterIsland+PintuTerlarang, bungkus putih di dalam itu Modus Anomali dan permennya adalah The Expendables. Tidak, saya tidak sedang memiripmiripkan atau menuduh konsepnya cuma tambeltambelan, tidak, bukan itu. Ini hanya sebagai gambaran, supaya paling tidak penonton Indonesia bisa menyadari bahwa sutradara Indonesia punya talenta luar biasa untuk membuat pola film yang tidak biasa dan kompleks. Sekalipun film ini misalnya dijadikan serius dan tidak memakai unsur komedi, saya rasa film ini tetap akan jadi film yang luar biasa. Bagi penikmat film sejenis saya, kekuatan plot adalah yang utama. Seburuk apapun artisnya, apabila plot ataupun storylinenya bagus akan selalu punya nilai lebih buat saya.

Image

Image

Kekurangan? Plothole? Tentu ada. Berikut.

1. Dalam minivan polisi, terlihat bahwa gerak-gerik DPR di dalam bank terekam di semacam cctv sehingga bisa dipantau dari dalam van itu. Permasalahannya adalah ketika DPR ingin kabur, mereka memasang atribut+pakaian mereka pada sandera, alasannya agar polisi tidak mengetahui. Kemungkinannya adalah DPR tidak mengetahui kalau gerakgerik mereka di dalam sebenarnya diketahui polisi.

2. Adegan tembak-tembakan di sewer gedung diakhiri dengan ledakan bom, yang sepertinya menewaskan para polisi. Adegan ini ditampilkan lagi dalam flashback The Truth, namun karena terlalu cepat yang saya tangkap para polisi ini hanya pura-pura mati. Tidak begitu jelas.

3. Berlanjut dari poin kedua, yakni adegan di kantor polisi ketika Panji hendak ditahan, perampok yang dibawanya terlihat bukan anggota Comic 8/DPR, lalu kalau disimak dari flashback The Truth, nampaknya kedelapan orang itu adalah polisi yang sepertinya pura-pura mati. Lalu kenapa polisi yang jelas-jelas tahu identitas DPR asli seperti tidak kaget ketika menyadari delapan orang itu bukanlah DPR asli?

4. Mungkin bukan plothole, tapi saya curiga, kolonel Joe dan Bos Indro sebenarnya saling mengenal dan mengetahui kalau proses perampokan hanya simulasi belaka. Entah, hanya perasaan saya saja sih, tapi barangkali ada yang bisa menemukan feat di film yang menunjukkan kalau mereka saling kenal.

Nah itu dia mungkin beberapa plotholenya (mungkin ada yang bisa nambahin). Secara keseluruhan sih, ini film pertama yang bisa bikin saya ngakak dari awal sampe habis film. Entah bagaimana penggarapn scriptnya sampe bisa sekocak itu. Poin plusnya lagi adalah acting para comic yang sangat total namun tetep natural, seibarat menonton mereka ketika open mic, ekspresinya tidak kaku. Kalau ditanya siapa karakter favorit di film ini, saya akan jawab: Babe Chabita The Love Machine, sama Mongol the Mungil hahaha. Gesture dan role mereka di film ini benar-benar dimainkan secara total. So that is :))

Image

Image

Mungkin sekian saja review dari saya, kalau ada ketidaklengkapan informasi, hmmm, percayalah saya baru sekali nonton, jadi barangkali ada yang terlewat hehehe. Silahkan ditambahkan kalau ada yang kurang.

January 31, 2014 at 15:48 1 comment

Kebaikan itu..

Kita harus berbuat baik terhadap sesama

Kebaikan itu relatif

Kita bertemu pada dua premis umum yang samasama mengungkit “kebaikan”. Premis pertama biasa dijumpai pada pelajaran Kewarganegaraan dan Agama tingkat SD. Premis kedua tidak diajarkan, namun dipelajari sendiri, biasanya pada tingkat mahasiswa.

 

Kalau bisa dicerna, kedua premis itu kontradiktif. Berbuat baik adalah kewajiban, namun kebaikan itu sendiri indefinitif. Katakanlah tradisi valentine. Berbagi cinta kasih, merayakan cinta bersama orang-orang tersayang bagi sebagian penduduk negara maju adalah bentuk sebuah “kebaikan” tapi di beberapa negara lain, tradisi valentine dianggap “menyesatkan”. Kebaikan di satu tempat, bisa berarti keburukan di tempat lain. Jika diukur dari sejarah panjang peradaban manusia, hal ini adalah sebuah kewajaran.

Saat kecil (SD) diajari untuk berbuat kebaikan karena sebagai seorang anakkecil, makna kebaikan tidaklah sedemikian luas. Apa yang tertulis di kitab, diajari guru orang tua, seorang anak memahami kebaikan dengan cara itu. Ketika dewasa, kebaikan ternyata tidak sesederhana yang diajarkan saat kecil. Dua premis tadi pun menjadi masuk akal untuk dipahami.

Yang ingin saya cermati adalah apa yang melandasi seseorang melakukan sebuah tindak “kebaikan”. Lalu saya menemukan kata “surga” dalam penggalian atas makna kebaikan.

Surga-kebaikan
Neraka-kejahatan

Sedari kecil dua keterikatan ini pasti diajari oleh banyak orang. Pemuka agama, orangtua, dsb. Terlebih lagi landasannya adalah baitbait suci dari kitab kepercayaan, tambah mutlaklah keterikatan surga-kebaikan, neraka-kejahatan. Surga neraka pun tak melulu diidentikan dengan tempat roh manusia berada setelah mati, surga neraka bisa berupa situasi/keadaan (nyaman-ketidaknyamanan). Tapi konsep surga neraka sebagai sebuah situasi/keadaan terlalu kompleks untuk dijabarkan, karena situasi semacam itu terlalu dipengaruhi unsur psikologis bahkan genetik-biologis (enzimenzim dalam tubuh).

Sebagai sebuah tempat, seringkali manusia diajari bahwa yang berbuat baiklah yang dapat masuk surga, yang berbuat jahat semasa hidup akan masuk neraka. Premis yang sederhana sekaligus juga meresahkan di era modern (atau mungkin post-modern menurut filsuffilsuf) ini. Dalam menentukan baik atau jahat/buruk tentulah perlu standarisasi, namun merujuk kembali pada “kebaikan itu relatif” (cobalah gali contoh yang mirip dengan yang saya sampaikan di atas untuk memastikan bahwa premis ini valid), tidak semua kebaikan yang dilakukan berarti kebaikan di mata orang lain. Dalam kitabkitab kepercayaan, banyak tertulis perihal kebaikankebaikan yang wajib dilakukan. Persoalannya, dilema seringkali terjadi ketika kebaikan dalam kitab terbentur dengan realitas era modern (saya tak layak beri contoh, cobalah cari ayat/bait dr kitab anda sendiri yang realisasinya mustahil dilakukan pada masa sekarang). Standarisasi kebaikan dari kitab bisasaja terbentur realita bukan?

Lantas, jika bicara tentang kebaikan, apakah kebaikan yang kita semua lakukan berlandaskan surga saja? Tentu masuk akal, kita berbuat baik karena kita takut masuk neraka. Namun, mungkinkah kebaikan itu dilakukan tanpa memperdulikan konsekuensi surga-neraka? Maksud saya adalah kebaikan yang murni dilandasi tanpa latar surga-neraka, kebaikan yang dilandasi karena identitas kita sebagai sesama makhluk yang membutuhkan. Contoh: menjadi sukarelawan banjir atas dasar kemanusiaan, tanpa peduli apakah hal itu mengakibatkan masuk surga atau neraka.
Paham?

Ahmad Dhani ft Chrisye – Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada (lagu)

A.A. Navis – Rubuhnya Surau Kami (cerpen)

Kalau anda pusing membaca tulisan ini, cobalah mendengar dan membaca dua karya seni tersebut, sebagai bantuan untuk memahami.

Saya tidak membenarkan atau menyalahkan dua karya tersebut. Bagaimanapun juga keduanya hanya karya seni, tak sungguh menggambarkan kelayakan seorang masuk surga atau neraka.

Tapi andaikan surga neraka tak pernah ada, atau katakanlah, gagasan mengenai surga neraka tak pernah ada, bagaimana nasib peradaban manusia? Hancur tak “bermoral” kah? Saya tak tahu banyak, tapi beberapa orang sering mencontohkan negri Jepang dan penduduknya yang kesadaran relijiusnya berbeda dengan negara Asia kebanyakan. Barangkali mereka tidak begitu mempedulikan substansi surga neraka namun tetap mampu menjalani kehidupan dengan wajar.

Sementara Rubuhnya Surau Kami menggarisbawahi tentang kebaikan yang dilandasi imingiming surga. Hasilnya justru tokoh-tokoh itu dimasukkan Tuhan ke neraka. Mungkin cerpen ini terlalu keras menghakimi, namun ini hanyalah sebuah karya, tidak perlu diperdebatkan dengan kitabkitab kepercayaan. Anggap saja inti yang ingin disampaikan Navis adalah, “berbuat baiklah, bukan karena engkau menggilai nikmat surga, tapi karena kepedulianmu pada sekitarmu.”

Nah, begitu saja tulisan ini. Saya tidak bermaksud ofensif. Tulisan ini tidak pakai landasan layaknya karya ilmiah. Ini cuma pengamatan saya, kalau anda tergugah maupun tidak itu hak anda. Saya ini masih bodoh dan terus belajar, dengan mengamati apa yang ada di sekitaran. Jangan terburuburu tersinggung lalu menghakimi sebelum memahaminya. Salam.

(Ah, dan mulai saat ini kalau bisa jangan melabeli orang dengan -isme atas karyanya. Toh, kita masih samasama belajar memahami kehidupan.

 

September 1, 2013 at 11:08 Leave a comment

Older Posts


Visitor

Date of Post

August 2016
M T W T F S S
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.