Menyoal Tragedi Kehidupan lewat Goblin (Sebuah Review)

gobs1

Goblin Drama

Hampir dua bulan Goblin berlalu. Saya belum tergerak untuk menonton drama Korea lain. Buat saya, Goblin menyisakan ruang kosong yang tak akan bisa diisi oleh drama lain dalam waktu dekat. Bukan berarti saya hendak mendewakan Goblin sebagai drama yang mahasempurna. Lebih dari itu, menonton Goblin bukan sekadar pencarian atas kesempurnaan sinematografi, penulisan naskah, keaktoran, musik-musikan.

Mengapa Goblin?

Drama berlatar sejarah bukanlah genre sinema yang bisa dinikmati banyak orang. Keterasingan atas sejarah kebudayaan tertentu dapat membuat penonton enggan menyaksikan lebih lanjut. Beberapa penonton berhasil bertahan karena faktor keelokan fisik pemeran, misalnya. Beberapa lainnya karena menyukai kesejarahan itu. Dan beberapa lainnya karena coba-coba beberapa episode pertama dan melewati fase filtrasi tersebut.

Goblin memainkan elemen kesejarahannya sebagai suatu yang sifatnya universal dan tidak menjemukan. Warna tragedi langsung ditawarkan dari episode pertama. Selanjutnya, pada tiap flashback, arah ceritanya hanya dipakai untuk memperjelas konteks tragedi dan semakin menguatkannya.

gobz2

Kim Shin (soompi.com)


Polarisasi tragedi dibubuhkan dalam relasi empat karakter yang saling memikul kekelaman.

Kim Shin aka Goblin yang menjalani hidup nyaris seribu tahun akibat kejahilan Dewa.

Eun Tak aka Goblin’s Bride yang lahir akibat ketidaksengajaan Goblin saat menyelamatkan ibunya.

Kim Shun aka Sunny, adik Kim Shin yang kemudian berinkarnasi.

Wang Yeo aka Grim Reaper, raja dari Goryeo yang mati bunuh diri akibat ketidakmampuannya melupakan Kim Shun, istrinya; dan menjalani hukuman sebagai Malaikat Maut.

gobz3

Goblin dan Eun Tak (soompi.com)

gobz4

Sunny dan Malaikat Maut (soompi.com)


Saya asumsikan anda telah menonton drama ini, jadi saya tak perlu mengulas apa-apa yang terjadi secara detail.

Perkara Cinta: Mengingat dan Melupakan

Relasi romantik antara empat tokoh ini ditampilkan secara terbuka. Termasuk alasan-alasan mereka saling mencintai, ataupun melupakan.

Kisah cinta antara Goblin dan Eun Tak dihiasi dengan warna-warna cerah, jenaka, dan dramatis. Perjalanan mereka pada musim gugur di Quebec, pertemuan kembali di gunung salju, sampai perpisahan sementara mereka di ruang kematian.

Seperti halnya ditampilkan di episode ke-16, pada akhirnya Eun Tak kembali bertemu dengan Goblin di kehidupan nomor duanya. Sekaligus membungkus akhir cerita dengan kebahagiaan semu yang disangka happy ending oleh banyak penonton. Karena perlu diingat, Eun Tak maksimal bereinkarnasi sebanyak empat kali; sementara Goblin nampaknya akan terus hidup abadi sampai akhir zaman. Jadi episode 16 hanya penundaan sementara dari duka abadi yang akan dijalani Goblin sepeninggal reinkarnasi keempat Eun Tak.

gobz5

Goblin dan Eun Tak menikah (tvn)


Saya lebih tertarik pada kisah cinta Wang Yeo (Grim Reaper) dengan Sunny (Kim Shun). Keduanya dipertemukan dalam tragedi di kehidupan pertama dan kedua. Wang Yeo membunuh Kim Shun dan dirinya sendiri di kehidupan pertama. Di kehidupan kedua mereka kembali bertemu, tapi secara tragis Grim Reaper membiarkan cinta mereka untuk terpisah lewat sebuah kecupan perpisahan (dan berpura-pura melupakan).

Ada pesan sublim yang menarik dari tragedi Wang Yeo. Disebutkan bahwa hukuman bagi orang yang membunuh diri adalah ingatannya dihapuskan sehingga tak mampu mengingat nama sendiri. Dengan mengacu konteks tingginya bunuh diri di Korea Selatan dan beberapa negara Asia Timur, penyelipan narasi ini menjadi sebuah amanat bagi para penonton.

Kembali ke relasi Wang Yeo dan Kim Shun; keduanya punya kedalaman tragedi yang berbeda dengan Goblin-EunTak. Goblin dan Eun Tak hidup dengan melampaui takdir yang diberikan Dewa. Goblin tak sengaja membuat Eun Tak lahir; Eun Tak mati dengan kehendaknya sendiri. Begitupun kisah cinta yang mereka jalani, boleh dibilang semuanya adalah bagian dari freewill.

gobz6

Malaikat Maut dan Sunny memutuskan berpisah (tvn)


Wang Yeo dan Kim Shun diikat dalam takdir yang rigid alias deterministik. Wang Yeo semestinya tak membunuh Kim Shun, tapi ia terlanjur dihasut oleh Park Jong-Hun. Jadilah ia membunuh Kim Shun. Lalu semenjak saat itu pikirannya kacau dan kesehatannya memburuk lalu membunuh dirinya sendiri dengan racun. Konsekuensi dari bunuh diri, ia dijadikan Malaikat Maut dan harus menjalani tugas menjemput manusia yang mati. Kim Shun lahir sebagai adik Kim Shin yang pada akhirnya dikhianati oleh Wang Yeo, dan harus ikut mati karenanya. Di kehidupan kedua, ia kembali direkatkan pada Kim Shin lewat Eun Tak, untuk kemudian bertemu lagi dengan Wang Yeo dalam sosok Malaikat Maut. Setelah itu? Seringkali ia dihapus ingatannya oleh Malaikat Maut, hingga akhirnya semua ingatannya pulih, namun tetap tak bisa bersama.

Relasi kedua tokoh ini tanpa kehendak bebas. Dan terjadilah oposisi biner atau situasi yang berlawanan ketika dibandingkan dengan relasi Goblin dan Eun Tak.

Penuh Trivia Kecil yang Berkesan

Adakah yang ingat seusai Goblin “mati” di episode ke-13? Pada awal episode 14 ia terjebak dalam sebuah tempat yang begitu sunyi, atau marilah sebut tempat itu Limbo. Nama yang sama yang digunakan pada film Inception ketika Leonardo DiCaprio terjebak selama berpuluh tahun di alam mimpi. Atau konsep yang sama yang terjadi pada Squall Leonhart di Final Fantasy 8, seusai mengalahkan musuh terakhir; ia terjebak di sebuah daratan kosong tanpa ujung.

gobz7

Limbo dengan lanskap tundra untuk Kim Shin (tvn)


Limbo yang ditinggali Goblin adalah sebuah kesunyian dalam kerinduannya pada Eun Tak. Sungguh, puitis sekali yang dinarasikan Gong Yoo saat Goblin terjebak di limbo. Dengan menarik paralelitas dengan limbo-limbo pada serial lain, saya mendapatkan titik cerah atas fungsi limbo. Limbo adalah ruang kontemplasi, penyesalan, pelarian dari realitas yang dijalani.

Lalu terkait narasi, scriptwriting. Kim Eun-Sook berhasil membuat sebuah gaya bercerita yang unik dan saya rasa tak pernah saya temukan dalam drama lainnya. Ia menggabungkan narasi yang puitik-filosofis dengan narasi yang membumi-keseharian bahasanya. Coba bandingkan ketika Goblin berbincang dengan Eun Tak atau tokoh lain, sebagian besar dialog terjalin dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Namun, ketika ia tengah berkontemplasi, narasi yang keluar dari kepalanya akan sangat puitis.

Perhatikan ketika Eun-Tak tengah meyebrang jalan di Quebec dan zebra cross berubah warna. Cermati narasi yang diucapkan Goblin di dalam kepalanya, sungguh indah bukan. Atau ketika ia tengah memproyeksikan Eun-Tak di usia 29 tahun dan tengah makan siang sendiri menunggu kehadiran seorang pria. Lagi-lagi Goblin membuat narasi yang puitis di kepalanya. Begitupun yang terjadi saat Goblin terjebak di Limbo.

Screen Shot 2017-03-12 at 6.22.59 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.23.04 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.23.20 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.24.06 AMScreen Shot 2017-03-12 at 6.24.16 AM

Kemudahan dalam menggabungkan narasi puitis dengan narasi profan ini terbantu juga dengan genre Goblin yang memadukan fantasi-sejarah-romantik sehingga campur baur nuansa dialog mudah dilakukan.

Trivia pada episode 15 cukup mengharukan. Ketika dua pasutri yang terpisah 73 tahun akibat perang Korea bertemu lagi di ruang kematian. Meskipun hanya beberapa menit, tapi bagian ini cukup mengharukan buat saya. Lagi-lagi karena kecerdaaan Eun-Sook dalam menciptakan dialog antara dua tokoh.

Screen Shot 2017-03-12 at 6.16.48 AM

Terpisah karena perang


Terakhir, mari membicarakan masalah tema. Sulit bagi saya melihat tema atau gagasan besar apa yang hendak disampaikan Goblin. Ia tak ubahnya drama Yunani yang menawarkan tragedi sedari awal. Saya yakin gagasan besarnya tak sesederhana “cinta dapat dipisahkan, tapi kelak akan bersatu jua”. Tidak mungkin sesimpel itu.

Apakah gagasannya tentang “kematian dan kehidupan adalah sebuah kemutlakan” ? Rasanya terlalu apriori. Bagaimana jika: memilih nilai yang dirasa tepat?

Maksud saya, Goblin bukan sebuah drama linear yang menampilkan satu jenis moralitas saja. Ada banyak sudut pandang tokoh yang saling bertabrakan dan membuat kita bebas memilih. Ada Deok Hwa aka Dewa, yang menciptakan takdir sebagai sebuah pertanyaan untuk dijawab manusia. Ada Dewi Kelahiran (Red Lady) yang menyayangi ciptaannya tapi tak bisa bersikap obyektif secara konsisten.

gobz

Dua makhluk mahakuasa

Ada Park Jong-Hun yang destruktif tapi mewakili naluri egoistik manusia yang rasional. Ada abdi setia Goblin yang ratusan tahun mengabdi turun temurun, seolah menunjukkan bahwa pengabdian bukan perbudakan tapi tanda kesetiaan. Juga tentunya nilai yang dibawa empat karakter utama kita. Semuanya mewakili idealisme yang berbeda-beda, dan itulah yang membuat Goblin begitu istimewa.

 

March 12, 2017 at 06:32 Leave a comment

Menjelmamu; Cinta yang Ilahiah

sky-lights-space-dark

 

Seperti halnya menerima kehancuran, penciptaan selalu diawali dengan keporakporandaan di dalam semesta sang pemilik. Riak telaga yang teduh dan halus dapat menghanyutkan batin manusia yang terlampau takut pada suara air. Namun, bagi raga yang dikubur dalam keabadian gurun, setetes air mata pun adalah sesejuk-sesejuknya surga.

Membuyar setelah dimangsa cahaya adalah takdir mahakeji yang tidak bisa dihindari. Cahaya tak melahirkan apa-apa selain kepiluan bagi gelap yang selama ini mengintai dalam sunyi. Sewaktu cahaya berpijar dalam sosok matahari, ia memilih api sebagai wujud yang ekstase. Sembah untuk matahari, sembah untuk cahaya. Tapi masih pula gelap mengintai dari ketidakpercayaan batinnya. Ia tidak menyerah dalam moralitas semesta yang hampir semuanya meruntuh karena tak sanggup menahan tawa-tawa liar dari lidah api. Ia setia pada kehampaannya.

Pada perjalanannya, gelap mengosongkan hampanya sehingga mampu diresapnya kolibri berwarna biru tua. Ia bermain dengan laut sebagai kamuflase, dengan perangkap evolusi sebagai Aves. Matahari tak mampu menembus biru yang pekat. Cahaya dibunuhnya dalam kegagalan matahari. Cahaya adalah kebijakan semesta. Sang Maha menciptanya lebih dulu dari gelap. Maka dihantamkan tubuhnya ke dalam garam yang mengeruh.

Mereka bertempur di dalam ombak. Membayangkan siapakah yang lebih dinanti ketika nanti jadi debur di pantai. Apakah dicintai sebagai arus basah yang menyegarkan, atau sebagai asin yang siap dipanen. Tak ada siapa-siapa di pantai. Tak ada yang pernah tahu siapa yang memenangkannya. Gelap menghambur sekali lagi, beterbangan ia sebagai kolibri yang hilang warna. Menukik tajam ke batas horizon.

Cahaya tak pernah mati. Ia diciptakan untuk mengawali segalanya. Jadilah gunungan angin yang dipilihnya jadi rupa. Ia mengacak-acak batas cakrawala sampai semua terputar di dalam pusaran. Gelap menemui kesekaratannya. Dengan mengamini takdir sebagai yang tak pernah menang, ia memusatkan ketiadannya. Masuklah ia ke dalam tawanan hujan. Supaya jatuh ke tanahbumi, meresap dan tak bisa ditemui lagi.

Mereka sekali lagi bertempur di dalam angin dan deru hujan. Pusaran mahabesar memutari bumi belasan kali. Bagi yang satu adalah penundukan, bagi yang satu adalah upaya pelarian. Tapi, di bawah mereka terlanjur rusak semesta yang terbangun sedemikian sempurna. Loloslah gelap ke dalam tiga tetes yang resap ke tanahbumi.

Cahaya adalah yang tak berpudar. Satu-satunya yang tak diciptakan untuk alpa. Terurailah menjadi bibit anggrek ia di tanahbumi. Akarnya memporakporandakan kedalaman hampa. Dijumpanya sekali lagi gelap yang mendekati inti dari tanahbumi. Gelap memilih panas dari dalam tanahbumi sebagai medium pemusnahan dirinya. Sebelum gelap musnah untuk terakhir kali, cahaya menggapainya dengan lembut. Ditariknya naik menyusuri akar, menuju putik-putik bunga yang menantinya.

Di pembuluh nadi batang anggrek, gelap meronta. Menyayat kekokohan batang itu. Cahaya menahannya dalam usaha terakhirnya itu. Gelap terus meronta, dan untuk terakhir kalinya berubah jadi sehelai daun. Terbanglah ia terhantam sisa-sisa angin badai pertempuran mereka. Ia terbang melampaui atmosfer, meninggalkan semesta yang ia ratapi dan menuju kekosongan yang utama: atapsunyi.

Cahaya adalah rasa sakit yang dipuja oleh Gelap.  Ia akan mati di dalam makna manakala Gelap menyudahi kesekaratan imannya. Sama seperti Gelap, ia menjelmakan dirinya untuk terakhir kali. Kali ini sebagai Cinta. Seumur hidupnya, ia tak boleh menjelma cinta. Cinta adalah abu-abu yang nirsempurna. Menjadi abu-abu berarti menyerahkan dirinya dan gelap untuk hidup dalam ruang derita untuk selamanya. Keduanya tak akan bisa merasakan apa-apa lagi setelah disatukan, tak ada lagi yang menjadi lebih dan kurang.

Gelap menghentikan langkahnya. Ditatapnya cahaya yang telah menjema Cinta yang setengah nyata. Selama masih menyibak terang, tak akan sampai wujudnya sempurna. Gelap adalah pelengkapan, menggenapi keabu-abuan absolut yang harus dimiliki Cinta. Ia bisa memilih untuk lenyap seutuhnya manakala menyentuh atapsunyi dan membiarkan cahaya turut pudar dalam makna.

Gelap telah melihat semuanya, mereka berdua berkejaran, bermain dalam wujud visual, dalam keterikatan gelora dan profanitas rupa. Tak pernah sekalipun gelap menjadi sesuatu yang berasal tanpa rupa di semesta ini. Ia tahu betul, cahaya sudah tak lagi ada, cahaya telah mati dengan menjelma setengah cinta. Setengah takdir yang tersisa berada di pundaknya.

Menyatu. Ia memilih untuk tak memusnahkan makna dalam tubuhnya di atapsunyi. Tapi menyatu dengan cahaya, melengkapi Cinta yang mereka jelma. Kemudian konsepsi warna pudar sudah, tak ada cahaya, putih, gelap, hitam, bahkan abu-abu. Keduanya telah mencapai cinta yang tak lagi diikat makna dalam rupa, ataupun hasrat. Keduanya menyatu jadi Ilahi. Yang tak berbahasa, yang tak mengibaratkan dirinya dengan apa-apa, kecuali: Cinta.

December 26, 2016 at 01:05 Leave a comment

Menjelang Malam di Telaga

blue_lake_valley_county_idaho

untuk buku-buku rumput yang terpahat dalam wajah bahasa:

angin menyimpul di lembah tanggung
antara telaga yang menghimpit aroma kabut
dan lelangitan yang bermain gradasi petang

setapakan koral menyublim, dijelmanya tangga;
sisa tuturan kita teresonansi di bawahnya
diselingi bunyi jangkrik, dan burung-burung sepian
adalah bersamamu: kehangatan muncul

pancar matamu tiadalah menyihir alam
namun ramah meski tak bermula dari sisa-sisa pagi
kau berasal dari setitik pijar awan yang terus-menerus membawakan kesederahaan buatku
sampai menjadi hela nafas yang mengalir di penjuru arteriku
tanpa pernah memaksa masuk

dan bulan mendesak singgah di antara cakapan kita
sebagai metafora dalam keengganan intuisiku
sebagai santapan dalam pengorbananmu.

adakah kita dapat saling berbagi?

-Desember, 2016

December 1, 2016 at 18:26 Leave a comment

Review W: Ending Picisan untuk Drama Korea Terbaik 2016?

w_korean_drama-p1
W telah tamat. Kalau anda belum menonton drama ini, tontonlah. Anda akan takjub dengan kejeniusan storytellingnya. Penuh metafor dan muatan filosofis yang barangkali sulit didapati pada banyak drama asia.

Paragraf kedua dan seterusnya hanya untuk kalian yang telah menonton drama ini. Atau kalau mau memaksa membaca meskipun belum menontonnya juga tak apa, saya berharap tulisan ini dapat dipahami.

Secara umum saya memilih W sebagai drama terbaik di 2016, setara dengan Signal yang ditayangkan awal tahun 2016. Ah, tapi saya bahkan tak menonton Descendant of the sun, punyakah saya kredibilitas penilaian itu? Belum lagi, masih ada drama untuk musim gugur (akhir tahun), kenapa penilaiannya bisa seprematur ini?

Kalau bicara tentang Signal, drama yang satu ini secara personal menurut saya lebih istimewa dan komplit dibanding W. Namun, secara umum Signal terlalu berat, dengan topik kriminalitas yang mungkin tak bisa merangkul berbagai jenis penonton seperti W ini. Tapi ya kalau semua poin itu diakumulasi, kedua drama ini di mata saya boleh lah dikatakan setara.

 

poster-w-drama-korea-720x1074

Kang Chul

Selayaknya format episode drama Korea, drama ditayangkan 16-20 episod, dengan pembagian dua episod perminggu adalah format standar. W memilih 16 episod, meskipun episod 16 ditayangkan tunggal tanpa didampingi episode 15 karena faktor penayangan olimpiade yang memecah ganjil-genap saat episod 7 -8 menjadi 8-9 di minggu setelahnya. Tapi tak masalah, karena nampaknya dari jauh hari tim produksi sudah memikirkan pemotongan ini sehingga psychological aspect dalam pembangunan alur antara episode genap dan ganjil telah disesuaikan.

Saya bahas sedikit tentang episode genap dan ganjil, ya. Dengan format dua episod perminggu, episode ganjil tayang lebih dahulu, kemudian disusul semalam setelahnya episode genap. Baru setelah jeda enam hari dilanjutkan episode ganjil lagi.

Hukum dasarnya, episode genap akan dibuat se-suspense mungkin pada bagian akhir episode, untuk memancing rasa penasaran penonton menuju penayangan di minggu depan. Sementara episode ganjil dipakai sebagai set-up ataupun penyelesaian dari suspense di akhir episode genap.

Okeey, sekarang saya akan masuk ke dalam drama W ini. Premis ceritanya unik, tapi cukup populer untuk genre sci-fi/fantasy, salah satunya ketika Arnold Sxxxxxxger membintang Last Action Hero. Jadi dalam sebuah cerita fiksi, sang tokoh mampu masuk ke dalam dunia fiksi lainnya alias metafiksi di dalam fiksi. Dalam hal ini Kang Chul, tokoh dari komik W yang merupakan ciptaan dari komikus Oh Sung Moo, ternyata tak sekadar karakter pasif di dalam komik. Ia punya dunia yang ia tinggali sebagaimana layaknya manusia sungguhan, namun realitasnya dibangun dalam sebuah komik.

29ea96654b95b7ec90718f8086691e3e0b1d523d1074c6111b95e6eea75ec08d_-original

Last Action Hero



Oh Sung Moo, sang komikus, mempunya anak perempuan bernama Oh Yeon Joo yang secara ajaib mampu masuk ke dunia komik Kang Chul. Dari sinilah berbagai konflik yang kompleks terjadi. Kurang lebih itu premis cerita W.

Sekali lagi, konsep metafiksi di dalam fiksi ini sebenarnya tak beda jauh dengan banyak cerita sejenis, namun kedudukannya lebih linear. Semisal Bima X yang mengisahkan pertemuan dua dunia yang paralel. Atau Kamen Rider Gaim, yang juga memiliki dua dunia paralel. Atau Signal, sesama drama korea yang mengambil dua dunia paralel dalam wujud time crossing.

Yang membuat menarik adalah pemilihan metafiksi (dunia Kang Chul) di dalam fiksi (dunia Yeon Joo). Seperti yang kita tahu, Yoon Jee ataupun sang ayah berada dalam dimensi yang lebih tinggi dari Kang Chul. Mereka bisa merekonstruksi realitas dalam dunia Kang Chul lewat ilustrasi di atas tablet ajaib yang mereka pakai menggambar komik W.

Mereka bisa menunculkan senjata api hanya dengan menggambar, membunuh tokoh, merekayasa pikiran tokoh, dll. Sementara Kang Chul dan manusia lain dalam komik W hidup tanpa bisa melawan kehendak sang pencipta.

f6ef84d1046c1633469bf1c12871cb467da00e6d_hq

Oh Sung Moo


Ah sungguh, saya mau membahas banyak hal menarik dan bermakna dari drama ini, namun satu tulisan tak akan cukup, malah menjadi terlalu panjang. Saya akan mencoba bicara garis besarnya saja tanpa harus menjelaskan secara detail.

Pertama, relasi antara Kang Chul dengan Sung Moo boleh dikatakan sebagai bentuk perlawanan manusia atas determinisme. Kang Chul selama ini hidup dalam sebuah rangka realitas yang sebenarnya bukan miliknya, tapi sang pencipta komik. Ia tak sadar realitasnya dikonstruksi oleh kekuatan mahabesar (ini mirip dengan kita bukan?).

Pada suatu ketika, ia mampu melampaui dimensinya, dan bertemu dengan sang pencipta. Kemudian dunia yang dijalaninya menjadi lebih cair. Ia kemudian mampu membuat ceritanya sendiri, tanpa perlu campur tangan sang komikus. Free will, alias kemampuan manusia untuk menentukan jalannya sendiri adalah nilai yang terwakili dari ini.

Kedua, mari bicara tentang pola storytelling drama ini. Ada suatu kebiasaan ketika drama punya tendensi mengulur-ulur cerita yang mungkin akan lebih ideal tamat dengan 10-12 episod, tapi dipaksakan sampai 16-20 episode. Drama Remember contohnya, dan W mungkin/nyaris terjerembab dalam pola storytelling yang dragging ini.

Saya sampai lupa berapa kali twist dipaksakan terjadi hanya untuk memperpanjang cerita. Dimulai dengan kematian Kang Chul di sungai Han, kemudian ia dihidupkan lagi. Pada poin ini cerita punya potensi untuk selesai, tapi tetap harus dilanjutkan karena masih banyak plothole untuk ditutup. Lalu, ketika ia meminta Yeon Joo menggambar bahwa semua yang terjadi sampai poin itu hanya mimpi Kang Chul. Tapi… Cerita tetap berlanjut.

Selanjutnya, Sung Moo diminta untuk memberikan wajah bagi si pembunuh, untuk kemudian bisa direkayasa agar sang pembunuh mati terjatuh dari lantai atas. Tamat? Belum. Lalu Kang Chul berusaha mengembalikan wajah Sung Moo yang dicuri sang pembunuh dengan menangkapnya lalu membuatnya terbunuh. Twist. Lalu sang pembunuh berhasil dibunuh Kang Chul saat duel.. Namun dengan tumbal Yeon Joo.. Twist berlanjut. Lalu Yeon Joo hidup kembali, namun Kang Chul dan Sung Moo harus memutuskan siapa yang akan hidup. Baru tamat.

Barangkali ada detail yang salah dituliskan di atas, tapi maklumilah. Setidaknya anda paham begitu banyak twist yang terjadi dalam drama 16 episod ini.

Problematika terbesar dari twist atau deus ex machina, atau asspull adalah ketidakberadaan dari foreshadowing. Alias tidak adanya pengantar dari jauh sebelum twist terjadi. Dengan foreshadow penonton/pembaca bisa mengaitkan korelasi twist dari kemungkinan yang ada sebelumnya. Apabila twist dibuat tanpa adanya foreshadowing, penulis-pengarang akan terlihat sembrono dan seenaknya saja.

Untuk faktor storytelling dan foreshadowing inilah W kalah jauh dari Signal yang benar-benar menjaga dengan rapat kesinambungan cerita. Sekalipun twist muncul tapi tak out of nowhere.

Ketiga, permasalahan eksistensialisme tokoh. Saya mencatat empat tokoh dalam drama ini bergelut dengan masalah jati diri mereka. Oh Sung Moo (komikus), Kang Chul (protagonis komik), Oh Yeon Joo (heroine), Pembunuh (antagonis dalam komik).

Oh Sung Moo punya kisah kelam sebelum menjadi komikus W yang ternama. Ia ditinggal istri dan anaknya. Ia kehilangan kebahagiaan, lalu menggantungkan diri dengan alkohol, lalu sukses dengan komik W. Tapi kesuksesan itu tak memberikannya apa-apa, karena cinta terbesarnya adalah untuk keluarganya, yang tak lagi dimilikinya. Ia menciptakan Kang Chul sebagai tokoh yang diambil dari ilustrasi pria idaman yang dituliskan Oh Yeon Joo. Kisah kelam hidupnya ia wariskan kepada Kang Chul, keluarganya dibunuh, ia dituduh jadi pembunuh, lalu hendak bunuh diri. Namun berkat leap of faith yang dialami Sung Moo, Kang Chul tetap hidup. Sampai pada akhirnya, Sung Moo memilih untuk berkorban bagi Kang Chul agar bisa hidup, mewarisi kegagalannya untuk membahagiakn Yeon Joo sebagai seorang ayah.

Kang Chul adalah protagonis yang hampir seluruh hidupnya dikonstruksi oleh Sung Mo. Ia tak memiliki identitas apa-apa sampai Yeon Joo memberitahunya kalau ia hidup di dunia komik, dan semenjak saat itu, ia hidup sebagai tokoh bebas. Ia tumbuh menjadi dua karakter yang berbeda sejak saat itu. Kang Chul pada setengah akhir W adalah tokoh yang tangguh. Ia mampu menerima kalau selama ini ia tinggal pada realitas semu. Dan mau berkorban bagi banyak tokoh lain, terutama Yeon Joo agar tetap bahagia.

Oh Yeon Joo, adalah kritik tersendiri bagi banyak perempuan di abad modern ini. Ia digambarkan sebagai perempuan naif tipikal drama pada umumnya yang menanti romantika dari pangeran berkuda putihnya. Awalnya saya kira ia adalah jenis tokoh semacam ini. Namun, tidak, penokohan Yeon Joo adalah suatu yang jenius.

Ia menjadi Tuhan hampir di seluruh drama ini. Ia masuk ke dunia Kang Chul dan mengobrak-abrik semua kemapanan yang ada (walaupun harapan awalnya hanya kisah romantik). Ia mampu menjadi sentral dari dua tokoh tragis, Sung Moo dan Kang Chul. Ia berkorban banyak. Menghapus memori Kang Chul tentangnya, sampai mengorbankan nyawanya. Yeon Joo adalah simbol kedewasaan drama ini, dan tim W menbalutnya dalam tampilan fisik seorang wanita yang terkesan seperti perempuan ala drama korea.

160722hinh12

Oh Yeon Jo



Sang Pembunuh adalah tokoh yang unik. Sung Moo tadinya menciptakan Pembunuh tanpa konteks, alias hanya setup untuk membuat Kang Chul punya dorongan untuk maju. Siapa sangka Pembunuh ternyata punya kesadaran sendiri seperti Kang Chul dan meminta identitas, nama. Saya rasa, dari awal Sang Pembunuh adalah representasi dari sisi gelap Sung Moo. Buah dari kejadian tragis sebelum ia memulai W. Hasrat terpendam untuk membalaskan kesedihannya, yang ditumpahkan pada Kang Chul lewat sosok Sang Pembunuh.

Keempat adalah ending drama ini. Seperti saya lampiaskan di judul: Picisan. Mudah saja, kalau drama W ingin diteruskan sampai 20 episode dengan kelanjutan dari ending yang diberikan di episode 16 ini, tidak mustahil, kok. Drama ini sudah kepalang tanggung memakai twist demi twist demi twist. Ya, yang saya maksud, ending ini tak ada bedanya dengan ending-ending yang sebenarnya bisa dihadirkan di tengah drama.

Oh Sung Moo memilih berkorban demi kebahagiaan Kang Chul dan Yeon Joo. Kang Chul menjadi manusia utuh, keluar dari dunia komiknya. Lalu mereka berdua berbahagia bersama. Selesai.

Bukankah ini ending yang terlalu picisan bagi drama serumit W?

Well, sulit memang. Dengan premis cerita di dua episod awal yang dibangun dengan persepsi demikian, ending semacam ini mudah ditebak.

Happy ending: Kang Chul ft Yeon Joo.

Sad ending: Yeon Je terpisah dengan Kang Chul.

Apapun yang terjadi dengan Oh Seong Moo dan tokoh lain dari awal memang tidak akan relevan dengan ending yang ironisnya malah sudah diforeshadow.

Konsekuensi menggunakan relasi romantik antar dua tokoh (pria-wanita) saya rasa membunuh banyaknya pilihan ending yang tersedia.

(Untuk konteks drama Korea, saya akan pakai cerminan drama Signal, sebagai sebuah naratif drama paling sempurna. Disertai open ending yang pada akhirnya tak perlu mengendapkan romantika sebagai tolok ukur.)

Atau mungkin saya yang terlalu skeptis soal relasi romantik? Entahlah.


4686_signal_nowplay_small1

September 15, 2016 at 22:33 Leave a comment

Memahami Kejeniusan Naoki Urasawa lewat Manga Billy Bat

naoki-urasawa.jpg

 

Saya sangat beruntung membeli majalah animonster edisi awal tahun 2006. Kenapa? Karena lewat sebuah rubrik pada edisi itu, saya jadi berkenalan dengan Naoki Urasawa.

Sepuluh tahun sudah saya mengikuti-membaca bermacam manga karya Urasawa, hampir semua seri panjang karangannya saya baca, minus Pluto. Itu berarti Monster, 20th Century Boys dan Billy Bat telah saya kecap keseluruhannya, dari chapter pertama hingga selesai.

20th Century Boys adalah mahakarya fiksi yang tak akan saya lupakan. Saya tak tahu berapa banyak pembaca di Indonesia yang kesampaian buat mengoleksi ke-22 volumenya (diterbitkan oleh Level Comic), karena peluncurannya di Indonesia begitu singkat, sekitar dua tahunan. Baru kemudian saya membaca Monster, yang sebenarnya dikarang lebih dulu dibanding 20CB. Terimakasih kepada internet yang memudahkan akses saya membacanya, karena ia diterbitkan oleh M&C jauh sebelum saya mengetahui Urasawa.

Terakhir, saya membaca Billy Bat sekitar tahun 2014, saat sedang bergelut dengan skripsi. Sempat terputus hampir dua tahun, saya menyelesaikan seri ini di tahun 2016.

Basa-basi di atas sebenarnya tidak perlu. Tapi saya rasa, menjelaskan latar kedekatan saya dengan karya-karya Urasawa mungkin akan memudahkan Anda memahami tulisan saya ini.
(Akan ada banyak konten cerita yang saya pakai alias penuh spoiler, diharapkan anda sebaiknya sudah membaca tiga manga itu)

yG7tKJKP_QTPnON_oGJaLQYktQcm6cIfc_IV7weYIMs.png


Untuk tulisan ini saya mau mereview Billy Bat, mungkin tidak secara kronologis ataupun komplit, tapi secara tematik, garis besar cerita, maupun ekstrinsik (maklumilah, saya berjarak dua tahun untuk mengingat seluruh cerita yang belum sempat saya baca ulang).

Secara tematik, bagi saya Billy Bat adalah penyempurnaan dari 20CB. Keduanya sama-sama membahas gejolak misterius yang terjadi di dunia, pengaruh dari elemen masa lalu terhadap problematika di masa mendatang, belum lagi karakter-karakter rumit yang terkait satu sama lain. Begitu pula dengan kejadian-kejadian penting dalam peradaban manusia yang berusaha dijelaskan lewat beberapa kejadian dalam kedua manga.

Pun begitu, perbedaan terbesarnya terletak pada simbolisme yang muncul pada kedua manga ini. Saya menilai, apa yang coba diraih oleh 20CB adalah membuat sebuah dunia fiksional dengan mencampuradukan realitas dan fiksi. Urasawa mencoba merekonstruksi apocalypse secara realistik, tanpa melibatkan meteor, faktor metafisis, namun murni pertempuran antara manusia. Tak bisa dipungkiri, unsur sci-fi sangat kuat dalam 20CB yang memang berusaha menggambarkan dunia pre-apocalypse, post-apocalypse, dan final-apocalypse.

Kegilaan yang ditumpuk Urasawa lewat alur maju-mundur, kompleksitas karakter membuat 20CB mampu jadi sebuah cult. Karakter-karakternya begitu berwarna. Urasawa begitu lepas mengilustrasikan cerita tanpa memberikan ruang bernapas bagi pembaca. Kejutan tak pernah henti. Maka tak heran kalau manga ini diangkat jadi trilogi film yang menguras biaya teramat besar saat itu. 20th Century Boys pantas menjadi primadona di masanya.

Bagaimana nasib Billy Bat? Kalau boleh jujur, saya tak yakin Billy Bat mampu menjadi sebuah cult. Terlepas dari jumlah chapter yang lebih sedikit, namun saya merasakan nuansa berbeda yang mau ditawarkan Urasawa pada para pembacanya.

Ya, sepintas Billy Bat adalah buah dari keberhasilan Urasawa dengan genre ala 20CB-nya. Tapi, disadari atau tidak, Billy Bat adalah sebuah karya yang sangat dewasa, melebihi 20CB.

Billy Bat memang tidak dirancang untuk menghadirkan dunia nan-berwarna ala 20CB. Reality-bending tetap jadi sajian utama. Kejadian-kejadian nyata tetap coba dijelaskan lewat sebuah gagasan imajiner yang kalau dipikir masuk akal.

Simbolisme manga Billy Bat juga turut menjelaskan semangat zaman kala itu, dimana komik-komik Barat mulai menguasai pasar dunia. Disney, DC, Marvel, dan lain-lain. Menarikanya, apabila 20CB mencoba merangkum semuanya dalam sebuah rancangan sci-fi yang realistis, Billy Bat justru lebih mengarah ke fantasi, bahkan cenderung satiris.

Billy Bat seolah jadi dekonstruksi 20CB. 20CB  kaya akan penjelasan saintifik yang menghipnotis, Billy Bat hadir dengan realitas sederhana. Tidak ada robot, tidak ada gegap gempita kiamat, hanya seorang komikus yang hidup di tengah konflik dunia seperti yang tergambar dalam buku sejarah.

Namun, 20CB tak mencoba keluar terlalu jauh, sci-fi yang dipakai berusaha dirangkum dengan logis dan realistis bagi pembaca. Billy Bat menghadirkan karakter fantasi bernama Billy Kelelawar (di dalam manga bernama Billy Bat). Seekor kelelawar mistik yang hanya bisa dilihat sebagian kecil manusia terpilih, dan menghanyutkan pikiran mereka untuk melakukan hal yang dipinta Billy kelelawar.

Terdengar seperti manga horror/fantasi? Betul, keberadaan Billy kelelawar membuat manga ini terpisah dari sebuah sci-fi-mystery realis macam 20CB. Ia membuat manga Billy Bat tak bisa lagi dilihat sebagai suatu yang punya potensi menjadi realistis, selain sebagai bacaan fantasi sejenis Dragon Ball, Naruto dan kawan-kawan sejenisnya.

Dan setelah menanti sampai 150 chapter lebih untuk mendapatkan penjelasan asal muasal dan tujuan sebenarnya dari kelelawar itu, toh kita hanya diberikan 5-6 halaman penjelasan singkat saja.

Sekilas saya teringat manga Gantz, yang begitu mahsyur dan kompleks, namun ketika pengarangnya kehabisan daya untuk melanjutkan lebih jauh, ia hanya memberi 10 halaman penjelasan tentang nilai semesta di manga, dari hampir 400 chapter yang ditulis.

Saya takut Urasawa terkena sindrom yang sama ketika ia berusaha menjelaskan eksistensi kelelawar Billy hanya dengan sekian halaman. Ya, saya tahu sih Billy Bat memang sangat rapat dan padat secara keseluruhan, namun ya…

Saat itu sebenarnya saya kecewa dengan penjelasan yang ditawarkan. Bahwa Billy hanya kelelawar mistik dari dunia paralel yang singgah di dunia paralel terakhir dan berusaha mengubah nasib manusia. Sounds cliche, but.. Yeah..

Saya yang mulanya menduga kalau Billy kelelawar bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga membuat seluruh manga terbentengi dalam label realis, ternyata salah. Dari awal memang ini cerita fantasi (surealis?) yang mestinya tak dibebani ekspektasi itu..

Tapi, apakah semua grand design yang dibangun sedemikian rupa dalam 160 chapter akan runtuh begitu saja? Semua dialog-dialog penting, gagasan filosofis, akan sia-sia? Tidak, semua tidak sia-sia.

Ketika saya mencoba menarik dunia fiksi Billy Bat ke dalam dunia manusia yang saya jalani ini, maka semua yang diciptakan dalam manga mempunyai maksud. Billy kelelawar in real is human consciousness.

Billy Kelelawar adalah sebuah elemen yang memisahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Kecerdasan, kemampuan bertindak secara rasional, naluri, atau apapun itu yang dianugerahkan Tuhan/evolusi kepada manusia.

Kevin Yamagata dan Kevin Goodman dalam manga mengikuti arahan Billy kelelawar untuk terus menggambar dan menciptakan nilai. Dalam konteks dunia nyata, Billy adalah asa mereka, angan, harapan mereka, yang melandasi perjuangan mereka untuk terus membuat komik.

Hitler, Enstein, pertemuan tokoh bersejarah dengan Billy membuat mereka mempublikasikan gagasan terkenal mereka dan menjadikan mereka punya tempat dalam sejarah. Dalam hal ini Billy menjadi intelegensi mereka, kecerdasan, rasionalitas mereka yang secara unik membuat mereka lebih unggul dari manusia lain.

Darimana saya mampu menginterpretasikan ini? Jawabannya ada di chapter terakhir. Ketika seorang anak yang selamat dari medan perang membaca seri terakhir dari komik Billy Bat (komik di dalam manga), dan secara tak sengaja menarik garis paralel, bahwa seperti tokoh dalam komik, ia harus belajar dan menjadi hebat.

Manga Billy Bat yang saya baca kurang lebih punya nilai sama dengan komik Billy Bat di dalam manga yang dibaca anak itu (ini bukan komikception ya). Dari sebuah serial fantasi kita bisa menginterpretasikan nilai-nilai di dalamnya ke dalam dunia nyata.

Billy Bat secara sublim menjadi sebuah pengantar pesan (fungsi yang saya percaya kurang ditekankan dalam 20CB). Urasawa menjadikan Billy Bat bukan lagi sebagai ajang untuk memamerkan kejeniusan storytellingnya seperti pada 20CB, melainkan sebagai karya kontemplatif untuk memahami betapa rumit nan indahnya peradaban manusia.

Reka ulang kematian John F Kennedy di manga harusnya jadi suatu yang mubazir ketika ribuan artikel atau cuplikan video di internet bisa diakses dengan mudah di zaman ini. Tapi Urasawa menunjukkan bahwa kematian Kennedy telah mengubah banyak hal dalam sejarah di dalam manga, maupun di dunia nyata.

Ia juga mengangkat potensi kebaikan manusia di dalam chapter-chapter akhir ketika dua tentara perang sama-sama menginjak ranjau darat, dan akhirnya jadi bersahabat karena kesamaan nasib itu. Ia mengangkat perang sebagai sesuatu yang buruk namun tetap memiliki kebermaknaan lain yang bernilai baik di dalamnya.

Urasawa tengah menggali potensi kebaikan manusia lewat banyak tokoh dalam manga ini. Ia berusaha memberikan harapan kepada manusia lewat Billy kelelawar.

Yeah, pada akhirnya memang tak ada “WoooW” yang muncul dalam diri saya seperti ketika selesai membaca 20CB. Tapi saya mengakhiri Billy Bat dengan sebuah senyum kepuasan, bahwa sebuah manga-komik bisa menjadi alat pembawa perubahan bagi dunia.

*Dan saya akan baca ulang manga ini, siapa tahu dapat hal baru lagi.

September 4, 2016 at 16:18 Leave a comment

Review EP: 90 Horse Power


Hmm udah ampir dua tahun ga pernah nulis lagi di blog ini, tapi berhubung tahun ini nampaknya jadi tahun yang seru buat nulis, jadi gue nulis lagi.

Anyway kali ini gue mao ngereview sebuah EP yang belom lama gue beli, yakni EP dari band 90 Horse Power.

Mungkin flashback dikit tentang band ini dulu deh. 90 Horse Power (90 HP) itu band dari FIB UI, yep, most of us taunya band jebolan FIB ya Payung Teduh, tapi aslinya ada banyak, cuma emang ga dapet eksposure dan ketenaran seperti Payung Teduh aja.

Gue ga gitu inget kapan band ini pertama gue tonton livenya, kalo ga salah akhir 2014-an, tapi mulai ngeh bangetnya ya 2015. Soalnya maklum, ada banyak band di FIB, tapi dikit yang perjalanan karirnya bisa lebih dari setahun. Termasuk pesimisme gue ketika liat 90 HP, apakah ini cuma fun band yang manggung iseng-iseng, atau emang mau konsisten manggung. So far kebukti kalo band ini paling engga memenuhi kualifikasi dasar sebagai musisi panggung: rajin perform.

Kalo impresi pertama ngeliat mereka? Seems out of the blue, dan oh, fine. Dalam artian untuk warna musik atau teknik atau apalah ya gitu, gaada yang spesial. Ah, tapi toh gue juga bukan sarjana musik yang bisa dengan bebas ngejudge musikalitas orang. Intinya, ya, karena nuansa musik yang diusung cenderung simpel dan easy listening, gue anggep fine-fine aja, ga perlu dikritisi lebih.

Tapi, sama halnya dengan impresi kita terhadap manusia, butuh waktu untuk memahami. Impresi pertama ga mutlak merupakan gambaran sesungguhnya. Maka, seiring waktu, impresi gue terhadap band ini berubah.

Jujur, gue termasuk penikmat segala macam genre, dari yang lagu folk dua chord yang simpel, sampe standar jazz yang ga perlu patokan beat dan tangga nada lagi. Tapi gue selalu punya tempat tersendiri untuk musik-musik pop yang cerdas, dan gue rasa 90 HP jatuh ke kategori itu.

Gue butuh waktu untuk sadar bahwa mereka ga ambil pusing untuk ngecover lagu orang, dan dengan bangganya bawain lagu sendiri.

Yep, meskipun manggung di fakultas sendiri, tetep butuh nyali buat bawain lagu sendiri. Kadang ada apresiasi semu, komentar bias karena yang manggung temen sendiri, jadi mau ga mau harus muji.

Dan setelah puluhan kali manggung, awal taun ini mereka ngerilis EP mereka yang judulnya selftitled, 90 Horse Power (kayaknya, sih). Isinya tiga lagu, dan gue akan coba ngereview.

Lagu pertama judulnya Kabar Dari Hujan, durasi 3:04. Gue coba liat liriknya dulu, dan dugaan gue tepat–karena pas live kadang ga clear denger liriknya–kalo semuanya mainan rima. Liriknya sederhana, tapi cukup motivatif. Musiknya entah kenapa ada aroma throwback yang agak pop punk-ish gitu, apalagi kalo tempo lagunya dicepetin 1,5 kali, tambah berasa.

Lagu kedua judulnya Tersenyum Nanti, durasi 4:18. Pas bagian intro lagu dari detik pertama sampe detik 25, ngejebak banget. Pertama-tama gitar masuk pake efek delay ala semi-shoegaze dan dreampop gt. Terus masuk beat drum yang ngingetin gue sama beat drum di intro lagu L’Arc en Ciel yang Fourth Avenua Cafe. Dan gue rasa emang ada sedikit bumbu Japanese Pop-Rock yang mau dimasukin ke lagu ini. Permainan rima masih ada di lagu ini, dan gue asumsikan mereka emang mau bikin ciri khas lirikal dengan format kayak gini. Lagunya ga segembira track pertama, tapi secara diksi jauh lebih berbobot dari lagu pertama.

Dan lagu terakhir, track ketiga dari EP ini, judul lagunya Tak Lepas Pergi, durasi 5:21. Nah, kalo melihat kaidah psikologis dalam penyusunan tracklist sebuah EP (ini sok-sokan doang kok), mestinya lagu terakhir itu yang paling nendang secara komposisi, magnum opus EP itulah kira-kira. Dan kayaknya sih, 90 HP nerapin kaidah ini. Lagu terakhir ini keliatan dikasih muatan lebih, baik pilihan notasi pas reff, ataupun pilihan diksi secara keseluruhan. Yep, kalo misalnya istilah terburuk-terbaik dalam berkesenian itu valid, bolehlah gue kasih titel “The Best Song of This Ep” untuk track nomor tiga ini.

Secara keseluruhan, kerja anak-anak 90 HP untuk bikin EP ini patut banget diapresiasi. Gue ngikutin proses home-recording mereka untuk EP ini via instagram mereka. Ditambah lagi packaging yang baik, ada kaos yang bahan dan desainnya oke, juga personal greetings dari mereka untuk pembeli EP ini.

Semoga, ya, semoga, 90 Horse Power dan EP-nya ini bisa jadi inspirasi buat banyak musisi kampus lainnya untuk pede bawain lagu sendiri, dan bikin rilisan fisik biar uang yang diabisin buat bayar studio ngeband, untuk transportasi, beli efek, dan semua waktu yang kebuang pas latian ga jadi sia-sia.

April 24, 2016 at 18:40 Leave a comment

Problematika Tontonan Anak

Sebelum memulai tulisan ini, saya harus menjelaskan bahwa saya bukan psikolog anak ataupun peneliti cerita anak. Jadi tulisan yang anda baca adalah interpretasi saya atas fenomena belakangan ini, dan saya bukan seorang expert. Paling tidak saya pernah mengalami masa kanak-kanak, sehingga tidak ada salahnya saya coba mencermati kejadian belakangan ini. Saya berusaha seobyektif mungkin dalam menulis ini, tapi kalau pada akhirnya terlihat subyektif di mata anda, tak masalah. Dan belum tentu apa yang saya tulis di sini semua benar adanya.

Saya percaya bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang (seharusnya) menyenangkan, entah itu masa kanak-kanak di tahun 70an, 80an, 90an, sampai 2010an seperti sekarang. Paling tidak di Indonesia seharusnya begitu–terlepas dari segala kisruh politik-ideologi-dansemacamnya pada masa itu–mengingat sudah sedemikian berkembangnya berbagai hiburan untuk anak-anak. Sebagai seorang yang pernah mengalami masa kanak-kanak pada tahun 90an hingga awal 2000an saya menemukan sebuah hal yang menarik. Anak laki-laki yang sezaman dengan saya pastilah ingin menjadi superhero. Generasi kami adalah generasi yang tumbuh dengan sajian superhero. Komik, serial animasi, dan serial lokal, sangat kental dengan elemen superhero (pada dekade sebelumnya juga sama tapi tak semasif generasi kami). Saya rasa tak perlu menyebutkan apa-apa saja superhero itu, tapi yang jelas saya ataupun anda pernah berkhayal menjadi ranger merah, bukan? Anak perempuan generasi tersebut pun saya rasa juga sama, tontonan seperti sailor moon, minky momo, dll adalah warna tersendiri bagi kami.

Saya tak sanggup membayangkan hidup tanpa suguhan seperti itu ketika kecil. Maka dari itu saya bersyukur pernah mengalami masa kanak-kanak yang full of heroes. Tapi bukan berarti anak-anak generasi sekarang tidak memiliki masa kanak-kanak yang inspiratif. Ya, saya mengakui fakta bahwa anak-anak sekarang dibanding generasi 10-15 tahun yang lalu tumbuh dalam lingkungan sosio-kultural yang berbeda. Saya yakin teknologilah yang berperan menghasilkan perbedaan itu. Anak-anak sekarang dengan gadget canggih dan games-gamesnya, sementara kami dengan permainan lapangan dan playstation kuno kami. Alternatif hiburan antara generasi saya dan sekarang jelas jadi berbeda. Ketika tidak punya uang merental PS (ataupun sedang dilarang main PS) kami bisa bermain permainan tradisional, dan patut diingat, serial kartun di sore hari ataupun minggu pagi adalah kewajiban buat kami, tidak bisa dilewatkan. Saya tak tahu bagaimana nasib sekarang, tapi saya jarang menemukan anak-anak bermain permainan tradisional, paling-paling futsal. Lalu tontonan bocah? Opsi tayangannya tak banyak, itupun cenderung diulang-ulang terus.

Sekarang saya ingin memfokuskan tulisan ini pada aspek tontonan karena belakangan isu mengenai tontonan anak sedang banyak diperbincangkan.

Saya akan memulai dengan komentar saya atas artikel-artikel di web ini. (Silakan anda buka dan baca sendiri)

Tepatkah yang dilakukan KPI? Bisajadi ya bisajadi tidak. Perlu ditelaah mengapa KPI mendadak jadi sesensitif ini. Adakah tayangantayangan tersebut benarbenar berpengaruh pada pola prilaku anak? Atau kalau yang dikhwatirkan adalah timbulnya kekerasan akibat rangsangan dari tontonan itu, apakah bisa ditunjukkan data-faktual kejadiannya?

Saya mengapresiasi KPI apabila keputusan mereka didasari atas fakta dari kasus yang benar-benar terjadi, dan tidak hanya asal menghakimi bahwa serial bocah yang menampilkan adegan tarung-darah-kekerasan sudah pasti akan membuat si anak jadi kriminal. Atau bisa dilakukan sampling macam ini. Ambillah contoh generasi saya. Tumbuh dengan puluhan-ratusan serial superhero yang sebagian besar menampilkan–yang mereka sebut–adegan kekerasan. Dari sekian juta anak, seberapa besar pengaruhnya ke tindakan kriminal? Seingat saya kasus kekerasan yang terjadi justru akibat Sm*ckD*wn (tontonan dewasa). Adakah seorang anak yang kemudian jadi pembunuh karena menonton Detective Conan? atau adakah anak yang justru bercita-cita menjadi detektif, kriminolog, peneliti forensik? Mana yang lebih banyak?

Saya sepakat kalau misalkan KPI menginterpretasi tontonan anak sebagai alat pedagogis yang membentuk karakter anak sehingga perlu dijauhkan dari nilai-nilai yang tak baik. Saya setuju bahwa sebagai orang yang lebih dewasa harusnya kita membantu anak-anak tumbuh ke arah yang lebih positif dan baik, serta mengontrol input-input apa saja yang boleh masuk ke mereka. Tapi pertanyaan saya, bagaimana prosesnya sehingga tontonan yang ketika kecil saya jadikan sebagai pembangun motivasi hidup justru dianggap sebagai serial “berbahaya” di masa sekarang? Ya, 10-15 tahun adalah waktu yang panjang, banyak pergeseran nilai yang terjadi. Tapi perlu diingat, ini bukan perkara politik-historis di mana sang pemenang bisa menentukan baik-buruknya suatu masa, ini perkara dunia anak-anak!

Sederhananya saya contohkan lewat permainan anak-anak. Ketika kecil saya biasa bermain bentengan, tak jongkok, polisi maling dan semacamnya. Berdarah, lecet, koreng, keseleo dan luka-luka lainnya pernah saya alami. Lalu kenapa dengan teknologi pengobatan zaman sekarang yang lebih canggih,  anak-anak sekarang seolah diproteksi orangtua dari permainan yang justru ketika kecil dimainkan orangtuanya? Ya, mungkin karena biaya berobat zaman sekarang mahal.

Kembali ke tontonan anak. Kalau melihat kesensitivan censorship di era ini, saya tak akan heran kalau serial ultraman yang melaser musuhnya tiap episode tiba-tiba bisa dicabut hak siarnya. Apalagi serial Samurai X dengan segala pembantaiannya itu. Meskipun, sekali lagi saya yakin, pasti hampir semua anak generasi saya tidak mendadak jadi pembunuh dan kriminal semua akibat menonton serial itu. Kalaupun ada pasti jumlahnya teramatsangat sedikit. Lalu apakah ini berarti generasi anak-anak sekarang adalah generasi ultrasensitif yang ketika melihat adegan kekerasan seketika akan menjadi buas?

Ironisnya adalah seekstrim apapun sensor di tivi, toh ada media internet yang menyediakan segala jenis serial. Anak berusia 8 tahun bisa dengan mudah menonton film sebrutal The Raid 2, atau filmfilm ekstrim lainnya. Meskipun kasus ini hanya dapat terjadi di kota besar dengan akses internet cepat. Sementara censorship yang dilakukan KPI hanya berimbas pada golongan-penduduk di daerah yang minim internet (pelosok) sehingga sarana hiburan satusatunya adalah tivi. Dapat saya simpulkan, censorship tersebut minim efek jika dilihat dalam skala nasional.

Tapi lagi-lagi semua keputusan ada di tangan KPI terkait keefektifan censorship tontonan anakanak jaman sekarang ini. Lagipula saya tak ingin membandingkan dan memujamuja bahwa generasi saya lebih baik dari generasi sekarang. Tidak, samasekali tidak. Setiap generasi mempunya cirikhas dan memorinya masingmasing. Barangkali generasi anakanak sekarang memiliki memori dan cerita yang tidak saya mengerti bagusnya, namun berkesan buat mereka. Lagipula hidup ini dinamis dan akan berubah secara otomatis, bukan?

Saya jadi ingat ketika kecil, ketika itu saya berperan jadi ranger merah, teman saya jadi ranger hijau dan kami purapura berkelahi di kelas, tanpa sengaja saya terlalu kelas memukul dan teman saya menangis. Ayah saya kemudian menasihati saya sambil memberitahu bahwa power ranger hanya bohongbohongan dan tidak boleh memukul orang. Ya, pada akhirnya ayah dan ibu saya tetap membiarkan saya menonton serial-serial superhero itu tapi dengan mendampingi dan menjelaskan iniitu yang tak boleh dilakukan. Saya rasa, banyak anak di generasi saya yang turut dibimbing juga ketika menonton. Lalu dengan segala censorship yang ada sekarang ini, bagaimana peran orangtua dalam membimbing anak? Apa hanya mengandalkan KPI? Bukankah harusnya orangtua turut mendampingi karena itu merupakan kewajiban? Atau jangan-jangan sebenarnya saya salah. Sebenarnya tak ada yang berubah dari anak generasi saya dan generasi sekarang, yang berubah adalah cara orangtua bertanggungjawab mendampingi anak. Tapi justru kita yang seolah menyalahkan si anak, mendiskreditkannya bahwa dia tidak boleh nonton ini, nanti jadi kasar; bahwa dia tak memiliki nalar dan payah. Janganjangan justru kita, orang dewasa, orangtua yang sebenarnya berubah dan mengorbankan anak dengan segala tontonannya, karena tidak mau repot mendampingi mereka. Ah, jangan-jangan iya.

September 30, 2014 at 14:17 Leave a comment

Older Posts


Visitor

Date of Post

March 2017
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031